Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Jing Hu
Riu Han menatap pria paruh baya itu dengan pandangan penuh kekaguman. Dari luar saja, Jing Hu terlihat sangat gagah; pakaiannya sederhana namun rapi, dan setiap gerakannya memancarkan wibawa alami yang membuat orang lain merasa segan tanpa perlu berusaha keras. Aura yang menyelimuti tubuhnya pun terasa tenang namun dalam, seolah menyembunyikan kekuatan yang tak terukur di balik ketenangan itu.
“Semoga sehat selalu, Tuan Jing,” ucap Riu Zheng dengan nada sopan dan hormat.
Meskipun sebagai putra kepala Klan Riu ia memiliki kedudukan yang cukup tinggi dan dihormati di seluruh wilayah Kota Jiang, namun di hadapan perwakilan Sekte Pedang, ia tahu betul tempatnya. Di balik nama sekte itu berdiri seorang pemimpin yang kekuatannya setara dengan tingkat Setengah Dewa—sosok yang bahkan kepala klan terbesar sekalipun harus menghormati. Selain itu, sifat Riu Zheng yang terkenal sopan dan santun membuatnya tidak pernah bersikap angkuh kepada siapa pun. Ia tahu cara menjaga batas: tidak merendahkan diri secara berlebihan, namun juga tidak bersikap sombong di hadapan orang yang lebih tinggi kedudukannya.
“Semoga sehat juga, Tuan Jing,” sambung Riu Han menirukan sikap ayahnya, membungkukkan badan dengan sopan.
Melihat keramahan keduanya, Jing Hu tertawa lebar dengan suara yang terdengar hangat dan tulus. “Haahaha! Jangan terlalu sungkan seperti ini, Saudara Riu, dan juga kamu, Riu Han. Anggap saja kita sedang bercengkrama seperti keluarga, bukan bertemu dalam urusan resmi.”
Setelah dipersilakan duduk dan suasana mulai tenang, Riu Zheng pun bertanya dengan nada penuh rasa ingin tahu, “Kalau begitu, Saudara Ling, ada keperluan apa sehingga Anda memanggil saya dan putra saya datang ke sini secara khusus?”
Ling Cun hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, lalu menoleh ke arah tamunya. “Ah, sebaiknya Saudara Jing Hu saja yang menjelaskan maksud kedatangannya. Beliau yang meminta saya mengundang kalian berdua hari ini.”
Riu Zheng dan Riu Han pun serentak memutar kepala menatap Jing Hu, menunggu penjelasan lebih lanjut.
Jing Hu duduk dengan tenang, lalu mulai berbicara dengan nada yang lembut namun tegas. “Sebenarnya, sayalah yang meminta Saudara Ling mengundang kalian berdua. Sebagai catatan, saya dan Saudara Ling sudah bersahabat sejak lama, meskipun tidak banyak orang yang mengetahui hubungan ini. Ia adalah orang yang sangat dapat dipercaya dan rendah hati, itulah sebabnya ia menjaga hal ini tetap menjadi rahasia.”
Mendengar penjelasan itu, Riu Zheng semakin mengagumi pemimpin kota di hadapannya. Ling Cun berasal dari klan kelas dua dan memiliki kedudukan tinggi sebagai penguasa wilayah ini, namun ia tetap menjaga kerendahan hati dan tidak pernah memamerkan hubungan persahabatannya dengan kekuatan besar seperti Sekte Pedang. Sungguh sifat yang jarang dimiliki oleh orang yang sudah mencapai posisi tinggi.
“Selain itu,” lanjut Jing Hu sambil menatap tajam namun ramah ke arah Riu Han, “sepanjang perjalanan menuju kota ini, saya sempat melihat secara langsung pertarungan putra Anda melawan sekelompok kultivator yang lebih tua darinya. Yang membuat saya terkesan bukan hanya karena ia mampu mengalahkan mereka, melainkan cara ia bertarung: kelincahannya yang luar biasa, ketenangannya di tengah tekanan, dan fondasi energinya yang terasa jauh lebih padat dibandingkan anak seusianya. Ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan tanda jelas bahwa ia memiliki bakat luar biasa dan tubuh yang sangat cocok untuk jalan kultivasi.”
Mendengar pujian itu, Riu Zheng menoleh sejenak ke arah putranya. Riu Han pun langsung menundukkan kepala, jantungnya berdegup kencang. Awalnya ia merasa takut dan khawatir—jika ternyata perbuatan melawan orang lain itu dianggap melanggar aturan kota, ia dan ayahnya bisa mendapat masalah. Namun, kata-kata yang keluar dari mulut Jing Hu selanjutnya membuat perasaan itu berubah drastis menjadi rasa bahagia dan terharu yang mendalam.
“Saudara Riu, jujur saja saya sangat tertarik dengan putra Anda ini,” lanjut Jing Hu dengan nada yang serius namun penuh harapan. “Jika Anda berkenan dan mengizinkannya, saya berniat membawanya pulang ke Sekte Pedang untuk dididik dan dijadikan murid resmi sekte kami.”
Mendengar ucapan itu, mata Riu Han terbelalak lebar, mulutnya terbuka sedikit tak percaya. “Apakah ini mimpi? Benarkah apa yang baru saja saya dengar?” gumamnya dalam hati.
Rasanya baru kemarin ia masih menjadi anak yang selalu dihina, dicemooh, dan dianggap sebagai sampah yang tidak memiliki harapan dalam dunia kultivasi. Orang-orang menganggapnya tidak berguna, bahkan di dalam klan sendiri ia sering dipandang sebelah mata. Namun, nasibnya berubah secara drastis begitu ia menemukan jalan masuk ke dalam ruang pohon tua itu, mendapatkan Cincin Ruang Abadi yang menyimpan warisan kuno, serta bertemu dengan Long Siu dan Kake Qin. Berkat Kake Qin, dantiannya yang rusak berhasil disembuhkan sepenuhnya, dan Long Siu selalu membimbingnya dengan sabar mempelajari teknik bertarung dan aliran energi yang tepat.
Sekarang, justru salah satu dari Delapan Sekte Teratas di seluruh benua—yang dipimpin oleh seorang kultivator tingkat Setengah Dewa—menganggapnya sebagai calon murid yang layak. Kejadian ini terasa begitu tidak nyata, seolah sedang bermimpi indah yang sewaktu-waktu bisa hilang jika ia membuka matanya.
“Jika ini benar-benar mimpi, semoga aku tidak pernah terbangun selamanya,” harapnya dalam hati. Ia sadar betul bahwa kesempatan ini adalah keberuntungan terbesar yang bisa didapatkan oleh siapa pun. Masuk ke Sekte Pedang berarti akses ke teknik tertinggi, sumber energi terbaik, dan perlindungan yang tidak dimiliki oleh klan biasa sekalipun.
“Bagaimana pendapat Anda, Saudara Riu? Apakah Anda mengizinkan putra Anda mengikuti saya?”
Suara Jing Hu kembali terdengar, membuyarkan lamunan panjang Riu Han. Ia pun segera menegakkan tubuhnya, matanya menatap ayahnya dengan pandangan penuh harap dan kekhawatiran—ia takut jika ayahnya menolak tawaran yang luar biasa ini.
Riu Zheng sendiri terdiam sejenak, matanya melirik sekilas ke arah putranya, lalu kembali menatap Jing Hu dengan tatapan yang dalam. Ia tahu betul arti tawaran ini. Sebagai orang tua, ia ingin anaknya tetap berada di dekatnya, namun ia juga sadar bahwa di lingkungan Kota Jiang yang terbatas ini, potensi Riu Han tidak akan pernah bisa berkembang secara maksimal. Jika ia ingin menjadi orang yang benar-benar kuat dan melindungi dirinya sendiri di masa depan, jalan terbaik adalah mengirimnya ke tempat yang memiliki sumber daya dan bimbingan terbaik.
Setelah menarik napas panjang dan menghela napas perlahan, Riu Zheng akhirnya tersenyum dan mengangguk mantap.
“Tuan Jing, jika menurut penilaian Anda ia memang layak dan memiliki kesempatan untuk berkembang di sana, maka saya sebagai ayah tidak berhak melarangnya. Saya mengizinkan Riu Han mengikuti Anda ke Sekte Pedang. Namun, saya hanya memiliki satu permintaan kecil—tolong jaga ia dan berikan bimbingan yang baik agar ia bisa tumbuh menjadi orang yang kuat dan memiliki akhlak yang mulia.”
Mendengar jawaban itu, wajah Jing Hu berseri-seri dengan senyum puas. “Tenang saja, Saudara Riu. Jika ia sudah masuk ke dalam sekte kami, maka ia adalah tanggung jawab kami. Kami akan melatihnya sebaik mungkin agar bakatnya tidak terbuang sia-sia. Saya sendiri berjanji akan mengawasi perkembangannya secara langsung.”
Riu Han yang mendengar persetujuan itu merasa dadanya dipenuhi rasa haru dan semangat yang meluap-luap. Ia melangkah maju sedikit, lalu membungkuk dalam-dalam kepada ayahnya.
“Terima kasih, Ayah! Aku tidak akan mengecewakanmu. Suatu hari nanti aku akan kembali dengan kekuatan yang cukup untuk membanggakan nama keluarga kita dan melindungi semua orang yang kita sayangi,” ucapnya dengan suara yang mantap namun sedikit tergetar karena emosi.
Riu Zheng berdiri dan berjalan mendekat, menepuk pundak putranya dengan lembut namun penuh kekuatan. “Ayah percaya padamu, Nak. Jangan lupa apa yang sudah kau pelajari selama ini: tetap rendah hati, jangan sombong dengan kekuatan yang dimiliki, dan selalu gunakan kemampuan itu untuk kebaikan. Jika suatu saat nanti kau menghadapi kesulitan, ingatlah bahwa rumah ini akan selalu menjadi tempatmu pulang.”
Ling Cun yang menyaksikan suasana itu hanya tersenyum hangat, merasa senang melihat kesempatan baik yang datang kepada anak berbakat ini. “Riu Han, ini adalah langkah besar dalam hidupmu. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Di Sekte Pedang nanti, tantangan yang kau hadapi akan jauh lebih berat daripada di sini, tapi itulah cara terbaik untuk menjadi kuat.”
Jing Hu pun berdiri, meluruskan punggungnya yang tegap, dan menatap Riu Han dengan pandangan yang penuh harapan. “Kalau begitu, persiapkanlah dirimu. Besok pagi kita akan berangkat. Perjalanan menuju wilayah sekte cukup jauh, jadi kita harus segera berangkat agar tiba dengan selamat dan tepat waktu.”
Riu Han mengangguk mantap, matanya bersinar penuh semangat dan tekad yang baru. Ia tahu, hidupnya akan berubah sepenuhnya mulai hari ini, dan perjalanan panjang menuju puncak kekuatan baru saja benar-benar dimulai.
Lanjut Up Thor 💪💪