NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penengah

Suara pintu dibanting terdengar sampai ke lorong lantai dua puluh tiga, dan Gwen tahu, tanpa perlu melihat, kalau rapat koordinasi antara divisi operasional dan divisi finance baru saja meledak.

Dia baru kembali dari toilet ketika melihat kepala divisi finance, Pak Yusuf, keluar dari ruang rapat kecil dengan wajah merah padam, diikuti oleh dua anggota timnya yang terlihat setengah lega setengah takut. Dari dalam ruangan, suara Pak Hardi masih terdengar, nadanya tinggi, memaki sesuatu soal "budget yang dipotong seenaknya tanpa koordinasi."

"Ada apa ini?" tanya Gwen ke salah satu anggota tim finance yang lewat.

"Budget approval buat Meridian," katanya, terburu-buru, tidak berhenti jalan. "Finance motong dua puluh persen dari yang diajuin logistik, gak ada konfirmasi dulu. Pak Hardi ngamuk."

Gwen menghela napas, meletakkan map yang dia bawa di meja terdekat, lalu berjalan masuk ke ruang rapat yang masih menyisakan ketegangan di udaranya.

Pak Hardi duduk di ujung meja, tangannya masih mengepal di atas kertas laporan yang sudah dia remas separuh. "Ini sabotase," katanya, ke siapa pun yang mau dengar. "Gimana caranya kita nyelesain proyek kalau budgetnya dipotong sepihak?"

"Pak Hardi." Gwen duduk di kursi kosong, suaranya tenang, tidak terburu-buru. "Boleh saya tau alasan finance motong itu?"

"Alasan?" Pak Hardi mendengus. "Alasannya cuma di kertas. Gak ada yang tanya dulu ke saya soal dampaknya ke lapangan."

---

Gwen membuka laptopnya, mencari dokumen budget yang sudah dia simpan sejak beberapa hari lalu, sambil menunggu Pak Hardi sedikit tenang dari luapan emosinya.

"Saya baca laporan financenya tadi pagi," katanya, setelah keheningan singkat yang memberi ruang bagi Pak Hardi untuk menghela napas lebih dalam. "Mereka motong karena ada realokasi dana ke divisi lain buat proyek darurat—perbaikan sistem IT yang kena masalah minggu lalu. Itu bukan soal Meridian dianggap gak penting, tapi soal prioritas mendadak yang harus diambil."

"Terus kenapa gak dikoordinasi dulu sama saya?"

"Itu yang salah dari mereka," kata Gwen, jujur, tidak membela pihak mana pun secara buta. "Harusnya emang dikonfirmasi dulu sebelum dipotong, bukan sesudah. Tapi masalahnya sekarang, marah-marah gak akan balikin budget itu. Yang perlu kita cari itu solusi—gimana caranya proyek tetep jalan tanpa dua puluh persen itu, atau gimana caranya nego balik sama finance buat dapetin sebagian dananya kembali."

Pak Hardi diam, mendengarkan, meski masih terlihat setengah kesal.

"Boleh saya lihat detail budgetnya?" tanya Gwen. "Yang kena potong bagian mana aja?"

Pak Hardi menyerahkan laporannya, dan Gwen membaca cepat, matanya bergerak dari satu angka ke angka lain, mencari pola di antara pos-pos yang dipangkas.

"Ini," katanya, menunjuk satu baris, "yang paling gede kepotong itu buat sewa alat berat tambahan di lokasi ketiga. Kalau kita bisa nego sama vendor buat sewa jangka lebih panjang dengan diskon, kita bisa nutup sebagian selisihnya tanpa perlu minta balik ke finance."

"Sisanya?"

"Sisanya, saya coba ngomong langsung ke Pak Yusuf. Bukan buat minta budget balik penuh, tapi buat nego kompromi—mungkin realokasinya bisa dicicil, bukan langsung sekaligus dua puluh persen, biar dampaknya ke lapangan gak seberat ini."

---

Gwen keluar dari ruang rapat itu, berjalan langsung ke ruangan Pak Yusuf tanpa membuat janji dulu, mengetuk pintunya dengan sopan.

"Pak Yusuf, boleh minta waktu sebentar?"

Pak Yusuf, yang masih terlihat kesal dari insiden tadi, mengangguk agak enggan. "Kalau soal Pak Hardi, saya udah jelasin—"

"Saya bukan mau bahas soal Pak Hardi," potong Gwen, sopan tapi tegas. "Saya mau ngomong soal solusinya."

Dia duduk, menjelaskan situasinya dari sudut pandang netral—bukan membela divisi logistik, bukan juga menyalahkan finance sepenuhnya, tapi menyajikan fakta apa adanya dan menawarkan opsi kompromi yang sudah dia pikirkan.

"Kalau realokasinya dicicil dalam tiga bulan, bukan sekaligus," katanya, "dampaknya ke proyek IT yang darurat itu masih bisa tertutup, kan? Sementara logistik juga punya waktu buat nyesuain rencana tanpa harus mendadak kehilangan dua puluh persen budget di tengah jalan."

Pak Yusuf berpikir sebentar, mempertimbangkan angka-angka yang barusan disebutkan. "Itu bisa jalan," katanya akhirnya. "Tapi saya perlu approval dari atas dulu buat ubah skema realokasinya."

"Saya bisa bantu siapin proposalnya," kata Gwen. "Biar prosesnya lebih cepat."

---

Satu setengah jam kemudian, proposal kompromi itu sudah selesai, dikirim ke kedua divisi, dan disetujui tanpa perlu eskalasi ke level yang lebih tinggi.

Madoc, yang kebetulan lewat lorong lantai dua puluh tiga sore itu—alasan resminya mau cek dokumen dari divisi lain, alasan yang belakangan ini semakin sering dia pakai untuk turun ke lantai ini tanpa perlu banyak dipertanyakan—melihat sekilas dari kejauhan bagaimana Pak Hardi dan Pak Yusuf berjabat tangan di depan ruang rapat, dengan Gwen berdiri di antara mereka, tersenyum tipis, tampak lega meski jelas kelelahan terlihat dari cara dia menyandarkan satu tangan ke pinggang.

Dia berhenti sebentar, mengamati dari jarak yang cukup jauh supaya tidak terlihat sedang mengamati.

Konflik antar divisi bukan hal baru di Kane Group. Madoc sudah cukup lama jadi CEO untuk tahu betapa seringnya masalah semacam ini muncul—ego yang bentrok, prioritas yang tidak sinkron, komunikasi yang putus di tengah jalan. Biasanya, penyelesaiannya butuh eskalasi ke level manajemen yang lebih tinggi, rapat tambahan, kadang bahkan campur tangannya sendiri untuk memutuskan siapa yang benar.

Tapi yang barusan dia lihat berbeda. Tidak ada eskalasi. Tidak ada drama berkepanjangan. Cuma satu orang yang masuk ke tengah konflik, mendengar kedua sisi tanpa memihak, lalu keluar dengan solusi yang membuat keduanya puas tanpa merasa kalah.

Dia gak pernah nyari siapa yang salah, pikirnya, memperhatikan cara Gwen sekarang berjalan kembali ke mejanya, terlihat lelah tapi tidak mengeluh. Dia cuma nyari cara biar masalahnya kelar.

Ada sesuatu tentang itu yang membuat dadanya terasa hangat dengan cara yang tidak bisa dia jelaskan sepenuhnya—bukan cuma kagum pada kompetensinya, tapi kagum pada caranya melihat dunia: setiap masalah punya solusi, dan solusi itu tidak perlu drama untuk ditemukan.

---

Gwen sendiri, begitu duduk kembali di mejanya, hanya merasakan lega yang murni—jenis lega yang datang setelah menyelesaikan sesuatu yang berpotensi jadi masalah besar kalau dibiarkan terlalu lama.

Dia tidak sadar, sepanjang berjalan dari ruang rapat ke ruangan Pak Yusuf lalu kembali lagi, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari kejauhan, mencatat setiap detail kecil dari cara dia bekerja seolah itu sesuatu yang layak dikagumi.

Dia hanya merasa capek—capek yang memuaskan, karena masalahnya sudah selesai dan dia bisa lanjut ke pekerjaan lain tanpa beban tambahan yang menggantung.

---

Elias, yang berdiri agak jauh dari Madoc sejak lima menit lalu, memperhatikan bosnya berdiri diam di lorong itu terlalu lama untuk sekadar "lewat mau cek dokumen."

Dia sudah hafal ekspresi itu sekarang—cara Madoc menatap sesuatu dengan fokus yang tidak biasa, rahangnya sedikit mengeras, matanya tidak berkedip lebih lama dari yang wajar.

"Pak," katanya, mendekat, "jadi dokumennya mana yang mau dicek?"

Madoc tersentak sedikit, seperti baru sadar ada orang lain di sampingnya. "Apa?"

"Dokumen. Katanya mau cek dokumen di lantai ini."

"Oh." Madoc mengalihkan pandangan, berdehem sekali. "Udah, gak jadi. Salah lantai."

Elias mengangguk, tidak membantah, tapi dalam hati dia sudah menyimpan satu catatan baru untuk ditambahkan ke daftar yang sudah panjang sejak beberapa minggu terakhir—kopi pagi, rapat progress yang terlalu sering, tawaran anter pulang yang alasannya tidak masuk akal, dan sekarang, berdiri diam di lorong sambil menatap seseorang menyelesaikan konflik divisi dari jarak jauh.

Bos sudah gawat, pikirnya, mengikuti langkah Madoc kembali ke lift tanpa berkomentar lebih jauh.

Dia hanya berharap, siapa pun yang jadi objek dari semua ini, akan sadar sebelum daftarnya bertambah terlalu panjang untuk terus diabaikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!