Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celah Untuk Bertahan Hidup
Eve mengunyah pelan sambil menatap Lucien. Setelah beberapa detik, dia akhirnya mengangkat bahu kecilnya. Berdebat dengan pria ini jelas tidak akan menghasilkan apa-apa.
"Bayiklah," gumam Eve akhirnya. "Caya belajal"
Lucien mengangguk tipis, seolah memang sudah menduga jawabannya sejak awal. "Bagus."
Eve menyipitkan mata.
Dia kembali menatap piringnya dan menghabiskan makanan yang tersisa. Makanan di sini terasa enak, tempat tidurnya empuk, dan kalau besok dia harus belajar, ya sudah.Dia pernah melewati kuliah kedokteran yang jauh lebih menyiksa daripada sekadar belajar membaca dan sejarah.
Masalahnya hanya satu, dia benar-benar malas mengulang semuanya dari awal.
Setelah Eve selesai makan, seorang pelayan datang membantunya turun dari kursi. Eve sempat merasa sedikit tersinggung karena dia sebenarnya masih bisa turun sendiri, tetapi begitu melihat tinggi kursi dan lantai yang cukup jauh di bawahnya, dia memilih tidak memperdebatkan hal itu. Harga diri tidak sebanding dengan kemungkinan jatuh dengan wajah lebih dulu.
Lucien juga sudah berdiri dari tempatnya. Dia hanya memberi Eve satu tatapan singkat sebelum berjalan meninggalkan ruang makan bersama beberapa pelayan yang mengikutinya.
Eve memperhatikannya pergi.
'Pergi sana hush hush, dasar manusia jahat keras kepala.' Dia menghela napas kecil.
Seorang pelayan kemudian menggendong Eve kembali ke kamarnya. Sepanjang perjalanan, Eve hanya diam sambil memperhatikan lorong mansion yang tadi belum sempat dia perhatikan dengan baik. Karpet tebal membentang di sepanjang lantai, dinding dihiasi lukisan-lukisan besar, sementara beberapa lampu dinding mulai dinyalakan karena malam semakin larut. Mansion ini ternyata jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan. Kalau disuruh berjalan sendirian mencari kamar mandi sekarang, kemungkinan besar dia akan tersesat dan ditemukan tiga hari kemudian.
Sesampainya di kamar, pelayan itu menurunkannya perlahan ke lantai. Eve langsung berjalan menuju tempat tidur yang sejak tadi sudah dia incar. Begitu tubuh kecilnya menyentuh kasur, dia langsung merasa tidak ada yang lebih nikmat di banding berbaring di kasur yang empuk. Punggung miliknya seketika terasa lebih ringan.
'Ah.. sensasi ini' Pelayan itu merapikan selimut di atas tubuh Eve, kemudian memeriksa bantal di belakang kepalanya.
"Nona," ujar pelayan itu lembut sambil tersenyum kecil, "mau saya bacakan buku dongeng supaya Nona cepat tidur?"
Eve yang sedang menarik selimut sampai ke dada langsung membeku sebentar.
'Buku dongeng?' Dia menatap pelayan itu dengan wajah mengantuk.
"Dak ucah," jawab Eve dengan suara kecil. Dia sengaja menguap panjang setelahnya. "Aku udah mawu tidul."
Pelayan itu terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
"Baik, Nona. Kalau begitu, selamat malam."
"Celamat mayam," balas Eve pelan.
Pelayan itu membungkuk sebelum berjalan menuju pintu. Eve mempertahankan wajah mengantuknya sampai pintu benar-benar tertutup dan suara langkah kaki di lorong perlahan menghilang.
Eve masih diam beberapa detik, kmudian satu matanya terbuka. Dia menunggu cukup lama untuk memastikan pelayan itu benar-benar pergi. Eve perlahan bangkit dari bawah selimut dan duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Rambut putihnya yang tadi sudah dirapikan mulai sedikit berantakan.
"Pelgi juga," gumamnya pelan.
Eve mengembuskan napas panjang. Sebagai orang yang sudah pernah mati sekali, dia sebenarnya tidak terlalu takut dengan konsep kematian. Yang membuatnya kesal justru fakta bahwa dia sudah mengetahui akhir hidup tubuh ini sebelum sempat menikmati hidupnya dengan benar untuk kedua kalinya.
"Balu juga hidup yagi," gumam Eve sambil mengusap wajah kecilnya. "Udah dikacih cepoilel mati."
Sebagai pembaca The Rose and Crown, Eve tahu keluarga Valois bukan keluarga asing baginya. Dia tahu siapa Lucien Valois. Dia tahu Cedric, tahu anggota keluarga lainnya, tahu posisi keluarga Valois dalam cerita, bahkan tahu bagaimana hubungan mereka dengan Seraphina berkembang sepanjang cerita. Kalau ingin mengetahui siapa mereka, Eve tidak perlu bertanya kepada pelayan satu per satu.
Dia tahu keluarga Valois, tetapi tidak tahu lebih jelas mengenai Aveline Valois yang ada di dalam cerita
Eve mengerutkan kening. Aveline memiliki peran yang terlalu kecil, bahkan di dalam novel, Aveline hanya muncul sebagai nama dan cerita lama dari tokoh pendukung, ter lebih nama itu hanya muncul beberapa pragraf saja.
Tidak pernah ada penjelasan yang benar-benar jelas tentang kapan Aveline dibawa masuk ke keluarga Valois. Tidak ada adegan khusus yang bisa dijadikan patokan. Bahkan usia Aveline ketika meninggal pun tidak pernah disebutkan.
Eve mengangkat tangan dan menopang dagunya.
'Pertama-tama gue harus mastiin timeline cerita sekarang di bagian mana, kemungkinan masih di awal cerita' Dia berhenti sejenak, lalu mengangguk kecil seolah baru saja menyetujui rencananya sendiri.
'Kalau gue tahu sekarang ceritanya udah sampai mana, gue bisa tahu harus ngapain.'
Kalau dia ternyata baru berada jauh sebelum kematian Aveline, Eve bisa bersantai sedikit dan mengumpulkan informasi secara perlahan. Dia punya waktu untuk mengenal mansion, memahami kebiasaan keluarga Valois, dan mencari tahu siapa saja yang mungkin memiliki alasan untuk menyakitinya.
Tapi kalau ternyata waktunya sudah dekat dengan kematian Aveline, dia tidak bisa santai.
Eve menelan ludah pelan.
Dia mulai mengingat kembali cerita yang pernah dibacanya. Peristiwa-peristiwa besar dalam novel masih tersimpan di kepalanya. Ada beberapa kejadian besar yang dia ingat. Hubungan beberapa tokoh juga berubah secara bertahap sepanjang cerita. Kalau dia bisa mengetahui kejadian mana yang sudah berlangsung, dia mungkin bisa memperkirakan posisi waktunya sekarang.
Dan ada satu hal lagi.
Eve baru menyadarinya ketika mencoba mengingat keadaan mansion sejak dia datang. Dia belum bertemu dengan kedua anak Duke.
"Cedlic..."
Dia kemudian teringat anak Duke lainnya yang juga seharusnya menjadi bagian dari keluarga Valois. Keduanya bukan orang asing baginya. Eve tahu mereka dari novel. Dia tahu hubungan mereka dengan Lucien, dan bagaimana mereka nantinya berhubungan dengan alur cerita utama.
Tapi sampai sekarang, dia belum melihat satu pun dari mereka. Malam itu, Eve akhirnya memutuskan untuk berhenti memikirkan semuanya. Kepalanya sudah terlalu penuh, sementara tubuh kecilnya mulai terasa berat setelah seharian mengalami hal-hal yang tidak masuk akal. Dia menarik selimut sampai ke dada dan memejamkan mata. Tidak lama kemudian, rasa kantuk benar-benar mengambil alih tubuhnya.
Pagi datang lebih cepat dari yang Eve inginkan.
Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai ketika pintu kamar dibuka perlahan. Seorang pelayan masuk membawa pakaian yang sudah disiapkan, lalu berjalan mendekati tempat tidur.
"Nona Eve," panggilnya lembut. "Sudah pagi."
Eve tidak bergerak.
Pelayan itu menunggu sebentar sebelum memanggilnya lagi. "Nona, waktunya bangun."
"Mm..."
Eve menarik selimut lebih tinggi dan menutupi kepalanya. Pelayan itu akhirnya tersenyum kecil.
"Kalau Nona terus tidur, nanti sarapannya keburu dingin." Kali ini Eve membuka satu mata.
"...calapan?"
Hanya satu kata itu yang berhasil membuatnya bangun.
Beberapa saat kemudian, Eve sudah duduk di depan baskom kecil. Air yang digunakan untuk mencuci wajahnya membuat kantuknya perlahan hilang. Setelah wajahnya dikeringkan, rambut putihnya disisir sampai rapi, kemudian pelayan membantunya mengenakan pakaian yang sudah disiapkan.
Eve hanya menurut sepanjang proses itu. Sesekali kepalanya terangguk karena masih mengantuk, membuat pelayan harus membetulkan posisi rambutnya beberapa kali.
Setelah selesai, Eve dibawa keluar kamar.
Lorong mansion pagi itu sudah jauh lebih ramai dibandingkan malam sebelumnya. Para pelayan berlalu-lalang membawa berbagai keperluan. Eve memperhatikan mereka sambil berjalan, sesekali matanya mengikuti orang yang lewat sampai menghilang di ujung koridor.
Dia mulai mengenali beberapa wajah yang kemarin sempat dilihatnya. Namun karena belum hafal semuanya. Ketika pintu ruang makan dibuka, aroma makanan langsung menyambutnya. Eve yang tadinya masih berjalan dengan langkah malas langsung sedikit mempercepat gerakannya.
Meja makan sudah terisi berbagai hidangan. Roti, telur, buah, daging, susu, dan beberapa makanan lain tersusun rapi di atas meja.
Eve langsung tertarik.
Namun sebelum sempat memperhatikan makanan lebih lama, seseorang menyapanya.
"Selamat pagi, Nona Eve," ujar Bastian yang berdiri di dekat meja sambil membungkuk sopan.
Eve menoleh, Eve mengingat suara itu, suara sang kepala pelayan yang kemarin bertindak sarkas kepadanya.
"Pagi, Bactiyan," balasnya dengan suara kecil yang masih agak serak.
Bastian tersenyum tipis. Pelayan yang menggendong Eve kemudian menurunkannya ke kursi. Eve duduk, lalu secara refleks melihat ke seberang meja, semua kursi tampak kosong, ia berkedip sekali, kemudian menatap Bastian.
"Bactiyan," panggilnya sambil menunjuk kursi yang biasa ditempati Lucien. "dimana Duke?"
"Yang Mulia Duke, memiliki urusan lain pagi ini," jawab Bastian setelah mengikuti arah jarinya. "Beliau meminta agar Nona sarapan terlebih dahulu."
Eve terdiam sebentar, kemudian bahunya turun dengan santai.
'Bagus.'
Setidaknya pagi ini dia tidak perlu berhadapan dengan Lucien. Eve menarik piringnya sedikit lebih dekat. Tangannya segera meraih sepotong roti yang masih hangat, lalu dia menggigitnya tanpa banyak pikir.
Rasanya enak.
Dia mengunyah sambil melihat sekeliling meja. Pagi ini terasa damai, bahkan rasanya hampir seperti surga, tidak ada iblis yang menganggu hidupnya.
Eve kembali menggigit rotinya.
'Kalau tiap pagi begini, gue betah.'
Bastian yang berdiri tidak jauh darinya memperhatikan Eve sebentar sebelum bertanya, "Apakah rasanya cocok dengan selera Nona?"
Eve mengangguk cepat sambil masih mengunyah. Setelah menelan makanannya, dia mengangkat wajah.
"Enyak."
Jawabannya begitu singkat dan yakin sampai Bastian tersenyum.
"Syukurlah."
Eve kembali mengambil roti.
Baru beberapa gigitan kemudian, pikirannya mulai kembali pada rencana yang sudah dibuatnya semalam. Hari ini dia harus mulai mengamati keadaan rumah ini. Kalau memang ada banyak hal yang belum dia ketahui, setidaknya dia bisa mulai dari orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Terutama keluarga Valois.
Eve melirik Bastian.
Mungkin dia bisa mulai bertanya sedikit demi sedikit.
Namun sebelum membuka mulut, Eve kembali melihat hidangan di depannya.
Dia mengambil telur.
'Abis makan aja deh.'
Untuk sekarang, sarapan lebih penting.