Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Chen Mo kembali tertawa pelan, kali ini tawanya terdengar lebih menekan dari sebelumnya.
"Hasil buruan monstermu, ya?" ucap Chen Mo sambil berjalan selangkah mendekati kursi roda Lin Feng.
"Monster Serigala Bayangan Beracun Rank B yang membuatmu mengompol di celana semalam itu?"
Wajah Lin Feng langsung memucat seputih kertas saat rahasia memalukannya dibongkar di depan umum.
"K-kau beraninya bicara omong kosong! Aku yang membunuh monster itu dengan pedang apiku!" bantah Lin Feng gagap.
"Lalu di mana inti monsternya, Pahlawan kita Lin Feng?" tantang Chen Mo dengan raut wajah santai.
Lin Feng terdiam, keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipisnya.
"K-kau yang mencurinya saat aku sedang lengah! Tentu saja barangnya ada padamu!" tuduh Lin Feng membabi buta.
Chen Mo merogoh saku celananya dengan gerakan yang sangat perlahan.
Sring!
Dia melemparkan sebuah kristal ungu sebesar kepalan tangan ke udara, lalu menangkapnya kembali.
Cahaya ungu yang memancar dari kristal itu sangat menyilaukan dan berbau racun pekat.
"Inti monster Rank B tingkat puncak," gumam Guru Zhao dengan mata membelalak penuh keserakahan.
"Serahkan barang itu, Chen Mo! Itu adalah bukti curianmu dari Tuan Muda Lin!"
"Sebelum kalian mengambilnya, biarkan seseorang yang punya otak di akademi ini untuk memeriksanya," ucap Chen Mo tenang.
"Seseorang dari dewan kedisiplinan tingkat atas, mungkin?"
"Ada keributan apa ini pagi-pagi begini?"
Sebuah suara wanita yang sangat merdu dan dingin memecah ketegangan di alun-alun tersebut.
Kerumunan murid secara otomatis terbelah, memberikan jalan bagi sosok yang baru saja tiba.
Ye Qingxue berjalan masuk ke tengah alun-alun dengan postur anggun dan tatapan mata yang tajam.
Rambut peraknya berkibar pelan tertiup angin pagi, membuat pesonanya tidak bisa ditolak oleh siapa pun.
"Nona Ye Qingxue! Syukurlah Anda datang!" sapa Guru Zhao dengan sikap menjilat yang sangat kentara.
"Murid kelas dasar ini baru saja melakukan kejahatan berat terhadap murid elit, kami sedang mengadilinya."
Ye Qingxue mengabaikan sapaan menjijikkan dari Guru Zhao dan berjalan lurus ke arah Chen Mo.
Gadis berambut perak itu menatap Chen Mo dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kita bertemu lagi, peternak babi," sapa Ye Qingxue pelan, hanya bisa didengar oleh Chen Mo.
"Duniaku memang sangat sempit, Nona Es," balas Chen Mo sama pelannya dengan wajah tanpa dosa.
Ye Qingxue mengalihkan pandangannya pada kristal ungu yang masih berada di tangan Chen Mo.
"Kau bilang seseorang yang punya otak harus memeriksanya? Aku akan memeriksanya untukmu," ucap Ye Qingxue tegas.
Gadis itu mengambil inti monster tersebut dan mengamatinya dengan sangat teliti.
Lin Feng menelan ludah dengan susah payah, firasat buruk mulai menghantam isi kepalanya.
"Nona Ye, inti monster itu adalah hasil jerih payahku semalam," ucap Lin Feng mencoba meyakinkan dengan suara melas.
Ye Qingxue menoleh ke arah Lin Feng, mata birunya memancarkan aura yang sangat mengintimidasi.
"Bakatmu adalah elemen api, dan kau menggunakan pedang dalam bertarung, benar kan?" tanya Ye Qingxue dingin.
"B-benar, Nona," jawab Lin Feng terbata-bata.
"Lalu kenapa inti monster ini sama sekali tidak memiliki residu luka bakar atau sayatan benda tajam?"
Pertanyaan Ye Qingxue bagaikan petir di siang bolong yang menghantam telinga Lin Feng.
Suasana alun-alun seketika menjadi hening tanpa ada yang berani bersuara.
"Inti monster ini diekstrak dari makhluk yang mati akibat hantaman benda tumpul dengan tenaga fisik yang luar biasa besar."
"Tulang tengkorak monsternya pasti hancur total karena hantaman tersebut," jelas Ye Qingxue dengan suara lantang.
Ye Qingxue kembali menatap Lin Feng dengan pandangan sangat meremehkan.
"Tubuh lemahmu itu bahkan tidak akan bisa meretakkan gigi serigala ini tanpa menggunakan pedangmu."
"Jadi katakan padaku, bagaimana caranya kau membunuh monster ini semalam?" desak Ye Qingxue tanpa ampun.
Lin Feng membuka dan menutup mulutnya seperti ikan kehabisan napas, tidak ada satu kata pun yang keluar.
Su Mengqi menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dia berharap bumi menelannya saat ini juga.
Kebohongan mereka telah dihancurkan berkeping-keping oleh logika sederhana dari sang jenius nomor satu.
Murid-murid elit yang tadinya bersorak mendukung Lin Feng kini mulai berbisik-bisik kebingungan.
Tatapan mereka beralih menatap Chen Mo dengan penuh keraguan dan ketakutan.
"Jika Lin Feng tidak bisa membunuhnya, lalu siapa yang membunuh monster Rank B itu dengan tangan kosong?" gumam seorang murid pelan.
Hanya ada satu kandidat yang berdiri utuh tanpa luka sedikit pun di sana.
"Penyelidikan selesai. Bukti fisik tidak mendukung tuduhan dari pihak penuduh," putus Ye Qingxue dengan tegas.
"Tuduhan pencurian dan penyerangan ini akan aku batalkan sekarang juga."
Ye Qingxue melemparkan kembali inti monster itu kepada Chen Mo.
"Ambil barangmu dan kembalilah ke asramamu, jangan membuat keributan lebih panjang," perintah gadis itu.
"Tentu saja, aku selalu menjadi murid yang patuh aturan," jawab Chen Mo sambil menyimpan inti monsternya.
Chen Mo menoleh ke arah Guru Zhao yang kini berkeringat dingin karena harus menanggung malu besar.
"Tolong catat hasil ujian praktikku dan Wang Bo, Guru Zhao."
"Ratusan herbal ini seharusnya bernilai nilai sempurna, bukan begitu?" sindir Chen Mo.
Guru Zhao hanya bisa mengangguk kaku, tidak berani melawan keputusan Ye Qingxue di depan umum.
Chen Mo menepuk bahu Wang Bo yang masih gemetar karena syok melihat akhir dari kejadian ini.
"Ayo kembali, pertunjukan murahannya sudah selesai," ajak Chen Mo santai.
Chen Mo berbalik dan berjalan menembus kerumunan murid yang otomatis membuka jalan lebar untuknya.
Tidak ada lagi yang berani menghina atau melontarkan ejekan rendahan kepadanya.
Bahkan saat dia melewati kursi roda Lin Feng dan Su Mengqi, dia tidak repot-repot melirik sedikit pun ke arah mereka.
Penghinaan paling telak bagi seorang elit yang sombong adalah dengan menganggap mereka tidak pernah ada di dunia ini.
Saat langkah kaki Chen Mo akhirnya menjauh dari alun-alun utama, suara mekanis yang familiar berdengung di kepalanya.
Ting!
[Anda telah berhasil menundukkan kebohongan dan membuktikan dominasi di Alun-Alun Kedisiplinan.]
[Mendeteksi lokasi check-in khusus yang memancarkan aura hukum dan penekanan spiritual.]
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in di lokasi ini?]
Chen Mo tersenyum lebar di balik bayang-bayang koridor sepi akademi.
"Ya. Lakukan check-in."