“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Serba Salah
“Hati-hati, Ray. Sini Kakak bantu kamu duduk dulu.” Nasya memapah Raya untuk duduk terlebih dahulu.”Kakak baru ngeh ini sofa baru, ya?” lanjutnya memperhatikan tempat yang diduduki di samping Raya.
“Iya, Kak. Ibu beli baru waktu dapet duit. Lagian kenapa harus pulang sih, Kak? Aku kan cuma demam biasa. Kecapekan doang,” balas Raya terlihat cuek, meski tidak dapat dibohongi bahwa dirinya masih sakit. Wajahnya pun masih pucat.
Nasya menghela napas berat. Semalaman dia hampir memikirkan kondisi adiknya dan rumah. Bagaimana jika terjadi apa-apa? Dia hanya ingin keluarganya selalu dalam keadaan baik. Apapun harus baik jika untuk keluarga.
Tidak bisa dipungkiri jika hubungan Nasya dengan adiknya tidak terlalu akrab. Nasya dengan kesibukannya yang jarang sekali di rumah karena pekerjaannya. Bekerja sebagai kasir di rumah makan dan kadang mengambil pekerjaan sebagai tutor privat di sekitar rumahnya. Malam pun masih sibuk bekerja jika memang ada pekerjaan. Asal itu uang, Nasya akan berusaha memampukan dirinya.
“Eh, kalian sudah pulang. Gimana keadaan Raya? Ibu habis nganterin makanan bapak,” tanya Mira dan bergabung duduk dekat Raya.
“Aku udah bilang kan buk. Aku cuma kecapekan, banyak kegiatan sekolah. Sesekali demam kan wajar,” jawab Raya dengan nada sedikit tinggi.
“Ray, kamu kenapa, sih? Ibu itu khawatirin kamu. Itu juga wajar. Kakak juga gak masalah kok pulang. Bisa liat kamu, bapak, dan juga Ibu. Kamu ada masalah apa, sih? Cerita kalau ada yang ganjel di hati,” sahut Nasya selagi menatap Raya dalam.
“Dibilang aku gak papa, aku mau istirahat aja. Besok juga sudah sembuh.” Raya berdiri meninggalkan ibu dan kakaknya yang masih merasa heran dengan perilaku Raya yang semakin tak terkendali.
“Yaudahlah, memang kayak gitu sikap adikmu. Gak usah dipikirin, Ibu usah seneng kamu masih mau peduli dan pulang. Gimana sama rumah suami kamu, Nas? Bagus? Nanti boleh dong kapan gitu ajak Ibu main ke sana,” ujar Mira senyum sumringah.
Nasya mengangguk pelan. “Kalau sama keluarga Nasya akan peduli sama kapanpun, Bu. Masalah ke rumah suami, ya? Nanti juga Nasya pikirin kalau Ibu mau main. Kabarin aja, biar bapak ikut juga,” jawab Nasya.
Mira menggeleng cepat. Jika bepergian mengajak suaminya pasti tidak akan bisa leluasa melakukan apapun. Mira sudah lama mendambakan menantu yang kaya dan bisa membantu perekonomiannya. Makanya, ketika Revan hendak melamar Nasya satu tahun yang lalu. Mira dengan cepat memberikan banyak alasan untuk menolaknya.
“Halah, gak usah. Repot nanti, Bapak biar ajalah di rumah. Kan cuma main sebentar. Kalau nginep baru ajak bapak,” balas Mira.
“Jawabnya kok gitu sih, Bu? Yaudahlah, itu juga masih rencana juga. Nasya mau pamit sama Bapak. Gak enak lama-lama. Habis ini mau ngundurin diri dari kerjaan Nasya di Rumah Makan Bang Amar.” Nasya beranjak menuju kamar tempat bapaknya terbaring
Senyuman lebar nan menenangkan saat pertama kali Nasya membuka pintu melihat bapaknya menatap kehadirannya. Seakan sudah tahu bahwa putrinya akan mengunjunginya. Rifki berusaha menggerakkan badannya agar bisa bersandar. Nasya segera menghampiri juga membantu.
“Bapak sehat? Kangen gak sama Nasya?” sapa Nasya menanyakan kabar.
Bukannya menjawab Nasya. Rifki malah meneteskan air matanya. Berusaha meraih pucuk kepala Nasya. Peka dengan maksud bapaknya, Nasya pun mendekat. Usapan pelan yang berulang. Nasya merindukannya.
“Selagi anak Bapak sehat dan bahagia. Bapak akan selalu sehat. Gak berasa kamu sekarang sudah dewasa, sudah punya suami, Nak. Maafin Bapak, ya. Karena Bapak kamu harus merasakan pahitnya hidup. Bapak selalu berharap, siapapun orang yang menikah dengan kamu adalah orang terbaik yang telah tertakdir. Memperlakukanmu lebih baik dari apa yang Bapak beri. Sekali lagi maaf, Nak.” Rifki tertunduk tak berani menatap Nasya meski tangannya masih mengusap-usap kepala Nasya.
Nasya menggeleng berkali-kali. “Nggak, Bapak adalah Bapak terbaik. Kalau bukan karena Bapak. Nasya gak akan bisa sampai seperti ini. Gak ada kata pahit, Pak. Semuanya punya porsi masing-masing untuk menikmati hidup,” jawab Nasya yang tidak ingin menimbulkan kekhawatiran berlebihan.
Perbincangan dari hati ke hati oleh bapak dan anak ini pun berlangsung cukup lama. Maaf dan terima kasih entah berapa kali mereka utarakan bergantian. Dalam relung hati paling dalam Nasya terus dan akan selalu bangga memiliki bapak seperti Rifki. Selesai berbincang pun Nasya menemui ibunya dan berpamitan.
“Ibu mau masak jam segini?” Nasya menuju dapur melihat ibunya sedang memilih sayuran dan lagi-lagi pandangannya terhenti pada barang yang baru terlihat.
“Iya masakin buat Raya. Kamu mau makan dulu? Tapi, nanti suami kamu nyariin, ya,” balas Mira.
“Kayaknya langsung aja, Bu. Aku gak enak sama Bang Amar. Malah ngegantungin kerjaan begini, beliau udah baik banget,” jawab Nasya masih memandangi barang baru.
“Oh iya, Bu. Ini kulkas baru? Gak sayang uangnya dibeliin alat-alat rumah? Kita kan masih ada hutang, Bu. Gak lebih baik untuk bayar hutang uangnya,” lanjut Nasya.
Mira merasa tersinggung dengan ucapan Nasya. “Ini kan juga dibutuhin. Memangnya salah Ibu beli? Masalah hutang sudah ada yang Ibu lunasi. Kenapa? Kamu udah gak mau lagi mikirin hutang keluarga kita? Yaudah, gak papa. Biar Ibu saja yang urus,” sahut Mira nadanya yang sudah berbeda dari biasanya.
“Bu—bukan begitu, Bu. Maksud Nas …,” ucap Nasya terhenti saat ibunya tak mau dengar dan malah melewatinya begitu saja.
“Mending kamu pulang saja. Urus suami kayamu itu.”
***
Nasya masih kepikiran dengan ucapan ibunya. Rasanya Nasya hanya mengatakan hal seharusnya dikatakan. Akan tetapi, ibunya malah salah menanggapi. Nasya tahu betul hutang-hutang keluarga yang harus dilunasi. Apalagi, saat ekonomi mereka sangat terpuruk kala bapaknya sakit.
“Apa aku yang salah, ya? Ibu sampe marah begitu,” lirih Nasya seraya menunggu mobil yang di pesannya melalui aplikasi.
Pikirannya mendadak terasa penuh. Meskipun, satu yang mengganjal sudah diselesaikan. Nasya sudah mengundurkan diri dari pekerjaan. Lega bercampur gelisah menjadi satu saat ini. Dia pun sampai tidak memperhatikan saat seorang pria yang dari kejauhan sudah memandangnya.
“Nasya?” sapanya dengan tatapan masih sama ketika mereka bersama.
Nasya tak menjawab. Dia hanya bisa terdiam menatap seseorang yang masih sangat melekat dalam ingatannya. Pria yang pernah memberikan janji, tapi tak sanggup menepati. Pria yang katanya ingin memperjuangkannya sampai bisa bersama.
“Kamu kok baru kelihatan? Aku sering ke sini, tapi kamu gak pernah keliatan kerja.” Revan melanjutkan perkataannya sembari meraih kedua tangan Nasya.
Sebelum itu, Nasya mundur selangkah. Walaupun tahu itu artinya Nasya menolak, Revan tetap berusaha. Dia berjongkok dan menggenggam tangan Nasya walau selalu ditepis. Revan mengeluarkan air mata penyesalan untuk meyakinkan Nasya.
“Kasih aku satu kesempatan lagi, Nasya. Aku gak sengaja kasih perhatian, tapi selalu aku balik lagi ke kamu. Aku gak bisa kalau gak sama kamu. Tolong, jangan tinggalin aku. Jangan hilang kabar kayak gini. Aku sayang sama kamu. Sesuai janji aku, aku akan yakinin Ibu dan bisa hidup lebih baik lagi. Aku mohon sayangku, Nasya,” pinta Revan menghilang rasa malu hanya untuk mendapatkan keberhasilan membujuk Nasya.
“Kalau bahas sayang, aku juga masih sayang sama kamu, Van. Cuma aku sekarang beda. Aku udah jadi istri orang,” batin Nasya tertunduk lesu.