Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 12
SEORANG AYAH???
Langkah Myra perlahan mulai melambat ketika ia memasuki ruang mewah itu. Memperhatikan dinding warna hitam dan merah yang berpadu elegan. Tepat di dekat pintu masuk— para pelayan berdiri sejajar sembari menunduk memberi hormat pada bos mereka. Silas.
Tentu. Myra tak pernah melihat hal semacam ini sebelumnya. Dan kali pertamanya dia melihat bagaimana seorang pria sekaligus suaminya benar-benar dihormati.
“Selamat datang kembali, Tuan Silas.” saat pelayan berusia 46 tahun bernama Penelope yang memberi hormat sembari tersenyum.
”Hm. Di mana mereka?”
Belum sempat menjawab. Suara tawa seorang anak terdengar mengisi ruangan hening tadi hingga mencuri perhatian Myra yang mengernyit penuh tanya ketika dua anak usia 5 tahun berlari menuruni tangga menuju ke arah Silas dengan senyuman lebar sekaligus rasa sopan dan hormat.
“Selamat datang kembali, Ayah.” sapa seorang gadis kecil berambut sebahu yang tersenyum lebar menatap Silas.
“Kau membawa senjata baru?” tanya anak laki-laki yang berusia sama dengan si gadis kecil tadi.
“Ya. Kael akan membawanya saat dia kembali. Kau harus perlu menunggunya.” kata Silas dengan nada tenang dan masih terdengar tegas.
Kedua anak tadi beralih menatap ke arah Myra yang sejak tadi memperhatikannya. Hingga merasa ditatap, Myra tersenyum tipis meski ada banyak pertanyaan di benaknya.
Gadis kecil itu menatap ke Hana sambil berbisik pelan. “Apa dia pelayan baru?”
Hana tersenyum kecil. “Bukan, Nona. Mulai sekarang dia ibumu.”
Kedua mata perak itu terbuka lebar dan kaget penuh kegembiraan serta ketidakpercayaan. “Benarkah?” ucapnya syok yang membuat Myra tersenyum kecil melihat ekspresi lucu anak itu.
Tak banyak tanya, dia melambaikan tangannya ke arah Myra sehingga Myra membalasnya. Sementara anak laki-laki itu beralih kembali menatap ke Silas. “Kita tidak perlu ibu baru kan.”
“Tapi aku menginginkannya.” balas Silas yang masih terkesan santai.
Ia mengusap kepala anak itu dn berjalan melewatinya diikuti oleh Pikkey dan dua anak buahnya yang lain.
“Antar nyonya Myra ke kamarku.” pinta Silas ke Penelope. “Temani mereka belajar. Mereka harus banyak belajar.” kata Silas ke Hana sebelum akhirnya pria itu benar-benar menghilang dari ruangan tersebut menuju ke ruangan lainnya.
Myra yang hendak menghampiri nya, seketika Penelope langsung berdiri di depannya seolah menghalanginya. “Saya akan mengantar Anda, Nyonya. Mari.”
Tak ingin memaksanya karena dia ingat bagaimana Silas menghabisi pelayan di mansion sebelumnya karena ulahnya. Kini Myra hanya diam.
“Ayo, kita ke ruang belajar.” kata Hana dengan lembut penuh ketegasan ke kedua anak kembar tadi.
Tak mendengarkannya. Gadis kecil itu malah menghampiri Myra dan berdiri di depannya dengan senyuman lebar sementara anak laki-laki tadi hanya menatap diam di samping Hana.
Menatap anak cantik itu, Myra terdiam.
“Kau benar-benar akan menjadi ibuku?” pertanyaan itu penuh harapan dan matanya penuh binar yang membuat Myra menoleh ke Hana.
Dan Hana mengangguk kecil.
Wanita itu kembali menatap dengan senyuman. “Kau mau aku menjadi ibumu?”
Pertanyaan itu seketika membuat Penelope terkejut dan takut sendiri bila ucapan Myra mengundang kemarahan dari Silas, Hana maupun anak itu.
Tapi nyatanya...
“Iya. Kau tidak suka?”
Myra mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kalau begitu datanglah malam ini ke kamarku.”
“Ke kamar ayah?”
“Iya.”
Senyuman lebar tadi hilang sekejap mata saat mendengar itu.
“Tapi... Dia akan marah jika orang lain masuk ke kamarnya.”
“Kenapa dia harus marah?” Myra menatap heran. “Dia akan cepat tua jika marah berlebihan.” Myra tersenyum lebar sehingga anak itu kembali tersenyum lebar mendengar ucapan Myra.
“Ayo, Nona. Kita harus belajar sebelum waktunya habis.” Hana mengulurkan tangannya sehingga gadis itu berlari ke arah Hana dan menggandeng tangan itu.
“Tunggu aku di sana. Aku akan datang ke kamar mu.” katanya.
Myra hanya mengangguk lalu menatap ke anak laki-laki yang hanya dia memperhatikannya tanpa senyuman, melainkan tatapan yang datar tidak seperti adiknya.
“Cute.” gumam Myra menyeringai kecil lalu berjalan bersama Penelope.
Sementara di ruangan pribadi. Silas duduk terdiam usai mendengarkan sesuatu dari Pikkey. Sesuatu yang belum selesai.
“Lalu apa yang mereka inginkan?” tanya Silas dengan nada dingin.
“Mungkin keseluruhan milik Wolfe. Bagaimana pun nyonya Lynda Wolfe masih memiliki darah dengan mereka.” jelas Pikkey.
“Tidak semuanya milik Lynda Wolfe. Aku yang mengembangkannya disaat dia hancur. Katakan kepada mereka, temui aku jika ingin berbincang.” kata Silas yang mencoba tetap tenang.
Ia melangkah pergi ketika Pikkey diam lalu menghela nafas panjang dan bersandar penuh pikiran.
Sementara di luar ruangan. Langkah Silas perlahan mulai terhenti, ia terdiam beberapa detik—mengingat nama Lynda Wolfe... Membuatnya teringat akan ibu angkatnya itu.
Silas berjalan dengan langkah panjang menuju ke salah satu anak buahnya yang biasa di bawa perintah Kael.
“Tuan Silas.”
“Pergilah ke Hamilton County. Pastikan wanita itu masih di sana dan suruh yang lain untuk menjaganya lebih ketat.”
“Saya mengerti, Tuan.” balas anak buahnya sebelum akhirnya Silas beralih ke arah lain.
Ia melewati ruang belajar kedap suara yang luas dan khusus. Langkahnya kembali terhenti tatkala dia melihat lewat jendela— kedua anak yang dia urus itu tengah sibuk belajar, namun bukan belajar menulis melainkan pembelajaran yang harus terus diasah.
Pria itu menatap lekat wajah kecil gadis kecil yang tengah fokus dengan gerakan-gerakan latihan bela dirinya. Sementara si anak laki-laki tengah diajarkan oleh Hana isi-isi pistol.
Tak berselang lama, Silas melangkah pergi dengan angkuh.
Di sisi lain. Myra baru saja selesai mengamati kamar besar milik Silas. Ia kagum karena dia tak pernah merasakan menjadi orang kaya dadakan. Dan sekarang... Dia akan tinggal dan tidur di kamar yang begitu nyaman.
“Jika Anda butuh sesuatu— ”
“Aku belum menyuruhmu pergi, Penelope.” kata Myra yang segera menoleh hingga kepala pelayan itu tersenyum terheran-heran namun mulai panik saat Myra melangkah maju.
“Ada sesuatu yang tidak ku ketahui di sini. Dan kau pasti tahu aku datang kemari bukan karena keinginan ku.” ucap Myra begitu serius sehingga Penelope nampak kebingungan namun masih tetap bersikap tegas.
“Maaf, Nyonya. Saya tidak begitu tahu, saya hanya mengurus para pelayan dan pekerjaan.” ia tersenyum kecil.
Mendengar itu Myra tersenyum. “Ayolah santai saja. Aku sudah sering menonton film-film seperti ini. Dan sekarang aku merasa menjadi peran utamanya!” ujarnya yang membuat Penelope ikut tersenyum.
“Saya mengerti.”
Senyuman Myra hilang dan tatapannya penuh penelitian. “Siapa kedua anak tadi? Dan bagaimana bisa Silas menjadi seorang Don? Aku sangat yakin kalian menutupinya dariku.”
Wanita tua itu menatap datar mata Myra tanpa ragu ataupun takut.
“Terakhir kali seorang pelayan tewas karena kecerobohan Anda. Dan saya masih ingin hidup. Maafkan saya, Nyonya.” ucap Penelope dengan berat hati dia mengatakan itu.
Myra mengerti. Semuanya terjaring. Ia melangkah mundur tanpa memaksa.
“Baiklah. Terima kasih!” ucapnya sehingga pelayan itu pamit pergi.
Tiga detik selang kepergian Penelope. Silas masuk ke kamar segi Myra segera berbalik badan dan menatapnya dengan tertegun.
Ia pikir pria itu akan pergi keluar dan kembali malam ini. Itu sebabnya dia menyuruh anak kecil cantik tadi datang ke kamarnya malam ini. Agar Silas tak bisa menyentuhnya. Setidaknya untuk satu hari ini.