Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*29
"Secara apa?" Potong Sha cepat tak tahan lagi sambil menggenggam erat kedua tangannya karena terlalu geram.
"Secara apa!" Bentak Sha dengan nada tinggi.
Irza langsung meraih tangan Asha, lalu menggenggamnya dengan lembut.
"Sha ... jangan marah. Masih pagi. Jangan emosi."
"Kenapa jangan marah? Mereka ini bikin aku emosi pagi-pagi lagi."
"Kalian-- "
"Sha ... jangan."
"Kalian semua, aku gak pernah ikut campur urusan pribadi kalian. Tapi kok kalian malah sibuk ngurusin kehidupan pribadi aku sih?" Irza berucap masih dengan nada tenang pada gadis-gadis itu.
"Yah, Za. Kita cuma mau tau kali. Lagian, kita gak maksud tuh buat ikut campur urusan pribadi kamu. Hanya bertanya karena penasaran aja."
"Tapi ucapan kalian sudah sangat keterlaluan. Kalian telah menghina aku walau tidak terus terang. Kalian tidak berhak bicara begitu."
Para gadis itu saling bertukar pandang. Hingga akhirnya salah satu dari mereka berucap,
"Iya ... maaf kalo gitu. Kami cuma ingin bertanya. Terus bercanda. Maaf jika kelewatan."
"Ya sudah, ayo pergi," ucap gadis yang lainnya.
Para gadis itu beneran pergi. Sha yang kesal masih mematung di sana. Irza tau akan hal tersebut. Dengan lembut, ia raih tangan Asha yang sebelumnya telah ia lepaskan.
"Jangan marah, Sha. Jangan marah."
"Gimana gak marah? Baru juga muncul udah ada yang bicara enggak-enggak. Bikin hati panas tau gak."
"Iya. Aku tahu kamu kesal. Tapi, marah gak baik buat kesehatan. Jangan marah ya."
Asha langsung menatap Irza dengan tatapan lekat. Yang di tatap malah semakin memperlihatkan wajah tenang, mata sayu yang teduh penuh akan kasih sayang.
"Sabar ya. Aku tahu kamu kesal. Tapi marah gak bisa menyelesaikan masalah, Sha."
Bukannya tenang, hati Asha malah semakin kesal akan apa yang Irza ucapkan. "Tau ah. Sabar aja terus kamu, Za. Aku nggak bisa jadi manusia yang sabar seperti dirimu," ucap Asha dengan wajah kesal yang terlihat dengan sangat jelas.
Setelah berucap, tas yang ada di tangan Irza, ia ambil. "Udah ah. Aku mau jalan sendiri saja."
"Tapi, Sha .... "
"Aku ingin sendiri, Irza."
Irza langsung menunduk. "Iya, baiklah kalo itu yang kamu inginkan."
Sungguh, ia tidak menyangka kalau datang ke kampus malah merusak hubungan baik yang telah ia bangun selama beberapa waktu terakhir. Entahlah. Dia tau kalau Asha tidak suka dengan sikap lemah lembut yang selalu ia perlihatkan saat ada masalah. Tapi, sikap itu sudah terbiasa ia perlihatkan. Sudah melekat dalam ingatan.
Sikap yang dia pikir adalah pilihan terbaik dalam menyelesaikan masalah. Membiarkan orang lain bicara apapun yang mereka mau. Membiarkan diri mengabaikan apapun yang orang lain katakan. Bahkan, mengganggap hinaan adalah hal yang wajar.
"Sha .... " Irza berucap pelan sambil mengangkat wajah untuk melihat punggung istrinya yang pergi semakin menjauh. "Maaf. Aku ini terlalu penakut. Aku udah bikin kamu gak nyaman, Sha. Maafkan aku."
*
Asha masuk ke kelasnya dengan wajah yang agak cemberut. Namun, saat melihat sambutan hangat dari kedua temannya, wajah cemberut itu langsung berubah cerah.
"Asha ... akhirnya datang juga kamu yah."
"Ya ampun, Sha. Kangen banget aku sama kamu tau .... "
"Jujur saja, aku juga kangen kalian," ucap Sha tak kalah hebohnya.
"Gila ya. Baru dua minggu kamu gak kuliah, tapi rasanya udah kek setahun aja kita gak ketemu, Sha."
"Ha ... Cindi benar. Kelas terasa sepi tanpa kamu. Jujur. Gak bohong." Laura juga bicara dengan nada yang sangat meyakinkan.
Mereka bertiga pun heboh sekarang. Walau di dalam kelas tersebut tidak hanya ada mereka berdua saja, tapi rasanya, kelas itu hanya milik mereka. Yang lainnya seolah tak terlihat lagi saat mereka sudah bersama.
Ketiganya ngobrol dengan bahagia. Membicarakan hal-hal ringan sambil bercanda. Tidak. Sedikitpun tidak ada kata yang menyingung tentang Irza saat obrolan itu. Kedua teman Asha cukup peka akan titik sensitif dari sahabat mereka ini. Jadi, semua hal yang berhubungan dengan Irza, tidak terucap sedikitpun.
Hal yang berbeda terjadi dengan Irza. Baru juga menapakkan kaki ke depan pintu kelas, sambutan hangat penuh cemoohan langsung terdengar.
"Wah ... manten baru datang."
Salah satu teman cowok malah langsung menghampiri Irza dengan cepat. Lalu, merangkul bahu Irza seolah mereka adalah teman yang sangat akrab.
"Apa kabar, Za? Apa semua baik-baik saja?"
Namun, belum sempat Irza menjawab, teman yang lainnya malah berucap. "Pertanyaan macam apa itu? Kok malah nanya kabar Irza sih? Ya jelas dia baik-baik aja dong. Orang nikahnya cuma ... ya kalian paham sendiri deh maksud aku apa."
"Apaan sih? Kok ngomongnya gitu. Irza menikah kan cuma buat status aja. Ya wajarlah kalo pernikahannya gak perlu dibicarakan."
"Eh, Za. Beneran hanya untuk status aja ya pernikahan kalian. Kan kasihan Asha. Dia sangat cantik lho, Za. Masa iya dianggurin gitu aja cewek secantik Asha."
"Dia kamu kira dia mampu? Ah, astaga. Kecoplosan aku."
"Maaf ya, Za. Tapi kita ngomong soal kenyataan lho ini. Kalian menikah, pasti gak ada malam pertamanya kan?"
"Woi! Mana ada malam pertama. Irza kan ... yah .... "
"Za. Kamu suka tipe cowok yang kek mana sih? Bisa katakan sama aku gak. Entar, kita tukeran. Aku cariin sesuai tipe kamu, tapi Asha, bisa dong buat-- "
Beruntung saja omongan teman itu tertahan gara-gara kedatangan dosen mata pelajaran saat ini. Jika tidak, dengan amarah Irza yang sudah memuncak, mungkin teman itu akan Irza pukul. Jujur saja, garis batas kesabaran Irza adalah Asha. Dia masih bisa terima jika yang dihina adalah dirinya. Tapi jika itu adalah Asha, amarahnya sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Jangan berisik. Kita akan mulai pelajaran hari ini," ucap dosen yang baru saja masuk ke kelas.
"Buk. Irza sudah datang," ucap salah satu teman sekelas.
"Iya. Saya sudah tahu Irza sudah masuk. Karena batas waktu liburnya sudah selesai."
"Irza-- "
"Kita mulai pelajaran. Jangan ada pembahasan yang tidak berkaitan dengan pelajaran lagi. Kalian mengerti, bukan?"
"Iya, Buk .... " Mereka berucap dengan nada tanpa semangat.
...
Peringatan dari dosen itu ternyata hanya berlaku sesaat saja. Tak lama setelahnya, bisik-bisik kembali terdengar. Obrolan tentang Irza pun terus berlanjut.
Saat mata pelajaran berakhir, obrolan itu kembali marak. Tidak hanya di dalam kelas saja. Di luar kelas juga. Di lorong, di taman, di kantin, bahkan di perpustakaan, topik hangat yang sedang di bicarakan tetaplah Irza dan Asha. Si gemulai yang menikahi gadis cantik yang cukup terkenal di kampus.
Mereka membicarakannya tanpa lelah. Tidak bosan sedikitpun. Bahkan, pembicaraan itu terus marak mulai dari pertunangan, hingga sampai mereka menikah. Harusnya, pembicaraan itu sudah mereda setelah mereka menikah. Tapi sayangnya, setelah mereka menikah, mulut jahil itu semakin menjadi-jadi saja. Semakin bertingkah tanpa memikirkan hati dan perasaan orang yang mereka bicarakan.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣