NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:174.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertamu ke tetangga : 15

“Nanti dia apa, Guntur?” rasa penasaran Hamima membuatnya menjadi tak sabaran.

Guntur kembali enggan menjawab, lirikan matanya tertuju pada satu set kursi jati, tempat dimana dia pernah berteriak histeris kala Pujiara main boneka sarung, ternyata bukan adiknya, waktu itu dia beranggapan jika sedang berhalusinasi.

Tin!

Tin!

“Buruan Guntur!” Galih membunyikan klakson, berteriak diatas motor.

Anak laki-laki berseragam merah putih itu memalingkan muka seraya berbalik badan.

Hamima lantas melihat ke arah sepasang mata putranya terpaku tadi. Tidak ada apa-apa di sana selain kursi kokoh dan meja persegi.

“Sebaiknya aku sarapan dulu, mungkin sakit perut ini efek lapar dan menstruasi,” bisiknya seorang diri.

Pintu depan dibiarkan terbuka. Di desa sangat aman, kebanyakan warganya tidak menutup maupun mengunci pintu rumah mereka. Adab juga masih dijunjung tinggi, para tamu yang hendak berkunjung selalu menjaga sopan santun enggan masuk begitu saja sebelum dipersilahkan.

Jangan tinggalkan dek Ara sendirian!

Langkah Hamima terhenti, peringatan si sulung seperti tanda-tanda bahaya, dia pun masuk ke dalam kamar, mengambil kain jarik, menggendong putrinya yang masih tertidur.

Dengan membopong Pujiara, Hamima sarapan nasi goreng seorang diri. Pikirannya tidak fokus, banyak hal berlomba-lomba ingin dicari tahu.

‘Aku gak mungkin terus diam seperti ini, tapi kemana harus mencari informasi?’ ia bingung sendiri.

“Sebaiknya aku mulai beramah tamah dengan tetangga, mungkin saja bisa mendapatkan berita atau malah cerita sejarah rumah ini.” Mima menyudahi sarapan yang hanya dimakan beberapa sendok saja, lalu dia minum teh dingin.

“Ara, nak, bangun yuk. Mandi, abis itu main cari teman di bawah,” Hamima menepuk-nepuk bokong padat Pujiara, membujuk sang putri agar segera terjaga.

Cara lembutnya berhasil, Pujiara merengek lalu mau membuka matanya yang dibingkai buku lentik seperti ibunya.

“Anak Ibu pintar sekali sih, gak rewel, baik hati, mana cantik lagi.” Pipi bulat yang sudut bibir terdapat jejak air liur, dicium bertubi-tubi.

Pujiara menggeliat, tertawa geli. Tiba-tiba dia berbicara dengan kosakata belum jelas sambil memukul-mukul pelan perutnya. “Ni atit ….”

Sebagai seorang ibu yang memiliki ikatan batin kuat, Hamima paham apa yang dimaksud putrinya, kain jarik diturunkan, dan Ara dipangku.

Kaos lengan panjang putrinya disingkap. “Astaga, ini kenapa, Dek?!”

Pada perut di bawah dada, terdapat lebam biru keunguan. Ara merengek saat bagian sakit disentuh sangat lembut oleh ibunya.

Rasanya hati Mima diremas, nyeri. Rasa takut pun menjadi-jadi. Ini bukan lagi keanehan berupa melihat bayangan cepat melintas, wangi bunga Melati, aroma tembakau, tetapi sudah sampai tahap buah hatinya tersakiti.

“Jangan-jangan Guntur juga mengalami hal sama seperti ini?” deru napasnya memburu. Ketakutan itu membumbung tinggi.

“Mandi bareng Ibu ya, habis itu kita jalan-jalan lihat Angsa, Ayam,” bujuknya dengan suara pelan bergetar.

Mendengar nama hewan yang sering disebut dan lihat sewaktu di kota, peliharaan salah satu tetangga rumah, mata redup Ara berbinar cerah, ia mengangguk.

Tak menunggu lama, Hamima langsung bergerak cepat di saat menahan sakit yang menghambat kegesitan nya, ia berusaha tegar, mengenyahkan sisi sensitif wanita ingin diperhatikan, dikasihi.

Empat puluh menit kemudian — Hamima mengunci pintu rumahnya. Ara dalam gendongan jarik, dia sudah mandi, wangi tak ketinggalan bedak bayi seperti tepung kanji diberi sedikit air, melekat pada pipi, kening, pucuk hidung.

Matahari sudah bersinar, cahayanya terasa hangat di kulit wanita yang memiliki misi mendekati tetangga demi mencari informasi terkait desa ini terutama huniannya.

Pandangan Hamima bergerak liar menatap kiri-kanan jalanan yang ditumbuhi pohon tahunan serta semak belukar.

“Ternyata aku benar-benar seperti tinggal di tengah hutan. Jauh dari tetangga, dikelilingi pohon tinggi mana semak, pasti disana hidup hewan buas seperti Ular dan Kalajengking.” Ia bergidik, baru kali ini memperhatikan seksama jalan menuju rumahnya.

Hamima tiba di hunian pertama, rumah sederhana berdinding kayu, atap daun rumbia dan lantai terasnya belum di semen halus masih kasar.

Pintu rumah tertutup, tetapi jendelanya terbuka. Hamima memberanikan diri mendekat, lalu memanggil sopan.

“Selamat pagi, Bu, Pak ….”

Mima mengulang sampai empat kali, dia memalingkan muka melihat rumah lain di seberang jalan sedikit jauh, jendelanya tertutup rapat.

“Pagi!” seru suara balasan dari dalam rumah, sebelum membuka pintu terlebih dahulu melihat siapa gerangan lewat jendela.

“Kamu ….?” pertanyaannya menggantung.

Hamima menatap sopan pada wanita memakai baju lengan sesiku, rambut digelung, sepertinya mereka seumuran. “Saya penghuni rumah diatas bukit. Maaf sudah mengganggu, Kak.”

“Oh … tetangga baru?” Ia membuka pintu rumah, lalu keluar. Tidak mempersilahkan masuk.

“Ada apa ya?” tanyanya langsung.

“Warung di sini jauh tidak ya, Kak? Saya mau beli baterai jam, lupa bilang ke suami. Lupa juga nanya dimana warung terdekat,” tentu dirinya berbohong.

Sebelum pindah kesini, dan dia masih dikota sementara suaminya sudah lebih dulu tinggal di desa, Galih sudah menceritakan seluk beluk kehidupan desa ini. Dari letak kantor kelurahan, kecamatan, pasar tradisional, sekolah, dan warung sembako.

Wanita yang sedikit lebih tinggi dari Hamima, secara terang-terangan memperhatikan tamunya. “Kalau warung cukup jauh, kasihan bayimu dibawa ke sana, mana matahari sudah mulai panas. Yang mati jam utama atau lainnya?”

‘Kok dia seperti tau ada berapa jam di rumahku?’ batinnya langsung menaruh curiga.

“Sebelum rumah itu dibeli kalian, aku yang membersihkannya seminggu sekali. Suamiku kerja jadi sopir keluarga juragan Sarkam. Itu loh yang tempo hari mengantarmu kesini,” jelasnya saat melihat raut kebingungan di wajah tamunya.

“Kebetulan sekali, Kak, aku belum sempat bilang terima kasih ke suami Kakak,” otak cerdasnya bisa mengimbangi, berusaha mengulik tanpa memancing rasa curiga. “Tolong sampaikan rasa terima kasih ku dan keluarga ya, Kak.”

“Suamimu sudah mewakili kamu, dia pun memberi bingkisan sembako sebagai bentuk rasa terima kasih,” jawabnya lugas.

Hamima sempat terkejut, sebab suaminya tidak ada bilang soal itu. Cepat-cepat dia menanggapi, jangan sampai dicurigai.

“Jam kamar yang mati, kalau di luar masih hidup. Aku suka kebingungan pas bangun tidur mau lihat penunjuk waktu, tapi gak berfungsi, Kak,” Mima pun mencoba mengakrabkan diri, mengganti penyebutan saya jadi aku.

“Tunggu sebentar ya, sepertinya aku masih punya cadangan baru.”

Hamima mencegah tetangganya yang hendak masuk rumah. “Kalau boleh tau nama kakak siapa, ya? Biar enak manggilnya.”

Wanita berdaster biru langit, berbalik badan lagi. “Panggil saja Rosna, umurku 28 tahun, kalau Kakak?”

“Mima, usiaku 29 tahun. Saling sebut nama saja ya, biar lebih akrab?” Hamima tersenyum tipis.

Rosna mengangguk, kemudian masuk ke dalam rumah tanpa menutup pintu.

Hamima duduk di bangku panjang terbuat dari bambu. ‘Dia pribadi banyak bicara, semoga saja sering keceplosan, biar mudah mengorek keterangan, menjawab setiap rasa penasaranku.’

.

.

Bersambung.

1
mamaqe
mulai lg ni deg deg an nya ...ditunggu ditungguuuu
Fera Susanti
vote senen nya buat Mima dech bukan buat niya😁
Fera Susanti
serrruuu
Bulan-³ M⃟3💋
duhhh cepetan itu tengkorak ayu ditemukan sebelum sarkam dan Geneng detang, jangan sampai ketahuan dan usaha dokter sia2
ismi
akhirnya bisa kasih vote buat mima,,biar semngat buat menghajar galih mokodobitu😄😄😄
Engkar Sukarsih
makasih kak cublik.... updatenya dah banyak hari ini 🥰🥰🥰tapi aku sedih ibu tilinya bang Ardan yang ganteng libur hari ini 🥺🥺🥺🥺
Engkar Sukarsih
aduh pusing kang duh aduh pusing... pusing tujuh keliling.rumah tangga tiada bahagia,karena si galih suka sama daun muda😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
aduh pusing kang duh aduh pusing... pusing tujuh keliling.rumah tangga tiada bahagia,karena si galih suka sama daun muda😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
di pikirin...pusing kepala 🤣🤣🤣gak di pikirin...nambah gede kepala lakimu mima.dasar galih kampret... preeet sepanjang jalan 🤪🤪🤪🤪
Engkar Sukarsih
bangun... bangunlah Mima....hajar suami laknatmu mima🤔🤔🤔 pastinya si galih lagi ajojing terus sama istri muda kampretnya si Sintia 🙄🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
ayo pak Yadi bunuh tuh orang yang bernama Bagiyo.tuntaskan dendammu sampai ke akar -akarnya🤔🤔🤔🤔
Eli Rahma
pembalasan dimulai..
AFPA
putus nggak?!
bisa digoreng jd keripik tu 😁
Shee_👚
baru ujung telinga aja dah kaya mau mati, begitu aja dah teriak kesakitan, dulu kamu yang menikam yadi sampai tulang rusuk patah pada hal raganya sudah tak bernyawa. sekarang dia datang untuk meminta nyawamu😏
Shee_👚
yadi: hai bagyo ku datang untung mengambil nyawamu

🤣🤣🤣🤣
AFPA
harusnya dikenain gundule bagiyo itu kak cublik 🤣
sryharty
jangan cuma telinganya doang uad
manuk e juga di iris sekalian,,tuman
Shee_👚
jangan terlalu pede bentar lagi kalian yang akan mati😤
Shee_👚
ayu ayok keluar tunjukkan dimana kamu🙈
Shee_👚
duh deg deg an takut mas dokter ketahuan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!