Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Buaya dan Jebakan yang Merayap
Kemenangan kecil di pinggir jalan tol hari itu tidak membuat Dania berpuas diri. Baginya, itu baru retakan awal. Di kantor, Dania melangkah dengan kehati-hatian seorang taipan yang sedang menyusun strategi akuisisi. Dia tahu betul bahwa Dean adalah tipe pria yang memuja efisiensi, ketenangan, dan profesionalitas mutlak. Maka, untuk membuat kontras yang tajam dengan Valerie yang ekspresif dan meledak-ledak, Dania harus menjadi antitesisnya: sosok yang sunyi, penurut, bekerja tanpa cela, dan selalu terlihat ringkih hingga memancing naluri proteksi logis dari seorang pria.
Senin pagi di lantai atas gedung kantor pusat berjalan dengan ritme yang cepat. Dania tiba satu jam lebih awal dari jam kerja biasanya. Dia memastikan kubikal kerjanya rapi, kopi hitam pekat kesukaan Dean sudah tersaji dengan suhu yang pas di meja kerja sang CEO, dan tablet kerja Dean sudah menampilkan ringkasan jadwal korporat seminggu ke depan.
Tepat pukul delapan, Dean melangkah masuk. Wajahnya tampak sedikit lebih tegang dari biasanya. Sisa pertengkaran hari Sabtu dengan Valerie di pinggir jalan masih menyisakan ganjalan samar di sudut benaknya, meskipun logikanya terus menolak untuk memikirkan drama domestik tersebut selama jam kerja.
"Selamat pagi, Pak Dean," sapa Dania, langsung berdiri dari kursinya. Dia membungkuk sedikit, suaranya lembut dan tidak berlebihan. "Semua dokumen pengajuan anggaran dari divisi logistik sudah saya rapikan di sebelah kiri laptop Anda. Dan... saya sudah menjadwalkan ulang rapat komisaris yang sempat tertunda tempo hari ke hari Rabu sore."
Dean menghentikan langkahnya sejenak di depan meja Dania. Matanya menatap sekretaris juniornya itu dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Dania."
"Ya, Pak?" Dania mendongak, menatap Dean dengan sepasang mata yang sengaja dibuat sedikit melebar, memancarkan kepolosan yang tidak berdosa.
"Hari Sabtu lalu, Valerie menemukan lipstikmu tertinggal di bawah dashboard mobil saya," ucap Dean langsung pada intinya, tanpa basa-basi. "Lain kali, periksa kembali barang bawaanmu sebelum turun dari kendaraan orang lain. Saya tidak suka interior mobil saya berantakan oleh barang yang bukan milik saya."
Wajah Dania seketika berubah. Ekspresi terkejut, panik, dan rasa bersalah yang teramat sangat berbaur dengan begitu natural di wajahnya. Dia meremas jemarinya, lalu buru-buru membungkuk dalam-dalam hingga beberapa helai rambutnya jatuh menutupi pipi.
"Astaga... Maafkan saya, Pak Dean! Saya benar-benar tidak sengaja," ucap Dania dengan nada suara yang bergetar halus, seolah-olah dia baru saja melakukan kejahatan besar yang tak terampuni. "Semalam itu saya buru-buru mencari dompet di dalam tas saat hujan, mungkin lipstik itu terjatuh tanpa saya sadari. Saya benar-benar minta maaf... Apakah... apakah karena hal itu Kak Valerie menjadi salah paham kepada Anda?"
Dean menghela napas pendek, memalingkan wajahnya. "Itu urusan pribadi saya. Kamu cukup pastikan hal seperti itu tidak terulang lagi."
"Baik, Pak. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Jika... jika diperlukan, saya bersedia menghubungi Kak Valerie secara langsung untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya agar hubungan Anda berdua tidak terganggu karena kecerobohan saya," lanjut Dania dengan nada yang sangat tulus, seolah dia rela berkorban demi kebahagiaan bosnya.
"Tidak perlu. Jangan mencampuradukkan urusan kantor dengan urusan pribadi saya. Kembali bekerja," potong Dean dingin sebelum melangkah masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu rapat-rapat.
Begitu pintu jati tebal itu tertutup, Dania perlahan menegakkan tubuhnya. Ekspresi panik dan ketakutan di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh senyuman dingin yang mengembang di bibirnya. Dia tahu, dengan bersikap sepasrah dan sebisa mungkin menyalahkan diri sendiri, Dean justru tidak akan pernah mencurigainya. Logika Dean akan melihat Dania sebagai korban dari cemburu buta Valerie yang tidak beralasan.
Langkah kedua dari rencana Dania adalah memperluas jarak psikologis antara Dean dan Valerie. Dia tahu Valerie tinggal di sebuah apartemen mahasiswa yang cukup berjarak dari kantor Dean, dan Valerie pasti sedang merenung atau menangis di sana. Dania membutuhkan sebuah katalis baru untuk membuat Valerie semakin merasa tersisih.
Sore harinya, saat jam kantor hampir berakhir, Timoty datang berkunjung ke ruangan Dean untuk membahas proyek gabungan mereka. Selesai berdiskusi, Timoty keluar bersama Dean menuju lobi lantai atas. Di sana, mereka melihat Dania masih sibuk mengetik di depan komputernya meskipun jam pulang sudah lewat tiga puluh menit.
"Dania, kenapa belum pulang?" tanya Timoty, menghampiri meja adiknya.
Dania mendongak, menghapus peluh fiktif di dahinya lalu tersenyum manis. "Ah, Kak Timoty. Ini, aku sedang merapikan data inventaris kantor untuk bulan depan. Tanggung sedikit lagi, Kak."
Timoty menggeleng-gelengkan kepala, lalu menoleh pada Dean dengan tatapan bangga. "Lihat, Dean. Adikku ini kalau sudah bekerja keras kepala sekali. Mirip sepertimu."
Dean hanya menatap datar, namun dalam hati dia mengakui bahwa performa kerja Dania memang sangat efisien. Jauh lebih dewasa dan teratur jika dibandingkan dengan Valerie yang sering kali bertindak tanpa memikirkan konsekuensi waktu.
"Kebetulan malam ini aku ada janji temu dengan klien di area dekat apartemen Dania, tapi aku harus mampir ke tempat lain dulu," ucap Timoty sambil melirik jam tangannya. "Dean, boleh aku minta tolong lagi? Tolong antarkan Dania pulang malam ini. Aku tidak tenang melepasnya naik transportasi umum malam-malam membawa laptop kantor yang berisi data sensitif perusahaan kita."
Dean terdiam sejenak. Logikanya menganalisis permintaan itu. Mengantar Dania berarti dia harus merelakan waktu istirahat malamnya berkurang tiga puluh menit. Namun, menolak permintaan sahabat sekaligus mitra bisnis utamanya untuk alasan keamanan data perusahaan adalah hal yang tidak taktis.
"Baiklah. Bersiaplah dalam sepuluh menit, Dania," ucap Dean akhirnya.
"Terima kasih banyak, Pak Dean. Saya benar-benar merepotkan Anda lagi..." bisik Dania dengan wajah memerah, pura-pura merasa sangat sungkan dan tidak enak hati.
Di dalam mobil sepanjang perjalanan malam itu, Dania tidak membuang peluang. Dia tidak bertindak bodoh dengan menjatuhkan barang lagi. Kali ini, dia bermain dengan psikologis. Dia tahu Dean baru saja merespons pesan singkat dengan dahi berkerut—yang Dania yakini pasti berasal dari Valerie.
"Pak Dean..." panggil Dania pelan, memecah keheningan di dalam kabin mobil yang mewah.
"Ya?"
"Mengenai kejadian lipstik tempo hari... saya benar-benar merasa tidak enak pada Kak Valerie. Saya tahu Kak Valerie masih sangat muda, usianya mungkin baru awal dua puluh tahun. Di usia sepertinya, wajar jika emosinya masih meledak-ledak dan sering merasa tidak aman dalam hubungan," ucap Dania dengan nada suara yang penuh empati dan kedewasaan, seolah-olah dia sedang membela Valerie.
Dean memutar kemudi ke arah kiri, wajahnya tetap kaku. "Usia bukan alasan untuk mengabaikan akal sehat, Dania."
"Benar, Pak. Tapi perempuan yang ekspresif seperti Kak Valerie biasanya hanya ingin diperhatikan dengan cara yang konstan. Berbeda dengan saya yang terbiasa hidup mandiri dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin sejak kecil karena Papa sering sibuk di luar kota," lanjut Dania, sengaja menyelipkan perbandingan implisit antara dirinya yang dewasa dan Valerie yang merepotkan. "Saya hanya berharap Kak Valerie bisa segera memahami betapa besarnya tanggung jawab dan beban kerja yang Anda pikul di kantor ini, sehingga dia tidak perlu menambah beban pikiran Anda dengan hal-hal kecil."
Kalimat Dania mengalir dengan sangat halus, masuk ke dalam alam bawah sadar Dean. Logika Dean yang kaku membenarkan setiap perkataan Dania. Di mata Dean, Dania adalah sosok yang rasional, pengertian, dan mampu melihat situasi dari sudut pandang profesional. Tanpa disadari, Dean mulai membandingkan ketenangan Dania dengan histeria Valerie di pinggir jalan tempo hari.
Saat mobil berhenti di lobi apartemen Dania, Dania turun dengan anggun. Namun, sebelum melangkah masuk ke dalam gedung, dia mengambil ponselnya dari dalam tas. Dia membuka aplikasi pesan pribadi, lalu mengirimkan sebuah pesan singkat ke nomor ponsel Valerie—sebuah nomor yang berhasil dia dapatkan dari daftar kontak darurat di berkas keluarga Tiara.
Dania mengetik dengan senyum sinis yang merekah di wajahnya:
“Malam, Kak Valerie. Ini Dania, sekretaris Pak Dean. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena Pak Dean baru saja mengantarkan saya pulang lagi malam ini atas permintaan Kak Timoty. Pak Dean sangat baik dan perhatian pada saya di kantor. Mohon maaf ya Kak kalau hal ini membuat Kakak tidak nyaman lagi seperti kemarin.”
Klik. Pesan terkirim.
Dania memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu berjalan memasuki lobi apartemen dengan langkah ringan. Di seberang kota, di dalam unit apartemen mahasiswanya yang sunyi, Valerie yang baru saja selesai membersihkan diri menatap layar ponselnya yang menyala di atas tempat tidur. Ketika dia membaca pesan dari Dania, seluruh tubuhnya mendadak bergetar hebat. Rasa cemburu, amarah, dan rasa dikhianati yang teramat sangat berkumpul di dadanya hingga membuatnya sesak napas.
Sumbu emosi Valerie telah terbakar sepenuhnya oleh air mata buaya dan jebakan licik Dania. Dan kali ini, Valerie yang blak-blakan bersumpah tidak akan tinggal diam lagi. Badai besar pertama akan segera melanda kantor Dean esok hari.