NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Pembuluh Darah Fosil

Sisa-sisa Istana Naga Primal tidaklah seperti reruntuhan kuil atau istana marmer pada umumnya. Tempat ini adalah perwujudan dari kematian sebuah eksistensi yang pernah menelan bintang-bintang.

Setelah meninggalkan area sisik luar, lempengan tembaga berkarat di tangan Zeng Niu menuntun mereka masuk ke dalam sebuah celah raksasa. Celah itu tidak lain adalah luka tebasan purba yang membelah pertahanan luar sang naga, membawa mereka masuk ke dalam sistem monster kosmik tersebut.

Dinding-dinding di sekitar mereka dulunya adalah daging dan otot, namun jutaan tahun telah memfosilkannya menjadi bebatuan merah gelap yang kerasnya menyamai besi surgawi. Terowongan tempat mereka berjalan sesungguhnya adalah sebuah pembuluh darah raksasa yang lebarnya mencapai ratusan tombak!

Udara di dalam terowongan fosil itu luar biasa pekat, dipenuhi oleh kabut beracun berwarna merah keunguan. Ini adalah miasma yang terbentuk dari darah naga purba yang membusuk. Bagi kultivator di bawah ranah Soul Transformation, menghirup satu tarikan napas saja sudah cukup untuk melelehkan paru-paru mereka menjadi cairan hitam.

Namun, Zeng Niu dan Zhao Ying berjalan dengan santai layaknya sedang melintasi taman kekaisaran.

Zhao Ying melangkah dengan anggun, Roda Bintang di punggungnya memancarkan pendaran es abadi yang secara otomatis membekukan kabut beracun di sekitarnya hingga berjatuhan menjadi butiran salju merah.

Sementara itu, Zeng Niu mengunyah beberapa butir pil penangkal racun tingkat tinggi seolah-olah itu adalah makanan.

"Rasa pil dari Klan Pil Emas ini sedikit terlalu manis, tapi khasiatnya luar biasa," kekeh Zeng Niu, membuang botol giok kosong ke tanah. "Aku benar-benar harus berterima kasih pada Tuan Muda Yan Qi dan para pembunuhnya. Mereka membiayai perjalanan kita dengan sangat baik."

Zhao Ying menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyum tipis nyaris tak terlihat menghiasi bibirnya yang memerah.

"Hawa di tempat ini semakin lama semakin menekan Hukum Langit," ucap Zhao Ying, matanya menatap jauh ke dalam kegelapan terowongan. "Es abadi-ku terasa sedikit lebih berat. Naga Primal ini... di masa hidupnya, kekuatan fisiknya pasti berada di atas ranah Nirvana. Hukum dagingnya menolak segala bentuk Qi spiritual dari luar."

"Bagus," mata Zeng Niu berbinar. "Jika tempat ini menekan Qi, maka mereka yang hanya mengandalkan sihir fana akan menjadi domba lumpuh. Ini adalah panggung yang diciptakan khusus untuk Tulang Perak Asura-ku!"

Mereka terus melangkah masuk mengikuti pendaran cahaya keemasan dari lempengan tembaga. Semakin dalam mereka berjalan, suhu di sekeliling mereka perlahan meningkat. Suara detak jantung yang sangat lambat hanya berdetak satu kali setiap beberapa jam mulai terdengar samar, menggetarkan lantai fosil di bawah kaki mereka.

Tiba-tiba, lempengan tembaga di tangan Zeng Niu bergetar hebat.

Di depan mereka, pembuluh darah raksasa itu melebar, berujung pada sebuah rongga gua yang luar biasa luas. Gua ini terbentuk di antara dua tulang rusuk yang melengkung ke atas.

Di tengah rongga gua tersebut, terdapat sebuah kolam selebar seratus tombak. Berbeda dengan area lainnya yang telah memfosil, kolam ini berisi cairan kental berwarna merah keemasan yang masih mendidih! Itu adalah sisa-sisa Genangan Darah Jantung milik naga purba yang belum sepenuhnya mengering!

Namun, yang membuat mata Zeng Niu dan Zhao Ying memicing bukanlah genangan darah itu, melainkan apa yang tumbuh di tengahnya.

Sebuah teratai setinggi tiga tombak berdiri anggun di atas permukaan darah. Batangnya berwarna putih pucat seperti tulang, sedangkan kelopaknya memancarkan cahaya merah darah yang menyilaukan. Aroma kehidupan primordial menguar darinya, membuat Tulang Perak Asura di sekujur tubuh Zeng Niu berderak keras karena kelaparan.

"Teratai Tulang Naga!" seru Lei Ling di dalam Lautan Kesadaran. "Niu! Itu adalah harta karun penempa fisik tingkat kosmik! Jika kau memakan kelopaknya, transisi Tulang Perak-mu menuju Tulang Emas Asura akan menghemat waktu seribu tahun!"

"Barang bagus," gumam Zeng Niu, menjilat bibirnya. Ia bersiap melangkah ke depan.

Namun, langkahnya terhenti. Sebuah desisan yang mampu memecahkan gendang telinga bergema dari langit-langit gua.

Dari balik bayang-bayang tulang rusuk raksasa, merayap turun seekor monster purba. Wujudnya menyerupai kelabang raksasa, namun setiap ruas tubuhnya terbuat dari bilah tulang yang tajam. Matanya yang berjumlah puluhan memancarkan cahaya hijau beracun.

Ini adalah Kelabang Darah Tulang, binatang buas primordial yang bermutasi dari parasit di dalam tubuh kaisar naga! Fluktuasi auranya setara dengan Soul Transformation Tahap Akhir Puncak!

Binatang buas itu melingkari kolam darah, mendesis ke arah Zeng Niu dan Zhao Ying, memperingatkan mereka untuk tidak menyentuh hartanya.

Zhao Ying mengangkat tangannya, es abadi mulai memadat di ujung jarinya. "Biar aku yang membekukan serangga besar ini."

"Tunggu, Ying'er," Zeng Niu menahan lengan Zhao Ying sambil tersenyum misterius. Matanya yang setajam elang melirik ke arah lorong lain di seberang gua. "Kita punya tamu. Membuang tenaga untuk membunuh penjaga pintu adalah hal yang bodoh jika ada orang lain yang mau melakukannya secara gratis."

Benar saja, beberapa tarikan napas kemudian, dari arah lorong di seberang kolam, terdengar derap langkah kaki yang tergesa-gesa.

Sekelompok kultivator yang berjumlah sekitar lima belas orang melangkah masuk ke dalam gua. Mereka mengenakan jubah putih bersulam awan biru, dan masing-masing memanggul pedang besar di punggungnya. Fluktuasi Qi mereka menunjukkan bahwa ini adalah kelompok elit; pemimpin mereka adalah seorang pemuda tampan dengan kultivasi Soul Transformation Tahap Menengah, diikuti oleh dua tetua tingkat Akhir.

"Hahaha! Surga memang memberkati Sekte Pedang Awan Biru kita!" seru pemuda tampan itu dengan arogan. Matanya langsung tertuju pada Teratai Tulang Naga di tengah kolam, sepenuhnya mengabaikan Kelabang Darah yang mendesis marah.

Pemuda itu, Tuan Muda Yun Che, adalah pewaris sekte kelas satu di Langit Selatan.

"Tetua, bunuh kelabang kotor itu! Teratai Tulang Naga itu akan menjadi milikku untuk memperkuat fisikku sebelum turnamen benua tahun depan!" perintah Yun Che sambil mengibaskan kipas lipatnya.

"Sesuai perintah Tuan Muda!"

Kedua tetua Sekte Pedang Awan Biru langsung melesat ke depan. Pedang raksasa di punggung mereka dicabut, memancarkan Niat Pedang yang membelah udara beracun. Mereka langsung terlibat pertarungan sengit dengan Kelabang Darah Tulang. Percikan api dan darah hijau beracun berhamburan ke segala arah.

Sambil menonton pertarungan itu, Yun Che menyapukan pandangannya ke sekeliling gua, dan barulah ia menyadari kehadiran Zeng Niu dan Zhao Ying yang berdiri santai di sudut lorong masuk.

Melihat Zeng Niu yang (tampak) hanya berada di ranah Soul Transformation Awal, dan Zhao Ying yang wajahnya tertutup kerudung es namun memancarkan keanggunan luar biasa, mata Yun Che memicing angkuh.

"Hei! Kalian dua semut pengembara!" teriak Yun Che, melangkah maju beberapa tindak dengan dagu terangkat. "Tempat ini telah diklaim oleh Sekte Pedang Awan Biru! Jika kalian tidak ingin mati terkena gelombang sisa pertarungan tetuaku, berlututlah, tinggalkan seluruh cincin penyimpanan kalian sebagai biaya tutup mulut, lalu merangkak keluar dari sini!"

Mendengar tuntutan konyol itu, Zhao Ying hanya memutar bola matanya sedikit di balik kerudung. Hawa konyol dari Tuan Muda fana di Langit Selatan ini sungguh tiada habisnya.

Zeng Niu, di sisi lain, tidak marah. Ia justru menepuk tangannya pelan, sebuah senyum ramah yang biasanya menandakan kehancuran bagi musuhnya terukir di wajahnya.

"Tuan Muda dari Sekte Awan Biru, benar?" balas Zeng Niu dengan nada bersahabat. "Aku sangat mengagumi keberanian kalian mengambil inisiatif membersihkan hama. Tentu, silakan lanjutkan. Aku hanya akan menonton dari sini."

Yun Che mendengus jijik. "Tahu diri juga kau, sampah fana. Tapi aku bilang, serahkan cincin penyimpanan kalian! Terutama wanita di sebelahmu itu, biarkan dia melepas kerudungnya. Jika wajahnya cukup cantik, aku mungkin akan menjadikannya pelayan pedangku."

WUUUSSSSH!

Suhu di dalam gua anjlok hingga titik beku absolut. Niat Es dari Zhao Ying yang tersinggung nyaris meledak, namun Zeng Niu memegang pergelangan tangannya, mengelus punggung tangan dewi es itu dengan lembut untuk menenangkannya.

"Jangan mengotori tanganmu, Ying'er. Biarkan aku yang memotong lidahnya nanti," bisik Zeng Niu.

Zeng Niu kembali menatap Yun Che. "Tuan Muda, kami akan menyerahkan cincin kami setelah tetuamu selesai membunuh kelabang itu. Bukankah itu lebih adil?"

Yun Che tertawa, merasa telah menundukkan kultivator lemah ini sepenuhnya. Ia kembali fokus pada pertarungan.

Di tengah kolam darah, kedua tetua Awan Biru bertarung dengan sangat keras. Kelabang Darah Tulang itu memiliki pertahanan fisik yang absurd; bilah pedang tingkat Surga mereka hanya mampu meninggalkan goresan putih di cangkangnya. Sebaliknya, semburan bisa hijau dari kelabang itu telah melelehkan sebagian zirah Qi kedua tetua.

"Gunakan Formasi Pedang Awan Pembelah Surga!" raung salah satu tetua.

Mereka menyatukan pedang mereka, memanggil pedang Qi raksasa sepanjang seratus tombak yang turun dari udara, menghantam tepat di atas kepala Kelabang Darah Tulang!

KRAAAAAAK!

Cangkang tengkorak monster purba itu akhirnya retak. Darah hijau menyembur deras, dan monster itu menjerit kesakitan sebelum akhirnya ambruk ke tepi kolam darah, mati dengan tubuh terbelah.

Kedua tetua itu jatuh terduduk, terengah-engah dan memuntahkan darah segar. Qi di Dantian mereka telah terkuras lebih dari delapan puluh persen, dan racun kelabang telah meresap ke dalam meridian mereka.

"Hahaha! Kerja bagus, Tetua!" Yun Che tertawa gembira, matanya dipenuhi ketamakan. Ia melangkah menuju tepi kolam untuk memetik Teratai Tulang Naga.

Namun, sebelum kakinya sempat menyentuh bibir kolam...

WUUUSSSH!

Sesosok bayangan hitam melesat melewatinyanya dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata seorang Soul Transformation Menengah! Bayangan itu menginjak permukaan kolam darah tanpa tenggelam, tangan kanannya menjulur, dan dengan satu gerakan halus, mencabut Teratai Tulang Naga beserta akarnya dari dasar kolam!

Yun Che membeku di tempat. Ia mengusap matanya, tidak percaya.

Di tengah kolam, Zeng Niu berdiri dengan santai. Tangan kirinya memegang Teratai Tulang Naga yang memancarkan pendaran merah, sementara tangan kanannya memegang sebuah kendi arak entah dari mana.

Zeng Niu mengendus aroma teratai itu, lalu mengangguk puas. Ia menyimpannya ke dalam cincin penyimpanannya tepat di depan mata kepala Yun Che.

"T-Terataiku... K-KAU BAJINGAN!" raung Yun Che, wajahnya berubah ungu karena amarah. Urat di pelipisnya menonjol. "Kau berani mencuri harta Sekte Pedang Awan Biru?! Tetua, bunuh dia! Cincang dia menjadi banyak bagian!"

Kedua tetua yang sedang memulihkan diri dengan paksa berdiri. Meskipun Qi mereka terkuras dan beracun, mereka masihlah ahli Soul Transformation Akhir.

"Mencari mati!" desis tetua pertama, menerjang ke arah Zeng Niu dengan pedang raksasanya.

Zeng Niu tidak menghindar. Ia bahkan tidak mencabut Nisan Petir Asura-nya.

Sang Algojo hanya mengangkat tangan kanannya yang bebas. Tulang Perak Asura-nya bersinar terang, berpadu dengan massa dari Benih Dunia di Dantiannya.

Saat pedang raksasa tingkat Surga itu menebas ke arah lehernya, Zeng Niu mengulurkan dua jarinya.

KLANG!

Bunyi logam yang sangat nyaring bergema.

Mata tetua itu melotot seolah melihat hantu. Pedang raksasa yang diayunkan dengan kekuatan Soul Transformation Akhir... tertahan sempurna hanya dengan jepitan dua jari Zeng Niu!

"Pedang yang bagus. Tapi penggunanya kekurangan kekuatan," ejek Zeng Niu santai.

Zeng Niu memutar pergelangan tangannya sedikit.

KRAAAAK! PRANG!

Pedang tingkat Surga itu... patah menjadi dua bagian!

Sebelum tetua itu sempat bereaksi, tangan Zeng Niu telah melesat maju, mencengkeram tenggorokan tetua tersebut, dan mengangkatnya ke udara layaknya mengangkat seekor ayam potong.

"Kau..." tetua itu meronta, kakinya menendang-nendang udara, namun cengkeraman fisik asura Zeng Niu bagaikan penjepit baja dari kedalaman neraka.

Zeng Niu menyeringai, matanya memancarkan kedinginan ketiadaan.

KRAK!

Zeng Niu mematahkan leher tetua itu dengan satu gerakan santai, lalu melempar mayatnya ke dalam kolam darah naga layaknya membuang sampah.

Tetua kedua, yang baru saja hendak menyerang dari belakang, langsung mengerem paksa langkahnya. Wajahnya pucat pasi seputih kertas. Kakinya gemetar tak terkendali. Seorang ahli Soul Transformation Akhir dibunuh dalam satu gerakan tangan kosong?! Monster macam apa pemuda ini?!

Tuan Muda Yun Che jatuh terduduk di tepi kolam. Kipas lipatnya terlempar entah ke mana. Arogansinya hancur lebur, menyisakan teror yang merayap di sumsum tulangnya.

Zeng Niu melangkah perlahan dari atas permukaan kolam darah, berjalan menghampiri Yun Che. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman genderang kematian.

Zeng Niu membungkuk, menatap wajah Tuan Muda yang gemetar ketakutan itu dengan senyum yang luar biasa ramah.

"Tadi kau bilang... kau ingin cincin penyimpananku?" bisik Zeng Niu lembut. Ia mengulurkan tangannya ke depan Yun Che.

"Sekarang, aku berubah pikiran. Berikan semua cincin penyimpanan sekte kalian kepadaku, dan mungkin... aku hanya akan mematahkan kedua kakimu sebelum kutinggalkan di sini untuk menjadi makanan kelabang. Bagaimana? Bukankah transaksi dariku jauh lebih adil?"

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!