NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pewaris

Takdir Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.

Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.

Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Saya ingin meminta rekomendasi Pak Raksa agar Daneswara menempatkan saya sementara di Arkatama Group."

Kalimat keluar tanpa tekanan namun tegas dari bibir Elang, meninggalkan jejak keheningan singkat saat kedua pria berbeda usia di depan Elang tidak segera memberikan tanggapan.

“Rekomendasi?” ulang Damar menatap Elang lebih lama.

Elang mengangguk tanpa ragu dan segera melanjutkan sebelum maksudnya disalahartikan.

“Saya tidak ingin meninggalkan Daneswara. Saya juga tidak meminta posisi tetap di Arkatama.” Ia menegakkan posisi duduknya.

“Kalau pihak Arkatama mengajukan permintaan agar Daneswara menugaskan saya sementara di kantor pusat, saya bisa melihat alur yang tidak sempat kami jangkau ketika pemeriksaan hanya berfokus pada Arkatama Industrial.”

Damar terdiam. “Pekerjaan Daneswara dengan kami sudah selesai.”

“Benar.” Elang mengangguk.

“Dan kamu ingin kembali masuk atas kemauanmu sendiri?” tanya Raksa memastikan.

Elang mengangguk. “Saya sudah menyampaikan niat saya kepada Bu Keira sebelum datang kemari.”

“Bagaimana tanggapan Nona Keira?” tanya Raksa.

“Beliau tidak keberatan selama permintaannya memang datang secara resmi dari Arkatama,” jawab Elang.

Raksa beralih menatap menantunya. Tidak ada yang bersuara dari mereka berdua seolah tengah berdiskusi dalam diam. Sesaat kemudian, Damar mengambil kembali salah satu dokumen, membacanya beberapa saat, lalu meletakkannya.

Entah mengapa, ada rasa aneh yang Damar rasakan setiap kali ia melihat pemuda di hadapannya. Elang sudah tidak memiliki kewajiban apa pun terhadap Arkatama, tetapi tetap memilih kembali dan ingin menyelesaikan persoalan yang bisa dia tinggalkan begitu saja. Lebih aneh lagi, ia selalu merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan setiap kali pemuda itu berada di dekatnya.

“Kalau kamu masuk, apa yang sebenarnya ingin kamu cari?” tanya Damar setelah beberapa saat terdiam.

“Celah," jawab Elang nyaris tanpa jeda. “Satu hal yang tidak cocok dengan bukti terhadap Pak Bram. Kalau saya tidak menemukan apa pun, berarti kecurigaan saya memang salah.”

Damar kembali menatap pemuda di depannya cukup lama. “Dan kalau ternyata kamu benar?”

Elang menjawab tanpa ragu. “Berarti ada seseorang yang selama ini berdiri di tempat yang tidak kita lihat.”

Keheningan kembali turun.

Raksa menyandarkan punggungnya perlahan dengan pandangan mengunci wajah Elang. “Pemikiranmu masuk akal.”

Damar mengangguk pelan. “Aku juga memikirkan hal yang sama sejak laporan itu keluar.”

Raksa menoleh ke arah menantunya.

Damar melanjutkan, “Bukti terhadap Bram kuat. Tapi memang terlalu banyak bagian yang seolah sengaja meminta kita melihat ke arahnya.”

“Baik,” ucap Raksa akhirnya. “Arkatama akan mengajukan permintaan resmi kepada Daneswara.”

Damar mengangguk setuju.

Sesaat Elang tidak langsung menjawab. Ia datang dengan kemungkinan harus meyakinkan mereka jauh lebih lama. Ternyata satu pertanyaan sederhana sudah cukup membuat dua orang di hadapannya melihat persoalan dari sudut yang sama.

“Terima kasih, Pak.”

Raksa mengambil kembali salah satu dokumen. “Jika dugaanmu benar, itu artinya masalah yang kami hadapi jauh lebih besar daripada dugaan penggelapan dana yang mengarah pada satu orang.”

.

.

.

Waktu berjalan cepat sejak Elang meninggalkan kediaman Arkatama pagi itu setelah urusannya dengan pendiri Arkatama Group selesai.

Menjelang sore, Ravian masih berada di Arkatama Industrial Components untuk menyelesaikan beberapa urusan yang sebelumnya ditinggalkan oleh bagian operasional tanpa mengetahui apa yang Elang lakukan.

Ia baru saja keluar dari salah satu ruangan ketika melihat Bram berjalan dari arah berlawanan. Jarak di antara keduanya perlahan terkikis hingga akhirnya mereka berhadapan

Ravian menganggukkan kepala sopan. “Pak Bram.”

Bram terdiam selama beberapa saat, tatapannya terkunci pada wajah Ravian -pemuda yang hanya bisa ia lihat dari jauh tanpa pengakuan yang sebenarnya sangat ingin ia buka, namun juga ada rasa bangga di hatinya melihat penampilan pemuda itu.

“Pak Ravian.” sambut Bram memberikan anggukan sopan.

Keduanya saling menyapa sopan, sempat bertukar beberapa kalimat ringan sebelum dering ponsel Ravian memotong percakapan.

Nama yang muncul di layar ponsel membuat Ravian segera menerima panggilan.

“Ya, Kek?" sapa Ravian begitu ponsel menempel di telinganya.

"Urusanmu di Industrial sudah selesai?" tanya Raksa.

Ravian melirik jam tangannya. “Sebentar lagi. Masih ada satu dokumen yang harus aku pastikan sebelum pulang.”

"Pulanglah segera begitu pekerjaanmu selesai."

Nada Raksa terdengar seperti biasa, tetapi permintaan itu membuat Ravian mengernyit.

“Ada apa?”

"Kamu akan dapatkan jawabannya di rumah."

“Baik.” Ravian baru akan menurunkan ponsel ketika Raksa kembali bersuara.

"Ravi."

“Ya?”

"Kau melihat Bram di sana?"

“Kebetulan Pak Bram sedang di depanku.”

Dahi Bram mengerut tipis mendengar namanya disebut.

Di seberang sambungan, Raksa terdiam sebentar.

"Katakan padanya untuk datang ke rumah malam ini bersama keluarganya."

Ravian mengerutkan kening. “Kek?"

Ia masih belum memahami alasan sang kakek tiba-tiba meminta keluarga Bram hadir ke kediaman Arkatama, terlebih setelah apa yang terjadi beberapa hari terakhir. Meski Bram tetap datang ke Arkatama Industrial, aktivitasnya kini berbeda setelah seuruh tugas dan kewenangan yang sebelumnya dinonaktifkan sementara.

Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan cucunya, Raksa melanjutkan dengan nada lebih rendah. “Masalah perusahaan tetap akan diperiksa sebagaimana mestinya. Tapi Bram sudah menjadi sahabat ayahmu jauh sebelum sebagian besar orang di Arkatama mengenalnya.”

Ravian mengangguk mengerti. “Baik, Kek.”

Ravian menurunkan ponselnya perlahan begitu panggilan terputus dan kembali menatap pria di hadapannya. “Kakek meminta Bapak sekeluarga datang ke kediaman Arkatama malam ini.”

Wajah Bram perlahan berubah. "Apa lagi sekarang? Aku sudah cukup stres dengan begitu banyak hal yang terjadi. Sekarang apa lagi?" batinnya frustasi.

“Untuk apa?” tanya Bram.

Ravian memasukkan ponselnya kembali ke saku celana. “Kakek tidak mengatakan lebih jauh, Kakek hanya menyebutkan Pak Bram sekeluarga diminta datang."

Bram tersenyum kaku. Pikirannya sudah memikirkan kemungkinan yang menjadi alasan Raksa meminta dirinya datang beserta keluarganya di saat penyelidikan terhadap dirinya belum selesai.

Ravian melanjutkan langkah setelah berpamitan. Benaknya bertanya-tanya tentang alasan sang kakek meminta dirinya untuk cepat pulang.

Dari cara sang kakek menyuruhnya pulang tanpa memberikan penjelasan lebih jauh, ia sudah bisa memastikan satu hal.

Malam ini bukan sekadar makan malam biasa.

.

.

.

Tok... Tok...

Di tempat berbeda, Keira tengah duduk di meja kerja dengan laptop menyala di depannya ketika suara ketukan terdengar dari pintu kamar.

“Masuk.”

Pintu terbuka diikuti sosok wanita paruh baya yang menjadi ibu Keira berdiri di ambang. "Sayang."

"Hm? Ada apa, Ibu?" tanya Keria tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.

“Bersiaplah.”

“Untuk apa?” tanya Keira tanpa mengangkat wajah.

“Kita mendapat undangan makan malam.”

Keira mengangguk. “Baiklah. Aku akan bersiap setelah menyelesaikan ini."

Baginya, undangan makan malam bukan hal baru. Sejak ia mendirikan Daneswara, undangan makan malam bisnis sudah sering ia terima.

“Rias dirimu, kenakan gaun tercantik yang kamu miliki.”

Kalimat itu membuat gerakan Keira di atas keyboard laptop berhenti, wajahnya terangkat perlahan. “Kenapa harus seformal itu? Hanya acara makan malam kan?"

Ibunya tersenyum tipis. “Jika yang mengundang bukan orang penting, Ibu tidak perlu memintamu merias diri dan memakai gaun terbaikmu.”

Dahi Keira mengernyit. “Siapa?”

“Bersiap saja, kamu akan tahu nanti.”

“Ibu—”

Sebelum Keira menyelesaikan kalimatnya, wanita itu sudah berbalik dan meninggalkan kamarnya. Ia menatap pintu yang sudah kembali tertutup rapat dalam keheningan yang kini terasa aneh, beberapa detik kemudian ia mengembuskan napas panjang.

Entah makan malam seperti apa yang membuat ibunya sampai harus mengingatkan dirinya untuk mengenakan gaun.

.

Beberapa waktu kemudian, mobil yang dikemudikan ayah Keira melaju meninggalkan kediaman mereka.

Keira duduk di kursi belakang seorang diri sementara ibunya berada di jok depan. Sejak perjalanan dimulai, ia sudah beberapa kali memperhatikan jalan yang mereka lewati, tetapi belum juga mendapatkan petunjuk mengenai tujuan mereka.

“Ayah.”

“Hm?”

“Sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Keira.

Ayahnya tetap fokus pada jalan.

Keira melanjutkan, “Siapa yang mau kita temui?”

Sang ayah hanya tersenyum kecil. “Kamu akan segera tahu.”

Keira mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuh kembali dengan wajah tidak puas.

Ayah Keira hanya tersenyum, melirik putrinya melalui spion sebelum berkata, “Satu yang pasti, mereka adalah keluarga terhormat.”

Keira terdiam.

Tatapannya kemudian berpindah pada sang ibu yang duduk tenang tanpa menoleh meski ia memanggilnya berulang kali. Ia akhirnya mengalihkan pandangan ke luar jendela. Benaknya bertanya-tanya, siapa keluarga terhormat yang dimaksud ayahnya.

. . .

. . .

To be continued...

1
Patrick Khan
aku ingin kasih tau q ini anakmu pak damar😁😁😁
Zhu Yun💫
langsung saja minta tes DNA biar terbongkar, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Yang bener kalau dinikahkan baru dia akan punya rasa tanggung jawab pak Raksa... kalau cuma dijodohkan doang nanti dia bisa jawab gini sama calonnya kalau lagi berantem 'Kita itu baru tunangan, jadi kamu gak usah ngatur-ngatur aku.' Nah beda kalau udah nikah dan rasa tanggung jawab itu pasti bakal ada 'Kamu adalah Istriku, tanggung jawabku' 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
〈⎳ FT. Zira: asiap kaka/Joyful/
total 1 replies
Muft Smoker
persis seperti anak mu si ravian😏😏
〈⎳ FT. Zira: bener🤣
total 3 replies
Zhu Yun💫
Aku hafalinnya Tresna.. Tresna... Tresna aja ... biar gampang lah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Patrick Khan
perjodohan..emang sopo yg mw ambek ravian 🤣🤣🤣lakik modelan gitu
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Zhu Yun💫
Karena yang manis kan kamu, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: devinisi cwe gombalin cwo yak/Facepalm/
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mulai maju nih si keira
〈⎳ FT. Zira: sebelum direbut orang kak🤣🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
rame yah di novel ini
〈⎳ FT. Zira: banyak tokohnya🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aturannya selidiki dulu elang diam2. pura2 aja dl ga tau apa2
〈⎳ FT. Zira: udah gedek duluan dia kak,gak mau drama🤭
total 1 replies
Muft Smoker
org luar menurut mu ,,
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
〈⎳ FT. Zira: 🤣/Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waah si bram udh jdi kambing guling niih ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁🫰🫰
total 8 replies
Muft Smoker
krn ravian emnk bukan anak ny pak damar ,, pak gatra ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waaaah actor Dunia lgi berbicara ,, 😒😒😒
〈⎳ FT. Zira: aduh/Facepalm/
total 3 replies
Zhu Yun💫
Beneran ulah Bram atau ada orang lain lagi dibelakangnya /CoolGuy/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sudah kudugong👏
Patrick Khan
lanjut
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
vote mumpung inget
〈⎳ FT. Zira: tengkyuuu miii/Kiss//Kiss/
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
akting
〈⎳ FT. Zira: aktingnya... harus🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!