NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32

Damar Memilih

Arkana tiba di RS Wira Medika sebelum tengah malam.

Ia berjalan cepat menuju ruang observasi, tetapi Enggar menghentikannya di depan pintu.

“Bu Anindya baru selesai tindakan.”

“Saya hanya ingin melihatnya.”

“Saya harus meminta izin.”

Arka menutup mata sesaat, lalu mengangguk. “Tanya. Kalau dia menolak, saya menunggu di luar.”

Enggar masuk. Beberapa menit kemudian ia kembali dan membuka pintu lebih lebar.

“Lima menit. Jangan tanya detail kalau dia tidak mulai.”

Arka masuk sendiri.

Anindya berbaring dengan kepala sedikit ditinggikan. Balutan tipis menutupi pipi kirinya. Tidak ada darah, tetapi garis bengkak di sekitarnya cukup membuat langkah Arka berhenti.

Matanya langsung memerah.

“Jangan tatap saya seperti itu,” kata Anindya.

“Seperti apa?”

“Seolah Anda akan menghancurkan sesuatu.”

Arka menarik kursi, tetapi tidak duduk terlalu dekat. Kedua tangannya tetap di atas lutut.

“Enggar bilang Bu Herlina dan Amara ada di sana.”

“Herlina mengayunkan kaca. Amara menutup pintu dan mendorong saya. Polisi punya keterangannya.”

Rahang Arka mengeras. “Saya akan memastikan semua rekaman...”

“Tim saya sudah mengamankan salinan. Restoran sudah menerima surat pelestarian data. Polisi meminta visum.”

Ia terdiam, disadarkan lagi bahwa Anindya tidak menunggu diselamatkan.

“Apa yang bisa saya lakukan?” tanyanya.

“Jangan menghubungi mereka. Jangan menekan polisi. Jangan menyebarkan rekaman.”

“Baik.”

“Grup Adiwijaya boleh mengeluarkan pernyataan bahwa saya sedang tidak bertugas karena menjadi korban tindak kekerasan di luar pekerjaan. Tidak ada diagnosis, foto, atau tuduhan yang melampaui catatan polisi.”

“Saya ikuti kata-katamu.”

Anindya memandang tangannya sendiri. “Dan minta tim keamanan memeriksa bagaimana Amara mendapat status laporan kepatuhan. Itu terpisah dari penyerangan.”

“Fajar sudah membekukan akses staf yang tidak perlu. Pemeriksaan log dimulai.”

Arka ingin meraih tangannya. Ia tidak melakukannya.

“Boleh saya duduk sampai lima menitnya habis?”

“Boleh.”

Mereka diam. Itu bukan adegan penyelamatan atau rekonsiliasi. Hanya seorang perempuan terluka yang mengizinkan mantan suaminya berada di ruangan untuk waktu terbatas, dan seorang laki-laki yang akhirnya memahami izin sekecil itu tidak boleh diperluas sendiri.

Anindya memandang pantulan samar pada jendela. Balutan putih memotong sisi wajahnya.

“Saya takut melihatnya,” katanya tiba-tiba.

Arka tidak menjawab dengan kalimat bahwa luka itu tidak penting. “Dokter sudah menjelaskan bentuknya?”

“Panjang, kedalaman, kemungkinan warna. Saya meminta fakta.”

“Tapi fakta tidak menghilangkan takut.”

“Besok orang akan melihat wajah saya sebelum mendengar apa yang saya katakan. Penumpang akan bertanya. Kru akan berusaha tidak menatap. Kamera akan memperbesar bekasnya.”

Arka menggenggam tangannya sendiri agar tidak bergerak. “Saya tidak akan mengatakan bekas itu membuatmu lebih indah. Kamu tidak perlu menjadikan kekerasan orang lain sebagai hiasan.”

Mata Anindya akhirnya beralih kepadanya.

“Kalau bekasnya menetap,” lanjut Arka, “itu tetap sesuatu yang dilakukan kepadamu, bukan sesuatu yang mengurangi dirimu. Tapi kalau kamu marah, takut, atau tidak ingin dilihat, semua itu juga tidak perlu kamu ubah menjadi keberanian demi orang lain.”

Anindya menelan napas. Ia tidak mengira Arka mampu membedakan penerimaan dari romantisasi.

“Saya belum tahu kapan bisa kembali ke kokpit.”

“Ikuti dokter penerbangan. Saya tidak akan mempercepat atau memperlambat penilaian.”

“Dan jangan pindahkan saya ke tugas kantor sebagai cara melindungi.”

“Tidak tanpa dasar medis dan persetujuanmu.”

Untuk pertama kalinya sejak Arka masuk, bahu Anindya turun sedikit.

Saat Enggar mengetuk, Arka berdiri.

“Saya akan di luar kalau dibutuhkan.”

“Pulang dan urus perusahaan Anda.”

“Setelah tim malam tiba.”

Anindya terlalu lelah untuk berdebat. “Jangan masuk lagi tanpa bertanya.”

“Tidak akan.”

Di luar kamar, Arka menelepon Fajar. Instruksinya singkat: bekukan hanya akses yang relevan dengan kebocoran internal, jangan menyisir ponsel pegawai tanpa dasar dan persetujuan prosedural, serta tunjuk pemeriksa independen agar hasilnya tidak terlihat sebagai balas dendam pribadi.

“Tim komunikasi bertanya apakah kita akan menyebut Amara,” kata Fajar.

“Hanya jika Anindya dan kuasa hukumnya menyetujui, dan hanya sesuai status dari polisi.”

“Ada permintaan dari dua media untuk foto rumah sakit.”

“Tolak. Tidak ada foto, nomor kamar, atau diagnosis.”

Arka menutup telepon dengan kemarahan yang belum hilang. Bedanya, kali ini ia tidak mengubah kemarahan tersebut menjadi perintah yang mengambil kendali dari Anindya.

Di koridor, Dewa memberikan penjelasan hanya setelah Anindya mengizinkan informasi terbatas dibagikan. Mata dan saraf utama baik. Sayatan ditutup berlapis. Bekas tipis mungkin menetap. Bahu perlu pemeriksaan ulang. Respons stres setelah serangan juga perlu dipantau.

Arka mendengar tanpa memotong.

“Jangan janjikan kepadanya bahwa bekasnya hilang,” kata Dewa. “Dan jangan membuat kemarahan Anda menjadi beban baru yang harus ia tenangkan.”

“Saya tahu.”

“Pastikan Anda benar-benar tahu.”

Pagi berikutnya, polisi mengambil keterangan lanjutan Anindya dengan kuasa hukum hadir. Rekaman suara tombol darurat menangkap perintah agar pintu dibuka, suara Amara menghalangi, bunyi gelas pecah, dan peringatan Anindya sebelum serangan. Kamera koridor menunjukkan Amara menutup pintu serta petugas keamanan masuk kurang dari satu menit setelah alarm.

Sidik jari pada batang gelas, visum awal, foto forensik, dan keterangan staf restoran dicatat. Herlina mengakui memegang pecahan, tetapi menyebut ayunannya refleks. Amara membantah berniat menahan Anindya dan mengatakan dorongan terjadi karena panik.

Polisi belum memutus perkara dalam satu malam. Keduanya diperiksa dengan pendampingan pengacara, dilarang menghubungi korban, dan diminta tetap tersedia selama penyidikan. Penetapan pasal dan status hukum menunggu pemeriksaan bukti lengkap.

Masalahnya tidak bisa tetap tertutup.

Seorang tamu restoran telah merekam kedatangan polisi dari area umum. Menjelang siang, foto mobil patroli dan ambulans beredar dengan spekulasi liar. Tim hukum Anindya menyarankan pernyataan terbatas agar narasi tidak diisi fitnah.

Anindya memberi persetujuan tertulis dari ruang observasi.

Pernyataan itu menyebut bahwa ia menjadi korban kekerasan dalam pertemuan privat, telah mendapat perawatan, dan bekerja sama dengan penyidik. Nama Herlina dan Amara disebut hanya sebagai pihak yang dimintai keterangan berdasarkan laporan polisi, bukan sebagai terpidana. Satu cuplikan kamera koridor dirilis setelah wajah staf dan tamu lain diburamkan serta polisi menyatakan bagian tersebut tidak mengganggu penyidikan.

Tidak ada foto luka.

Tidak ada catatan medis rinci.

Dalam beberapa jam, video Amara menutup pintu dan petugas keamanan masuk menjadi pembicaraan luas. Pernyataan lama Herlina tentang perempuan yang “tidak pantas” kembali dibagikan. Banyak orang menyimpulkan lebih jauh daripada yang dibuktikan rekaman, tetapi tim Anindya menolak mengomentari spekulasi.

Arka tidak menghubungi media. Ia menandatangani pernyataan perusahaan sesuai kalimat yang disetujui Anindya dan mengirim log akses internal kepada penyidik perusahaan independen.

Damar mengetahui kejadian dari polisi, bukan berita.

Sebagai orang yang namanya dipakai dalam surat pemancing, ia diminta memberikan keterangan. Ia menyerahkan pesan dengan Anindya, bukti bahwa ia sudah meninggalkan rumah, serta informasi tentang pertengkarannya dengan Herlina. Setelah selesai, ia kembali ke rumah Wibisana didampingi pengacaranya untuk mengambil barang pribadi.

Herlina sudah pulang setelah pemeriksaan, menunggu panggilan berikutnya. Ia duduk di ruang makan yang sama dengan malam pertengkaran mereka.

“Kamu datang untuk membela perempuan itu lagi?” tanyanya.

“Saya datang untuk mengambil dokumen dan mengatakan bahwa saya akan bekerja sama dengan polisi.”

“Itu kecelakaan.”

“Ibu mengambil pecahan kaca dan mengayunkannya ke wajah orang.”

“Dia memprovokasi Ibu. Dia datang dengan petugas keamanan, merekam, dan mengancam.”

“Karena Ibu memancingnya memakai nama saya.”

Herlina berdiri. “Kamu anak Ibu. Tugasmu melindungi keluarga, bukan menyerahkan bahan kepada polisi.”

“Melindungi keluarga tidak berarti menghapus bukti kekerasan.”

“Kalau kamu memberi keterangan, nama Wibisana hancur.”

Damar menatap ibunya lama. Kesedihannya lebih kuat daripada marah. “Nama kita rusak saat Ibu memutuskan bahwa kendali atas hidup saya lebih penting daripada keselamatan orang lain.”

“Semua ini karena kamu mengejarnya!”

“Tidak. Semua ini karena Ibu memilih mengayunkan kaca.”

Damar mengambil dua kotak dokumen yang sudah disiapkan staf. “Saya tidak memutus hubungan darah. Tapi mulai hari ini, saya tidak akan menutupi perbuatan Ibu, memakai pengacara keluarga untuk menekan korban, atau memberi pernyataan palsu.”

“Kamu memilih dia.”

“Saya memilih fakta.”

Di depan rumah, beberapa wartawan menunggu. Damar berhenti hanya untuk membacakan kalimat yang sudah ditinjau pengacaranya.

“Saya telah memberikan keterangan kepada penyidik. Saya mendukung proses hukum yang adil, menolak intimidasi terhadap korban, dan tidak akan mengomentari bukti di luar jalur resmi.”

Ia tidak menjual tangis atau menyebut Anindya sebagai alasan. Pernyataan itu cukup untuk menunjukkan bahwa keluarga tidak akan mendapat perlindungan darinya.

Malam kedua setelah serangan, Anindya dipindahkan ke kamar rawat biasa. Arka tidak berada di samping ranjang tanpa henti. Ia datang setelah meminta izin untuk waktu singkat, lalu pergi saat dokter meminta Anindya tidur.

Enggar menjaga informasi. Sisi menyusun kronologi. Dewa mengalihkan kontrol luka berikutnya kepada dokter bedah plastik dan dokter lain sesuai pilihan Anindya, menjaga batas yang sudah mereka bicarakan.

Di apartemen SCBD yang harus segera dikosongkan, Amara menghapus percakapan dengan Herlina dari ponselnya. Ia membuang salinan daftar acara dan menghancurkan kartu SIM yang dipakai menghubungi perantara.

Tindakan itu tidak menghapus cadangan awan, perangkat penerima, log operator, atau salinan yang sudah disimpan Sisi. Namun Amara belum tahu seberapa banyak jejak yang tertinggal.

Ponsel lain berdering dari dalam laci.

Nomor penelepon disembunyikan.

“Siapa ini?” tanya Amara.

Suara di seberang terdengar diubah secara digital.

“Kamu sibuk menghapus jejakmu sendiri,” katanya, “padahal perbuatan ibumu terhadap Laras juga sudah waktunya melihat cahaya.”

Wajah Amara kehilangan warna.

Sambungan terputus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!