NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

"Nya...? Kau lihat itu juga?" bisik Serra.

Suaranya bergetar hebat. Matanya melebar tanpa berkedip. Terpaku menatap ujung koridor yang gelap. Anya sendiri sudah tidak punya tenaga lagi untuk menjawab; tenggorokannya tercekat, Anehnya. sosok di kejauhan itu perlahan memudar tepat saat beberapa staf pemasaran berjalan sambil tertawa lepas. Mereka melangkah begitu saja, tampa melihat atau merasakan kejanggalan apa pun di sana.

"Hei, kalian berdua kenapa? Kok bengong gitu?" tanya Pak Bambang dari divisi keuangan. Alisnya bertaut heran melihat gelagat mereka.

"Enggak apa-apa, Pak. Kami cuma mikirkan kerjaan." dusta Serra cepat.

Mereka pun bergegas ke meja. Setiap terasa begitu berat, seolah bayang-bayang ketakutan mengekor di belakang mereka. Begitu duduk, atmosfer kantor terasa berbeda. Suara ketikan papan ketik, deru AC, hingga obrolan receh rekan kerja yang biasanya membosankan, kini terdengar seperti sebuah zona aman yang menenangkan.

Anya melirik pojok kanan bawah layarnya. Jam digital menunjukkan pukul 16.45. Lima belas menit lagi menuju jam pulang, tapi tiap detiknya terasa berjalan lambat. Dengan tangan masih gemetar, Anya membuka browser. Jari-jarinya mengetik asal secara acak; huruf-hurufnya hampir salah semua karena panik.

Enter.

Dia hanya butuh satu hal saat ini: sebuah penjelasan logis. Masalahnya, memar ungu di lehernya tiba-tiba muncul. Perih. Seolah-olah ada jari-jari tak kasat mata menempel di sana. Petir menyambar sekali lagi, membuat lampu kantor sempat berkedip sesaat.

"Nya," bisik Serra sambil menggeser kursinya pelan. Decitan rodanya memecah kesunyian di antara mereka. Wajah Serra masih sepucat kertas."kok dia bisa muncul Lage."

Anya menggeleng kaku. Lehernya terasa ngilu setiap kali bergerak. Pandangannya kembali terlempar ke luar. Menatap koridor. Satu per satu lampu neon mulai dipadamkan. Beberapa rekan kerja tampak berkerumun di depan lift, saling melempar tawa kecil.

Kini, lantai empat benar-benar menyisakan keheningan yang mencekam. Hanya tinggal Anya dan Serra yang tersisa.

"Yuk, Nya... sekarang saja. Keburu makin sepi," ajak Serra dengan suara setengah berbisik. Tangannya gemetar saat menyambar tas kerjanya. Komputer langsung dimatikan, membuat layarnya seketika menghitam pekat. Bersamaan dengan itu, lampu-lampu di ujung koridor padam satu per satu.

Deru AC yang tadinya menemani mereka pun ikut berhenti. Sunyi. Sunyi yang bikin senyap, merinding.

Lalu...

Tok.

Tok.

Tok.

Suara langkah kaki pelan terdengar dari arah lift. Padahal, semua karyawan lain sudah pulang, dan lift pun seharusnya sudah berhenti beroperasi sejak tadi. Serra menahan napas. Matanya membelalak menatap Anya.

Memar di leher Anya berdenyut semakin menyengat. Tanpa pikir panjang, mereka berdua berjalan cepat menuju area lift. Langkah kaki mereka menggema nyaring di koridor yang sepi. Tak. Tak. Tak.

Koridor itu kini hanya diterangi oleh lampu darurat yang temaram. Anya sengaja menunduk, sama sekali tidak berani melirik ke ujung koridor yang gelap. tempat di mana 'sosok' menghilang tadi.

Ting.

Pintu lift terbuka. Anya dan Serra langsung menghambur masuk. Tanpa sabar, Serra menekan tombol 'G' berkali-kali dengan jemari yang gemetar hebat. Saat pintu perlahan mulai tertutup, Anya mendongak.

Melalui celah pintu yang menyempit itu, ujung koridor yang gelap dan kosong terlihat jelas. Namun di atas lantai, tepat di bawah lampu darurat yang berkedip-kedip, tampak sesuatu yang mengerikan. Ada dua jejak telapak kaki basah. Jejak itu muncul dari kegelapan, melangkah menuju ke arah lift mereka, dan berhenti tepat di depan pintu lift yang kini sudah tertutup rapat.

Ding.

Lift mulai bergerak turun perlahan. Serra menggenggam tangan Anya erat-erat. Telapak tangannya terasa dingin dan berkeringat. Sementara itu, leher Anya rasanya seperti sedang dijepit kuat; memar ungunya berdenyut menyakitkan, mengikuti irama lift yang bergerak turun. Rasa sakitnya kian menyiksa.

Ting.

Pintu lift akhirnya terbuka di lantai dasar. Lobi tampak kosong melompong. Hanya lampu di meja resepsionis yang masih menyala redup. Satpam jaga malam terlihat duduk di balik meja, menunduk fokus memainkan ponselnya. Begitu menyadari kedatangan mereka, satpam itu langsung berdiri.

"Loh, Mbak. Kok baru pulang? Biasanya jam 5 sudah kosong," sapanya keramahan.

Serra buru-buru memaksakan sebuah senyuman. "Iya, Pak. Tadi lembur sebentar buat bereskan laporan."

"Oh, begitu. Hati-hati di jalan ya, Mbak. Di luar hujan deras," jawab satpam itu sebelum kembali duduk.

Anya tidak sanggup mengeluarkan suara. Ia hanya mengangguk pelan. Begitu mereka mendorong pintu kaca lobi, embusan angin dingin dan derasnya deru hujan langsung menghantam wajah mereka. Petir menyambar hebat, sesaat menerangi area parkiran yang hampir kosong.

Motor Serra terparkir di ujung paling dekat dengan sebuah pohon besar. Mereka langsung berlari menerobos hujan. Angin kencang bahkan hampir membuat payung Serra terbalik. Baru setelah mereka sampai di dekat motor, keduanya berani saling menatap.

"Nya...? yang tadi tu benaran kan?" tanya Serra dengan suara bergetar.

Anya hanya bisa mengangguk pelan. Tenggorokannya tercekat. Ia kembali menarik kerah kemejanya tinggi-tinggi karena memar di lehernya kini terasa semakin panas.

Saat mereka bersiap, sekilas Anya melirik ke arah kaca spion. Di sana, ia menangkap sekelebat bayangan hitam yang berdiri tepat di depan pintu lobi kantor. Sosok itu bertubuh tinggi, tampak basah kuyup, sedang menatap lurus ke arah mereka.

Sebelum Anya sempat berteriak, Serra sudah lebih dulu menancap gas. Ban motor mereka berputar cepat, memercikkan air dari genangan jalanan. Di belakang mereka, lampu lobi kantor sempat berkedip sekali... lalu padam total.

Lima menit kemudian, motor mereka akhirnya berbelok masuk ke pekarangan kos Anya. Begitu mesin motor dimatikan, Serra langsung menarik tangan Anya dengan panik. Pintu depan buru-buru dikunci rapat. Krek. Gerendel pintu dipasang dengan cepat. Tirai jendela ruang tamu pun ditarik habis hingga tidak menyisakan celah sedikit pun bagi siapa pun untuk mengintip ke dalam. Kini, hanya lampu kuning redup yang menerangi ruangan.

Serra terduduk lemas di lantai ruang tamu. Napasnya terengah-engah dengan wajah pucat pasi, sementara bajunya masih agak basah karena cipratan hujan. "Nya...? Demi apa pun...! Tempat kerja kita kenapa jadi ikut horor seperti kosanmu?"

Anya tidak menjawab. Ia berjalan lunglai ke dapur untuk menuangkan air. Namun, tangannya gemetar begitu hebat hingga airnya tumpah berantakan di atas meja. Lehernya terasa sangat sakit. Memar itu kembali berdenyut, seolah memberikan peringatan yang nyata.

Tiba-tiba, Anya berdiri tegak. Napasnya tertahan.

"Wulan?" panggilnya pelan. "Bu Mimi...? Tio...? Tari...?"

Tidak ada jawaban. Ruangan itu sunyi, kecuali suara ketukan tok... tok... tok... dari arah kamar Tari dan Tio yang masih menggema pelan.

Serra langsung bangkit dan menarik lengan Anya kuat-kuat. "Jangan memisah. Kita kumpul di sini saja."

Anya mengangguk setuju. Dengan langkah waspada, mereka berdua berjalan menuju kamar Wulan. Pintunya ternyata tidak dikunci. Begitu daun pintu dibuka... ruangan itu kosong. Kasurnya tampak berantakan, tetapi Wulan tidak ada di sana.

Serra menelan ludah dengan susah payah. "Wulan...?"

Hening. Tanpa membuang waktu, mereka buru-buru menuju ke kamar Tari dan Tio. Suara ketukan misterius itu masih terdengar dari dalam.

Tok. Tok. Tok.

1
Teh Euis Tea
makin penasaran
Teh Euis Tea
syukurlah mereka sampe jg ke rumah ustadz
Teh Euis Tea
hadeuhhh aku tegang bacanya tp penasaran
Teh Euis Tea
mungkin mahluk itu diamnya dipohon beringin
Teh Euis Tea
tegang aku bacanya, kasian loh Anya yg di incer trs sm setan
Teh Euis Tea
setannya kuat, apa lg Anya sering kosong pikirannya
Alissia
apa dulu itu hantunya kekasihnya tio 🤔🤔🤔🤔
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
Sarah Bagan
mntap kak, lanjutkan
Teh Euis Tea
jujur aku baru kali ini baca novel horor, takut tp penasaran
Teh Euis Tea: sama2 tetap semangat berkarya thor
total 2 replies
Teh Euis Tea
Anya sepertinya mahkluk itu ga bakal berenti ganggu km, klu kmnya sering Ng gelamun, pikiranmu sering kosong jd setan gampang masuk
Teh Euis Tea
si Anya pikirannya selalu kosong jd gampang setan masuk ke badannya
Teh Euis Tea
Anya Serra kalian banyakin istiqfar biar hati tenang dan pikiran ga diganggu mahkluk halus lg
glaze dark
nanti akan terbongkar ya kak, masih panjang ko🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: di tunggu
total 1 replies
Teh Euis Tea
aku ikutan tegang bacanya, dan penasaran kenapa si Minar terobsesi sm Anya, ada apa ya dgn Minar dulunya?
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku bacanya, mudah2 an Anya dan yg lainnya selamat
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku tkt Anya dan Bibah knapa napa
Teh Euis Tea
loh thor, bkn nya Anya kerja ya bkn kuliah?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?
Teh Euis Tea
setan ko siang bolong msh gentayangan, lagian Bu kos udah tau kamar serem msh aj di sewain aturan rombak aj biar ganti suasana
Teh Euis Tea: betul ka
total 4 replies
Sarah Bagan
mungkin dibunuh kali, kita lihat aja endingnya. tamat atau Ndak, biasanya banyak novel ga tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!