Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 33
Ketika Aldri akan keluar tanpa sengaja dompetnya terjatuh. Anggara membantu mengambilnya. Dompet itu terbuka menjadi dua. Senyum yang tadi menghiasi bibir Anggara mendadak pudar dari wajahnya, seketika dirinya membeku mendapati foto seorang gadis yang terselip dalam dompet itu.
"Tika?" Tangan Anggara bergetar.
Setelah beberapa hari mencari informasi keberadaan Antika, tetapi hasilnya nihil. Siapa sangka justru Anggara menemukan informasi tentang gadis pujaannya dari sebuah dompet seorang Aldri Vigoro.
Apa maksud semua ini? Apakah Tika anak dari Pak Aldri? Nggak. Itu sama sekali nggak mungkin. Pak Aldri belum nikah. Dan foto ini mereka duduk dekat banget dan kelihatan happy banget. Apa mungkin mereka Om dan ponakan? Atauuuu.... nggak... nggak mungkin mereka pacaran kan? Masa iya Tika mau sama om-om? Aaahhhh! Lama-lama bisa gila aku.
Semua ini salahku. Selama ini aku nggak pernah mikir untuk ketemu dan kenal keluarga Tika. Andai aja aku udah ketemu mereka seenggaknya nggak akan sesulit ini melakukan Tika. Dan apa ini semua? Aku benar-benar bingung.
Aldri merasa ada yang aneh. Ternyata benar, dompetnya tertinggal lebih tepatnya pasti terjatuh tadi saat dirinya memberikan kartu nama. Ia segera berbalik ke toilet. Hampir saja Aldri menabrak Anggara yang sedang bergegas keluar.
"Oh maaf, Pak. Apa Bapak mencari dompet bapak?"
"Ah, iya apa kamu menemukannya?"
"Iya, ini mau saya kembalikan."
"Syukurlah. Terima kasih banyak, Gara."
"Sama-sama, Pak. Oh iya itu.,..."
"Kenapa?"
"Eum. Ah, nggak- nggak apa-apa Pak." Anggara memaksa senyumnya.
"Ya, sudah. Mari kita kembali."
"Baik, Pak."
Mungkin sebaiknya aku cari sendiri informasi tentang mereka. Aku harus memastikan hubungan mereka berdua.
Aldri dan Anggara berjalan berdampingan.
Anggara dengan segera memasuki kamarnya ketika sampai di rumah. Tangan nya bergegas mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya dan memencet salah satu kontak.
[Hallo, Bang.]
[ Ada yang bisa saya bantu, Den?]
[ Bang tolong bantu aku cari informasi tentang Aldri Vigoro pemilik perusahaan Tiara Kasih. Cari alamatnya, pastikan dia tinggal sama siapa saja, dan pastikan identitasnya juga]
[ Siap, Den.]
Anggara segera menutup teleponnya setelah mengucapkan terima kasih. Pemuda itu sudah tidak sabar mendapatkan informasi lengkap tentang keberadaan Antika. Meskipun ragu dengan apa yang ia akan dapatkan, tetapi dirinya yakin yang selama ini ia cari ada bersama Aldri Vigoro.
"Tika, tunggu aku."
Di kantor Aldri.
Aldri sangat bahagia akhirnya masalah kantornya dapat terselesaikan dengan baik. Hari ini iya ingin cepat pulang karena rindunya sudah menutup terhadap Antika. Senyum mengembang di wajahnya. Dalam pikirannya dirinya dapat membayangkan suasana romantis di tempat bulan madunya nanti.
"Gi, rencananya aku mau pulang awal hari ini. Kamu juga pulanglah. Libur lah sehari saja. Kamu sudah banyak menguras tenaga dan pikiranmu dalam masalah ini. Lain kali kita harus lebih hati-hati lagi."
"Aku mengerti. Okey, aku juga akan menikmati liburku kalau begitu. Meski sehari lumayan juga bisa merefresh otaku yang mulai ruwet ini. Terima kasih, Al. Selamat menikmati liburan juga. Aku tahu pasti kalian sudah rindu ingin segera berkumpul. Ayo segera pulang." Egi mengepalkan tangannya mengucapkan semangat m
Aldri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Memang gelar apa kata Egi, dirinya sudah sangat rindu pada Antika. Mereka berdua keluar bersama menuju tempat parkir.
Mobil Aldri memasuki halaman rumahnya. Ia bergegas melangkah dan berniat memberikan kejutan kepada istrinya. Akan tetapi, ia mendapati Antika yang sedang berkemas.
Degh!
Ada apa ini? Kenapa Tika mengemasi baju-bajunya? Apa yang terjadi? Apakah dia marah padaku karena telah mengabaikannya beberapa hari ini?
"Tika, apa yang sedang kamu lakukan?"
"Oh, Darling! Kenapa bikin kaget aja. Jantung ku udah mau copot ini. Awas kalau sampai copot tanggung jawab lo! Lagian nggak salah nggak apa gitu tiba-tiba udah di depan pintu aja."
Antika mengelus-elus dadanya meredakan keterkejutannya akibat ulah sang suami. Aldri sama sekali tidak peduli dengan omelan Antika. Matanya fokus tertuju pada satu koper baju yang sedang dikemas oleh Antika.
"Tika, Kamu sedang apa, sayang?" Aldri mengulangi pertanyaannya karena belum juga mendapatkan jawaban. "Apa kamu tidak sedang marah kan?"
Antika terkejut mendengar pertanyaan suaminya. Mengapa suaminya itu bisa berprasangka kalau dirinya sedang marah? Akhirnya Atika menyadari ketika dirinya menatap sang suami yang pandangan matanya fokus pada kopernya. Antika tersenyum jahil. Tiba-tiba saja muncul ide untuk menggoda sang suami.
"Iya."
"Apa? Apa maksudmu, sayang? Tolong maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud mengabaikanmu. Hanya saja memang semua di luar dugaan."
Atika tersenyum melihat reaksi panik dari sang suami. Rupanya suaminya itu serius mengira dirinya marah hanya karena kesibukan Aldri. Cinta nya tidak sedangkan itu. Akan tetapi, iya benar-benar gemas melihat ekspresi suaminya saat ini.
"Tika tolong jangan marah ya, sayang." Aldri mendekat dan menggenggam kedua tangan Aldri.
Antika pun dulu dan tidak tega meneruskan aktingnya. Kekhawatiran Aldri membuat hatinya meleleh.
"Baiklah kalau begitu cium aku."
Aldri terkejut mendengar kalimat yang diucapkan Antika baru saja. Istrinya itu bukannya marah, tetapi malah meminta ciuman. Ekspresi bingung tergambar jelas di wajah Aldri. Namun ia tetap melakukan apapun yang diminta istrinya itu.
Aldri mengecup bibir Antika sekilas. Wajah nya sangat dekat. Kedua manik matanya bertemu dengan kedua bola mata Antika.
Antika tak mampu menahan diri lagi. Ia mengambil inisiatif. Bibirnya segera menyegel bibir Aldri. Sejenak tak ada respon dari Aldri. Namun, Antika tidak peduli. Ia tetap mencium bibir seksi milik sang suami. Akhirnya ia mendapat respon dari Aldri.
Perlahan dengan lembut kecupan Antika pun berbalas. Setelah beberapa menit keduanya mulai berhasrat, tetapi bunyi ponsel Antika membuyarkan konsentrasi kedua insan itu. Antika menghentikan ciumannya dan segera melepaskan diri dari Aldri.
"Ibu?" Atika melihat di layar ponselnya muncul nama 'Ibu'. Dengan segera ia mengangkatnya.
"Hallo, Bu."
"Hallo, Nak. Apa kamu sibuk?" Indira bertanya sambil sesekali terbatuk.
"Nggak, Bu. Aku mana ada kata sibuk? Ibu gimana kabarnya? Padahal terus semingguan rasanya udah kangen banget."
Indira tersenyum mendengar penuturan sang menantu. "Alhamdulillah ibu sehat, Nak." Indira kembali terbatuk.
"Ibu beneran nggak apa-apa?"
"Iya, sayang." lagi-lagi Indira terbatuk.
Ada rasa cemas pada diri Antika juga Aldri. Pasalnya, selama ini Indira belum pernah mengalami sakit karena ibu Aldri itu sangat menjaga pola makan dan istirahatnya. Maka kemungkinan semua prediksi itu tidak benar.
"Ibu, aku mau ke Surabaya. Aku kangen banget sama ibu. Tungguin aku, ya, Bu." tanpa meminta persetujuan Aldri, Tika mengambil keputusan.