Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOBARAN TERAKHIR VOLCANIA
BAB 21: KOBARAN TERAKHIR VOLCANIA
Sendi lutut Kael berderit keras. Tekanan dari cakar Beast Peringkat Menengah itu terlampau masif, menekan gagang Sabit Penuai Nyawa hingga pemuda itu nyaris berlutut di atas tanah berdebu.
Melihat Kael yang mulai terdesak hebat, sepasang mata Ren membelalak panik.
Gairah bertarungnya mendadak tergantikan oleh kecemasan. Tanpa berpikir panjang, pemuda berambut merah itu bersiap melesat maju untuk menerjang sang Beast secara serampangan.
"REN!" teriak Kael tegas, suaranya memotong deru angin dengan nada sedingin es.
Ren tersentak, langkahnya terhenti di udara.
"Jangan teralihkan! Tetap di posisimu, aku masih bisa menahannya!" perintah Kael tanpa memalingkan pandangannya dari taring mengerikan monster yang siap mencabiknya tepat di depan wajah.
Ren menggertakkan giginya rapat-rapat hingga rahangnya mengeras.
Meski insting barbarnya meronta ingin segera menyerang, ia memaksa dirinya untuk mematuhi komando taktis Kael. Pemuda itu menahan napas, menunggu aba-aba di tengah ketegangan yang mencekik.
Rooooaarrr!
Merasa mangsanya melemah, Beast berzirah tebal itu semakin beringas. Monster itu memusatkan seluruh sisa gravitasi dan tenaga ke arah depan, berniat meremukkan tulang-tulang Kael menjadi serpihan.
Namun, di balik wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang gemetar menahan beban, sudut bibir Kael justru terangkat samar.
Kael mengerahkan seluruh aliran energi Ranah Perunggu Puncak miliknya hingga ke batas maksimal.
Di sinilah letak jebakan mematikan yang Kael inginkan. Ia sengaja menahan semuanya ketika monster itu memusatkan seluruh fokus dan berat tubuh kepadanya!
"REN, SEKARANG! TARIK KEDUA KAKINYA DENGAN TENTAKELMU!"
Mendengar instruksi yang sangat presisi itu, Ren mendadak terhentak.
Otaknya baru menyadari betapa jenius strategi Kael. Tanpa membuang sedetik pun, Ren langsung menyalurkan seluruh sisa jiwa Perunggunya ke punggung.
Wuuuhssss!
Manifestasi ilusi Kraken Rin meledak! Empat tentakel kinetik melesat dalam sekejap, menyapu pasir, dan langsung melilit kuat kedua pergelangan kaki belakang Beast tersebut.
Dengan satu tarikan kasar dan bertenaga dari Ren, monster raksasa itu tertarik paksa ke belakang!
Bruuukkk!
Kaki Beast itu terangkat ke udara. Keseimbangannya hancur berantakan dan tubuh masifnya seketika limbung.
Memanfaatkan kesempatan emas di mana tekanan musuh melemah, Kael merapatkan genggamannya pada gagang sabit.
Dengan sekali ayunan kuat dari bawah ke atas, ia menangkis dan melepaskan diri sepenuhnya dari sisa tekanan cakar sang Beast.
Begitu tubuhnya terbebas dari kuncian, Kael langsung melompat tinggi ke udara menembus bayangan monster yang sedang kehilangan keseimbangan.
"Morthas!" raung Kael di udara.
Di dalam genggamannya, Sabit Penuai Nyawa berdenyut hebat. Aura hitam kemerahan meledak menyelimuti mata pisau maut tersebut.
Srakkkkk!
Tebasan horizontal itu meluncur sangat mulus menebas leher sang Beast menembus zirah tebalnya.
Rooooorrr...!
Raungan monster itu terputus seketika. Kepalanya menggelinding jatuh ke atas pasir, dan raga masifnya mati dalam sekejap sebelum menabrak tanah.
Bruk!
Kael mendarat dengan napas terengah-engah.
Tangannya bergetar menahan lelah. Mengayunkan sabit dan menahan tekanan tadi benar-benar menguras habis energi jiwanya.
Di sisi lain, Ren berdiri terperangah.
Ia yang biasanya selalu menyerang barbar tanpa strategi apa pun, kini menatap Kael dengan rasa kagum yang luar biasa. Di dalam benaknya, ia mengakui perbedaan level pemikiran di antara mereka.
Perlahan, manifestasi Kraken Rin di punggung Ren meredup dan menghilang. Ia berjalan menghampiri rekannya itu.
"Kau... tidak apa-apa, Kael?" tanya Ren dengan napas yang sama-sama memburu.
Kael menyeka keringat dingin di dahinya lalu tersenyum tipis. "Jangan khawatir, Ren."
Di dalam kedalaman dimensi Void, Morthas mendengus angkuh.
Cepat ambil kristal dari dada Beast itu sebagai bayaran atas kekuatan sabitku! titah Sang Penuai Nyawa dengan nada menuntut.
Kael menatap Ren sejenak. Ren hanya mengangguk pelan; ia sudah tahu dan paham seperti apa ego entitas di dalam jiwa Kael itu.
Tanpa menunda lagi, Kael mengarahkan ujung sabitnya. Asap hitam menyerap inti kristal dari jasad Beast tersebut langsung ke dalam dimensi batin. Setelah itu, Sabit Penuai Nyawa kembali lelap ke dalam kegelapan.
Kael memicingkan mata, mengawasi area sekitar.
Pikirannya kembali berputar. Bagaimana bisa ada Beast yang terlepas ke sini? Di celah labirin tadi Morthas sudah membantai semuanya tanpa sisa.
Melihat wajah serius Kael, Ren hanya tertawa santai. "Hahaha, mungkin dia cuma tersesat, Kael."
Kael hanya tersenyum meresponsnya. Namun di dalam benak analitisnya, pikiran Kael terus bekerja menyusun kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih rasional.
Sementara itu, di gerbang utama Kerajaan Volcania.
Kondisi medan pertempuran kini benar-benar membara bak tungku neraka.
Para prajurit veteran yang setia kepada Jenderal Veron berada dalam mode tempur penuh yang beringas. Mereka sudah tak memedulikan lagi luka yang merobek tubuh atau kelelahan jiwa yang menekan batin.
Di mata mereka hanya ada satu tujuan pertahanan mutlak.
Jenderal Veron menatap lurus ke arah gelombang kedua Beast yang mulai merangsek maju membawa keputusasaan.
"Baiklah... kalau itu yang kalian mau!" geram sang Jenderal, dadanya bergemuruh menahan haru melihat pasukannya.
Pendaran Anima Serigala Zirah Besi miliknya yang tadi sempat meredup, kini memancar semakin kokoh dan menggetarkan tanah.
Jenderal Veron mengangkat pedang besarnya tinggi-tinggi. "Persiapkan diri kalian, para prajurit tangguh Volcania!"
WUSSS! BOOOOM!
Pertarungan kembali pecah secara brutal! Serigala Zirah Besi melesat menerjang gelombang musuh, merobek barisan Beast terdepan.
Para prajurit merangsek maju bak benteng hidup. Tombak-tombak menembus daging monster, perisai menahan hantaman mematikan. Darah memuncrat ke udara, mewarnai gerbang Volcania dengan kegigihan manusia yang bertarung di batas kematian!
Di saat keputusasaan itu terjadi, dari jarak yang semakin menyempit, Kapten Gareth terus memacu kecepatan tertingginya.
"Kita semakin dekat!" ucap sang komandan, matanya menatap tajam membelah jarak.
Elena terbang tidak jauh di sisi sang Kapten. Gadis berambut pirang itu mengepakkan sayap apinya, mencoba melihat lebih jelas ke arah depan.
"Gerbangnya sudah mulai terlihat, Kapten!" lapor Elena.
Di sisi kiri, Suna terus bergerak lincah. Sepasang matanya sangat waspada mengantisipasi serangan Beast yang mungkin bersembunyi.
Sedangkan di barisan paling belakang, Hugo mulai tertinggal.
Napas pemuda tambun itu terengah-engah hebat. Meski paru-parunya serasa mau pecah, Hugo terus menengok ke arah belakang. Ia sangat khawatir kepada Ren dan Kael yang tertinggal di area sebelumnya. Dalam benak nya ia berharap mereka segera menyusul.
Melihat fokus juniornya yang terpecah, Kapten Gareth menoleh sedikit ke belakang.
"Percepat gerakanmu, Hugo!" perintah sang Kapten yang langsung kembali fokus ke arah depan.
Hugo mengertakkan gigi. Mengumpulkan sisa tenaganya, ia memacu kakinya lebih cepat demi menyongsong badai peperangan di depan sana.