Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Rencana untuk acara minggu depan
DOR!
Suara tembakan dari paviliun belakang membelah keheningan rumah utama. Zevanna sama sekali tak tersentak. Tangannya hanya berhenti memotong roti sejenak, melirik ke arah jendela besar, lalu lanjut mengoles mentega dengan tenang.
"Darah emang nggak pernah bohong," gumam Helena pelan, menatap menantunya dengan binar kagum. "Kamu punya ketenangan yang mahal, Zevanna."
"Aku nggak tenang, Ma," sahut Zevanna santai tanpa mengalihkan pandangan. "Aku cuma tahu... kalau aku panik, si tua gila di belakang atau Kakek Areksa di atas yang bakal senang. Dan aku paling benci kalah."
Helena terkekeh anggun sambil meletakkan cangkir tehnya. "Bagus. Kalau gitu, ingat baik-baik. Minggu depan di pesta Kakek, jangan pernah pegang badan gelas champagne, atau kamu bakal dianggap orang luar yang nggak paham aturan."
"Sekalipun yang ajak bicara itu orang yang ngerencanain pembunuhan ibuku?" potong Zevanna tajam.
"Terutama orang itu," balas Helena santai. "Makin anggun caramu pegang gelas, makin dalam belati yang kamu tusukkan ke mereka tanpa perlu kotorin tangan."
Belum sempat Zevanna membalas, langkah kaki berat menggema dari lorong. Areksa masuk dengan kemeja putih yang tergulung sampai siku dan kancing atas terbuka. Ada bercak merah di lengan kemejanya, jelas bukan darahnya sendiri.
Zevanna langsung meletakkan pisau, berdiri memutari meja dan menghampiri suaminya. "Areksa... kamu berdarah?"
Tanpa menjawab, Areksa langsung menarik pinggang Zevanna rapat ke dadanya, tak peduli ada ibunya di sana. Aroma tembakau, kayu cendana, dan amis darah menusuk indra penciuman Zevanna.
"Bukan darahku," bisik Areksa serak di ceruk leher Zevanna. "Paman Kalingga masih bernapas. Aku nggak akan biarin dia mati gampang sebelum membusuk di sel bawah tanahku."
Zevanna menghela napas lega, tapi jemarinya makin meremas kuat kemeja Areksa. "Dia ngomong apa?"
Areksa merenggangkan pelukan, menatap mata istrinya dengan sorot yang mendadak hangat. "Dia ngaku semuanya. Dan dia mengutukku karena ngerebut kamu dari rencananya."
"Dia pikir aku barang yang bisa dipindah-pindah?" desis Zevanna kesal. "Tanpa kamu pun, aku yang bakal gorok lehernya sendiri!"
Areksa terkekeh puas. Tangannya menangkup rahang Zevanna, mengusap pipinya lembut. "Makanya aku nggak biarin kamu ikut tadi, Nana. Sifat galakmu ini bikin aku susah nahan diri."
Ekhem.
Dehaman Helena memutus kebersamaan mereka. Helena berdiri, merapikan gaun cantiknya. "Bagus, Areksa. Tapi bersihkan lengan kemejamu sebelum ngotori gaun menantuku. Zevanna, latihan kita belum selesai. Habis ini kita lanjut ke tata cara menyapa tetua."
Zevanna menoleh ke Helena, lalu kembali menatap Areksa. Bukannya langsung nurut, ia malah menarik kerah kemeja suaminya, memaksa pria tinggi itu menunduk sampai wajah mereka menyisa jarak beberapa milimeter saja.
"Urusan kita belum selesai, Tuan Muda," bisik Zevanna menantang. "Kamu utang penjelasan soal sel bawah tanah itu. Dan soal janji kita... aku yang pegang kendalinya mulai sekarang."
Areksa tersenyum miring, menatap istrinya penuh kebanggaan. "Coba saja ambil kendalinya, Nyonya Areksa," bisiknya balik sambil mendaratkan kecupan singkat tapi mendominasi di bibir Zevanna.
Areksa melepas pelukannya pelan, menyapu bercak darah di kemejanya, lalu mengisyaratkan pelayan pribadi menemani Helena.
"Jangan lama-lama, Zevanna. Gelas champagne-mu sudah menunggu," pesan Helena tenang sebelum berlalu pergi.
...
Kini tinggal mereka berdua di ruang makan yang megah itu.
"Kamu beneran mau ambil kendali, Nana?" tanya Areksa santai. Ia menarik kursi beludru hitam lalu duduk bersandar dengan gaya santai namun dominan.
Zevanna tak mundur. Ia melangkah mendekat, menyandarkan kedua tangannya di sandaran kursi, mengungkung Areksa dari atas. "Kenapa? Takut aku nggak sanggup? Kamu pikir aku cuma cewek yang bisa nurut sama skenario kamu dan Kakek?"
Areksa terkekeh rendah. Tiba-tiba tangannya terulur ke pinggang Zevanna dan dengan satu tarikan pelan, ia memangku wanita itu.
"Sama sekali enggak," bisik Areksa di telinga Zevanna sambil mengusap pinggangnya. "Aku justru paling suka kalau kamu menentang. Kamu kelihatan jauh lebih hidup kalau lagi marah."
Jantung Zevanna berdesir, tapi ia menolak kelihatan salah tingkah. Tangannya menahan dada bidang Areksa. "Jangan ngalihin pembicaraan. Kalingga di mana sekarang? Dan apa rencanamu buat pesta Kakek minggu depan?"
Raut main-main di wajah Areksa mendadak surut, berganti tatapan serius. "Kalingga ada di bawah tanah. Dia nggak bakal keluar hidup-hidup sebelum aku dapat dokumen rahasia yang dia buat sama Kakek belasan tahun lalu."
Zevanna menyipit curiga. "Dokumen rahasia? Kakek kamu ikut ngerencanain pembunuhan ibuku?"
"Kakek nggak ikut ngerencanain," jelas Areksa lembut sambil merapikan anak rambut Zevanna. "Tapi dia tahu dan milih diam demi nyelamatin saham keluarga. Makanya dia kasih kamu 50% saham itu sekarang, bukan cuma karena kamu istriku, tapi buat bayar rasa bersalahnya. Entahlah! Dia menyesalinya atau tidak. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar"
Dada Zevanna mendadak sesak. Jemarinya meremas kemeja Areksa. "Jadi selama ini... Kakekmu tahu siapa pembunuh ibuku dan sengaja diam?!"
"Iya," aku Areksa jujur. "Dan minggu depan di pestanya, aku bakal pakai dokumen Kalingga buat melucuti kekuasaan Pria Tua itu di depan semua koleganya."
Zevanna tertegun. "Kamu... mau hancurin Kakekmu sendiri? Demi aku?"
Areksa tersenyum tipis, menangkup pipi Zevanna. "Bukan cuma demi kamu, tapi demi kita. Aku nggak mau anak kita nanti lahir di keluarga yang penuh tumpukan bangkai dan rahasia kotor kayak gini."
Zevanna terdiam. Kata-kata Areksa yang protektif perlahan meruntuhkan benteng pertahanannya. Rasa dingin dendam yang selama ini ia tanggung sendiri, mendadak terasa hangat karena ada Areksa di sampingnya.
"Jangan nyimpulin sesuatu dengan tergesa-gesa, Reksa. Kita harus tahu arah pandang kakek melakukan itu. Jangan sampai kamu menyesal nantinya"
"Iya... Aku tahu"
"Tapi ada syaratnya," potong Areksa tiba-tiba dengan nada goda.
Zevanna melotot kecil, rasa harunya buyar seketika. "Syarat apa lagi?!"
"Di pesta minggu depan, kamu harus tetap akting jadi istri penurut di depanku," bisik Areksa sambil mendekatkan hidung mereka. "Tunjukin ke mereka kalau kamu cuma milikku, dan nggak ada yang boleh nyentuh kamu."
"Ogah," potong Zevanna cepat sambil mencoba mendorong dada Areksa. "Siapa juga yang mau kelihatan penurut?"
Bukannya melepas, Areksa justru makin mempererat pelukannya, terkekeh geli melihat wajah istrinya yang merona merah antara kesal dan gengsi.
"Nggak ada penolakan, Nyonya Areksa," bisik Areksa lalu mencium bibir Zevanna singkat namun dalam. "Sekarang balik ke Mama. Belajar pegang gelas champagne-mu dengan benar... sebelum kita runtuhin musuh kita"
"Kamu mau kemana?" tanya Zevanna.
Areksa malah tertawa bahagia. "Hmmm... Ada yang nanya aktifitas aku nih! Bahagianya di perhatiin istri sendiri" sindir Areksa sambil menaikturunkan alisnya.
Zevanna malah mencubit kulit perut Areksa dengan kesal. "Aku tanya doang"
"Tapi aku bahagia"