NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:519
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb32

Sian tak berpaling sedetikpun menatap cantiknya wajah Ryn. Sudah lama sekali Sian merindukan kehadiran Ryn. Hari ini Sian bisa menikmati potret wanita yang masih bersemayam di hatinya.

Ryn sangat bersinar mengenakan seragam khusus rumah sakit. Rambutnya terikat kuncir kuda dengan rapi. Usianya mungkin bertambah namun aura di wajahnya tetap segar.

"Tidak sama sekali pak Lee." Hati kecil Sian meringis mendengar panggilan formal Ryn untuknya.

"Perlukah kami mengadakan pesta penyambutan?" Pertanyaan Sian bagai sendirian menurut sisi Ryn.

"Aku hanya staf biasa, pak Lee terlalu sibuk mengurus hal tidak penting." Balasannya tak kalah pedas bagi Sian. Tapi Ryn tetap menawan meski dalam mode ketus padanya.

"Kau bisa kembali bekerja, aku ingin memeriksa hal lain." Sian takut jika ia semakin lama berada di sana malah lepas kendali menerjang Ryn tanpa belas kasih.

"Baik. Silahkan." Balas Ryn membiarkan Sian keluar ruangan.

Sian berhenti sesaat setelah menutup rapat pintu ruang kerja Ryn. Rasanya masih sama, Sian merindukan semua hal tentang Ryn. Manjanya, pelukan hangatnya, bersama Ryn dunia seolah berhenti berputar. Sian memiliki pegangan ditengah hidupnya yang gonjang-ganjing.

Ryn memejamkan mata, kepalanya berputar memikirkan nasib Jian jika Sian tahu anak mereka masih hidup. Bahwa kandungan Ryn selamat waktu itu.

Kring...

Ditengah lamunan ponsel Ryn berdering. Yifan menghubungi Ryn, mendadak perasaannya tidak enak takut terjadi sesuatu menimpa Jian.

"Bibi ada apa? Jangan membuatku khawatir." Tanya Ryn, suaranya jelas terdengar cemas.

"Tenang Ryn. Jian baik, hanya saja ada seorang nenek mencari keberadaanmu. Aku sudah katakan kau langsung bekerja pagi ini tapi dia malah tidak pergi setelah melihat Jian." Yifan menjelaskan secara rinci rumah mereka kedatangan Sansan. Anehnya Sansan tampak tertarik pada Jian yang menggemaskan dan pintar.

"Bisakah kau mengirim fotonya? Kita baru datang dan dia tiba-tiba tahu tempat tinggalku. Lagi pula aku tidak memiliki kenalan seorang nenek-nenek bi." Ungkap Ryn heran menebak siapa Sansan sebenarnya.

"Ryn apa perlu aku memberitahu Vick?" Tanya Yifan mencari solusi.

"Vick pasti sedang sibuk bi. Begini saja, katakan padanya Jian harus beristirahat agar dia pergi. Jika dia berani macam-macam orang-orang Vick ada di luar rumah." Ryn masih belum bisa menebak siapa yang mengunjungi rumahnya.

"Baik Ryn maaf sudah mengganggu pekerjaanmu. Aku hanya merasa kau perlu tahu." Yifan berkata seblum memutus panggilan telepon.

"Bukan masalah bi, Terima kasih sudah memberi kabar." Iapun kembali bekerja setelah Ryn berusaha mengecek CCTV. Sayangnya ia belum memiliki akses dari Alea. Ryn meyimpan ponselnya di laci meja kerja.

Jam menunjukkan pukul lima sore, Ryn bernafas lega hari pertamanya bekerja berjalan cukup lancar kecuali kedatangan Sian. Ryn berdiri di depan gerbang masuk rumah sakit menunggu taksi lewat. Sebuah Bentley familiar berhenti di hadapannya.

"Masuklah, aku akan mengantarmu." Sian membuka kaca mobil dan mengendarai sendiri mobilnya.

"Tidak perlu, aku sudah memesan taksi." Tolak Ryn bersikap sopan, ia belum siap menghadapi Sian yang berapi-api.

"Masuk atau aku gendong paksa." Tatapan mengintimidasi itu, Ryn selalu suka namun sekarang dia malah takut. Takut Sian marah besar mengetahui keberadaan Jian. Takut Sian mengambil Jian dari hidupnya.

Blam...

Ryn sengaja menutup pintu dengan keras meluapkan kekesalan pada Sian yang malah tersenyum mengejek. Sejak dulu Ryn mudah diancam.

Selama perjalanan keduanya memilih diam. Ryn deg-degan Sian akan bertemu Jian hari itu juga.

"Terima kasih tumpangannya." Ryn bersiap turun kalau saja Sian tidak mencekal lengannya.

"Kenapa kau pergi begitu saja? Kau jahat Zhao Ryn." Sudah lama Sian tidak memanggil nama lengkapnya. Ryn berdesir mendengarnya.

"Maaf, aku memiliki alasan. Kau berhak membenciku." Jawab Ryn tak berani menatap Sian yang sejak tadi memperhatikan wajahnya.

"Kau mengetahui sesuatu. Kau tahu siapa pelakunya bukan?" Dan ya, Ryn sontak menoleh. Ia terkejut Sian bahkan belum menemukan titik terang dalang dari penusukan meski waktu telah berlalu cukup lama.

"Sudah kuduga." Sian menyandarkan tubuhnya ke belakang. Namun tetap menggengam Ryn seolah takut wanita itu pergi lagi.

"Bahkan dihari pertama aku tiba kau dengan mudahnya menemukanku. Bagaimana bisa kau tidak tahu alasanku pergi." Tangan kanan Ryn melepaskan genggaman Sian kemudian membuka pintu dan turun.

Sian tidak langsung pergi. Dia memukul kemudi berkali-kali meluapkan amarah. Tanpa sadar Sian bahkan menitikan air mata. Ryn pasti sangat tersiksa mendapat ancaman dari papanya.

Sementara Ryn luruh di balik pintu. Menangis dalam diam menyesal telah meninggalkan Sian disaat terluka.

"Mama..." Suara Jian muncul dari balik tangga, buru-buru Ryn mengusap air matanya.

"Hai jagoan mama, Jian anak baik." Ryn mendekap erat Jian yang kebingungan melihat sang ibu berjongkok di pintu masuk. Yifan hanya bisa menatap iba, dia mengerti jika Ryn pasti sudah bertemu tuan muda Lee ayah Lee Jian.

"Mama apa bekerja lelah? Mata mama merah." Meski usia Jian baru dua setengah tahun bicaranya terbilang lancar, kosakatanya bertambah dengan cepat.

Ryn bersyukur Jian tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar meski dia lahir lebih awal yaitu diusia kehamilan tiga puluh tiga minggu. Masih terlalu dini, karena umumnya janin siap dilahirkan minimal di usia tiga puluh enam minggu. Sejak awal kandungannya memang lemah dan mengalami berbagai keluhan. Vennie bahkan harus terbang ke Jerman demi mendampingi Ryn melahirkan akibat pecah ketuban dini. Ryn mendapat suntikan perangsang sedangkan janin Jian suntik pematangan paru.

Lee Jian, benih Lee Sian lahir dengan berat badang hanya dua kilo harus diinkubasi selama sebulan sebelum siap menghirup udara bebas tanpa bantuan alat apapun. Untungnya kuliah Ryn memasuki libur semester jadi ia bisa fokus merawat Jian selama di rawat.

Ryn sempat mengalami baby blues, menangis histeris secara tiba-tiba, melamun, mengunci diri di kamar bahkan mencoba meminum obat tidur dalam dosis tinggi. Maka dari itu Zhu Maupun Vennie menghadirkan Yifan untuk membantu Ryn sembuh.

"Tidak Jian. Mama terkena debu tadi. Apa Jian sudah makan siang? Nanti malam mau mama masakan apa sayang?" Ryn menggendong Jian, jika perkembangan kognitif Jian bagus lain halnya dengan pertumbuhan. Jian adalah anak pejuang berat badan ideal. Jadi Ryn selalu memberinya asupan bergizi hanya demi mengejar ketertinggalan.

"Tadi mam Jian habis ma. Masakan nenek Yifan enak. Nanti malam Jian ingin makan di luar boleh ma?" Mendapat pertanyaan dari sang anak membuat Ryn bimbang. Meski ia tahu dari Vick Lee Tak masih di tahan, bukan berarti Jian bisa pergi kemana-mana begitu saja.

"Boleh Jian, nanti biar paman Vick yang antar kita makan." Jawab Ryn menyanggupi, pasalnya Vick juga meminta berkunjung untuk bertemu keponakan kesayangannya.

Usai melakukan persiapan, Ryn dan Jian yang sudah mandi bersiap pergi tinggal menunggu Vick datang. Klason dinyalakan oleh supir Vick agar Ryn segera keluar, mereka memang sengaja langsung pergi tanpa Vick masuk lebih dulu.

Jian dan Yifan sudah duduk di dalam, sedangkan Ryn dan Vick hendak naik namun perhatian mereka teralihkan oleh sorot lampu yang mendekat.

Itu Sian, Ryn menggenggam tali tas di ketiaknya. Ia cukup lega karena Jian sudah berada di mobil sebelum Sian sempat melihatnya.

"Sepertinya kalian semakin dekat. Bisakah aku ikut kalian?" Sian memperhatikan wajah Ryn, dia tahu Ryn sedang dilanda rasa gugup.

"Kau sibuk Sian. Kami makan malam keluarga. Sebaiknya cepet pergi, kau menghalangi jalan." Usir Vick tanpa basa-basi. Diapun heran kenapa Ryn malah tinggal di hunian yang Sian siapkan. Alasannya agar pria itu bebas menemuinya.

"Ada perlu apa? Bukankah bisa dibicarakan di rumah sakit?" Tanya Ryn penasaran Sian sampai rela datang lagi setelah mengantarnya pulang tadi sore.

"Kau hanya perlu ikut aku." Jawab Sian kurang memuaskan Ryn.

"Tidak bisa. Lain kali saja." Lalu Ryn masuk ke kursi sebelah kemudi. Jika sendirian Ryn mungkin berakhir menuruti keinginan Sian tapi sekarang ada Vick jadi ia berani menolak. Sian hanya bisa termenung menyaksikan kepergian mereka.

Mobil yang membawa mereka tiba di depan restoran Michelin. Makanan khas Chinland terkenal enak meski harganya mahal di sana.

Interiornya benar-benar memiliki khas negeri bambu dengan gaya meja bundar. Setelah duduk ke-empatnya sibuk memilih menu yang akan di santap.

"Mama, aku mau choupan isi campur." Suara Jian begitu nyaring, mengundang perhatian beberapa pengunjung lainnya.

"Oke, tapi harus makan sup sawi putih juga. Kau mengerti?" Jian mengangguk antusias, dia tak masalah makan sayur dan Ryn senang.

"Udang rebus dengan kuah malatang, bakpao telur asin dan es sarang bulung walet. Asparagus sup tiga." Vick membacakan pesanan, dan semuanya kesukaan Ryn sejak hamil Jian.

"Xiexie ke, kau masih ingat apa yang ingin kau makan." Ucap Ryn tersenyum simpul.

Hubungan keduanya berkembang menjadi hangat sebagai saudara tiri.

Vick telah meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah ia perbuat pada Ryn. Dan Ryn lega karena Vick akhirnya menemukan calon istri yang baik. Mereka berencana menikah namun wanita Vick belum berani mengenalkannya pada sang kakak yang katanya sangat tegas dan galak.

"Vick?" Seseorang menyapa Vick ditengah suasana makan malam.

"Hai Mei, kukira kau sudah pulang." Vick bangkit untuk memeluk sang kekasih. Ryn tersedak melihat interaksi keduanya.

'Gawat, apa Sian akan menyetujui mereka?'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!