NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

"Mama sama papa nanti mau pulang jam berapa?" Abimanyu meletakkan cangkir kopi kemudian menatap kedua orang tuanya bergantian. "Kalau bisa nanti sore saja jangan pulang siang, biar aku yang antar ke stasiun."

"Mama sama papa enggak jadi pulang hari ini, paling nanti saja hari minggu." Sahut Halimah seraya menggeser roti ke arah Amara. "Neng, tambah lagi sarapannya. Muka kamu pucat pasti dari kemarin kurang makan, ini telur rebus nya dimakan juga habisin." Ucapnya penuh kasih.

"Iya ma." Amara mengangguk. Memang iya, dirinya selama tiga hari kemarin dari semenjak mendapat kabar papanya kecelakaan pagi-pagi itu hingga selesai akad, perutnya tidak mendapat asupan yang benar.

Abimanyu menoleh sekilas pada Amara, kemudian pria itu bersuara. "Mumpung mama disini beli kebaya nya minta anterin mama saja." Ucapnya datar, kemudian ia menyesap kopi yang tinggal setengahnya.

Halimah menatap Abimanyu dengan kening yang mengernyit. "Kebaya buat apa?" Tanya nya pura-pura bingung. "Kebaya apa sayang?" Ia menatap Amara. Suaranya lembut jauh berbeda saat ia berbicara dengan putranya sendiri.

"Em, itu ma... Kebaya buat kelulusan besok. Enggak beli kok mau sewa saja, sebenarnya kata teman juga ada kebaya yang murah-murah tapi harus ke pasar." Tutur Amara, sesaat raut wajahnya berubah sendu.

"Kelulusan?"

"Iya, ma."

Halimah menarik napas panjang kemudian ia menoleh pada Abimanyu. "Kamu berarti harus dampingi Amara Bi."

Abimanyu seketika meletakkan ponselnya. "Enggak bisa ma, aku lagi sibuk-sibuknya. Kan ada Sonia, orang tuanya. Lagian enggak mungkin kan kelulusan didampingi suami, apa kata dunia? Kecuali wisuda."

"Enggak apa-apa om, enggak perlu. Om fokus kerja saja."

"Bagus lah kalau kamu ngerti." Ucap Abimanyu datar kemudian berdiri. "Ma, pa... Aku berangkat kerja dulu." Abimanyu meraih tangan pak Rusdan dan Halimah, bergantian menciumnya dengan takzim.

Amara ikut beranjak, gadis itu berdiri menunggu Abimanyu. "Om..." Panggilnya kemudian meraih tangan Abimanyu dan menciumnya. Sedangkan Abimanyu hanya berdiri mematung, pria itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Seumur hidupnya belum pernah dicium tangan oleh perempuan dewasa, meskipun oleh mantan kekasihnya Jenny.

--

Menjelang siang, di sebuah supermarket di salah satu mall besar. Amara berjalan pelan mendorong troli belanja yang sudah hampir penuh dengan kebutuhan dapur dan pribadinya. Namun alih-alih bahagia, raut wajah Amara terlihat muram.

Pikirannya kembali melayang pada kehidupan dua minggu yang lalu. Ia dan adik-adiknya setiap weekend selalu datang ke tempat ini dengan tawa dan gurauan yang kini hanya tinggal kenangan, mengikuti langkah sang papa yang mendorong troli, membantu mama mengambil barang-barang, dan berakhir memilih barang kesukaan mereka baik itu makanan atau apa saja bersama kedua adiknya. Namun kini, meskipun berada di tempat yang sama, namun kondisi dan statusnya sudah berbeda, kondisi dan status yang sedikitpun tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sekitar dua meter di depannya, Halimah yang tadinya berjalan pelan seketika berhenti saat menyadari Amara tertinggal di belakang. Perempuan paruh baya itu menoleh ke belakang, ia seketika terhenyak terlebih melihat Amara. Kakinya memang melangkah, namun tatapannya kosong.

"Neng..." Panggilnya seraya kembali melangkah ke belakang. "Mau beli apalagi hm? Cemilannya kamu pilih sendiri ya! bebas, mau apa saja boleh." Ucap Halimah, tangannya bergerak menggenggam tangan Amara.

Ia dulu memang memimpikan punya menantu yang dewasa, yang nyambung diajak ngobrol, dan bisa menemaninya ke salon dan arisan. Tapi saat melihat Amara, remaja yang sedari bayi kehilangan ibu dan saat dewasa juga harus kehilangan sosok ayah dengan tragis dan harus menanggung beban moral. Akhirnya ia sadar, bahwa bahagia bukan tentang mendapatkan, tetapi bagaimana ia bisa memberikan kasih sayang dan mengisi kekosongan seseorang yang benar-benar tengah membutuhkan kekuatan dan bimbingan untuk melanjutkan hidup.

"Sudah ma, ini sudah banyak." Sahut Amara pelan.

"Enggak apa-apa, kamu kan tinggal di apartemen bukan perumahan. Di apartemen susah, apalagi Abi sibuk kerja terus. Jadi kamu harus punya stok makanan yang banyak, buah-buahan dan sayuran juga." Lanjutnya kemudian mendorong troli menuju tempat daging dan ikan. "Habis ini kita makan dulu papa sudah nunggu di kafe, habis itu baru nyari kebaya."

"Em, itu ma... Kebayanya enggak usah beli, aku mau sewa saja." Ucapnya ragu, Amara menggaruk pelipisnya. "Kalau beli nanti om Abi marah, soalnya semalam pas aku minjam uangnya bilang mau sewa." Ucapnya setengah berbisik.

"Hah, minjem?"

Amara terkekeh, "Iya, untung om Abi baik langsung ngasih dua juta padahal aku mau minjem sejuta." Ucapnya jujur.

Sedangkan Halimah seketika berdecak, "Mara sayang, lain kali kalau butuh uang enggak boleh bilang minjem tapi harus minta. Abi itu suamimu, sudah kewajibannya memberi kamu uang dan mencukupi seluruh kebutuhan kamu. Lagi pula uang Abi banyak, gajinya besar. Jadi, lain kali minta saja jangan sungkan. Justru kalau dia enggak ngasih nafkah malah dosa."

Amara menggeleng. "Enggak ma. Kami nikah kan terpaksa, apalagi om Abi. Dia sempat marah juga karena aku bilang mau, padahal aku juga mau karena terpaksa. Sebenarnya kalau ada jalan lain aku juga enggak mau nikah sekarang."

Halimah menelengkan kepalanya, "Mama baru tahu, kirain beneran suka sama Abi ternyata terpaksa ya."

"Iya ma.." Jawab Amara jujur tanpa memberitahu alasan sebenarnya, kalau dirinya mau dinikahkan dengan Abimanyu untuk menjaga perasaan Sonia, supaya ibu sambungnya itu tidak terus menerus memendam benci pada almarhum sang papa.

Halimah terdiam sesaat, meskipun tangannya terus bergerak memilih daging. Tak lama kemudian ia menatap Amara. "Kenapa enggak suka Abi, apa karena dia jelek?" Tanya nya menyelidik, dan Amara dengan cepat menggelengkan kepala.

"Enggak ma, bukan gitu. Om Abi meskipun tua tapi dia ganteng, aku enggak mau nikah karena masih ingin seperti orang-orang. Ingin kuliah, kerja, dan traveling dulu." Jawab Amara jujur, dan itu membuat Halimah seketika memalingkan wajah menyembunyikan senyumnya.

Ya Allah ini anak jujur banget, di depan mertua ngatain suaminya sendiri tua...

"Ehem!" Halimah berdehem menormalkan raut wajahnya yang sedari mendengar pengakuan Amara tentang Abimanyu berusaha menahan tawa. "Kirain mama enggak mau nikah sama Abi karena enggak ganteng. Tapi enggak apa-apa namanya takdir semua sudah di atur Allah, kita hanya menjalani. Sekarang kalian sudah menjadi suami istri, kamu harus belajar menjadi istri ya. Mama yakin nanti Abi juga bakal berubah, dia cuek dan dingin karena kelamaan membujang padahal teman-temannya sudah pada punya anak SMA."

"Iya ma... Tapi semalam aku sudah bilang sama om Abi, nanti kalau aku sudah punya uang aku mau ke Surabaya aja biar om Abi enggak terbebani lagi."

"Hah! Ke Surabaya ngapain?" Halimah menghentikan langkahnya, ia menatap Amara.

"Ya mau pulang ke rumah budhe."

"Terus Abi gimana?"

"Om Abi membujang lagi."

Halimah menarik napas mendengar ucapan Amara. Paruh baya itu hanya menggelengkan kepala, tanpa menyahut lagi. Tangannya hanya bergerak membawa Amara dan troli menuju kasir, namun saat jarak tinggal beberapa langkah sebuah suara memanggilnya.

"Tante Halimah!"

Halimah dan Amara pun menoleh bersamaan, keduanya menatap perempuan cantik berpenampilan modis dan elegan yang berdiri sekitar dua meter dari mereka.

"Ini benar tante kan?"

Meski sedikit terkejut, Halimah mengangguk cepat. "Iya... Jenny, apa kabar?" Halimah melepaskan troli, tangannya beralih menggandeng Amara. Raut paruh baya itu seketika berubah, meski samar raut wajahnya menunjukkan rasa tidak nyaman.

Sedangkan perempuan yang bernama Jenny itu melangkah anggun menghampiri Halimah, kemudian memeluknya. "Baik tan, udah lama ya kita enggak ketemu. Tapi makin tua Tante makin cantik aja... Oiya, Abi apa kabar Tante?" Cerocos Jenny tak menghiraukan keberadaan Amara, dan itu membuat Halimah semakin tidak nyaman.

"Baik juga, malah sangat baik." Jawab Halimah menekankan kata-katanya, lalu ia beralih pada Amara. "Sayang, beneran enggak mau beli apa-apa lagi? Kalau sudah kita langsung ke kafe saja papa sudah nungguin, biar enggak keburu siang ke butiknya." Halimah mengelus rambut Amara yang terurai, seolah ingin menegaskan keberadaan gadis itu pada Jenny.

Seolah baru sadar, Jenny pun akhirnya menoleh pada Amara. "Eh ini siapa? Cantik..."

"Saya Amara, tan..." Amara mengangguk.

"Dia istrinya Abimanyu." Ucap Halimah bangga.

"Is-trinya Abi?" Gumam Jenny membeo, matanya melotot tak percaya.

"Iya... Maaf ya Jen, Tante duluan! Om sudah nunggu di atas soalnya mau fitting baju ke butik." Halimah tersenyum manis, tangannya mendorong troli sembari menggandeng Amara.

Abimanyu sudah menikah... Tapi, istrinya masih bocah. Raut terkejut Jenny berubah senyuman sinis dan meremehkan. Ternyata kamu munafik juga Abi, dan akhirnya kamu enggak kuat kan nahan kesepian dan bocah pun jadi.

Tunggu, aku sepertinya harus menemui Abi..

1
Mimi Yoh
ayo...itu apa...😄😄😄
Mimi Yoh
kalau khawatir bilang aja...nggak usah banyak alasan ya 😁😁😁
Mimi Yoh
keluar diam-diam 😯😯 ..mara memangnya kalau mau keluar kamar sambil nyanyi atau teriak gitu..
Mimi Yoh
😯😯😆😆😆😆😆
Mimi Yoh
sama-sama ngegedein gengsi
Mimi Yoh
saking khusunya masak ya mara 😁😁
Mimi Yoh
hahahahah jadi mara bener-bener nggak nyadar kalau pak suami sudah pulang dan sudah jauh pindah ke alam mimpi 🤗🤗
Mimi Yoh
berasa ada yg hilang ya om 😁😁
Mimi Yoh
tahu masih punya suami...malah dibantu selingkuh...
Mimi Yoh
dasar matre
Mimi Yoh
oooh dijanjiin sesuatu kamu ya...
Mimi Yoh
sudah tahu kesalahan ada pada jenny, masih aja dibantu untuk deketin abi, tahu abi juga sudah menikah, terpaksa ataupun tidak, tetap abi sudah punya istri...kayak bukan sesama perempuan saja, dimana hatimu tya...
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
sama-sama gengsi... padahal saling mengkhawatirkan.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaa ampun demi hadiah liburan ternyata....
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Tya dimana hatimu sebagai sesama perempuan. Abi kan sekarang sudah punya istri, tapi kamu kok bisa²nya malah berusaha mendekatkan Abi dengan Jenny. Kalau posisimu sebagai seorang istri apa nggak sakit hati yaaa....
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : keknya Tya itu mkkb masa kecil kurang bahagia 😅
total 4 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahhh keren... begitu donk Bi, jangan mau dimanfaatkan lagi apalagi sama mantan. Semoga sikap tegasnya bisa terus dipertahankan yaa, ingat... ingat... kamu sekarang sudah bukan single lagi.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Iyaa iyaa ngerti om... tapi yaa jangan kasar² gitu donk. Seharusnya kamu lebih berpengalaman bagaimana meredakan amarah. Ini om mantan bujang lapuk beneran nggak tahu yaa caranya meluluhkan hati perempuan.
ms. yati74
🤣🤣🤣yg atu manta bujang lapuk yg atu bocah baru netes....angeeell tooo nyatu nyaa🤣🤣🤣🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ
canggung dan sama" jaim yg bikin nagih, cukup buat ngilangin rasa kesel gegara Tya😥🤣
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
baguss kau Abi tegas begitu
Iper: Pasti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!