Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Butuh beberapa hari bagi Rean untuk terbiasa dengan kehidupan barunya.
Keluarga Vale, ternyata, bukan keluarga biasa. Rumah tempat ia tinggal lebih mirip istana kecil, dengan halaman luas dan puluhan ruangan yang belum sempat ia jelajahi semua. Ayahnya, Darius Vale, adalah pria berwibawa yang selalu tampak sibuk namun selalu menyempatkan diri makan malam bersama keluarga.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Darius suatu malam, meletakkan garpu dan menatap Rean dengan seksama.
"Sudah jauh lebih baik, Ayah," jawab Rean jujur. "Rasanya... aneh. Tapi baik."
Darius mengangguk pelan, tapi tatapannya masih menyimpan kekhawatiran seorang ayah yang bertahun-tahun melihat anaknya berjuang melawan penyakit. Rean bisa merasakan itu, meski ia baru mengenal sosok ini beberapa hari.
Yang paling sulit diprediksi justru sang kakak.
"REANNN!"
Suara itu menggelegar dari ujung lorong sebelum sosok pemiliknya muncul. Seorang gadis dengan rambut panjang tergerai berlari kecil menghampirinya, langsung memeluknya erat hingga Rean nyaris kehilangan keseimbangan.
"Kamu tahu, aku benar-benar khawatir waktu dengar kamu pingsan lagi minggu lalu! Untung sekarang membaik. Coba lihat wajahmu—" Aria mencubit pipi Rean tanpa ampun, "—masih menggemaskan seperti biasa."
"Sakit, Kak," protes Rean, meski nadanya tidak benar-benar kesal.
"Namanya juga sayang." Aria terkekeh, lalu mengacak rambut Rean hingga berantakan. "Dengar-dengar kamu mau daftar ke Starline High School? Serius?"
Rean mengangguk mantap. "Aku ingin merasakan sekolah, Kak. Ikut kegiatan, punya teman... hal-hal yang belum pernah aku rasakan."
Untuk sesaat, tawa jahil Aria memudar, digantikan sesuatu yang lebih hangat. Ia menatap adiknya lama, mengingat bertahun-tahun ketakutan yang selalu menghantuinya — ketakutan bahwa suatu hari ia akan kehilangan Rean untuk selamanya.
"Bagus," katanya akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Kamu pantas merasakan semua itu."
Lalu, seakan sadar suasana jadi terlalu serius, ia kembali menyeringai. "Tapi awas ya, kalau ada anak nakal yang berani menggodamu, laporkan ke Kakak. Kakak yang akan urus."
"Memangnya kenapa harus digoda?" tanya Rean polos.
Aria hanya tertawa, menepuk kepala adiknya pelan. "Sudahlah. Nanti kamu juga akan mengerti sendiri."
Rean mengerutkan kening, tidak benar-benar paham maksud kakaknya, tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Ada hal yang jauh lebih penting mengisi benaknya malam itu — besok adalah hari pertamanya mendaftar ke Starline High School.
Ia membuka lagi buku bersampul biru itu di kamarnya, membaca ulang bab-bab awal yang masih ia ingat samar-samar. Nama-nama tokoh, garis besar cerita, konflik yang katanya akan terjadi di sekolah itu.
Namun, semakin ia membaca, semakin ia sadar ada satu hal yang mengganjal.
Di dalam buku itu, sosok Rean Vale — pemilik tubuh yang sekarang ia tempati — seharusnya sudah meninggal sebelum cerita ini dimulai.
"Kalau begitu," gumamnya pelan sambil menutup buku, "berarti mulai sekarang, aku benar-benar berjalan di luar cerita yang aku tahu."
Ada sedikit gugup terselip di dadanya. Tapi lebih dari itu, ada semangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Keesokan paginya, mobil keluarga Vale melaju menuju kantor administrasi Starline High School, membawa Rean bersama Darius yang sengaja meluangkan waktu di sela jadwal padatnya.
"Biasanya pendaftaran murid baru sudah ditutup sejak awal tahun ajaran," jelas Darius di dalam mobil, menatap Rean sekilas. "Tapi karena kondisi kesehatanmu yang berubah drastis, aku sudah bicara langsung dengan kepala sekolah minggu lalu. Mereka bersedia membuka jalur pendaftaran khusus untukmu."
"Terima kasih, Ayah," jawab Rean, agak terkejut mengetahui ayahnya sudah mengurus semuanya diam-diam sejak jauh hari.
"Tidak perlu berterima kasih," Darius tersenyum tipis, jarang terlihat namun tulus. "Ini yang paling tidak bisa aku lakukan, setelah bertahun-tahun kamu tidak pernah punya kesempatan menjalani masa sekolah seperti anak-anak lain."
Sesampainya di kantor administrasi, mereka disambut oleh kepala sekolah dan wali kelas yang nantinya akan menjadi wali kelas Rean. Ruangan itu formal, dipenuhi rak piala dan sertifikat prestasi sekolah yang berjajar rapi di dinding.
"Selamat datang, Rean," sapa kepala sekolah ramah, mempersilakan mereka duduk. "Kami sudah menerima seluruh berkas kesehatanmu dari rumah sakit. Sungguh perkembangan yang luar biasa."
"Terima kasih sudah memberi kesempatan ini," jawab Rean sopan, sedikit gugup namun berusaha tenang.
Proses selanjutnya berjalan lebih formal dari yang Rean bayangkan — sesi wawancara singkat untuk mengetahui sejauh mana kemampuan akademiknya, mengingat bertahun-tahun ia hanya menjalani pendidikan lewat tutor pribadi di rumah. Beberapa pertanyaan seputar minat baca, kemampuan berhitung dasar, hingga alasan pribadinya ingin bersekolah.
"Kenapa kamu memilih masuk di tengah tahun ajaran seperti ini, bukan menunggu tahun ajaran baru?" tanya wali kelas, penasaran.
Rean terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang jujur namun tidak menimbulkan kecurigaan berlebihan. "Aku sudah menunggu kesempatan ini seumur hidupku," jawabnya akhirnya, tulus. "Begitu dokter bilang aku benar-benar sembuh, aku tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk merasakannya."
Jawaban sederhana itu membuat kepala sekolah dan wali kelas saling bertukar pandang, tersentuh oleh ketulusan yang jarang mereka temukan pada calon murid dari keluarga sebesar Vale.
"Baiklah," kepala sekolah akhirnya mengangguk mantap. "Berdasarkan hasil wawancara dan rekomendasi dari pihak keluarga, kami putuskan Rean bisa langsung bergabung di kelas 10-B mulai minggu depan. Sekolah juga akan menyediakan modul tambahan untuk membantu menyesuaikan materi yang mungkin tertinggal."
"Terima kasih banyak," Rean membungkuk sopan, dadanya dipenuhi kelegaan sekaligus kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dalam perjalanan pulang, Darius sesekali melirik ke arah Rean yang masih tersenyum lebar menatap keluar jendela mobil, memandangi gedung sekolah yang perlahan menjauh di kaca spion.
"Sudah siap menghadapi minggu depan?" tanya Darius, nada suaranya hangat.
"Sangat siap, Ayah," jawab Rean mantap, matanya berbinar penuh semangat.
Sepanjang sisa perjalanan, Rean tidak berhenti memikirkan hari pertamanya nanti — membayangkan lorong-lorong sekolah yang akan ia lewati, wajah-wajah baru yang akan ia temui, dan kehidupan yang selama ini hanya bisa ia baca lewat halaman-halaman buku, kini akhirnya benar-benar berada dalam jangkauannya.
-
Gerbang Starline High School jauh lebih megah dari yang pernah Rean bayangkan lewat deskripsi di novel.
Bangunan utama menjulang dengan arsitektur klasik, dikelilingi taman rapi dan jalan setapak berbatu.
Siswa-siswa berseragam rapi berlalu-lalang, tertawa, mengobrol, berjalan berkelompok — pemandangan yang selama bertahun-tahun hanya bisa Rean bayangkan dari balik jendela rumah sakit.
Ia berdiri sejenak di depan gerbang, menghirup napas dalam-dalam.
"Ini sungguhan," bisiknya, nyaris tidak percaya.
"Hei, kamu murid baru?"
Rean menoleh. Seorang pemuda berambut cokelat dengan senyum ramah berdiri di sampingnya, membawa bola basket di bawah lengan.
"I-iya," jawab Rean, sedikit gugup. Ini kali pertama ia benar-benar berbicara dengan seseorang seusianya di luar keluarganya.