Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Ancaman Nyata
Malam itu, sosok pria berjas hitam yang melambai dari depan rumah tua tidak lagi terasa seperti sekadar penampakan jauh. Josh berjalan pulang dengan langkah cepat, sesekali menoleh ke belakang, memastikan bayangan itu tidak mengikutinya menyusuri jalan yang kini terasa jauh lebih gelap dari biasanya.
Sesampainya di rumah, ia langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, meski jauh di lubuk hatinya ia tahu kunci sederhana itu tidak akan berarti apa-apa. Ia mencoba tidur lebih awal, berharap malam ini berbeda. Namun harapan itu pupus begitu ia mendengar suara benda jatuh keras dari arah dapur di lantai bawah, memecah keheningan rumah yang seharusnya sunyi di jam segitu.
Ia turun dengan hati-hati, jantungnya berdegup kencang di setiap anak tangga yang ia injak. Di dapur, ia mendapati beberapa piring pecah berserakan di lantai, seolah seseorang atau sesuatu baru saja menyapunya dari rak dengan sekali gerakan penuh amarah. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul 02.02, seperti biasa, seperti mengejek.
Ia berdiri terpaku sesaat di ambang pintu dapur, matanya menyapu kekacauan yang tercipta di ruangan yang biasanya rapi itu. Rak piring yang biasanya tersusun sempurna kini setengah kosong, sisa-sisa keramik berserakan hingga ke bawah kulkas, dan salah satu kursi meja makan tergeletak miring seolah baru saja terdorong dengan tenaga besar. Josh memanggil nama ibunya, suaranya bergetar di kesunyian, namun tidak ada jawaban. Panik mulai menjalar di dadanya saat ia berlari ke kamar orang tuanya dan mendapati ibunya tertidur lelap, sama sekali tidak terganggu oleh suara keras yang baru saja terjadi seolah tidur ibunya sengaja dibuat sangat dalam oleh sesuatu yang tidak ingin diganggu.
Ia kembali ke dapur, mengamati pecahan piring dengan waspada, sebelum matanya menangkap sesuatu yang membuat darahnya seolah berhenti mengalir jejak kaki basah yang membentang dari pintu belakang menuju tengah dapur, lalu menghilang begitu saja di tengah ruangan, seperti sosok yang meninggalkannya tiba-tiba lenyap ditelan udara.
Keesokan harinya, ia menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya dengan suara bergetar, tangannya masih sedikit gemetar saat memegang ponsel menunjukkan foto pecahan piring yang sempat ia ambil sebelum membersihkannya diam-diam agar ibunya tidak curiga.
"Ini udah nggak cuma soal penampakan lagi,"
kata Veron, wajahnya pucat mendengar cerita Josh. Ia menggosok kedua lengannya sendiri, seolah kedinginan meski siang itu cukup terik.
"Ini udah mulai fisik. Berbahaya."
Anehnya, sejak semalam Veron sendiri merasa gelisah tanpa sebab, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dadanya yang tidak bisa ia jelaskan perasaan familiar yang selama ini sering ia alami menjelang hal-hal buruk terjadi, meski ia selalu berusaha mengabaikannya sebagai firasat berlebihan.
"Mungkin kita harus berhenti nyelidikin,"
Brandon berkata, suaranya penuh kekhawatiran, tangannya tanpa sadar mengusap tengkuknya yang sejak pagi terasa dingin merinding tanpa sebab jelas, seperti ada seseorang yang terus mengawasinya dari kejauhan.
"Gue serius, ini bisa bahaya beneran."
"Kalau kita berhenti, Josh yang bakal terus jadi sasaran," bantah Gibran. "Kita harus cari tahu apa maunya, gimana caranya ngehentiin ini."
Josh menatap teman-temannya satu per satu, merasa campur aduk antara takut dan lega karena tidak sendirian menghadapi semua ini.
"Gue nggak mau kalian ikut kena bahaya juga." "Kita udah terlanjur basah,"
Veron menjawab tegas, meski suaranya sendiri terdengar tidak sepenuhnya yakin. "Lagian, kita temen lo. Nggak mungkin ninggalin lo sendirian."
Malam berikutnya, meski dengan hati waswas, Josh mencoba tidur lebih awal, berharap tidak akan terjadi apa-apa lagi. Namun harapan itu pupus ketika ia terbangun oleh dorongan kuat yang seolah menariknya dari tempat tidur, membuatnya jatuh ke lantai dengan keras, punggungnya membentur lantai kayu dengan bunyi yang cukup keras hingga membuat napasnya sesaat tercekat.
Ia mendongak, dan untuk pertama kalinya, melihat sosok pria berjas hitam berdiri jelas di sudut kamarnya, wajahnya tersembunyi dalam bayangan pekat meski cahaya lampu tidur menyala terang di dekatnya, seolah cahaya itu sengaja dihindari oleh sosok tersebut.
Josh membeku, tidak mampu bergerak maupun berteriak, seolah tubuhnya dikuasai rasa takut yang melumpuhkan setiap ototnya. Sosok itu tidak bergerak mendekat, hanya berdiri diam, kepalanya sedikit miring seperti sedang mengamatinya dengan penuh perhitungan, seakan menunggu sesuatu.
Dan tepat sebelum Josh kehilangan kesadaran karena rasa takut yang berlebihan, ia merasakan sesuatu yang aneh menjalar di dalam dadanya hangat, kuat, seperti energi yang selama ini tertidur dalam dirinya tiba-tiba terbangun paksa.
Ruangan berdenging pelan. Lampu tidur di sudut kamar meledak kecil dengan percikan bunga api, dan detik berikutnya, sosok itu telah menghilang namun bukan karena mundur, melainkan seolah tertarik masuk ke dalam bayangannya sendiri, seperti sesuatu baru saja menyeretnya pergi dari sana secara paksa.
Ibunya, yang mendengar suara ledakan kecil itu dari kamarnya, sempat mengetuk pintu Josh, bertanya apakah ada yang salah dengan lampu kamarnya. Josh, dengan napas yang masih memburu, hanya menjawab singkat bahwa lampunya konslet, sebuah kebohongan kecil yang terasa jauh lebih mudah diucapkan daripada mencoba menjelaskan apa yang sesungguhnya baru saja terjadi. Setelah memastikan ibunya kembali ke kamarnya sendiri, Josh duduk sendirian di lantai yang dingin, menatap pecahan kaca lampu yang berserakan, mencoba memahami sensasi aneh yang baru saja mengalir dalam tubuhnya sendiri sesuatu yang terasa begitu asing namun juga begitu familiar, seolah bagian dari dirinya yang selama ini tertidur akhirnya mulai terjaga.
...****************...