Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Beberapa minggu telah berlalu sejak permintaan Valeska disetujui. Hari-hari yang mereka jalani kini penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan yang terus tumbuh, terutama setelah kabar menggembirakan telah tiba, dua garis pada tespek.
Rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa tak henti-hentinya terucap dari bibir mereka. Kebahagiaan itu tidak hanya terpancar dari Girga dan Delina, tapi juga dari Valeska, putri bungsu mereka. Sejak mengetahui bahwa mamanya mengandung, senyum tidak pernah lepas dari wajah cantiknya.
Rasa antusias yang begitu besar membuat Valeska enggan jauh-jauh dari sang mama. Pagi, siang, sore, hingga malam, dia selalu setia di sisinya. Seperti saat ini, Valeska tampak nyaman berbaring di paha mamanya, jemarinya yang semakin kurus dengan lembut mengelus perut rata, seolah sedang menyapa calon adiknya.
"Adik, Kakak tunggu ya," ucapnya penuh harap.
"Jangan lama-lama keluarnya, Kakak udah nggak sabar lagi."
Suara lembut terdengar begitu jelas di telinga Girga dan Delina, membuat keduanya tersenyum geli.
Girga yang duduk di sofa single hanya bisa mengulum senyum, sementara Delina mengusap kepala Valeska dengan penuh harap agar putrinya itu segera diberi kesembuhan. Tak jauh dari mereka, Kaivandra yang sedang sibuk dengan tugas kuliah, alih-alih menahan tawa agar tidak mengganggu momen manis sang adik.
Namun, di balik senyum dan tawa, terselip sedikit rasa khawatir. Girga dan Delina tahu, keputusan untuk menjadikan Valeska seorang kakak di tengah kondisinya sekarang tidaklah mudah. Valeska yang sekarang, membutuhkan perhatian ekstra, tapi Tuhan ternyata memiliki rencana lain. Valeska sendiri yang dulu meminta adik, dan kini doanya terkabul.
"Adikmu nanti, nggak cuma punya kakak yang cantik, tapi juga abang yang hebat," ujar Girga mencoba menghibur.
Valeska menatap mamanya dengan mata berbinar, penuh rasa sayang. Dalam kehangatan momen seperti ini, mereka semua tahu, apap un tantangan yang datang, cinta yang mereka miliki akan selalu cukup untuk menjawabnya.
***
Waktu berlalu, usia kandungan Delina kini telah menginjak lima bulan. Perutnya semakin membulat, menonjolkan kehadiran si kecil yang tengah tumbuh di dalam rahimnya. Namun, perjalanan kehamilan initidaklah mudah. Kondisi fisik dan mental Delina diuji, apalagi dengan Valeska yang belakangan ini sering tiba-tiba drop hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Dokter kandungan pun memberi kabar yang membuat mereka khawatir. Kandungan Delina dinyatakan lemah dan membutuhkan istirahat yang banyak. Meski begitu, Delina tetap berusaha mengusir pikiran-pikiran negatif yang bisa memengaruhi kandungannya. Demi memenuhi keinginan Valeska, dia memilih untuk melawan segala rasa takut dan cemas.
Malam ini, di kamar utama, Valeska hanya ditemani oleh Girga. Sudah satu jam lebih, gadis itu bersandar lemah di dada bidang sang papa, napasnya berat dan tidak teratur, seolah semua udara kian menjauh.
Girga mengusap lembut kening putrinya, mencoba meredakan rasa sakit yang terlihat begitu nyata. Namun, rintihan yang keluar dari bibir Valeska membuat hati Girga serasa dihujani jarum tajam, perih, tak tertahankan.
"Papa?" suara kecil Valeska hampir tak terdengar, hanya menyisakan deru napas yang terputus-putus.
Girga memejamkan mata sejenak, rasa lelah perlahan merayap ke seluruh tubuhnya. Dia mencoba menjaga putrinya, meski kantuk mulai menyerang. Sementara itu, rasa sakit yang dialaminya kian memuncak.
Kepalanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum, dada seakan dihimpit batu berat yang menghalangi setiap tarikan napas. Valeska menggeliat lemah, berusaha melawan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Shh ... sa-kiiit ..." bisiknya di sela napas yang tertahan.
Tangannya meraih dan meremas lemah tangan sang papa, berharap seseorang menyadari betapa berat beban yang sedang ia tanggung.
Namun, Girga yang kelelahan sehabis bekerja sudah terlelap, tidak menyadari perjuangan putrinya di tengah malam yang sunyi. Air mata mengalir pelan dari sudut mata Valeska. Dalam hati kecilnya, ia hanya ingin rasa sakit ini berakhir. Jika malam ini adalah akhir dari segalanya, ia ingin berbisik lirih kepada Sang Pencipta.
"Jika Engkau ingin mengambilku sekarang, ambilah. Aku hanya ingin rasa sakit ini berhenti, aku capek."
Pandangan Valeska perlahan kabur, tatapannya kosong mengarah ke langit-langit kamar. Dalam keheningan, rasa sakit itu akhirnya membawa dirinya pada kelegaan yang ia tunggu-tunggu, meski ia tahu, kelegaan itu mungkin akan memisahkannya dari orang-orang yang ia cintai. Tanpa disadari orang sekitar, Valeskamengalami collapse untuk kesekian kalinya.
***
Pagi ini, Kaivandra tiba di kampus dengan wajah berseri-seri, penuh semangat, berbeda dari biasanya. Jika biasanya ia berangkat menggunakan motor kesayangannya, kali ini dia datang dengan mobil sang papa. Entah apa yang membuatnya begitu istimewa pagi ini.
"Pagi! Eh, kalian nggak masuk kelas? Pasti nungguin gue datang, kan? Ngaku deh," sapa Kaivandra ceria, sambil menyenggol bahu Satya, Arjuna, dan Vikara sebagai tanda keakraban.
Satya memandangnya heran. "Lo, kok sumringah banget pagi ini, Kai? Ada angin apa?"
Kaivandra tersenyum lebar. "Jelas dong! Hari ini gue punya alasan buat selalu bahagia. Udah yuk, kita masuk kelas. Let's go!" ujarnya sambil mengangkat tangan seperti memberi aba-aba.
Arjuna melirik Satya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Otak dia bermasalah? Kok aneh banget?" bisiknya.
"Nggak tahu deh, biarin aja. Ntar juga dia cerita sendiri," jawab Satya sambil mengangkat bahu, lalu duduk di bangkunya.
Mata kuliah pertama berlangsung lancar, namun suasana kelas terasa berbeda. Kaivandra yang biasanya tenang, kini berubah menjadi pusat perhatian. Semangatnya membara, bahkan ia menjawab hampir setiap pertanyaan dosen tanpa memberi kesempatan pada mahasiswa lain. Setelah dosen keluar dari dalam kelas, Kaivandra berdiri di depan teman-temannya.
"Kantin yuk. Mumpung gue lagi seneng. Eh, tapi kali ini Arjuna yang traktir kita semua. Hormat dulu dong sama donatur kita!" katanya sambil menyeringai jahil.
Vikara menggelengkan kepala sambil memijat kening. "Yang seneng siapa, yang traktir siapa. Aneh banget lo, Kai," Satya menimpali dengan nada menggoda.
"Kaivandra yang kita kenal sudah berubah. Makhluk Tuhan yang satu ini makin nggak bisa ditebak," lanjut Arjuna sambil tertawa kecil.
"Oke, deh. Karena gue baik hati, pesan apa aja yang kalian mau. Tapi kalian harus tahu diri ya," katanya sambil mengarahkan mereka ke kantin.
Saat mereka memesan makanan, Arjuna menoleh pada Kaivandra, mencoba mengungkap alasan di balik kesenangannya hari ini.
"Kai, apa sih yang bikin lo seceria ini?"
Kaivandra menyesap es teh, kemudian senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Jun, adik gue terlihat lebih sehat, dia udah mau makan banyak, bisa tertawa seperti dulu, gue seneng banget. Dia udah nggak sekolah kayak biasa karena penyakitnya, tapi pihak sekolah mengundangnya buat datang ke prom night. Nggak cuma itu, dia juga menawarkan diri buat tampil di malam puncak. Gue bangga banget sama keberanian dia," jelas Kaivandra.
Arjuna menatapnya penuh pengertian, lalu menepuk bahu Kaivandra dengan lembut. "Gue ikut seneng dengar kabar itu, Kai. Valeska anak yang kuat, padahal penyakitnya itu ... ah, gue bangga banget sama adik, lo,"
"Thanks, Jun," jawab Kaivandra, matanya masih berbinar meski sedikit berkaca-kaca.
Dalam kesederhanaan obrolan ini, Arjuna bisa melihat betapa besar cinta dan kebanggaan seorang kakak kepada sang adik, yang terus berjuang melawan rasa sakitnya.
***
"Mama, cantiknya abang lagi tidur ya?"
Valeska perlahan melepaskan pelukan dari mamanya dan menoleh ke arah pintu, tempat Kaivandra baru saja masuk.
"Adik nggak tidur, bang. Ini lagi nunggu Papa sama abang pulang," jawab Valeska ceria, wajahnya penuh kebahagiaan.
Kaivandra tersenyum, lalu memberi isyarat pada papanya untuk mendekat. "Abang pulang bareng Papa, Adek seneng?" tanyanya lembut sambil menatap adiknya penuh kasih.
"Malam ini, adek pengen tidur ditemenin abang, boleh nggak?" Valeska menatap mamanya, meminta izin dengan wajah yang sulit ditolak.
"Boleh, tapi abang harus bersih-bersih dulu, kan baru pulang dari kampus," jawab Delina sambil tersenyum kecil.
"Oke, adek tunggu di sini," ujar Valeska semangat.
Di dunia ini, tak ada satu pun yang menginginkan takdir buruk. Tak ada pula yang ingin ditinggalkan. Bahkan mereka yang pendiam sekalipun tetap membutuhkan kehangatan dan kebersamaan, apalagi dengan keluarga.Valeska dan Kaivandra paham betul akan hal itu.
Keduanya pernah hidup dalam bayang-bayang kesepian, jauh dari orang tua karena ada satu dan lain hal. Namun, Tuhan memberikan keajaiban dengan mempertemukan kembali mereka dalam momen-momen penuh kenangan, meski dalam kondisi rapuh.
Valeska menikmati hidupnya bersama keluarga, meski di satu sisi, penyakit yang menggerogoti tubuhnya menjadi hal yang sulit diabaikan. Akan tetapi, dia tahu hidup adalah tentang menerima takdir yang telah digariskan, meskipun terkadang ia merasa lelah dan ingin istirahat sejenak dari semua rasa sakit.
Malam itu, Valeska sudah tertidur dengan begitu nyaman. Kaivandra yang telah berganti pakaian kini duduk disampingnya, siap menemani. Di sudut ruangan, sang papa juga bersiaga, meskipun guratan di wajahnya sangat terlihat jelas. Wajah Valeska terlihat tirus, bibirnya kering dan pecah-pecah. Siapa pun yang melihatnya pasti merasakan kepedihan yang sama.
"Papa tidur aja, biar abang yang jaga adek," ujar Kaivandra lembut, melihat betapa lelahnya sang papa.
Girga mengangguk, mengelus kepala Valeska dan Kaivandra dengan penuh kasih. "Kalau ada apa-apa, kasih tahu Papa ya, bang," katanya sebelum keluar dari kamar.
Setelah papanya pergi, Kaivandra terus menatap wajah Valeska. Ia menggenggam tangannya dengan lembut, kemudian senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Cantiknya abang pasti capek ya? Maafin abang, ya. Akhir-akhir ini abang sibuk banget sama tugas kuliah. Jadi adek nggak ada temen main. Adek bosan, ya? Maafin Amabang ya, cantik," bisiknya penuh penyesalan sambil mengelus kening sang adik.
Secara perlahan, Valeska pun membuka mata sembari meringis pelan.
"Shh ..." ucapnya lirih.
"Adek kenapa? Baru juga tidur, kok bangun?"
"Nggak apa-apa, bang. Adek haus, mau minum," jawab Valeska lemah.
Tanpa ragu, Kaivandra segera turun dari tempat tidur dan mengambil segelas air yang tersedia di meja. Ialu kembali ke sisi adiknya dan menyerahkan gelas itu dengan cepat.
"Makasih, bang. Maafin adek ya, udah ganggu waktu istirahat abang," kata Valeska sambil menunduk, karena merasa bersalah.
Kaivandra tersenyum, kemudian menggelengkan kepala pelan.
"Lho, kok bilang gitu? Abang nggak merasa terganggu. Udah, sekarang adek tidur lagi, ya. Di sini ada abang, nggak usah khawatir."
Kaivandra membantu Valeska berbaring kembali, menyelimutinya dengan hati-hati. Namun, gadis itu tak segera memejamkan mata. Ia justru menatap Kaivandra dengan pandangan penuh arti.
"Adek capek ..." ucapnya pelan.
Kaivandra mengangguk, lalu memegang tangannya dengan lembut. "Abang tahu adek pasti capek. Tapi, ayo tidur lagi, ya. Di sini ada abang, adek harus istirahat,"
"Makasih, Bang. jangan lupa istirahat juga ya. Adek nggak apa-apa kok," balas Valeska sebelum perlahan memejamkan mata.
Kaivandra tersenyum kecil, lalu ikut merebahkan diri di samping adiknya. Malam itu, dalam keheningan kamar, cinta seorang kakak begitu terasa, menjadi pelindung kecil bagi adiknya yang terus berjuang dalam lemah tubuhnya.