NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGKHIANATAN

Malam itu langit tertutup awan kelabu tebal, tak ada secercah bintang pun yang menampakkan cahayanya. Angin berdesir pelan namun dingin di sela-sela pepohonan rindang yang mengelilingi rumah megah itu — sebuah bangunan besar yang berdiri sendirian di atas bukit, jauh dari suara dan hiruk-pikuk kehidupan warga. Keheningan menyelimuti tempat itu begitu lama, seakan alam pun ikut menahan napas, menyadari bahwa sesuatu yang buruk sebentar lagi akan terjadi.

Namun ketenangan itu pecah seketika.

"Brengsek! Apa yang membuatmu menjadi pengkhianat seperti sekarang ini, hah?" teriak lelaki paruh baya itu dengan suara parau namun penuh amarah. Tangannya dan kakinya terikat erat dengan tali kasar yang melukai kulitnya, tubuhnya terjatuh dan tertatih di atas lantai marmer yang dingin dan licin. Kemeja mahalnya kini kusut, kotor, dan berlumuran debu; wajahnya memerah bukan hanya karena kemarahan, melainkan karena rasa sakit yang perlahan menjalar di sekujur tubuhnya.

Suara bentakannya bergema keras di setiap sudut ruangan yang luas itu, memantul dari dinding-dinding berhias lukisan mahal hingga ke langit-langit yang tinggi. Sayangnya, tidak ada satu pun warga yang dapat mendengarnya — rumah itu berdiri terpencil, jauh dari pemukiman mana pun, seakan dibangun sengaja agar rahasia-rahasia di dalamnya tidak pernah bocor ke luar.

Hening sejenak. Hanya terdengar suara napas berat lelaki itu.

Tiba-tiba — BRAK! — sebuah pukulan keras mendarat tepat di pipi lelaki itu. Kepalanya terhempas ke samping dengan kuat, darah segar segera menetes dari sudut bibirnya yang pecah, jatuh dan membasahi lantai putih bersih di bawahnya. Matanya menyipit karena perih, namun ia tetap menatap tajam ke arah orang yang baru saja memukulnya.

"Sebaiknya kau diam saja," ujar orang itu, suaranya datar, dingin, dan tanpa belas kasih sedikit pun. "Kau tahu kan sendiri — selama belasan tahun ini kau memerintah kami dengan aturanmu sendiri, mengatur segalanya sesuka hatimu. Dan aku sudah muak. Sudah sangat muak. Jadi kami memutuskan sendiri: jika kami mampu berkuasa dan mengurus semuanya sendiri, mengapa kami harus tetap tunduk dan patuh padamu?"

Saat itu juga, dari samping, terdengar suara isak tangis. Sang istri — yang juga terikat erat di samping suaminya, tak berdaya — mulai menangis dengan bahu yang berguncang hebat. Wajahnya yang cantik pucat pasi, matanya sembab karena ketakutan, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang dingin.

"Biarkan kami bebas," mohonnya dengan suara gemetar hingga hampir tidak terdengar jelas. "Kami berjanji — tidak akan ikut campur urusan kalian lagi, tidak akan pernah bertanya atau mencari tahu apa yang kalian lakukan. Kami akan pergi jauh sekali, menjauh selamanya dari tempat ini, dan tidak akan pernah mengusik hidup kalian sedikit pun. Tolong... lepaskan kami..."

Di sudut ruangan, di bawah cahaya lampu yang agak redup, ada seseorang yang sedari tadi hanya diam. Ia duduk tenang di sofa besar yang empuk, seakan semua yang terjadi di depannya hanyalah tontonan biasa yang tidak menyentuh hatinya sedikit pun. Perlahan ia berdiri — langkahnya pelan, tenang, namun setiap gerakannya terasa penuh ancaman. Di balik punggungnya, ia mengeluarkan sebilah pisau panjang yang berkilau tajam terkena cahaya lampu. Tanpa terburu-buru, ia berjalan mendekati wanita yang sedang menangis itu.

Wajahnya datar, dingin, tanpa emosi — seakan ia bukan manusia yang punya hati.

"Maaf, Nyonya," ucapnya rendah, hampir berbisik, begitu tenang seakan sedang menyampaikan salam bukan ancaman kematian. "Tapi ada satu hal yang harus kau pahami: mayat adalah penyimpan rahasia terbaik di dunia ini. Karena mulut yang sudah tertutup selamanya tidak akan pernah bisa membocorkan apa pun kepada siapa pun."

Tanpa menunggu jawaban, tanpa ragu sedikit pun — ia langsung menusukkan pisau tajam itu ke dada wanita itu. Sekali. Dua kali. Berkali-kali lagi, dengan gerakan cepat, mantap, dan kejam. Darah segar membasahi pakaiannya, menetes ke lantai.

Wanita itu tersentak hebat, tubuhnya menegang sejenak, lalu perlahan melemas sepenuhnya. Ia tewas dengan mulut sedikit terbuka dan mata melotot lebar — seakan hingga napas terakhirnya pun, ia masih tidak percaya bahwa orang-orang yang selama ini mereka percayai dan perlakukan baik, tega melakukan hal sekejam ini kepada mereka.

"TIDAK! BAJINGAN KALIAN SEMUA!" teriak suaminya sekuat tenaga, suaranya pecah oleh campuran kemarahan yang meluap-luap dan kesedihan yang menghancurkan hati. Matanya menyala penuh amarah, air mata pun akhirnya jatuh di pipi lelaki yang dulu gagah dan berwibawa ini. "Akan kupastikan kalian menerima pembalasan yang setimpal! Akhir yang sama persis dengan apa yang kalian lakukan hari ini! Ingatlah kata-kataku!"

Pembunuh itu menoleh perlahan. Sebuah senyum tipis, sinis, dan mengerikan terukir di sudut bibirnya.

"Tidak usah berjanji begitu. Kau pun akan segera menyusul istrimu ke tempat yang sama. Anggap saja aku sedang berbuat baik — agar kalian tetap bersama selamanya, tidak terpisahkan lagi. Di akhirat." Ia tertawa pendek, kasar, dan dingin — suara yang membuat bulu kuduk berdiri. "Hahaha!"

Lalu ia berbalik — dan melakukan hal yang sama kepada lelaki itu. Pisau yang masih berlumuran darah itu turun lagi, berulang kali menembus dada lelaki yang dulu mereka hormati dan panggil Tuan. Tak lama kemudian, tubuh lelaki itu pun terkulai diam. Suami istri itu tewas berdampingan — persis seperti yang dikatakan orang jahat itu.

Salah satu rekan mereka yang sedari tadi hanya menyaksikan, melangkah maju dengan wajah tampak cemas dan gelisah. "Lalu bagaimana selanjutnya? Jangan sampai hal ini terendus publik. Semua rencana kita akan sia-sia kalau polisi mulai menyelidiki dengan serius."

Orang yang memegang pisau itu mengelap darah di tangannya dengan ujung kain, begitu tenang seakan tidak ada yang terjadi. "Tenang saja. Lepas semua ikatan mereka agar tidak terlihat mencurigakan. Lalu — bakar rumah ini sampai rata dengan tanah, tidak ada yang boleh tersisa. Buat semua orang percaya bahwa ini hanyalah kecelakaan kompor gas biasa yang menimpa keluarga baik hati. Dan hubungi teman kita yang bertugas di kepolisian — pastikan ia mengurus segalanya agar penyelidikan ini tidak berlanjut lebih jauh."

Mereka pun segera bergerak, melaksanakan perintah itu tanpa menunda sedetik pun. Cahaya api mulai tumbuh besar, menerangi malam yang gelap itu dengan warna merah yang mengerikan.

️ Keesokan Harinya

Langit masih mendung. Asap hitam tebal perlahan mengepul naik dari sisa puing-puing rumah yang dulu megah dan penuh kehidupan itu. Warga desa berkerumun di kejauhan, dipisahkan oleh garis polisi dan petugas yang berdiri tegak menjaga tempat kejadian. Wajah semua orang tampak sedih, terkejut, dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

"Kasihan sekali mereka..." gumam seorang warga tua sambil menggelengkan kepala pelan. "Padahal mereka keluarga yang sangat baik, tidak pernah sombong, dan selalu siap membantu tetangga yang kesulitan tanpa mengharapkan balasan apa pun."

Warga lain yang berdiri di sampingnya ikut menimpali dengan suara berat dan sedih. "Benar sekali. Sering sekali mereka mampir ke warungku untuk membeli sesuatu, dan sering kali tidak mau menerima kembalian. Sungguh malang sekali nasib suami-istri itu — orang sebaik mereka berakhir seperti ini."

Namun di tempat yang agak jauh, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan, berdiri seorang lelaki tua yang berpakaian sederhana namun rapi. Di pelukannya dengan sangat hati-hati, ia menggendong seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun — anak laki-laki yang sedang tertidur pulas, tak tahu apa-apa tentang dunia yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Wajah anak itu damai, tidak menyadari bahwa hidupnya telah berubah selamanya.

Lelaki tua itu menatap puing-puing rumah di kejauhan dengan mata berkaca-kaca, air mata menahan jatuh. Ia tampak berat hati pergi, namun tahu bahwa tinggal hanya akan membahayakan nyawa anak itu.

"Maafkan saya, Tuan... Maafkan saya," bisiknya pelan dengan suara bergetar. "Saya tidak mampu berbuat lebih banyak saat itu. Saya tidak cukup kuat untuk melindungi kalian berdua. Tapi saya berjanji — akan saya jaga Tuan Muda ini sekuat tenaga saya, akan saya besarkan dengan jujur dan berani. Dan kelak, saat ia sudah cukup dewasa dan kuat... akan saya ceritakan semuanya. Tentang siapa orang tuanya, apa yang terjadi malam ini, dan siapa yang bersalah. Agar ia bisa membalaskan dendam ini dengan cara yang benar."

Ia menarik napas panjang, mencoba menahan kesedihannya, lalu memeluk anak itu lebih erat — seakan mewariskan semua harapan dan janji ke dalam pelukan itu.

Perlahan ia berbalik. Langkahnya pelan namun mantap menjauh dari tempat itu. Tanpa ada yang menyadari keberadaannya — tanpa ada yang tahu — lelaki tua itu pergi membawa satu-satunya harapan yang tersisa dari kebakaran itu. Dan di belakangnya, rumah itu hanya tinggal abu dan kenangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!