NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Kesunyian di antara mereka mulai terasa canggung. Adera yang sejak tadi terus ditatap lekat-lekat oleh Damar akhirnya mulai merasa risih dan tidak nyaman. Pipinya yang tadi memerah karena malu, kini perlahan berubah menjadi wajah manyun kesal.

"Ngapain sih natap terus?" gerutu Adera pelan sambil memalingkan wajahnya ke sisi lain, berusaha menghindari tatapan tajam pria itu. "Apa ada yang salah dengan wajah aku?"

Mendengar rengekan manis itu, Damar sedikit tersentak dan sadar diri. Dia buru-buru mencoba menetralkan detak jantungnya sendiri, berusaha tetap terlihat tenang, dingin, dan berwibawa seperti biasanya, meski sebenarnya di dalam hatinya dia juga sedang gemas bukan main melihat gadis di depannya ini.

"Maaf, tidak bermaksud membuatmu risih," ucap Damar santai, suaranya berusaha dibuat datar padahal matanya masih tak lepas memandang. "Hanya saja... hari ini kamu terlihat sangat berbeda dan cantik."

Deg!

Jantung Adera berdegup kencang lagi. Tapi sebelum dia sempat membalas atau malah makin salah tingkah, tiba-tiba...

Tangan Damar bergerak cepat dan tangkas. Tanpa basa-basi, tanpa meminta izin sedikitpun, dia langsung menggenggam tangan kecil Adera erat-erat.

"Hah?!" Adera terlonjak kaget, matanya membelalak lebar. "Heh! kamu apaan sih?! Ngapaian narik-narik tanganku segala?! Izin dulu dong!" protes Adera kesal, wajahnya memerah padam campur bingung. Dia mencoba menarik tangannya tapi tenaga Damar jauh lebih kuat dan kokoh.

Damar sama sekali tidak terpengaruh oleh omelannya. Justru sudut bibir pria itu tersenyum tipis penuh kemenangan.

"Diam saja dan ikut aku," perintah Damar lembut namun tegas.

Damar pun mulai melangkah, menyeret tangan Adera yang masih protes dan merengek kesal di belakangnya, namun tetap setia digenggam erat. Pria tampan yang berprofesi dokter itu membawa Adera menjauh dari keramaian, menuju sebuah tempat yang jauh lebih tenang, sepi, dan indah.

Sebuah taman kecil yang teduh di sudut kampus, atau mungkin sebuah balkon luas yang hanya bisa diakses oleh mereka berdua sekarang. Suasana di sana sangat hening, hanya ada desiran angin dan suara detak jantung mereka yang saling berpacu.

Kini, benar-benar hanya tinggal mereka berdua saja. Terpisah dari dunia luar.

Sesampainya di tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian itu, Damar menghentikan langkahnya. Dia melepaskan genggaman tangan Adera, namun matanya tak lepas menatap manik mata gadis itu dengan sangat serius.

Udara seolah berhenti berhembus. Damar menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Kali ini, dia tidak ingin main-main atau sekadar basa-basi.

"Adera..." panggil Damar pelan, suaranya terdengar berat dan penuh ketulusan.

Adera menatapnya bingung namun penasaran. "Kenapa?"

Damar mendekatkan wajahnya sedikit, menatap Adera lekat-lekat.

"Aku tidak mau membuang waktu lagi," ucap Damar tegas. "Adera, maukah kamu... menikah denganku? Jadilah istriku, pendamping hidupku selamanya."

JLEB!!!

Adera terpaku diam. Matanya membelalak tak menyangka pria di depannya ini akan bertanya sejauh itu dengan begitu cepat dan berani. Jantungnya berdegup kencang bukan main, campur aduk antara kaget, senang, dan bingung.

Namun, Adera bukanlah gadis yang mudah menyerah atau terlihat terlalu menginginkannya. Dia ingin menjadi wanita yang mahal. Dia tidak langsung menjawab "iya", tapi juga tidak menolak mentah-mentah.

Adera mendengus pelan, lalu memalingkan wajahnya sedikit dengan gaya sok cool.

"To the point banget ya, " jawab Adera santai meski jantungnya mau copot. "Aku tidak bilang tidak mau... tapi saat ini, aku lagi ingin fokus sama diri aku sendiri dulu. Aku mau menikmati masa-masaku, mengejar karir, dan bahagia dengan caraku sendiri."

Adera berhenti sejenak, lalu menatap Damar kembali.

"Jadi, jangan buru-buru minta aku jawab sekarang," tegasnya.

Mendengar jawaban itu, Damar tidak kecewa ataupun marah. Justru dia semakin menghormati keputusan gadis itu. Dia mengangguk perlahan, menerima alasan tersebut dengan lapang dada.

"Aku mengerti, Adera. Aku sangat memahaminya," jawab Damar lembut. "Kamu berhak bahagia dan mengejar apa yang kamu mau. Aku tidak akan memaksamu atau mengekangmu."

Tatapan Damar berubah menjadi sangat memohon dan lembut.

"Tapi... aku cuma minta satu hal sama kamu," kata Damar serius.

"Apa?" tanya Adera.

"Jangan menjauh dariku. Tetap biarkan aku ada di dekatmu, melihatmu, dan memperjuangkanmu," pinta Damar dengan tatapan memelas yang sangat manis.

Alih-alih langsung menjawab iya, sisi jahil Adera justru muncul. Dia tersenyum miring, mulai mencoba menggoda pria tampan di depannya itu.

"Oh ya? Kalau aku bilang... aku mau menjauh dari kamu gimana?" goda Adera sambil mengedipkan sebelah matanya, tangannya terlipat di depan dada. "Kalau aku lari jauh-jauh gimana?"

Mendengar pertanyaan itu, wajah Damar yang tadi lembut tiba-tiba berubah menjadi sangat serius dan tegas. Dia mendekatkan tubuhnya hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti saja.

"Kalau kamu menjauh atau lari..." ucap Damar pelan namun terdengar sangat berwibawa dan yakin.

"...sampai ke ujung dunia pun, akan aku kejar kamu sampai dapat," janji Damar tegas, matanya menatap tajam penuh keyakinan. "Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu."

DUG!

Jantung Adera serasa mau meledak mendengar kalimat romantis sekaligus possesive itu. Wajahnya memerah padam, dan untuk kali ini, dia benar-benar kehilangan kata-kata.

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!