Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Matahari pagi itu merayap naik, menyinari dedaunan yang masih basah oleh sisa doa malam. Di kediaman Kiai Ahmad Bashir, suasana yang biasanya tenang kini terasa sedikit lebih bersemangat. Zahra, si bungsu yang tak pernah bisa diam, tampak menarik-narik tangan Bella dengan wajah penuh rahasia.
"Mbak, sini... aku punya sesuatu yang belum Mbak tahu! Ini rahasia paling besar di rumah ini!" bisik Zahra dengan mata berbinar-binar.
Bella, yang masih membawa sisa-sisa kebahagiaan dari peraduannya semalam, hanya bisa pasrah. "Ya... iya... pelan-pelan saja, Zahra. Nanti kalau Mbak jatuh bagaimana?"
Zahra membawa Bella ke sebuah ruangan di sudut rumah yang pintunya selalu tertutup rapat. Dengan gaya dramatis, Zahra memutar kunci dan mendorong pintunya perlahan.
"Taraaaaa...! Ini dia, studio pribadinya Bang Fatih! Tempat dia bikin konten-konten keren yang sering Mbak lihat di medsos!" seru Zahra bangga.
Bella terpaku di ambang pintu. Ia terkesiap. Selama ini ia hanya tahu suaminya bekerja sebagai guru dan memiliki kesibukan di luar, namun ia tak menyangka Fatih adalah seorang konten kreator yang serius. Ruangan itu kedap suara, dipenuhi dengan lampu-lampu softbox, kamera profesional, dan mikroskop audio yang tertata rapi. Dindingnya dicat abu-abu gelap, memberikan kesan maskulin dan misterius—persis seperti kepribadian pemiliknya.
Bella melangkah masuk, jemarinya menyentuh permukaan meja kerja Fatih yang bersih. Namun, perhatiannya teralih pada sebuah sudut dinding yang dipenuhi dengan bingkai foto. Ada satu foto yang membuatnya mematung.
Sesosok remaja laki-laki dengan seragam SMP yang berantakan, memegang gitar elektrik di atas panggung, dengan piala besar di sampingnya. Wajahnya garang, penuh keringat, namun memiliki binar pemberontakan yang khas.
"Oh, itu foto Bang Fatih waktu SMP, Mbak. Lagi nakal-nakalnya! Dia dulu vokalis band paling beken se-kabupaten. Jangan salah, Bang Fatih itu dulu bengalnya minta ampun. Dia pernah ikut tawuran sampai hampir dikeluarkan dari sekolah!" cerocos Zahra, tak menyadari wajah Bella yang mulai memucat karena seperti mengenal wajah itu. "Makanya, Abi marah besar dan langsung mem-pesantrenkan dia bareng Bang Lukman ke Tasikmalaya. Beda jauh ya wajahnya sama sekarang yang kaku kayak kulkas?"
Dada Bella bergemuruh. "Wajah ini... mata ini..." batinnya berteriak.
"Nah, ini foto pertama dia di pesantren, bareng Bang Lukman dan teman-temannya," lanjut Zahra sambil mengambil sebuah bingkai kecil dari lemari kayu.
Bella menerima bingkai itu dengan tangan gemetar. Di sana, Fatih berdiri di antara tumpukan kitab, namun penampilannya masih sangat jauh dari kata "santri". Rambutnya gondrong sebahu, dibiarkan terurai berantakan dan badannya masih kurus. Ia tersenyum tipis ke arah kamera.
Jantung Bella seolah berhenti berdetak. Kilasan memori sepuluh tahun lalu menghantamnya seperti ombak raksasa. Hutan jati, aroma hujan, dan seorang pemuda gondrong yang memanggil dirinya "Wulan".
"Benar... benar dia... Kamu mirip sekali dengan Abbasku... Jangan-jangan... Fatih adalah Abbas?" Isak tangis tertahan di tenggorokan Bella. Perih. Bagaimana mungkin takdir mempermainkannya sejauh ini? Ia menunggu Abbas selama bertahun tahun, menunggu bayangannya di setiap sudut kota, dan ternyata Abbas adalah suaminya sendiri yang selama sebulan ini ia benci dan ia takuti.
"Tambah gak mirip ya, Mbak? Rambutnìya aja gondrong gitu, kayak anggota grup band metal," badannya kurys lagi kaya cacingan. sekarang dia malah bercambang dan badannya atletis. Zahra tertawa kecil, masih belum menyadari badai di hati kakak iparnya.
"Oiya, Mbak... ada satu hal lucu. Waktu di pesantren dulu, Bang Fatih itu punya nama panggilan kesayangan dari teman-temannya. Gak ada yang manggil dia Fatih. Mereka semua manggil dia... Abbas."
DEG.
Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Bella membeku. Telinganya berdenging hebat. Nama itu... nama yang ia sebut dalam setiap sujudnya selama sepuluh tahun. Nama yang ia cari di setiap wajah pria yang ia temui.
"Abbas...? Fatih adalah Abbas?" batin Bella menjerit. Lututnya terasa lemas. Dunianya seolah berputar. Selama ini, pria yang ia tunggu, pria yang ia cintai dalam diam di tengah penderitaannya, ternyata adalah pria yang kini menjadi suaminya.
Namun, Zahra kemudian membuka sebuah laci kecil di bawah meja studio. "Oh, iya... ini nih yang buat Bang Fatih jadi pria kulkas, sedingin kutub utara! Dia itu susah banget move on, Mbak."
Zahra mengeluarkan tumpukan kertas yang sudah menguning, terikat rapi dengan pita kain yang sudah pudar warnanya. "Ini surat-surat dari ceweknya di Tasik dulu. Kalau gak salah namanya Kak Wulan. Aku juga gak tahu orangnya gimana, gak pernah ketemu. Waktu kami sekeluarga ke sana buat jemput Bang Fatih lulus, kata Bang Lukman, keluarga Kak Wulan sudah pindah. Terus ada kabar dari Rina—teman pesantren mereka—kalau Kak Wulan sudah nikah sama pria lain."
"Rina, kenapa rina berbohong..!" Batin Bella perih lebih dalam lagi mengingat rina adalah sahabat baiknya.
Zahra memeluk Bella dari samping, nadanya berubah menjadi haru. "Bang Fatih itu tipe lelaki setia, Mbak. Dia masih gak percaya Wulan mengkhianatinya, tapi dia juga gak bisa menemukan keberadaannya. Padahal banyak yang suka sama dia, kayak Kak Nadia anak Pak Lurah. Rencananya mereka mau ta'aruf, tapi Bang Fatih selalu menunda-nunda. Katanya dia cuma anggap Kak Nadia kayak adik sendiri, kayak aku. Untung Mbak Bella datang... makasih ya, Mbak, sudah mengembalikan keceriaan Abangku."
Bella tidak lagi mendengar suara Zahra. Matanya hanya tertuju pada tumpukan surat itu. Dengan tangan bergetar, ia mengambil salah satu surat dan membacanya.
> "Kang Abbas, aku doakan kamu sukses dan lulus... jangan lupa terus belajar. Dari Wulanmu yang akan selalu merindukanmu..."
>
Bella membuka surat lainnya.
> "Dua tahun lagi kamu lulus... terus berjuang ya, Abbasku. Aku menantimu, sampai kamu datang membahagiakanku bersama keluargamu..."
>
Air mata Bella tumpah tak terbendung. Ia meremas surat itu di dadanya. Aksara itu adalah aksaranya. Tulisan tangan itu adalah saksi bisu penantiannya. Ternyata Fatih tidak pernah membuang cintanya. Fatih menyimpan setiap kepingan rindu yang ia kirimkan.
"Surat terakhirku mana? Kenapa tidak ada di sini?" batin Bella panik. "Jangan-jangan dia tidak menerimanya? Jangan-jangan Rina tidak menyampaikanya.. Surat yang berisi penjelasan kenapa aku dipaksa pergi oleh ayah..."
Zahra yang merasakan bahu Bella terguncang, melepaskan pelukannya. Ia kaget melihat Bella menangis sesenggukan.
"Mbak... Mbak Bella kenapa nangis?" tanya Zahra bingung. Ia mengira Bella sedih karena mengetahui suaminya masih mencintai masa lalu. "Mbak, maafkan Zahra... Zahra gak bermaksud buat Mbak sedih. Zahra mohon, Mbak bahagiakan Bang Fatih ya, agar dia benar-benar bisa melupakan Kak Wulan itu. Mbak jauh lebih cantik dan nyata buat Abang."
Bella hanya bisa mengangguk dalam tangisnya, hatinya menjerit ingin berteriak: "Zahra, aku adalah Wulan! Aku adalah wanita yang membuat abangmu menderita selama bertahun tahun ini!"
Di Kantor: Bayang-bayang Fitnah
Di waktu yang bersamaan, di ruang kerjanya yang tenang, Fatih sedang menatap layar monitor saat pintu ruangannya diketuk pelan. Nadia masuk dengan wajah yang sembap, matanya merah seolah baru saja menangis.
"Bang... Bang Fatih... aku minta maaf sama kamu," mohon Nadia dengan suara serak.
Fatih menghentikan aktivitasnya, menatap Nadia dengan tatapan teduh namun tetap menjaga jarak. "Maaf untuk apa, Neng Nadia?"
"Maaf jika selama ini aku salah mengartikan perhatian Abang padaku. Aku kira... Abang menyukaiku, abang ingin aku jadi pendamping Abang. Ternyata selama ini sudah ada seseorang di hati Abang yang bernama Wulan," Nadia tertunduk, meremas sapu tangannya. "Aku merasa malu, Bang."
Fatih menghela nafas panjang. "Neng, Abang perhatian sama kamu itu karena Abang sayang sama kamu kayak Abang sayang sama Zahra. Abang sudah anggap Neng kayak adik Abang sendiri. Tidak lebih. Maafkan jika perhatian Abang membuat Neng salah paham."
Fatih terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut. "Justru, yang sering perhatian sama Neng itu sebenarnya Bang Lukman. Dia suka sama kamu dari dulu, Neng. Cuma dia aja yang pengecut, gak berani ngungkapin. Jadi, biar Abang saja yang kasih tahu sekarang."
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Lukman berdiri mematung. Dadanya sesak mendengarkan pengakuan sahabatnya. Air mata Lukman menetes. Selama ini ia memelihara rasa iri, menganggap Fatih sebagai kompetitor yang ingin merebut Nadia darinya. Padahal, Fatih justru menjadi benteng dan pendukung diam-diam baginya.
"Astagfirullah... mengapa aku harus berbuat jahat pada sahabatku bahkan saudaraku sendiri? Maafkan aku, Fatih... maaf..." batin Lukman perih. Ia ingat bagaimana Fatih pernah menantangnya untuk bersikap gentle jika suka pada Nadia. Ia salah sangka, mengira Fatih ingin bersaing, padahal Fatih sedang menyemangatinya.
Nadia pun tersentak. "Bang Lukman? Jadi selama ini yang selalu kirim salam lewat Zahra itu dia?" Ada desiran aneh di hati Nadia. Selama ini ia silau oleh dominasi Fatih, hingga tak menyadari ketulusan Lukman yang selalu ada di bayang-bayang.
"Baiklah, Bang. Jika Abang bahagia dengan Wulan... temui dia, dan lepaskan Bella. Aku rasa Bella tidak baik untuk Abang," ujar Nadia tiba-tiba, suaranya berubah dingin.
Fatih mengernyitkan dahi. Ada rasa tidak suka yang menyeruak saat nama istrinya direndahkan. "Apa maksud Neng mengatakan Bella seperti itu?"
Nadia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meletakkan sebuah map laporan di atas meja Fatih. Saat Fatih membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Di sana, ada selembar poster fotokopi yang kasar.
DICARI: PELAKU PENIPUAN ONLINE DAN HUMAN TRAFFICKING
Modus: Wanita Penghibur (Escort)
Nama Alias: BELLA
Hubungi Petugas Kepolisian: 0812-XXXX-XXXX
Di bawah tulisan itu, terpampang foto Bella dengan riasan tebal—foto yang kemungkinan besar diambil secara paksa oleh Dahlan dulu.
Fatih terhenyak. Tubuhnya lemas. "Ini... kamu dapat dari mana?!"
"Tadi pagi aku temukan ada orang asing yang menempelkan poster itu di depan gerbang pesantren dan gerbang rumah Abah Kiai. Aku langsung mengambilnya agar tidak dilihat santri lain," Nadia menatap Fatih dengan iba. "Pikirkan baik-baik, Bang. Jangan sampai nama besar Abi hancur karena wanita itu. Aku pamit."
Nadia berbalik dan melangkah keluar. Di pintu, ia berpapasan dengan Lukman. Untuk pertama kalinya, Lukman menyunggingkan senyum tulus, meski matanya masih basah. Nadia membalasnya dengan senyum malu-malu yang tertahan, sebuah awal yang baru di tengah badai yang memuncak.
Namun, di dalam ruangan, Fatih sedang hancur. Ia menatap poster itu dengan tangan gemetar. Logikanya mulai berperang dengan hatinya. Semalam ia baru saja mencicipi surga bersama Bella, namun pagi ini, neraka fitnah datang menjemput.
"Bella... apa benar kamu seburuk ini? Ataukah ini semua bagian dari masa lalumu yang kelam?"
Lukman masuk ke ruangan dengan wajah serius. "Tih... Fatih. Makasih, Brow. Kamu sudah bicara pada Nadia. Kayaknya dia juga punya rasa yang sama. Tapi..." Lukman melihat poster di meja Fatih. Wajahnya langsung berubah tegang. "Ini.. apa..?"
"Iya, aku tahu, Man. Tapi sepertinya firasat burukku jadi kenyataan," jawab Fatih datar, suaranya mengandung keputusasaan yang dalam.
"Tih, aku mau menyampaikan sesuatu ..." kata Lukman tertahan.
"Apa?!" Jawab Fatih, bingung.
"Nanti saja di rumah. Sepertinya kita harus pulang sekarang, Tih. Perasaanku gak enak."
Tiba-tiba, ponsel Fatih di atas meja berdering nyaring. Layarnya menampilkan nama: ZAHRA.
Fatih segera mengangkatnya. "Halo, Zahra? Ada apa?"
Suara di seberang sana terdengar sangat panik. Ada suara isak tangis dan teriakan di latar belakang.
"Halo... Abang! Abang cepat pulang! Ada polisi dan orang jahat di rumah! Mbak Bella... Mbak Bella mau dibawa paksa, Bang!
Prang!
Ponsel Fatih terjatuh ke lantai hingga layarnya retak. Wajah Fatih pucat pasi. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar kunci motor dan berlari keluar ruangan seperti orang kesetanan.
"Fatih! Tunggu!" Lukman mengejar dari belakang.
Dunia seolah runtuh. Di saat Bella baru saja menyadari bahwa suaminya adalah cinta sejatinya, dan di saat Fatih baru saja membuka hatinya, badai dahsyat bernama Dahlan dan jeratan hukum palsu datang untuk menghancurkan