NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 : ANTARA BERITA, KEJUJURAN, DAN PILIHAN SULIT

...BAB 26...

...ANTARA BERITA, KEJUJURAN,...

...DAN PILIHAN SULIT...

Reyga masih menatap layar ponselnya dengan wajah semakin serius. Semakin banyak berita yang ia buka, semakin kusut wajahnya.

Ada foto dirinya bersama Alessia. Ada potongan video pendek ketika Alessia menyerahkan piala. Ada foto mereka di pesta dengan latar cahaya lilin di pinggiran kolam renang.

Bahkan ada judul-judul yang menurut Reyga sudah keterlaluan.

“Reyga dan Alessia, Pasangan Baru yang Bikin Netizen Baper!”

“Alessia Akui Suka Reyga dan Berharap Jadi Jodohnya!”

Reyga mendengus. "Ini orang-orang nggak punya kerjaan lain apa?"

Amelia yang masih membereskan perlengkapan Bintang hanya bisa diam.

Ia tahu. Semua berita itu berasal dari wawancaranya. Dan sekarang ia berada tepat di samping orang yang diberitakan.

Situasi terasa seperti bom waktu. Reyga kembali menggulir layar. "Tuh lihat."

Ia menunjukkan salah satu foto lagi pada Amelia. "Ini yang paling nggak masuk akal."

Amelia melirik. "Kenapa lagi?"

"Katanya gue datang ke pesta Alessia sambil membawa bunga."

Amelia terdiam.

"Terus katanya gue memberikan bunga itu ke dia."

Amelia menelan ludah. Reyga justru tertawa pendek. "Padahal gue bahkan nggak bawa bunga."

Amelia perlahan mengangkat wajah. "Jadi..."

Ia berusaha terdengar biasa. "Semua berita itu bohong?"

Reyga menoleh. "Sebagian besar."

Amelia mengerutkan kening. "Termasuk soal kamu memberikan bunga kepada Alessia?"

"Jelaslah." Reyga tertawa. "Mana ada gue bawa bunga?"

"Terus soal kamu perhatian sama dia?" Amelia semakin penasaran mendengar cerita dari versi Reyga sendiri.

Reyga mengangkat bahu. "Gue datang ke pesta karena dia mengundang gue. Dia juga sponsor pertandingan gue. Gue menghargai dia. Bukan berarti gue pacaran sama dia."

Amelia terdiam. Entah kenapa, dadanya terasa sedikit lega.

Namun Reyga tiba-tiba menyipitkan mata. "Kenapa lo nanya begitu?"

Amelia mengerjap. "Ya... penasaran aja."

Reyga menatapnya beberapa detik. "Jangan-jangan..." Ia mendekat sedikit. "Lo juga ikut-ikutan menyebarkan berita itu?"

Amelia langsung tersedak ludah. "Uhuk!"

Reyga mengangkat alis. "Kenapa tersedak?"

"Nggak!" Amelia menggeleng cepat.

"Lo aneh."

"Aku cuma salah napas!"

Reyga masih menatap curiga. "Amelia."

"Iya?" Amelia mengangkat wajah.

"Lo tahu banyak soal berita ini."

Amelia terdiam.

"Jangan bilang..." Reyga menunjuk ponselnya. "Lo yang wawancara Alessia?"

Amelia menggigit bibir. Beberapa detik ia masih berusaha diam.

Namun akhirnya ia menghela napas panjang. "Iyaa..." Amelia menundukkan kepalanya.

Reyga membeku. "Apa?"

"Aku yang mewawancarai Alessia pagi tadi."

Suasana langsung berubah. Reyga menatap Amelia tidak percaya. "Jadi berita ini..."

"Aku yang meliputnya."

"Dan lo yang menyerahkan hasil wawancaranya?"

Amelia mengangguk. "Iya."

Reyga berdiri. "Amelia!" Nada suaranya meninggi.

Bintang yang sedang bermain di karpet langsung menoleh.

Amelia ikut berdiri. "Aku nggak punya pilihan lain!"

"Tapi kan Lo punya pilihan untuk nggak menulis sesuatu yang belum tentu benar!"

"Aku reporter!"

"Terus?"

"Atasanku yang menyuruhku!" Amelia mulai berkaca-kaca.

Reyga menggeleng kesal. "Selalu begitu."

"Memangnya kenapa?" lirihnya.

"Karena kalian selalu menganggap kehidupan orang lain sebagai bahan berita!" bentak Reyga lagi.

Amelia terdiam. Kalimat itu seolah menusuk hatinya. Namun ia tidak mau kalah.

"Kamu pikir aku senang melakukan itu?" sahut Amelia.

Reyga menatapnya.

"Aku cuma menjalankan pekerjaanku." ucapnya pelan.

"Ya. Pekerjaan yang bikin hidup orang lain terganggu."

"Aku tahu!" Suara Amelia ikut meninggi. "Tapi aku juga harus hidup!"

Reyga terdiam.

Amelia menatapnya dengan mata semakin berkaca-kaca. "Menurutmu aku kerja karena aku suka mengejar kehidupan orang lain apa?" Ia menarik napas. "Aku punya ibu yang sakit-sakitan di rumah."

Reyga tidak menyela.

"Aku punya dua adik yang masih sekolah. Aku yang membantu kebutuhan mereka. Aku yang harus memikirkan uang sekolah, buku, kebutuhan rumah..." Suara Amelia mulai bergetar. "Aku cuma punya pekerjaan ini."

Reyga perlahan menurunkan pandangannya.

"Aku nggak punya keluarga kaya yang bisa menjamin hidupku." Amelia mengusap matanya.

"Jadi kalau atasanku menyuruhku mencari berita, aku harus bekerja. Kalau aku menolaknya, aku akan kehilangan pekerjaan."

Reyga masih diam.

Amelia mengambil tasnya. "Kalau kamu masih marah padaku, aku mengerti." Ia mengusap pipinya kasar. "Tapi jangan menganggap semua orang bekerja karena ingin merugikan orang lain."

Reyga menatapnya.

Amelia berjalan menuju pintu. "Aku pulang."

Namun baru beberapa langkah...

"Uwaa...!"

Tangisan Bintang pecah.

Amelia berhenti. Reyga langsung menoleh.

Bintang menangis sambil mengulurkan kedua tangannya.

"Kenapa?" Reyga menghampirinya.

Namun Bintang semakin menangis. Reyga mencoba menggendongnya. Tidak berhasil.

"Hei... jangan nangis."

Tangisan malah semakin keras. Amelia menoleh. Ia menghela napas. "Berikan sini."

Reyga menyerahkan Bintang. Begitu berada di pelukan Amelia, tangisan bayi itu perlahan mengecil.

Amelia mengusap punggungnya. "Sudah..."

Bintang masih terisak. "Jangan nangis. Tante di sini."

Tangan Amelia mengusap rambut halus Bintang. "Tenang, ya. Tante nggak kan pergi."

Ajaibnya. Bintang berhenti menangis.

Reyga terdiam. Ia menatap keduanya.

Sudah sejak awal Amelia hadir, Bintang selalu menunjukkan kenyamanan yang berbeda.

Saat makan, saat mandi, saat rewel. Bahkan ketika sakit. Bayi itu selalu lebih mudah tenang di tangan Amelia.

Reyga memperhatikan wajah Amelia. Perempuan itu juga tampak terdiam ketika Bintang menggenggam bajunya.

Entah kenapa...

Amelia sendiri seolah tidak sanggup meninggalkan bayi itu.

Padahal beberapa menit sebelumnya ia ingin pulang.

Reyga menghela napas. "Amelia."

"Hm?"

"Jangan pulang dulu."

Amelia menatapnya. "Apa?"

"Gue mau ngomong."

"Apa?"

Reyga lalu duduk di sofa. Mengusap wajah perlahan. "Lo bilang, pekerjaan lo cuma satu-satunya sumber penghasilan."

"Iya."

"Kalau begitu..." Reyga menarik napas. "Berhentilah jadi reporter."

Amelia membelalak. "Hah apa?"

"Mulai hari ini Lo kerja sama gue."

"Sebagai apa?"

Reyga menunjuk Bintang. "Ngurus dia."

Amelia terdiam. "Jadi pengasuh maksudmu?!"

"Kurang lebih begitu..."

Amelia langsung menggeleng. "Nggak bisa."

"Kenapa?" Reyga menatapnya.

"Aku reporter."

"Dan lo bilang pekerjaan itu bikin lo harus mengejar berita yang bikin lo sendiri nggak nyaman." tegasnya.

Amelia terdiam.

Reyga melanjutkan. "Gue butuh orang yang bisa bantu gue mengurus Bintang."

"Kenapa harus aku?"

"Karena Bintang nyaman sama lo."

Amelia menatap bayi dalam pelukannya. Reyga kemudian berkata dengan serius.

"Gue akan bayar lo."

"Berapa?"

Reyga menyebutkan jumlahnya. Mata Amelia langsung membesar.

"Itu..."

"Dua kali gaji reporter lo."

Amelia terdiam. "Dua kali?"

"Iya."

"Reyga, aku nggak bisa menerima sebanyak itu hanya untuk menjaga Bintang."

"Kenapa?"

"Karena terlalu besar."

"Gue mampu."

Amelia menatapnya. "Fasilitasmu kan dibekukan."

Reyga mendengus. "Jangan ingatkan gue soal itu."

"Tapi uangnya dari mana?"

Reyga menyandarkan tubuh. "Hadiah balapan kemarin masih ada."

Amelia terdiam.

"Dan gue nggak punya banyak pengeluaran selain Bintang." Reyga menatapnya.

"Anggap saja ini pekerjaan. Bukan bantuan."

Amelia kembali melihat Bintang. Bayi itu sedang menggenggam jarinya. Ia tersenyum tipis.

Lalu ia menatap Reyga "Kalau aku menerima pekerjaan ini..."

Reyga menunggu jawaban.

"Berarti aku harus berhenti jadi reporter?"

Reyga mengangguk pelan. "Iya."

Amelia terdiam "Kenapa?"

"Karena gue nggak mau lo terus-terusan masuk ke kehidupan orang lain cuma demi berita." Reyga menatapnya serius. "Dan jujur aja, gue juga nggak mau suatu hari nanti lo datang ke gue bukan sebagai Amelia yang bantu ngurus Bintang, tapi sebagai reporter yang mengejar cerita tentang gue."

Amelia menunduk. "Jadi kamu ingin aku berhenti?"

"Iya." Jawaban Reyga begitu tegas. "Kalau lo mau kerja sama gue, gue pengin lo benar-benar fokus mengurus Bintang."

Amelia menghela napas. "Tapi kalau aku berhenti, aku akan kehilangan pekerjaan."

"Gue tahu." Reyga menatapnya lebih lembut.

"Makanya gue nggak cuma nyuruh lo berhenti."

Ia berhenti sebentar. "Gue kasih lo pekerjaan sebagai gantinya. Dan gajinya dua kali lipat dari gaji reporter lo."

Amelia kembali membelalak. "Reyga..."

"Gue serius." Reyga mengangguk ke arah Bintang yang masih berada dalam pelukan Amelia. "Lo sudah tahu cara mengurus dia kan. Bintang juga nyaman sama lo. Gue nggak tahu sampai kapan bayi ini akan tinggal sama kita, tapi selama dia masih di sini, gue butuh orang yang bisa gue percaya."

Amelia terdiam. Tatapannya jatuh pada Bintang. Bayi kecil itu sedang memainkan ujung jarinya dengan tenang.

"Jadi... kamu benar-benar mau aku berhenti menjadi reporter?"

"Iya." ulang Reyga tersenyum tipis. "Anggap saja gue sedang menawarkan pekerjaan baru."

Amelia menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mempertimbangkan meninggalkan pekerjaannya.

Bukan karena ia membenci pekerjaan itu.

Namun karena mungkin, sudah waktunya memilih sesuatu yang bisa membuat hidupnya sedikit lebih tenang.

Dan anehnya, pekerjaan itu datang dari lelaki yang dulu paling ia benci karena selalu menolak diwawancarai.

Amelia menatap Reyga. "Kamu benar-benar menyebalkan."

Reyga mengangkat alis. "Kenapa?"

"Baru sekarang kamu menawarkan pekerjaan setelah bikin aku stres berhari-hari."

Reyga tertawa kecil. "Jadi lo terima?"

Amelia menatap Bintang. Kemudian tersenyum. "Untuk Bintang... mungkin."

Reyga ikut tersenyum. "Deal."

Bintang tiba-tiba mengoceh. Keduanya langsung menoleh.

"Dia aja setuju," kata Reyga santai.

Amelia terkekeh. "Yang setuju Bintang, bukan aku."

"Berarti tinggal tunggu lo."

Amelia menggeleng sambil tersenyum.

Namun jauh di dalam hatinya, keputusan itu perlahan mulai terasa benar.

DUA HARI KEMUDIAN...

Berry akhirnya menyelesaikan urusannya di perusahaan ayahnya.

Ia kembali ke apartemen setelah beberapa hari sibuk.

Begitu membuka pintu, ia melihat suasana yang berbeda.

Tidak ada Reyga. Tidak ada Bintang. Keduanya sedang keluar membeli kebutuhan bayi.

Berry meletakkan tasnya. Aneh. Seharusnya ia merasa lega bisa kembali. Namun pikirannya justru tertuju pada seseorang.

Melda.

Sejak pertemuan mereka di rumah sakit, wajah perempuan itu terus muncul dalam pikirannya.

Tatapan dingin Melda. Perutnya yang mulai membesar. Dan uang yang dikembalikan.

Berry duduk di sofa. Ia mengusap wajah. "Kenapa gue malah kepikiran dia terus?"

Ia mengambil ponsel. Ada pesan dari salah satu pekerjanya.

Pak, Bu Melda hari ini sudah menerima makanan. Kondisinya terlihat baik.

Berry membaca pesan itu. Kemudian membalas singkat.

Tetap pantau. Jangan sampai dia tahu saya yang menyuruh.

Pekerjanya membalas.

Baik, Pak.

Berry menyandarkan kepala. Ia masih belum berani menemui Melda. Namun setidaknya, ia bisa memastikan perempuan itu baik-baik saja dari jauh.

Beberapa detik kemudian, Berry melihat foto yang dikirim pekerjanya.

Melda sedang duduk di depan rumah makan. Wajahnya terlihat lelah. Tangannya mengusap perut.

Berry menatap foto itu lama. Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya.

"Melda..." Ia mengepalkan tangan.

Kali ini Berry tidak ingin sekadar memberikan uang. Ia ingin memperbaiki semuanya.

Tetapi ia sadar, untuk memperbaiki kesalahan sebesar itu, mungkin uang tidak akan pernah cukup.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Berry benar-benar takut kehilangan seseorang yang bahkan belum tentu mau kembali kepadanya.

Bersambung...

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!