"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mana Daddy?
Mobil mewah itu melaju cepat membelah jalanan, memaksa beberapa kendaraan mengalah saat klakson itu dibunyikan dengan membabi buta.
"Percepat, Max."
Laki-laki itu kembali berseru untuk kesekian kalinya. Direngkuhannya, gadis kecil itu masih tak sadarkan diri dengan darah yang masih mengalir sesekali dari hidungnya.
Leon mengusap wajah frustasi.
Entahlah.
Mengapa ia takut setengah mati melihat gadis kecil itu tak berdaya seperti ini. Mengapa ia harus perduli padahal mereka baru bertemu hari ini.
Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memeriksa keadaan Marsha yang masih tak sadarkan diri. Sedang Leon dan Max, mereka masih menunggu di luar.
"Tuan, jas anda kotor." Max berseru sembari memberikan papper bag berisi pakaian baru yang tadi ia pesan. Karena ia tau, laki-laki itu tak menyukai hal-hal kotor sedikitpun.
Leon menunduk menatap jas nya yang kotor akan bercak darah gadis kecil itu, namun ia tak sedikitpun merespon seolah hal itu bukan masalah besar untuknya.
"Bagaimana, apa ibunya sudah ketemu?"
"Sudah tuan, ibunya sedang dalam perjalanan kesini."
Di belahan bumi lain, Alina tampak merutuki kebodohannya saat ia mendengar jika sang putri kini tak sadarkan diri dan tengah di larikan ke rumah sakit.
Hatinya merutuk.
Bodoh.
Mengapa dirinya tak menahan saja mual itu sampai di rumah. Mengapa ia harus sakit segala. Mengapa ia harus meninggalkan gadis itu sendirian di tempat asing padahal ia bisa membawanya ikut serta.
Tak lama, ojek yang ia tumpangi akhirnya sampai di rumah sakit. Alina segera berlari ke meja resepsionis.
"Suster, apakah tadi ada seorang laki-laki membawa anak kecil berumur 3 tahun kesini?"
Suster itu pun segera mengingat sosok itu. "Pasien di bawa ke IGD ya mba. Dari sini lurus saja, lalu belok kanan."
Alina segera berlari mengikuti arahan suster itu.
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaannya saat itu. Bahkan jantungnya kini seolah akan berhenti berdetak sebelum mengetahui kondisi putrinya.
Hingga akhirnya sampailah ia di ruang IGD yang dimaksud. Tak ada seorangpun disana. Sepertinya, laki-laki yang membatu putrinya itu telah kembali lebih dulu.
"Dokter, bagaimana keadaan putri saya?" Seru Alina sesaat setelah dokter keluar dari ruang IGD.
"Saya melihat ada ketidaknormalan pada kondisi putri ibu, jadi kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
"Putri saya mengidap penyakit leukimia, Dok."
Sejenak hening. Dokter juga manusia. Ia tampak mengasihani kondisi Marsha yang harus menanggung penyakit mematikan itu di umurnya yang masih kecil.
"Saya mohon, tolong selamatkan putri saya, Dok." Pinta, Alina.
"Kami akan melakukan semampu dan sebisa kami bu. Tapi sebelum itu, kami harus melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui tipe dari penyakit yang di derita putri ibu."
Sore itu, Marsha telah dipindahkan ke ruang perawatan setelah sebelumnya dokter telah melakukan biopsi pada gadis kecil itu.
Begitu membuka mata, gadis kecil itu langsung menanyakan hal yang sungguh membuat Alina tertegun.
"Mommy. Mana Daddy."
Jantung Alina seketika merosok jatuh ketika mendengar kalimat pertama yang diucapkan Marsha setelah siuman.
Dalam hati itu bertanya-tanya. Mengapa gadis kecil itu tiba-tiba menanyakan keberadaan sang ayah. Apakah ia memimpikannya ketika ia tak sadarkan diri.
"Mommy?"
Gadis kecil itu kembali menginterupsi Alina yang hanya diam membeku.
"Daddy- Daddy sedang bekerja sayang. Nanti setelah Daddy punya uang banyak, kita bisa jalan-jalan dan beli susu kesukaan Marsha."
"Tapi Daddy ndak mau shama Macha, hiks..." isaknya mulai luruh.
Alina mengernyit. "Siapa yang bilang seperti itu, sayang. Daddy sayang sama Marsha kok... ."
"Ndak mommy. Tadi Macha ketemu Daddy. Tapi Daddy ndak mau Macha. Hwaaa..." betambah nyaringlah tangis itu. Sedang Alina, semakin membeku tubuh itu.
"Sayang, itu hanya mimpi. Sebenarnya, Daddy itu saaaayang sekali sama Marsha." Diusapnya isak yang luruh itu.
"Ndak. Tadi Macha ketemu Daddy di wallung, srukkk... tellush Daddy ndak mau pulluk Macha mommyh... ."
Oh, ia paham sekarang. Jadi mungkin saja saat di Mall kala itu Marsha salah mengenali orang random sebagai ayahnya. Karena mustahil jika gadis kecil itu tau bagaimana rupa sang ayah disaat ia tak sekalipun memperlihatkan wajah ataupun fotonya.
"Sayang... Marsha. Marsha harus tau jika Daddy sangat menyayangi Marsha seperti Mommy sayang sama Marsha. Bukankah Marsha anak cantik dan pintar? Marsha juga anak yang penurut. Lalu bagaimana bisa Daddy tidak sayang sama Marsha, hmmm... ."
Gadis kecil itu tak lagi menimpali seolah kata-kata itu telah mampu mengubur semua keraguannya.
Malam hari, sekitar pukul tujuh malam, dokter memanggil perempuan itu untuk mengutarakan hasil pemeriksaannya.
Alina datang dengan jantung berdegup.
"Malam, Dok... ."
"Silahkan masuk ibu Alina."
Alina segera duduk di hadapan sang dokter.
"Sesuai yang saya bicarakan tadi, jika hasil lab putri ibu sudah keluar." Seru dokter itu sembari menunjukkan semua hasil lab Marsha yang sama sekali tidak Alina pahami.
"Jadi kami mendiagnosis jika putri ibu menderita Leukimia Mieloblastik Akut, dimana tipe ini adalah satu yang paling ganas dan agresif."
Di detik itu, jantung Alina hampir saja berhenti berdetak. "Jadi, putri saya tidak akan sembuh. Dok?"
"Bukan, putri ibu masih bisa untuk kita selamatkan. Tapi hal ini tidak cukup hanya dengan kemoterapi. Kita harus melakukan transplantasi sumsum tulang belakang jika mau putri ibu selamat. Ini satu-satunya cara agar sel kanker itu tidak kembali."
"Apapun itu tolong selamatkan putri saya, Dok." Pinta Alina memohon.
"Untuk operasinya sendiri, kami akan melakukan tes kecocokan terlebih dulu dengan ibu. Jika hasilnya cocok, maka kita bisa langsung melakukan tindakan untuk putri ibu sesegera mungkin."
"Bagaimana dengan biayanya, Dok?"
"Karena prosedur ini sangat kompleks, dan kita juga harus melakukan banyak sekali kemoterapi, juga operasi sumsum tulang belakang, jadi biaya minimal untuk putri ibu ada di kisaran angka 1 milyar. Biaya ini masih bisa naik tergantung kondisi putri ibu kedepannya."
Bahu Alina merosot. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebesar itu. Bekerja sekeras apapun, rasanya mustahil ia bisa mendapatkan uang itu.
"Malam ini kita bisa langsung mengambil sample darah ibu untuk uji kecocokan genetik, dari situ nanti kami bisa tau apakah ibu cocok untuk mendonorkan sumsum tulang atau tidak. Hasilnya akan keluar tiga sampai lima hari kedepan."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong
Happy Reading
Saranghaja
tapi tunggu up nya harus bersabar