NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Dua Pria, Satu Wanita

Momo keluar dari ruang kerja Renard dengan folder biru di balik kardigan dan jantung di tenggorokan.

Langkah di koridor ternyata milik Bu Ratih yang membawa nampan teh. Perempuan itu menatap Momo sebentar, lalu menunduk sopan seolah tidak melihat apa pun.

"Nona mencari buku?"

"Sudah ketemu."

"Baik, Nona."

Bu Ratih masuk ke perpustakaan. Momo berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah tenang yang dipinjam dari orang lain. Begitu pintu tertutup, kakinya hampir lemas.

Sen menunggu di balik lemari, duduk dengan wajah pucat dan mata waspada.

"Kau dapat?"

Momo melempar folder ke ranjang. "Sebagian."

Sen membuka folder dengan tangan yang masih gemetar. Wajahnya berubah saat melihat foto dirinya sebagai anak. Perubahan itu kecil, tetapi cukup untuk membuat Momo tahu bahwa luka yang paling dalam tidak selalu berdarah.

"Aku tidak tahu dia punya foto ini," kata Sen.

"Aku juga tidak tahu dia punya fotoku."

Sen membalik halaman, lalu berhenti. "Dia mengawasimu sejak lama."

"Terima kasih sudah menjelaskan hal yang baru saja menghancurkan kepalaku."

"Momo..."

"Jangan pakai suara lembut."

Sen menutup mulut.

Momo mengambil foto dirinya yang berusia enam belas tahun. Gadis dalam foto itu tidak tahu apa-apa. Ia hanya menenteng tas, memikirkan uang obat Ama, mungkin memikirkan apakah besok masih bisa makan. Ia tidak tahu ada kamera yang mengikuti. Ia tidak tahu seorang pria bernama Renard Wijaya, jauh di atas dunianya, suatu hari akan menyebutnya milikku dengan suara yang membuat tulang punggungnya dingin dan panas sekaligus.

"Kenapa?" bisik Momo.

Sen memandang folder. "Mungkin karena pertunangan."

"Pertunangan yang bahkan aku tidak tahu?"

"Gunawan tahu. Ayah Renard tahu. Orang-orang tua itu senang membuat anak muda menjadi kontrak hidup."

"Tapi fotonya bertahun-tahun. Bukan satu atau dua."

Sen tidak menjawab.

Momo menatapnya tajam. "Kamu tahu sesuatu."

"Aku tahu Renard terobsesi pada pola. Pada orang yang bertahan. Pada sesuatu yang tidak patah meski harusnya patah."

Kata itu membuat Momo teringat malam di atap Pulau Raja.

Sesuatu yang tidak patah.

Jadi itu bukan pujian spontan. Itu hasil pengamatan panjang.

Punggung Momo terasa dingin.

"Dia menyelamatkanku karena sudah lama memilihku," katanya.

"Atau karena kau bagian dari perang yang lebih besar."

"Apa bedanya?"

"Kalau dia memilihmu, kau pusatnya. Kalau kau bagian perang, kau bidaknya."

Momo tertawa pendek. "Indah. Dua pilihan dan keduanya buruk."

Sen menatapnya dengan lelah. "Aku tidak membawamu ke sini untuk membuatmu hancur."

"Tidak. Kamu membawaku ke sini agar aku mencuri file dari pria yang akan membakar dunia kalau tahu aku menyembunyikanmu."

"Aku butuh jawaban juga."

"Kamu selalu butuh sesuatu."

Sen menunduk.

Keesokan harinya, Momo menunggu sampai hujan berhenti sebelum keluar ke taman belakang. Ia membawa sebagian salinan dokumen yang ia tulis ulang dengan tangan. Tidak semua. Ia tidak sebodoh itu. Foto dirinya ia simpan. Foto Sen kecil ia kembalikan ke folder karena ia tidak punya hak mengambil luka orang lain, bahkan dari musuh.

Sen menemuinya di jalur kecil dekat rumah kaca. Ia memakai topi tukang kebun yang terlalu besar dan jaket tua milik gudang. Penyamaran itu konyol, tetapi pengawal Renard sedang memeriksa pagar utara setelah kamera mati dua kali dalam seminggu.

"Kau berjalan seperti orang yang baru belajar menjadi manusia normal," kata Momo.

"Aku ditembak, hampir mati, lalu tinggal di lemari. Maaf kalau koreografiku kurang anggun."

Momo menyerahkan kertas lipat. "Ini bagian struktur Aula Dalam, beberapa nama, dan rute lama yang ditandai Renard. Tidak semuanya."

Sen menerima kertas itu. "Kau tidak percaya padaku."

"Aku punya perkembangan karakter, bukan kerusakan otak."

Untuk pertama kalinya, Sen tertawa tanpa mengejek.

Mereka berdiri di antara barisan tanaman basah. Kabut turun sampai bahu. Dari tempat itu, vila terlihat setengah tersembunyi oleh pohon pinus. Momo merasa seolah dunia mengecil menjadi tiga hal: dirinya, pria yang pernah membiarkannya jatuh, dan pria lain di dalam vila yang akan menjadi badai jika tahu.

"Terima kasih," kata Sen.

Momo mengangkat alis. "Itu terdengar hampir tulus."

"Memang tulus."

"Aneh."

"Aku jarang punya alasan untuk berterima kasih dengan benar." Sen memandang kertas di tangannya. "Kau orang pertama yang membantuku tanpa pamrih."

Momo langsung mundur setengah langkah. "Jangan salah sangka. Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Aku butuh jawaban."

"Tetap saja."

"Tidak. Jangan jadikan aku orang baik dalam ceritamu. Orang baik sering mati lebih dulu."

Sen menatapnya lama. "Kau takut menjadi penting."

"Aku sudah cukup penting bagi orang yang salah."

"Renard."

Nama itu berada di antara mereka seperti tali yang ditarik dari dua arah.

Momo tidak menyangkal.

Sen memasukkan kertas ke balik jaket. "Aku dibesarkan di Aula Dalam sejak kecil. Tidak ada keluarga. Tidak ada rumah. Mereka memberi makan, memberi nama tugas, memberi hukuman, memberi alasan untuk hidup. Kalau kau tumbuh di tempat seperti itu, kau sulit membedakan kandang dan rumah."

Momo diam.

"Dua tahun lalu Renard menghancurkan salah satu pusat Aula Dalam. Banyak orang pantas jatuh. Aku tidak akan membela mereka. Tapi beberapa dari kami tidak tahu hidup lain. Dia membakar rumahku, lalu dunia menyuruhku bersyukur karena rumah itu buruk."

"Jadi kamu ingin balas dendam."

"Awalnya."

"Sekarang?"

Sen melihat ke arah vila. "Sekarang aku ingin tahu kenapa dia menyisakan beberapa file. Kenapa dia tidak menyerahkan semuanya ke polisi. Kenapa namamu ada di tengah dokumen yang seharusnya tentang kami."

Momo memeluk tubuh sendiri. Udara dingin masuk ke lengan bajunya. "Kamu pikir aku jawabannya?"

"Aku pikir kau kunci yang tidak sadar sedang membuka pintu."

"Aku benci ketika pria berbicara seolah hidupku benda."

Sen menunduk. "Maaf."

Momo terkejut karena ia benar-benar terdengar menyesal.

Di teras belakang, Albert muncul.

Ia tidak melihat mereka. Belum. Tetapi kepalanya menoleh perlahan, seperti anjing pelacak yang mencium asap. Momo segera berjalan menjauh dari Sen dan mengambil pot kecil di meja rumah kaca.

"Pergi," bisiknya.

Sen menghilang di balik pagar tanaman.

Albert mendekat beberapa menit kemudian. "Nona Momo."

"Aku sedang melihat tanaman."

"Anda tidak suka tanaman."

"Aku berubah."

"Dalam tiga hari?"

"Pertumbuhan pribadi bisa cepat."

Albert menatap pot di tangan Momo. Pot itu kosong.

Momo menaruhnya kembali.

"Ada bau antiseptik di kamar Anda," kata Albert.

"Aku membersihkan luka di tangan."

"Tangan kiri atau kanan?"

Momo mengangkat tangan kanan.

Albert melihat tangan itu. Luka kecilnya hampir sembuh. "Bau antiseptik terlalu banyak untuk luka sekecil itu."

"Kamu sekarang ahli aroma?"

"Saya ahli mencurigai hal yang ingin disembunyikan."

Momo tersenyum tipis. "Pekerjaan yang menyenangkan."

Albert tidak membalas senyum. "Ada jejak lumpur di koridor servis dekat sayap timur. Ukurannya bukan sepatu pelayan. Bukan sepatu pengawal. Bukan sepatu Anda."

Napas Momo terhenti sesaat.

Terlalu singkat.

Tapi Albert melihat.

Pria itu menunduk sopan. "Saya harap Anda tidak sedang melindungi sesuatu yang akan membuat Tuan Renard kehilangan kendali."

"Aku tidak bertanggung jawab atas kendali Renard."

"Tidak," kata Albert pelan. "Tapi Anda salah satu dari sedikit orang yang bisa membuatnya pecah."

Kalimat itu mengikuti Momo sampai malam.

Ia kembali ke kamar, menemukan Sen sudah masuk melalui panel, dan langsung berkata, "Kamu harus pergi."

"Belum."

"Albert curiga."

"Albert selalu curiga."

"Kali ini dia punya jejak lumpur."

Sen mengumpat pelan.

Di koridor luar, langkah kaki terdengar.

Bukan Albert.

Lebih berat. Lebih tenang.

Momo dan Sen sama-sama membeku.

Langkah itu berhenti di depan pintu.

Kali ini Renard tidak bertanya apakah ia tidur.

Kunci berputar.

Pintu kamar terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!