NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2 — Lelang Tengah Malam

Kendaraan pertama membuka palka bawah sebelum benar-benar berhenti.

Ratusan kotak jatuh dari udara.

BRAK! BRAK! BRAK!

Bukit sampah bergetar. Potongan logam meluncur, pipa-pipa tua berguling, dan debu hitam membubung seperti ombak. Empat truk lain menyebar membentuk setengah lingkaran, lalu membuang muatan di titik berbeda.

Tri menyipit di balik cahaya lampu sorot.

Mereka tidak sedang mengangkut sampah biasa.

Semua kotak berukuran sama. Segelnya masih utuh. Tak ada lengan sortir yang memeriksa bahan berbahaya, tak ada sirene pembuangan, bahkan lambang perusahaan di badan truk ditutup lembaran hitam.

Di atas truk kelima, sebuah pesawat kecil seukuran koper terbang berputar pelan.

Cahaya putih berkedip dari bagian depannya.

Sekali.

Dua kali.

Seperti kamera yang sedang merekam.

“Buang barang sambil bawa saksi gambar?” Tri bergumam. “Kalian takut dituduh tidak bekerja, atau takut barangnya ditemukan orang?”

Tak ada yang menjawab. Mesin-mesin itu meraung lebih keras.

Tri memaksa berdiri dengan bantuan tongkat. Kedua lututnya langsung melipat. Ia menahan tubuh pada bingkai jendela, menunggu pandangan yang berkunang-kunang kembali jernih.

Kotak terdekat jatuh sekitar delapan puluh meter dari bangunan.

Terlalu jauh untuk tubuh ini.

Lalu satu kotak menghantam ujung rangka kendaraan, pecah, dan memuntahkan puluhan tabung transparan ke lereng. Beberapa menggelinding sampai ke kaki tembok.

Tri melihat cairan merah muda di dalamnya.

Tubuh kecilnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.

Air liur memenuhi mulut. Perutnya berkontraksi begitu keras hingga ia harus membungkuk. Ingatan anak itu mengenali bentuk tabung, warna cairan, dan tutup sekali putar.

Cairan Gizi.

Satu tabung bisa menggantikan makan sehari bagi anak-anak. Yang bagus mahal. Yang mendekati tanggal kedaluwarsa biasa diperebutkan para pemulung sampai ada tulang yang patah.

Ini bukan satu tabung.

Ini ribuan kotak.

Tri tidak langsung keluar.

Ia menghitung.

Jarak ke tumpukan terdekat delapan puluh meter. Pemukiman pemulung berada di sisi timur, sekitar empat ratus meter. Mesin pembuangan pasti membangunkan mereka. Orang dewasa yang sehat akan tiba dalam tiga sampai lima menit.

Tubuh Tri bahkan tidak sanggup berjalan delapan puluh meter dalam waktu itu.

Ia memandang dinding kiri yang setengah runtuh.

Di baliknya ada rangka sepeda roda tiga tua milik ayah angkatnya. Dua roda belakang masih terpasang. Rantai putus, pedal bengkok, dan bak angkutnya berlubang. Lelaki tua itu biasa mendorongnya pulang sambil membawa logam kecil.

Tidak bisa dikayuh.

Masih bisa menggelinding.

Tri turun dari ambang jendela, mengaitkan tongkat ke rangka, lalu menariknya keluar. Roda kanan menjerit karena lama tidak berputar.

“Kalau lo masih mau hidup,” bisiknya kepada sepeda itu, “jangan berisik.”

Ia menyambar kabel dari lantai, melilitnya pada poros roda, lalu menyelipkan potongan kaleng sebagai penahan cincin. Bukan perbaikan. Hanya cara kasar agar poros tidak bergeser dan menggesek badan rangka.

Tri mendorong sekali.

Roda bergerak lebih lurus.

Cukup.

Ia membawa sepeda roda tiga itu keluar melalui celah tembok. Udara dini hari menggigit kulit. Setiap napas memasukkan debu ke paru-parunya, tetapi aroma manis samar dari tabung-tabung pecah menarik tubuhnya maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Di langkah kelima, ia hampir jatuh. Tri menaruh dada di setang dan memakai berat tubuh untuk mendorong. Sepeda tua itu menjadi penyangga sekaligus alat angkut.

Truk-truk di atas mulai menutup palka.

Pesawat kecil itu berkedip lagi, mengambil gambar tumpukan kotak dari beberapa sudut. Setelah itu ia naik lebih dulu, diikuti kelima truk tanpa menyalakan lampu penanda.

Mereka pergi secepat maling meninggalkan rumah orang.

Tri mencapai tabung pertama setelah kendaraan terakhir menghilang di balik debu.

Tangannya gemetar saat memungutnya.

Label utama telah dicoret tinta hitam, tetapi tulisan kecil pada pangkal tabung masih terlihat: VITALIS. Di bawahnya tercetak kode f-1376 dan stempel merah DITARIK.

Ditarik dari peredaran.

Bukan kedaluwarsa.

Tri memutar tabung. Cairannya tidak menggumpal. Tak ada perubahan warna. Tutup pengaman utuh. Ia menekan setetes ke ujung jari, mencium, lalu menyentuhkannya ke lidah.

Manis. Sedikit asam. Ada rasa stroberi buatan yang tipis.

Tidak ada sensasi terbakar.

Tubuh ini akan mati pagi ini tanpa asupan. Risiko keracunan besok bukan alasan untuk menolak makanan sekarang.

Tri membuka tutup dan meneguk setengah tabung.

Cairan dingin melewati kerongkongan.

Perutnya sempat mengejang. Sesaat kemudian, kehangatan menyebar dari lambung ke dada, lalu turun ke tangan dan kaki. Jari-jarinya berhenti bergetar. Kabut di kepalanya menipis sedikit demi sedikit.

Ia menutup mata.

Satu teguk.

Hanya satu teguk, dan dunia yang tadi terasa jauh kini kembali memiliki jarak, ukuran, dan sudut.

Tri menyimpan setengah tabung di balik kain bajunya.

“Sekarang kita kerja.”

Teriakan pertama terdengar dari timur.

“Ada barang baru!”

Disusul bunyi pintu logam dibanting, mesin kecil dinyalakan, dan langkah puluhan orang menuruni bukit. Cahaya senter bermunculan seperti kawanan mata.

Tri tidak berlari ke tumpukan terbesar.

Semua orang pasti menuju ke sana.

Ia memilih jalur selatan, tempat tiga kotak terpental ke balik rangka kapal tua. Dengan tenaga yang baru kembali sebagian, ia mengangkat satu sudut kotak ke bak sepeda, lalu memiringkan rangka agar gravitasi menggulingkannya masuk.

Kotak pertama.

Kotak kedua.

Kotak ketiga terlalu berat karena tertindih panel. Tri menyelipkan tongkat di bawah panel, memakai batu sebagai titik tumpu, dan mengangkatnya cukup tinggi untuk menarik kotak keluar dengan kaki.

Tak ada gerakan yang mengandalkan kekuatan.

Semua mengandalkan sudut.

Ketika para pemulung pertama tiba di tumpukan utama, Tri sudah mendorong tiga kotak ke rumpun semak logam di barat daya. Tempat itu bukan rumahnya. Ia sengaja membuat titik simpan antara agar jejak roda tidak langsung menuju bangunan.

Ia menutup kotak dengan lembaran insulasi, memutar sepeda, lalu kembali.

Di belakangnya, dini hari berubah menjadi pasar tanpa aturan.

“Gue pegang duluan!”

“Lepas, bangsat!”

Seseorang menjerit ketika kepalanya dipukul botol. Dua perempuan menyeret satu kotak dari arah berlawanan. Seorang lelaki bertubuh besar berdiri di atas tumpukan dan menendang siapa pun yang mencoba naik.

Mereka melihat barang.

Tri melihat arus.

Jalur utama padat dalam satu menit. Jalur utara terhalang pipa. Sisi barat memiliki turunan tajam yang bisa mempercepat sepeda, tetapi harus ditahan sebelum tikungan. Ada enam kotak kecil tercecer di bawah bayangan truk rongsok, jauh dari pusat keributan.

Tri mengambilnya satu per satu.

Seorang pemulung tua melihatnya saat kotak keempat masuk ke bak.

“Hei, bocah! Itu punya siapa?”

Tri menunjuk ke arah tumpukan utama. “Yang besar di sana baru dibuka. Isinya dua kali lebih banyak.”

Lelaki itu menoleh.

Tri sudah mendorong sepeda pergi sebelum ia melihat kembali.

Perjalanan kedua menghasilkan enam kotak. Saat mencapai titik simpan, lengan Tri seperti lepas dari bahu. Napasnya berbunyi kasar. Ia minum dua teguk lagi, tidak lebih.

Rasa hangat kembali menekan nyeri perut.

Sembilan kotak.

Cukup untuk bertahan lama.

Kalau ia berhenti sekarang, tak ada yang akan menyadari anak kurus mengambil bagian lebih dulu.

Tri memandang kode pada tabung di tangannya.

f-1376.

Truk tanpa lambang. Pembuangan pukul empat. Pesawat perekam.

Barang ini bukan sekadar sisa produksi. Seseorang sedang membuang bukti, lalu merekam pembuangan untuk membuktikan pekerjaan selesai.

Itu berarti dua hal.

Isinya mungkin berbahaya.

Dan sebagian kotak mungkin bernilai lebih mahal daripada makanan di dalamnya.

Tri menyeringai tipis.

“Satu perjalanan lagi.”

Ia tidak kembali ke pusat keributan. Ia memilih sisi selatan, mengambil dua kotak yang tadi sengaja dibiarkan sebagai cadangan, lalu menyusuri jalur sempit di antara dua bukit rongsok.

Sekarang sepedanya lebih ringan daripada perjalanan kedua, tetapi tubuh Tri sudah mencapai batas. Telapak kakinya mati rasa. Goresan di bahunya terbuka lagi. Setiap dorongan membuat jantungnya menghantam tulang rusuk.

Titik simpan tinggal sekitar tiga puluh meter.

Sebuah bayangan keluar dari balik dinding mesin dan menutup jalur.

Tri berhenti.

Lelaki di depannya membawa batang besi. Dua orang lain berdiri beberapa langkah di belakang, mengapit jalan mundur. Wajah pemimpin mereka Tri kenali dari sisa ingatan tubuh ini: pemulung yang pernah merampas jatah lelaki tua bisu saat masih hidup.

Tatapan lelaki itu turun ke dua kotak di bak, lalu ke tabung Cairan Gizi yang masih digenggam Tri.

Ia memperlihatkan gigi yang menghitam.

“Bocah tanpa bapak-ibu kayak lo,” katanya, “merasa berhak ikut rebutan?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!