Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: The Segara Club
The Segara Club berdiri di balik pagar tinggi dan lampu taman yang terlalu tenang.
Kirana turun dari taksi online dua ratus meter sebelum gerbang utama. Ia tidak ingin sopir melihat terlalu banyak, apalagi bertanya kenapa perempuan dengan jaket murah dan sepatu sederhana datang ke tempat yang mobil-mobilnya berkilau seperti etalase showroom.
Udara malam berbau hujan yang belum turun. Dari kejauhan, suara musik lembut mengalir dari bangunan utama, bercampur tawa orang-orang yang hidupnya tidak pernah perlu menjelaskan masa lalu kepada petugas SKCK.
Kirana menarik napas.
Di tas kecilnya ada dokumen pelepasan, uang sisa, dan sebuah lipstik murah yang ia beli di minimarket. Ia memakainya di toilet umum pom bensin tadi, hanya untuk memberi warna pada wajah yang terlalu pucat.
Ia tidak punya undangan.
Tetapi ia pernah belajar satu hal di penjara: pintu yang tertutup tidak selalu dijaga oleh orang pintar. Kadang hanya dijaga oleh orang yang terlalu percaya pada penampilan.
Kirana berjalan ke sisi belakang gedung, mengikuti dua staf katering yang mendorong troli minuman. Ia menunduk, mengangkat satu kotak kecil yang hampir jatuh dari troli, lalu berkata cepat, "Saya bantu ke dalam."
Staf itu terlalu sibuk untuk bertanya.
Dalam beberapa menit, Kirana sudah berada di koridor belakang The Segara Club.
Marmer dingin di bawah sepatunya membuat langkahnya terasa tidak nyata. Dindingnya berwarna krem, dihiasi lukisan laut dan lampu temaram. Setiap sudut beraroma mahal: kayu, parfum, bunga segar, dan sesuatu yang seperti uang lama.
Ia mendengar nama Boyantara disebut dari arah aula utama.
Kirana berhenti di balik tirai.
Beberapa pria berjas sedang berbicara di dekat meja minuman. Salah satunya berkata dengan suara rendah, "Pak Nathaniel tidak akan turun langsung. Kondisinya belum stabil. Katanya hanya utusan yang datang."
"Tapi kalau utusannya membawa pesan, sama saja," jawab yang lain. "Keluarga Sim masih pegang banyak pintu."
Pak Nathaniel.
Jadi itu nama orang yang dicari semua orang.
Kirana menyimpan informasi itu cepat di kepala. Ia tidak mengenal wajahnya, tidak tahu suaranya, bahkan tidak tahu apakah pria itu benar-benar sakit seperti rumor yang beredar. Tetapi jika semua orang takut pada namanya, maka nama itu punya nilai.
"Cari seseorang?"
Suara laki-laki itu datang dari belakangnya.
Kirana berbalik.
Seorang pria berdiri di ujung koridor, mengenakan kemeja hitam dan jas gelap tanpa pin keluarga. Tubuhnya tinggi, bahunya tegap, wajahnya tenang dengan mata yang terlalu tajam untuk disebut sekadar staf. Ia tidak duduk di kursi roda. Tidak terlihat sakit. Tidak terlihat seperti konglomerat yang diceritakan orang-orang tadi.
Namun justru karena itu, Kirana menjadi waspada.
"Saya tersesat," jawabnya.
Pria itu menatap kotak kecil di tangan Kirana yang jelas-jelas sudah kosong.
"Tersesat sambil membawa properti katering?"
Kirana tidak menunduk. "Saya membantu staf."
"Staf yang mana?"
Kirana diam.
Pria itu melangkah mendekat. Tidak tergesa, tetapi setiap langkahnya membuat koridor terasa lebih sempit.
"Nama saya Leon," katanya. "Saya sopir."
Sopir?
Kirana menatap sepatu kulitnya yang terlalu bersih, jam tangan yang sebagian tertutup manset, dan cara ia berbicara seperti orang yang terbiasa memberi perintah, bukan menunggu perintah.
"Sopir biasanya tidak menginterogasi tamu," kata Kirana.
"Tamu biasanya punya undangan."
Jawaban itu membuat Kirana tahu ia sudah ketahuan.
Ia bisa berlari, tetapi ke mana? Koridor belakang itu punya dua kamera di langit-langit dan satu pintu kaca yang mengarah ke taman. Kalau pria ini memanggil keamanan, namanya mungkin akan kembali muncul di catatan buruk sebelum malam benar-benar dimulai.
"Saya ingin bertemu orang dari Boyantara," katanya akhirnya.
Alis pria itu bergerak sedikit. "Untuk apa?"
"Urusan pribadi."
"Semua orang yang datang ke sini punya urusan pribadi dengan Boyantara."
"Saya tidak minta uang."
"Lebih buruk. Biasanya orang yang berkata begitu justru meminta sesuatu yang lebih mahal."
Kirana menahan napas. Ada nada sinis di sana, tetapi bukan sinis murahan. Pria itu seperti sedang mengukur seberapa jauh ia bisa bertahan.
"Saya butuh kesempatan bicara lima menit," kata Kirana. "Setelah itu, kalau saya dianggap tidak layak, saya pergi."
"Kamu pikir lima menit dari orang Boyantara bisa dibeli dengan menyelinap lewat pintu katering?"
"Saya tidak punya cara lain."
Kalimat itu keluar lebih jujur daripada yang ia inginkan.
Pria bernama Leon itu menatapnya lebih lama. Untuk sesaat, Kirana merasa ia tidak sedang melihat pakaian murahnya, melainkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
"Ikut saya."
Kirana tidak langsung bergerak.
"Ke mana?"
"Tempat yang tidak dilihat semua orang." Ia berhenti, lalu menambahkan, "Kalau saya mau memanggil keamanan, dari tadi saya sudah melakukannya."
Itu bukan jaminan.
Tetapi malam ini, Kirana memang datang untuk berjudi.
Ia mengikuti pria itu melewati koridor samping, naik lift kecil ke lantai dua, lalu masuk ke sebuah ruangan privat dengan jendela menghadap taman belakang. Ruangan itu lebih mirip ruang tunggu pribadi daripada ruang pesta. Ada sofa kulit gelap, meja kayu, dan satu set teh yang sudah disiapkan.
Kirana berdiri dekat pintu.
Leon menunjuk sofa di seberangnya. "Duduk."
"Saya lebih nyaman berdiri."
"Kalau kamu ingin bicara dengan orang Boyantara, belajarlah duduk tanpa terlihat seperti akan kabur."
Kirana menatapnya tajam.
Pria itu tidak tersinggung. Ia justru menuang teh ke dua cangkir. Gerakannya tenang. Terlalu tenang.
"Kamu siapa?" tanyanya.
"Kirana Li."
Nama itu membuat udara berubah.
Sangat halus, hampir tidak terlihat. Namun Kirana melihat jemari Leon berhenti setengah detik di gagang teko.
"Kirana Li," ulangnya. "Nama yang pernah ada di berita."
Dada Kirana mengeras. "Kalau kamu mau mengusir saya karena itu, lakukan sekarang."
"Saya belum bilang begitu."
"Tapi kamu tahu kasusnya."
"Banyak orang tahu kasusnya."
"Dan banyak orang merasa sudah tahu kebenarannya."
Leon meletakkan cangkir di depan sofa kosong. "Kamu datang ke tempat seperti ini untuk mengubah pendapat orang?"
"Tidak." Kirana akhirnya duduk, tetapi punggungnya tetap tegak. "Saya datang karena hidup biasa tidak akan menerima saya lagi. Saya butuh pekerjaan, akses, atau satu orang kuat yang mau mendengar sebelum menilai."
"Kamu baru keluar?"
Kirana menatapnya. "Hari ini."
Untuk pertama kalinya, ekspresi Leon bergeser. Tidak menjadi lembut, tetapi ketajamannya berubah arah. Seperti pisau yang tadinya mengarah ke leher, kini diletakkan di atas meja.
"Kenapa Boyantara?"
"Karena kasus saya dimulai dari keluarga Sim."
"Berani sekali."
"Saya sudah kehilangan terlalu banyak untuk takut pada nama keluarga."
Leon bersandar ke sofa. "Kamu tahu, kalimat seperti itu bisa terdengar seperti ancaman."
"Kalau saya punya kekuatan untuk mengancam Boyantara, saya tidak akan masuk lewat pintu katering."
"Kamu masih bisa membawa masalah."
"Masalah sudah menempel di nama saya bahkan sebelum saya melangkah masuk." Kirana membuka tasnya, mengeluarkan amplop cokelat, lalu meletakkannya di meja tanpa mendorongnya lebih jauh. "Ini bukan proposal. Bukan permintaan belas kasihan. Ini bukti bahwa saya keluar hari ini dan tidak punya tempat bersih untuk memulai."
Leon tidak mengambil amplop itu.
Namun matanya membaca label di sudut kertas: Lembaga Pemasyarakatan, tanggal bebas, nama lengkap Kirana Li.
"Apa yang membuatmu berpikir orang kuat akan peduli?"
"Tidak ada." Kirana menutup tasnya kembali. "Tapi orang kuat biasanya punya musuh. Jika musuh saya juga berguna untuk dijadikan kartu, mungkin saya masih punya harga."
Kali ini, Leon benar-benar diam.
Di balik sikapnya yang tenang, ada hitungan yang bergerak cepat. Kirana tidak tahu bahwa nama Alexander Sim bukan sekadar nama korban dalam berita lama bagi pria itu. Tidak tahu bahwa keluarga Sim yang ingin ia dekati malam ini sedang berdiri di atas rahasia yang jauh lebih rapuh daripada tampaknya.
Telepon di saku Leon bergetar sekali. Layar menyala sekilas, memperlihatkan pesan pendek dari seseorang bernama Leo: "Ruang utama aman. Tidak ada yang tahu Pak Nathaniel di lantai dua."
Leon membalik ponsel sebelum Kirana sempat membaca.
Leon mengambil cangkirnya. Sebelum minum, ia sempat menoleh ke pintu, seolah mendengar sesuatu dari luar. Kirana ikut menoleh, tetapi hanya melihat bayangan koridor yang kosong.
Di sisi lain pintu, seorang pelayan menurunkan nampan dengan tangan gemetar dan cepat-cepat pergi. Kirana tidak melihatnya. Leon melihat, tetapi terlambat untuk memahami apa yang sudah disentuh orang itu sebelum mereka masuk.
Ia menyesap teh.
Kirana masih belum menyentuh cangkirnya.
"Kamu tidak minum?" tanya Leon.
"Saya tidak mudah percaya minuman di tempat asing."
Sudut bibir Leon bergerak tipis. "Pelajaran dari penjara?"
"Pelajaran dari malam pernikahan."
Diam jatuh di antara mereka.
Kirana menyesal telah mengatakannya, tetapi tidak menarik kembali. Ia tidak datang untuk terlihat menyenangkan. Ia datang untuk bertahan hidup.
Leon meletakkan cangkir. "Apa yang kamu inginkan dari orang yang kamu cari?"
"Kesempatan untuk membuktikan saya bukan pembunuh."
"Setelah tiga tahun, bukti bisa hilang."
"Orang yang bersalah biasanya tidak bisa diam selamanya."
"Kamu bicara tentang Jessica Lim?"
Kirana langsung menatapnya.
Leon menyebut nama itu tanpa ragu.
"Kamu tahu terlalu banyak untuk seorang sopir."
"Sopir yang baik mendengar banyak hal."
"Atau kamu bukan sopir."
Untuk beberapa detik, mereka saling menatap. Kirana merasakan sesuatu yang berbahaya dari pria ini, bukan bahaya yang berisik, melainkan bahaya yang rapi. Ia bisa menjadi jalan keluar, atau pintu lain yang lebih dalam.
Leon hendak menjawab, tetapi napasnya berubah.
Sangat kecil.
Jari-jarinya menekan tepi meja. Matanya yang tadi dingin mendadak menggelap, seolah panas datang dari dalam tubuhnya dan ia sedang menahannya dengan seluruh kendali yang ia punya.
Kirana melihat perubahan itu.
"Kamu kenapa?"
Leon tidak langsung menjawab. Ia menatap cangkir teh di depannya, lalu menatap pintu.
Ketika matanya kembali kepada Kirana, tatapan itu sudah berbeda.
Lebih tajam.
Lebih dekat.
Dan jauh lebih berbahaya.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔