Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Kakak hamil
"Halo, Teman-Teman Pembaca! ✨
Terima kasih sudah terus membersamai perjalanan karya author selama ini. Kali ini, author kembali membawa sebuah kisah baru yang sangat dekat dengan luka, pilihan sulit, dan pengorbanan perasaan.
Pengantin Pengganti (seharusnya ipar) lahir dari perenungan tentang sejauh mana seseorang sanggup mengorbankan impian dan cintanya demi sebuah kehormatan keluarga.
Proses menulis cerita ini membuat hati author ikut biru saat mengikuti langkah Aura, seorang wanita yang harus memakai gaun pengantin orang lain dan merelakan masa depannya sendiri. Semoga setiap babnya bisa menyentuh sudut terdalam hati kalian.
Yuk, kita kawal kisah Aura dan temukan jawaban atas teka-teki takdirnya bersama-sama! Selamat membaca! ❤️"
__________
________________
BAB 1: Kakak hamil
Lampu-lampu kristal gantung di ballroom hotel berbintang lima itu memancarkan kilau keemasan yang megah. Alunan musik klasik bergema lembut, menyatu dengan gelak tawa dan kasak-kusuk bahagia ratusan tamu undangan yang mulai memadati ruangan.
Bunga-bunga mawar putih dan baby's breath menyebarkan aroma segar yang menyelimuti seluruh sudut gedung.
Hari ini adalah hari paling bersejarah bagi keluarga besar Wijaya. Hari di mana Keisya, putri sulung yang sempurna, akan dipersunting oleh Fadil, pria idaman dari keluarga terpandang.
Di antara lalu lalang tamu berbaju formal dan gaun-gaun mewah, Aura berdiri anggun dengan kebaya berwarna merah muda lembut. Senyum manis tak pernah lepas dari bibirnya saat ia menyapa setiap tamu yang melangkah masuk, dan menyalami mereka dengan penuh kesopanan.
Sementara di sampingnya, Kirana, sang ibu, tampak begitu mempesona dengan kebaya brokat perak dengan raut wajah yang berbinar penuh kebanggaan.
"Aura, sayang," panggil Kirana sambil menyentuh lembut lengan putri bungsunya itu. Ia mengerling ke arah jam tangan berhias permata di pergelangan tangannya dan berkata, "Coba kamu lihat kakakmu ke ruang rias. Apa persiapannya sudah selesai? Acara akadnya tinggal tiga puluh menit lagi, tapi periasnya belum ada yang turun mengabari Mama."
Aura pun mengangguk cepat dengan ulas senyum yang menenangkan. "Baik, Ma. Aura temui Kak Keisya dulu ya. Siapa tau Kakak cuma deg-degan atau butuh bantuan merapikan veil-nya."
"Iya, tolong ya, Nak. Panggilkan juga penata riasnya, suruh pastikan semuanya sempurna," ujar Kirana seraya kembali berbalik menyambut kolega bisnis suaminya yang baru tiba.
Aura kemudian melangkah anggun menelusuri koridor panjang hotel yang karpetnya tebal dan empuk. Sepanjang jalan, ia membalas sapaan beberapa kerabat yang memuji kecantikannya.
Hati Aura sendiri sebenarnya ikut membumbung bahagia. Melihat sang kakak menikah membuat bayangan masa depannya sendiri terasa makin dekat.
Karena di ujung tahun ini, giliran dirinya yang akan berdiri di pelaminan bersama Farhan, pria yang amat ia cintai. Mengingat wajah hangat Farhan, sukses membuat kedua pipi Aura merona tipis.
"Astaghfirullah Aura... Sabar... ," batinnya.
Setelah beberapa saat, akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kayu jati berukir dengan papan nama khusus bertuliskan VIP Bride Room.
Tok... Tok... Tok...
Aura mengetuk pintu dengan pelan, lalu memutar gagang pintunya tanpa ragu.
"Kakak... Aura masuk ya," seru Aura riang. Ia melangkah masuk dengan senyum sumringah seakan tak pernah pudar. "Mama udah nanyain dari tadi, nih. Semua tamu udah—"
Kata-kata Aura langsung terhenti. Senyum manis di bibirnya berangsur pudar, berganti raut kebingungan.
Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat bertolak belakang dengan kemewahan di luar. Ruangan itu hening, hanya ada lampu meja rias yang menyala terang. Tidak ada MUA yang sibuk menyemprotkan hairspray, tidak ada fotografer yang mengarahkan gaya, dan tidak ada gelak tawa bahagia.
Aura hanya melihat Keisya yang duduk bersimpuh di lantai karpet, seraya membelakangi pintu.
Ia masih mengenakan jubah mandi satin berwarna krem, sementara gaun pengantin putih yang sangat indah dan sarat payet emas hanya ia peluk erat-erat di dadanya seperti sebuah barang peninggalan. Rambutnya masih terurai berantakan, dan sama sekali belum disanggul.
"Kakak?" panggil Aura sembari melangkah mendekat dengan dahi yang berkerut rapat. Ia kemudian memutar pandangannya menelusuri seluruh sudut kamar rias yang luas itu. "Kenapa belum siap? Mana MUA-nya? Kok sepi banget?"
Namun, Keisya tidak menjawab. Yang terdengar kemudian justru sebuah bisikan napas yang tertahan, disusul oleh suara isak tangis samar yang terdengar tercekik dan pilu.
"Hiks hiks hiks hiks..."
Tubuh Keisya mulai berguncang hebat. Gaun pengantin di pelukannya semakin diremas kuat hingga kain mewahnya itu kusut.
"Kak Keisya?" Suara Aura meninggi, diliputi rasa panik yang mendadak menyeruak.
Tepat saat Aura berlutut di sampingnya, Keisya pun ambruk. Tubuhnya terkulai ke arah Aura, dan tangisnya meledak sejadi-jadinya, sebuah tangisan yang bukan sekadar isakan haru, melainkan raungan keputusasaan yang begitu dalam.
"Kakak! Ada apa?!" teriak Aura panik. Ia merengkuh tubuh kakaknya yang bergetar hebat, lalu memeluk kepala Keisya yang kini bersandar di bahunya. "Kak, cerita sama Aura! Ada apa? Kenapa menangis seperti ini? Apa ada masalah sama gaunnya? Atau Mas Fadil...?"
"Gak... bukan, Ra..." jawab Keisya di antara histerisnya. Air matanya menetes deras, melunturkan sedikit riasan tipis di wajahnya dan membasahi kebaya Aura. "Kakak gak bisa... Kakak gak bisa lanjutin pernikahan ini, Ra!"
Aura membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. "Apa? Kakak bicara apa sih? Jangan becanda, Kak! Di luar sana ada ratusan tamu, ada Papa, Mama, dan keluarga Mas Fadil!"
Keisya menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia lalu mendongak, dan menatap Aura dengan mata yang sembap, merah, dan dipenuhi rasa bersalah yang amat besar.
Tangannya yang dingin meraih cengkraman ketat pada jemari Aura lalu berkata, "Kakak gak bisa nikah sama Fadil, Ra... Kakak gak bisa! Hu hu hu... Kakak harus pergi sekarang juga!"
"Pergi? Maksud Kakak apa?!" suara Aura gemetar. Logikanya menolak memahami situasi ini. "Kenapa Kakak gak bisa nikah sama Mas Fadil? Kakak mencintai dia, kan? Kalian berdua yang merencanakan pernikahan ini dari satu tahun yang lalu!"
"Kakak hamil, Ra..." bisik Keisya dengan suara yang sangat pelan, namun sanggup menggelegar bak petir di telinga Aura.
DUARRR!!!
Aura terpaku. Seluruh persendiannya terasa meloloskan daya. "H-hamil? Mas Fadil... anak Mas Fadil?"
"Bukan... Bukan anak Fadil, Ra. Ini bukan anak Fadil..."
"Kalau bukan anak Mas Fadil, lalu anak siapa, Kak?! Tapi... bagaimana bisa?!" pekik Aura dengan suara yang tertahan, dan tak percaya dengan apa yang baru saja meluncur dari bibir kakaknya.
Dengkulnya terasa lemas, napasnya memburu cepat menahan gemuruh kejutan yang menghantam dadanya tanpa ampun.
Keisya lalu menegakkan tubuhnya yang bergetar. Dengan mata sembap merah dan tatapan yang dipenuhi keputusasaan, ia meraih kedua bahu Aura dan mencengkramnya erat seolah Aura adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra bencana.
"Ra, Kakak mohon... tolong Kakak," bisik Keisya dengan nada memohon yang begitu menyayat. "Gantikan Kakak jadi pengantin Fadil. Pernikahan ini harus tetap berlangsung, tapi kamu... kamu yang harus jadi pengantinnya!"
"Apa?!"
Aura tersentak hebat. Ia langsung menarik tubuhnya ke belakang dan melepaskan cengkraman tangan Keisya dengan raut wajah yang horor. Pikiran sehatnya menolak mentah-mentah ide gila tersebut.
Namun, Keisya tidak membiarkan Aura menjauh. Ia kembali merangkak mendekat, meraih jemari Aura yang mendingin dan menatapnya dengan penuh desakan.
"Aura, Kakak mohon! Kakak gak bisa melanjutkan pernikahan ini dan membuat Fadil menanggung anak pria lain. Gak ada orang lain yang bisa Kakak percaya selain kamu, Ra. Cuma kamu yang bisa menyelamatkan nama baik keluarga kita sekarang! Nanti... nanti setelah semuanya terkendali, kita bahas ini lebih jauh. Oke? Kakak mohon, Ra!"
Aura menggelengkan kepalanya kuat-kuat, kekacauan hebat melanda benaknya. "Enggak, Kak! Ini gila! Mama! Kita kasih tau Mama saja sekarang! Mama pasti tau jalan keluarnya, Kak!" Aura hendak berdiri untuk berlari menuju pintu, namun Keisya dengan cepat menahan gaun kebayanya.
"Jangan, Ra! Gak boleh!" jerit Keisya histeris tanpa suara yang keras. "Di luar ada ratusan tamu undangan, ada rekan bisnis Papa, ada media! Gak mungkin Kakak mempermalukan keluarga kita kalau orang-orang sampai tau tentang kehamilan ini! Papa bisa serangan jantung, Ra! Mama bisa hancur! Tolong Kakak, Ra... Tolong..."
Aura perlahan menundukkan kepalanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah, menetes deras membasahi pipinya yang kian pucat.
Dadanya sesak seperti dihimpit batu besar. Gambar sosok pria dengan senyum hangat kini berputar liar di ingatan Aura, hingga menghancurkan sisa-sisa pertahanan dirinya.
"Kalau Aura jadi pengantin pengganti..." Suara Aura bergetar parau, lalu menatap kakaknya dengan sorot mata yang hampa dan nanar. "...lalu bagaimana dengan Farhan, Kak? Kami... kami juga akan segera menikah akhir tahun ini..."
Kalimat singkat itu menghantam Keisya tepat di dadanya hingga membuat Keisya terpaku. Realita menghantamnya seketika bahwa demi menyelamatkan dirinya sendiri, ia sedang menumbalkan kebahagiaan adik kandungnya.
Keisya langsung melepaskan cengkramannya lalu menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan, dan meraung frustrasi saat menyadari kejamnya situasi ini.
"Argh! Ya Tuhan! Seharusnya aku gak melibatkan kamu, Ra! Seharusnya tidak begini!" Keisya memukuli dadanya sendiri, sambil menangis histeris hingga napasnya tersengal-sengal. "Ini semua salah Kakak... Kakak brengsek! Kakak sudah bikin Fadil kecewa, Kakak sudah menghancurkan masa depan kamu... Ini semua salah Kakak! Hu hu hu..."
Melihat kakaknya yang melukai diri sendiri dan hampir kehilangan kesadaran karena frustrasi, dada Aura naik turun dengan sangat cepat.
Tangisnya kian pecah, namun di balik kebingungan dan luka yang mendalam, naluri perlindungan terhadap keluarga perlahan mengambil alih.
Aura tidak sanggup melihat keluarganya hancur dalam kehinaan hari ini, dan ia tak tega melihat kakaknya hancur sendirian.
Dengan tangan gemetar, Aura meraih kedua tangan Keisya, dan menghentikan aksi menjambak rambutnya sendiri. Aura menghapus air matanya dengan kasar, lalu menatap Keisya dengan pandangan keteguhan yang terlahir dari keputusasaan.
"Kakak... stop," bisik Aura dengan suara bergetar namun terdengar tegas. "Kalau... kalau itu memang yang terbaik untuk Kakak dan keluarga kita... Aura akan lakukan. Aura yang akan gantikan Kakak."
Bersambung...
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣