Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Qin Shang kini benar-benar yakin.
Pria misterius yang sebelumnya bertarung dengan Wen Ren memang Ma Haoran.
Namun, mengapa Ma Haoran menyerang Wen Ren?
Apa jangan-jangan karena Wen Ren sempat menyinggung soal bonus perekrutan anggota baru di depan pintu masuk Pasar Gelap hingga membuatnya kehilangan muka?
"Tidak, Ma Haoran bukan orang yang picik seperti itu. Mungkin... karena Sup Peningkat Darah?"
Selain itu, Ma Haoran mengenal Wen Ren.
Asalkan sedikit jeli, ia pasti tahu Wen Ren sedang mendapat dukungan penuh dari Lin Yan dan kemungkinan besar membawa banyak Poin Kontribusi.
Mungkin karena itulah Ma Haoran nekat mengambil risiko untuk merampoknya.
"Di balik penampilannya yang lembut dan seanggun batu giok, ternyata Ma Haoran juga memiliki sisi seperti ini. Benar saja, hati manusia memang sulit ditebak."
Qin Shang diam-diam semakin meningkatkan kewaspadaannya.
Meski begitu, ia tidak berniat memutus hubungan dengan Ma Haoran hanya karena kejadian tersebut.
Dalam arti tertentu, dirinya dan Ma Haoran adalah orang yang sejenis.
Setelah tiba di Pasar Gelap, Qin Shang dan Ma Haoran pun berpisah untuk membeli keperluan masing-masing.
Qin Shang kembali membeli tujuh porsi Sup Peningkat Darah, lalu menunggu Ma Haoran di pintu keluar Pasar Gelap agar mereka bisa pulang bersama.
Keduanya sama-sama tahu batas.
Tak satu pun dari mereka menanyakan apa yang dibeli pihak lain.
Lima hari berlalu dalam sekejap.
Malam itu, begitu Qin Shang kembali ke tempat tinggalnya, Lu Chen langsung menghampirinya dengan wajah berseri-seri.
"Aku berhasil! Aku sudah menembus Tahap Peningkatan Darah Pertama!"
"Bagus! Bagus!"
Mata Qin Shang langsung berbinar mendengarnya.
Dengan penuh semangat, Lu Chen berkata, "Sudah tujuh bulan sejak kita tiba di Gunung Tianyuan. Akhirnya aku berhasil mencapai Tahap Peningkatan Darah Pertama. Oh ya, selain kalian yang berhasil menembus saat di lapangan latihan waktu itu, selama lebih dari setengah tahun ini tidak ada seorang pun dari kelas kita yang berhasil naik tingkat. Aku yang pertama."
Qin Shang tiba-tiba teringat sesuatu, lalu bertanya, "Dulu Gu Yang membagikan lima jatah kepada lima orang itu dengan syarat setelah berhasil menembus, mereka harus membantu teman-teman yang telah mendukung mereka mencapai Tahap Peningkatan Darah. Apa mereka menepati janji itu?"
Lu Chen langsung mendengus.
"Janji? Mana ada! Dari lima orang itu, cuma tiga yang berhasil menembus, yaitu Ying Ling, Xu Wen, dan Yang Zheng. Sementara Zu Rou dan Zhen De gagal. Orang-orang yang mendukung Zu Rou dan Zhen De langsung tidak terima. Mereka sudah ikut berkorban, tapi tidak mendapat apa-apa. Akhirnya keributan pun pecah."
"Pada akhirnya ketua kelas yang turun tangan. Dia mengusulkan agar dibuat rekening bersama. Ying Ling dan yang lainnya diminta menyetor seluruh Poin Kontribusi bulanan mereka ke sana. Begitu jumlahnya cukup untuk membeli sepuluh mangkuk Sup Peningkat Darah bagi setiap penyumbang, barulah uang itu dibagikan."
Qin Shang terdiam sejenak sebelum bertanya lagi, "Lalu siapa yang mengelola rekening bersama itu?"
"Siapa lagi kalau bukan ketua kelas? Cuma dia yang dipercaya semua orang."
"Menarik."
Qin Shang tersenyum tipis.
Saat itu, dari sebelas siswa yang ada, selain dirinya, Lu Chen, Wen Ren, dan Gu Yang sendiri yang tidak ikut menyumbang, sembilan siswa lainnya semuanya memberikan kontribusi.
Sembilan orang berarti setara dengan sembilan puluh mangkuk Sup Peningkat Darah.
Jika dihitung berdasarkan harga pasar lima puluh Poin Kontribusi per mangkuk, nilainya mencapai empat ribu lima ratus Poin Kontribusi.
Sebagian besar tentu harus ditanggung oleh Ying Ling dan dua orang lainnya.
Padahal, masing-masing dari mereka hanya memperoleh sekitar empat puluh Poin Kontribusi setiap bulan.
Kalau dihitung-hitung, mereka membutuhkan setidaknya tiga hingga empat tahun untuk melunasi semuanya.
Selama kurun waktu itu...
Apa mungkin Gu Yang tidak akan memakai uang itu untuk kepentingannya sendiri?
"Oh ya, dulu Zu Rou dan Zu Yue juga ikut membantu Gu Yang mencapai Tahap Peningkatan Darah. Apa kakak beradik itu tidak pernah meminta balasannya?"
Qin Shang kembali bertanya.
Lu Chen menggeleng.
"Aku pernah bertanya kepada Zu Yue. Katanya, kakaknya memang sudah tidak menginginkannya lagi. Dia menganggap bantuan itu memang diberikan kepada Gu Yang."
"Menarik. Ketua kelas kita ini memang punya banyak akal."
Qin Shang hanya tersenyum dan tidak bertanya lebih jauh.
Untung saja sejak awal ia memilih menjaga jarak dari teman-teman Kelas 11.
Kalau tidak, cepat atau lambat ia pasti akan diperas oleh Gu Yang.
Dan jika menolak, dengan kepiawaian Gu Yang memainkan keadaan, bukan tidak mungkin justru dirinya yang akan dijadikan musuh oleh seluruh anggota kelas.
"Oh ya, sekarang kau sudah naik tingkat. Kau bisa pergi ke Divisi Administrasi untuk mengajukan pergantian pekerjaan. Nanti akan kutanya Ma Haoran. Siapa tahu dia punya jalur supaya kau bisa mendapat posisi yang lebih baik. Tidak perlu lagi memelihara babi."
kata Qin Shang.
Namun di luar dugaan, Lu Chen langsung menggeleng.
"Tidak, tidak. Qin Shang, aku sudah mengincar pekerjaan lain, yaitu di Departemen Logistik. Memang hanya menghasilkan delapan belas Poin Kontribusi per bulan. Di antara praktisi Tahap Peningkatan Darah Pertama, penghasilannya memang tergolong rendah, tapi itu pekerjaan sebagai staf pengelola. Aku punya kesempatan mendapat sedikit keuntungan tambahan. Sesekali aku juga bisa menyelundupkan sedikit daging untuk dibawa pulang."
Qin Shang sempat ingin membujuknya.
Delapan belas Poin Kontribusi per bulan memang terlalu sedikit.
Kalau Lu Chen tetap berada di Tahap Peningkatan Darah Pertama selama dua atau tiga tahun, selisih pendapatannya akan sangat besar.
Namun Lu Chen bukan orang yang takut bekerja keras.
Berarti, pasti ada alasan lain mengapa ia memilih masuk ke Departemen Logistik.
Pada akhirnya, Qin Shang hanya mengangguk.
"Terserah kau."
Hari-hari berikutnya kembali berjalan seperti biasa.
Setiap hari Qin Shang bekerja seperti biasa, lalu berlatih Jurus Kuda-Kuda Giok Matahari. Pada malam hari, ia menghabiskan waktunya mempelajari 《Telapak Penghancur Jantung》.
Tanpa terasa, genap satu tahun sejak ia tiba di Gunung Tianyuan.
Sudah hampir enam bulan pula sejak ia mencapai Tahap Peningkatan Darah Ketiga.
Akhirnya, Qin Shang mulai merasakan tanda-tanda akan menembus Alam Penempaan Tulang.
Suatu dini hari, ia terbangun dan mendapati seluruh darah vital di dalam tubuhnya tengah menutrisi tulang-tulangnya.
Seluruh kerangkanya terasa seolah ditusuk ribuan jarum.
Rasa nyerinya menembus hingga ke sumsum tulang.
Aku hampir mencapai Alam Penempaan Tulang!
Qin Shang sangat gembira meski harus menahan rasa sakit yang luar biasa.
Proses penempaan itu berlangsung selama tiga jam penuh.
Tiga jam kemudian, langit masih belum menunjukkan tanda-tanda fajar.
Selimut Qin Shang telah basah kuyup oleh keringat.
Ia segera bangkit dari tempat tidur.
Begitu bergerak, tubuhnya terasa seringan burung layang-layang.
Seakan-akan seluruh tubuhnya telah terlahir kembali.
Saat memperagakan 《Telapak Penghancur Jantung》, setiap gerakannya terasa jauh lebih mulus dan alami.
Di telapak tangan serta tulang jari-jarinya, samar-samar tampak kilau berwarna tembaga.
"Darah vital mengalir deras, tulang memancarkan warna tembaga. Berarti aku sudah memasuki Tahap Tulang Tembaga dalam Alam Penempaan Tulang."
Mata Qin Shang berbinar penuh kegembiraan.
Sama seperti Alam Peningkatan Darah, Alam Penempaan Tulang juga terbagi menjadi tiga tahap.
Yaitu Tulang Tembaga, Tulang Perak, dan Tulang Emas.
Kini ia baru saja memasuki Tahap Tulang Tembaga.
Namun berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkannya, kebanyakan orang yang berhasil menembus Alam Penempaan Tulang masih membutuhkan waktu setidaknya satu tahun penuh sebelum tulang mereka berubah menjadi warna tembaga.
Sedangkan dirinya baru saja menembus alam tersebut, tetapi langsung mencapai Tahap Tulang Tembaga.
Inilah hasil menyerap Qi Abadi setiap hari. Oh ya... sekarang setelah mencapai Alam Penempaan Tulang, apa aku sudah mampu mengalahkan kupu-kupu hitam menyebalkan itu?
Qin Shang mengenakan pakaian yang memang telah dipersiapkannya sejak lama.
Ia juga memakai sepasang sarung tangan untuk menutupi tulang-tulangnya yang berwarna tembaga.
Di Divisi Penyaringan Pasir Roh, mengenakan sarung tangan merupakan hal yang lumrah.
Tujuannya agar tangan tidak terlalu lama terendam air hingga terserang hawa dingin.
Malam harinya, Qin Shang kembali memasuki ruang di dalam cangkang telur.
Kupu-kupu hitam itu ternyata masih tetap berjaga di mulut lubang.
Atau lebih tepatnya...
Makhluk itu telah membuat sarang di atas sehelai daun yang tidak jauh dari lubang cangkang telur, seolah sedang bersiap untuk bertelur.
Sudah hampir setahun berlalu, tapi makhluk ini masih saja menungguku. Entah karena aliran waktu di tempat ini berbeda dengan Dunia Xuanwu atau memang ada alasan lain. Kesabarannya benar-benar luar biasa.
Namun sekarang kekuatanku sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Mari kulihat apakah aku sudah sanggup melawannya.
Qin Shang dengan sangat hati-hati menjulurkan kepalanya keluar.
Begitu melihatnya, kupu-kupu hitam itu langsung mengepakkan sayap dan melesat ke arahnya.
Qin Shang telah bersiap menghadapi serangan itu.
Namun di luar dugaannya, kupu-kupu hitam tersebut tiba-tiba menyemburkan segumpal api hitam dari mulutnya.
Qin Shang sontak terkejut. Tanpa ragu sedikit pun, ia segera menarik kepalanya kembali ke dalam cangkang telur.