Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Gaji Buta
Kinara menggeleng seolah tak yakin, “Nggak, ini bukan karena mereka iri ke gue. Kalau iri, kenapa harus ke gue? Kenapa nggak ke sekretaris yang udah lama kerja sama Renald juga?” Celetuk Kinara dengan nada setengah bercanda, mencoba menutupi kegelisahannya.
Ucapan itu membuat Gisel menjadi salah tingkah. Ia tersenyum kikuk, mengalihkan pandangan sejenak. Namun ekspresi yang ditampilkannya justru membuat Kinara semakin curiga. Ia menatap teman kerjanya itu lebih serius.
“Sel, lo nggak ada yang lo sembunyiin dari gue, kan?” Selidik Kinara pelan.
Gisel menarik napas panjang, lalu menunduk. “Kinara, maafin gue. Gue nggak bisa bohong sama lo. Nanti gue cerita, ya. Sekarang kita makan dulu.” Ucapannya terdengar seperti bujukan agar suasana tak semakin berat.
Kinara memandang ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Yaudah.” Jawabnya pasrah.
Beberapa gelak tawa terdengar saat Kinara dan Gisel mulai memasuki kantin. Namun di tengah riuh itu, ia masih tetap merasakan ada beberapa pasang mata yang tertuju padanya.
Aroma masakan yang menguar di udara membuat Kinara tak terlalu memedulikan, karena yang terpenting saat ini untuknya ialah mengisi perutnya yang sudah mulai berbunyi.
Suasana semakin ramai dengan obrolan karyawan, sementara antrean panjang mengular di depan etalase makanan.
Hari ini menu makan siang di kantor cukup menggiurkan untuknya, capcay hangat dengan aroma bawang putih, ayam goreng lengkuas yang renyah, bakso sapi berkuah gurih, dan puding manis sebagai pencuci mulut.
Kinara mengambil sambal dalam jumlah cukup banyak, kebiasaan lamanya yang sudah sangat dikenal Gisel.
Gisel hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Ia tahu betul, bagi Kinara, sambal adalah segalanya. Selama ada sambal, makanan apa pun bisa ia lahap dengan penuh selera.
Namun ada satu hal yang selalu membuat Gisel heran: sebanyak apa pun Kinara makan, tubuhnya tetap proporsional. Tak pernah terlihat gemuk atau bahkan kembung.
Kadang, Gisel merasa iri—dan bukan hanya dia, beberapa karyawan perempuan lain pun diam-diam merasakan hal yang sama.
Setelah mengambil makanan dari meja prasmanan, mereka memilih untuk duduk di salah satu meja yang letaknya di sudut ruangan. Dua puluh menit berlalu dengan suara sendok dan garpu yang sesekali diiringi obrolan ringan.
Karena istirahat masih tersisa tiga puluh menit, keduanya memilih pindah ke rooftop kantor. Tempat itu memang disediakan untuk karyawan bersantai. Dari sana, pemandangan gedung-gedung tinggi terlihat jelas.
Kinara menyeruput cappuccino dinginnya sebelum membuka percakapan dengan nada serius. “Sel, jadi apa yang mau lo omongin ke gue?”
Gisel mengangkat wajahnya perlahan, menatap Kinara hati-hati. “Janji ya lo nggak marah dulu. Tapi… sebelum itu, gue mau nanya sesuatu.”
“Yaudah, tanya aja.” Alis Kinara sedikit terangkat.
“Emm… lo ada hubungan ya, sama Pak Renald?” Tanya Gisel pelan, seakan takut salah ucap.
Pertanyaan itu seketika membuat jemari Kinara melemah, gelas minuman di tangannya hampir terlepas. “Hah? Hubungan?”
Bibirnya bergetar sebelum ia cepat-cepat menambahkan, “Ya… enggak lah. Masa bos kita mau sama gue yang cuma kayak remahan rengginang.”
Senyumnya tampak dipaksakan, tawa canggungnya meluncur begitu saja, berusaha menutupi gejolak yang tak ingin ia perlihatkan.
Tapi Gisel bisa membaca perubahan ekspresi sahabatnya. Ia yakin ada yang ditutupi, meski begitu ia memilih untuk tidak mendesak. “Oh gitu ya… yaudah. Berarti kecurigaan mereka salah.”
“Kecurigaan apa?” Tanya Kinara penasaran.
“Ada gosip nyeleneh di luaran sana. Katanya lo itu deket sama bos makanya bisa langsung diangkat jadi sekretaris.”
Ucapan itu membuat Kinara terdiam. Sebelum menjawab, ia meneguk cappuccino dengan gugup mencoba untuk menenangkan diri. “Sel, sumpah nggak ada. Aku sendiri juga nggak tahu kenapa Pak Renald tiba-tiba jadiin aku sekretarisnya.”
Gisel memperhatikan wajah Kinara lekat-lekat, lalu tersenyum kecil. “Yaudah, mungkin ini emang keberuntungan lo kali ya. Lagian, lo bisa tiap hari mandangin wajah tampannya. Enak banget, kan?” Godanya.
"Beruntung apanya. Yang ada tiap hari aku ngebatin gara-gara dia." Namun sayangnya kalimat ini hanya bisa ia telan dalam hatinya sendiri dan Kinara hanya menanggapi dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
“Oh iya, katanya bos lagi di luar negeri semingguan ini, ya?” Gisel melanjutkan kembali kalimatnya.
“Ren… maksud lo, Bos Renald lagi di luar negeri?” Tanya Kinara yang cukup terkejut. Bagaimana mungkin ia yang sekretaris pribadi, justru tidak tahu mengenai hal itu?
Mata Gisel membulat sempurna, “Hah? Jangan bilang lo nggak tau?”
“Eh, bukan gitu. Iya iya, gue tau kok. Cuma pikiran lagi nggak connect aja tadi.” Ujar Kinara mencoba menutupi kebohongannya.
“Huh, kirain beneran nggak tau. Mana mungkin sekretaris nggak tau keberadaan bosnya.” Gisel menggeleng
Kalimat Gisel membuat Kinara mengerucutkan bibirnya. “Gimana mau tau, ninggalin pesan aja nggak.” Gumamnya pelan hampir setengah berbisik.
Percakapan mereka terhenti begitu Kinara melirik jam di pergelangan tangan. Waktu istirahat hampir habis.
“Udah, yuk balik.” Ujar Gisel sambil bangkit, merapikan gelas kertas yang sedari tadi ia genggam.
Kinara mengangguk pelan mengikuti langkah kaki Gisel dari belakang. Mereka pun berpisah di tangga kantor, maklum kini berada di divisi yang berbeda.
•••
Kinara melangkah masuk ke ruang kerja Renald. Pintu ia tutup perlahan, lalu pandangannya jatuh pada meja kerja Renald yang kosong.
Ada rasa ganjil menyelinap, seolah sesuatu hilang dari ruangan itu. Ia menghela napas pelan, "Percuma aku belajar bikin kopi… orangnya aja nggak ada." Gumamnya.
Tersadar dengan apa yang dikatakannya, ia pun menepuk pipinya pelan. “Ah, apa sih yang lo pikirin Kinara!” Gerutunya pada dirinya sendiri.
Saat itu juga, pintu ruangan yang baru saja tertutup diketuk dari luar. “Iya, masuk.” Sahutnya.
Seorang pria paruh baya melangkah masuk. “Ini, Bu. Ada titipan dari Pak Renald untuk Ibu. Kata beliau, biar Ibu tidak bosan di kantor. Jadi saya diminta untuk mengantarkan paket ini.” Pria itu adalah Pak Tio, salah satu sopir kepercayaan Renald.
“Oh iya, Pak. Terima kasih banyak.” Jawab Kinara sambil menerima paket berukuran sedang itu.
“Kalau begitu saya pamit, Bu.”
“Iya, Pak.”
Setelah pintu tertutup, Kinara menatap bingung ke arah paket yang kini sudah berada di tangannya. Ia mengambil cutter, membukanya dengan hati-hati.
Begitu kotak terbuka, matanya langsung membesar. “Apa ini… lego?” Gumamnya.
Di dalamnya, terselip secarik kertas bertuliskan pesan tangan Renald:
“Ini mainan buat kamu, selama saya tinggal seminggu di kantor. Karena saya tidak punya nomor kamu, jadi saya cuma bisa menitipkan pesan lewat ini...”
Mulut Kinara berkedut membaca tulisan itu. “Ya ampun, kerja di sini buat nyusun lego? Kalau karyawan lain tahu bisa-bisa aku dibilang makan gaji buta nanti..." Ia setengah kesal, juga setengah geli setelah membayangkan.
Namun, entah kenapa hatinya terasa sedikit menghangat. Senyum kecil terbit di wajahnya. Tanpa berpikir panjang, ia segera membuka plastik berisi potongan lego, lalu mulai menyusunnya satu per satu di meja kerjanya sendiri.
Perlahan, rasa sepi yang tadi sempat mengganggunya menghilang. Ia asyik dengan mainan itu, bahkan tidak sadar waktu berjalan cepat.
Tanpa terasa, jam kerja usai. Kinara buru-buru membereskan meja. Potongan lego yang belum selesai ia masukkan kembali ke dalam kotak, sementara yang sudah terbentuk ia letakkan rapi di atas meja kerja Renald. Ia menatap hasil susunannya sambil tersenyum puas.
“Lumayan.” Bisiknya.
Dengan hati sedikit ringan, ia bergegas meninggalkan ruangan. Malam ini ia masih punya rencana lain yang menunggu.