NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:37.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Pintu ruangan kerja Regan terbuka, lalu Gani ayahnya—melangkah masuk dan melihat putranya baru saja duduk di kursi kebesarannya. Gani menatap Regan dengan dahi berkerut pelan.

"Baru datang, Gan?" tanya Gani memecah keheningan.

Regan mendongak, lalu mengangguk tipis sembari menyandarkan punggungnya. "Iya, Pah."

Gani menyunggingkan senyum tipis, seolah bisa menebak alasan di balik raut wajah putranya pagi ini. "Papa tebak, kamu baru dari tempatnya Arin, kan?"

Mendengar nama itu disebut, mata Regan sedikit berbinar. Ada rasa lega dan secercah harapan yang sulit ia sembunyikan. "Iya, Pah. Papa tahu? Arin... mungkin dia udah mau mulai nerima aku lagi."

Gani menghentikan langkahnya di depan meja kerja Regan, menaikkan sebelah alisnya heran. "Maksudnya?"

"Tadi sebelum subuh aku ke sana, Pah. Saking lelahnya, aku sampai ketiduran di lantai depan mess-nya," cerita Regan dengan nada penuh antusias. "Begitu Arin bangun dan lihat aku, dia sama sekali nggak bentak aku kaya kemarin. Dia justru suruh aku masuk ke dalam. Malah tadi pagi Arin juga ngebiarin aku buat memakaikan seragam dan mengantar Zayyan ke sekolah."

Gani menatap putranya dalam-dalam, mencoba mencerna cerita itu. Ada kilat kehangatan sekaligus kecemasan di mata pria paruh baya tersebut saat melihat harapan besar mulai tumbuh kembali di dada Regan.

Gani menghela napas panjang, lalu mengambil kursi di hadapan Regan dan duduk. Ia menatap putranya yang tampak begitu bersemangat dengan pandangan berseling skeptis dan sinis.

"Kamu jangan terlalu lugu, Regan," cibir Gani datar. "Kamu itu cuma dimanfaatkan sama Arin."

Raut antusias di wajah Regan mendadak lenyap, berganti kerutan tajam di dahinya. "Maksud Papa apa?"

"Coba kamu pakai logika," lanjut Gani, menyandarkan tubuhnya sembari bersedekah tangan. "Wanita yang bertahun-tahun benci setengah mati sama kamu, mendadak berubah manis cuma dalam semalam? Nyuruh kamu masuk, biarin kamu antar anaknya? Dia tahu kamu itu masih bucin setengah mati sama dia, Gan. Dia manfaatin perasaan kamu!"

"Pah, stop!" potong Regan dengan suara meninggi. Ia mendadak berdiri dari kursinya, mengebrak meja kerja hingga dokumen di atasnya bergetar. Matanya menatap Gani penuh amarah dan ketidakterimaan.

"Jangan pernah Papa bicara seolah-olah tahu betul siapa Arin!" tegas Regan, napasnya naik turun menahan emosi. "Arin itu istriku, Pah! Dia wanita yang baik!"

Gani tertegun sejenak melihat reaksi keras putranya, namun matanya tetap mengunci pandangan Regan.

"Aku kenal betul siapa wanita yang aku nikahi," desis Regan dengan suara bergetar menahan amarah bercampur kepedihan. "Arin bukan orang jahat yang suka manfaatin perasaan orang lain. Kalaupun sikapnya berubah pagi ini, itu bukan karena dia manipulatif, Pah."

Regan mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas meja, menatap ayahnya lurus-lurus tanpa rasa ragu sedikit pun. "Dia cuma seorang ibu yang lagi berusaha melindungi anaknya. Aku yang salah karena bikin hidup dia menderita di masa lalu, tapi jangan pernah Papa sekali pun merendahkan atau menilai Arin seolah dia wanita murahan yang licik!"

"Kalau dia memang wanita baik seperti yang kamu bilang..." Gani melangkah maju, menatap Regan lurus-lurus. "...maksud Papa, justru karena situasi ini, akan jauh lebih baik kalau kamu nggak usah kembali lagi sama Arin, Regan."

Regan terpaku. Bagai tersambar petir di siang bolong, matanya membelalak tak percaya.

"Papa bilang apa?"

"Dengar Papa baik-baik!" tegas Gani, nadanya tak terbantahkan.

"Masa lalu kalian itu sudah terlalu berantakan. Luka yang kamu kasih ke dia, penderitaan yang dia tanggung sendirian, semuanya sudah terlalu dalam. Kalau kamu terus memaksa masuk ke hidupnya sekarang, kamu cuma bakal bikin luka baru dan narik dia ke dalam bahaya yang lebih besar!"

"Pah, aku ini suaminya! Zayyan itu anakku!" potong Regan dengan nada membentak, dadanya naik turun menahan amarah yang hampir meledak.

"Suami yang pernah menelantarkan dia!" tembak Gani telak, membuat Regan bungkam seribu bahasa.

Gani mengikis jarak di antara mereka, menunjuk tepat ke dada Regan. "Kalau kamu memang cinta sama dia, kalau kamu memang mau bertanggung jawab... cara terbaiknya bukan dengan maksain diri kembali jadi suaminya. Lepasin dia, Regan. Biarkan dia tenang. Kamu cukup penuhi kebutuhan Zayyan dan pastikan keselamatan mereka dari jauh tanpa harus mengikat Arin lagi dalam hubungan yang cuma bikin dia trauma!"

"Nggak. Enggak akan pernah, Pah!" desis Regan tajam, matanya memerah menahan gejolak emosi dan kepedihan yang menyayat. Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat.

"Aku udah pernah kehilangan dia sekali karena kebodohanku, dan aku hampir mati karena itu. Aku nggak akan pernah lepasin Arin lagi untuk kedua kalinya. Mau Papa setuju atau enggak, Arin dan Zayyan tetap masa depanku!"

......................

Di saat yang bersamaan, di dalam ruang ganti karyawan restoran tempatnya bekerja, Arin berdiri mematung di depan loker yang terbuka. Tangannya menggenggam ponsel dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih.

Suara di seberang telepon terdengar begitu tenang, namun setiap kata yang diucapkannya menyebarkan rasa dingin yang membekukan darah Arin.

"Pikirkan baik-baik, Arin," suara wanita setengah baya di telepon itu terdengar amat dingin dan berkuasa.

"Kamu sudah melihat sendiri betapa hancurnya hidupmu selama bertahun-tahun ini, bukan? Jangan biarkan anakmu tumbuh di lingkungan yang berbahaya hanya karena ego dan keras kepalamu."

Napas Arin memburu, bibirnya gemetar. "Apa mau Anda sebenarnya...?"

"Sederhana. Pergilah dari kehidupan Regan. Bawa anakmu sejauh mungkin dari kota ini, dari Regan, dan dari keluarga ini," sahut suara itu tanpa ragu.

"Sebutkan berapa nominal yang kamu butuhkan. Rumah, fasilitas, pendidikan terbaik untuk Zayyan di luar negeri, atau uang tunai tanpa batas, aku akan berikan segalanya detik ini juga, asalkan kamu menghilang sepenuhnya."

Arin menggigit bibir bawahnya erat-erat untuk menahan tangis dan amarah yang bergejolak di dadanya.

"Jangan bodoh, Arin," tekan suara di telepon itu lagi, makin mengintimidasi.

"Kamu pikir kehadiran Regan sekarang bisa melindungimu? Justru kedatangan Regan dan keluarganya yang akan membuat hidupmu dan Zayyan makin terancam. Kalau kamu benar-benar menyayangi anakmu... pergilah."

Telepon terputus secara sepihak.

Arin perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Bayangan Zayyan yang tertawa riang saat dipakaikan seragam oleh Regan pagi tadi melintas di benaknya, beradu dengan rasa takut luar biasa akan ancaman terselubung yang baru saja ia dengar.

Ia jatuh terduduk di kursi kayu ruang ganti, mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak.

1
Anonim
ANJING DEMI TUHAN ... INGIN BUNUH REGAN
Anonim
ANJING REGAN GOBLOK... DEMI TUHAN INGIN GUE BUNUH
Anonim
MENDING BUNUH DIRI .... BUNUH DIRI MU RIN... BUNUH ANAKMU JUGA ....
Anonim
GOBLOK SUMPAH DEMI TUHAN INGIN MEMBUNUH SI REGAN
sunaryati jarum
Kamu sebenarnya masih cinta pada Regai,tapi apa yang membuatmu kecewa dan membenci Regan.
sunaryati jarum
Cepat diungkap dong, penyebab mereka berpisah.Kok mereka sudah sah berpisah apa sudah resmi bercerai. Kasihan Regan pria yang begitu setia tidak bersatu dengan orang yang dicintainya
Anonim
ah ternyata masih masokis
Anonim
ah masokis sekali
Anonim
owalah si arin fiks punya penyakit mental
sunaryati jarum
Kenapa menyiksa diri dan lamban mencari penyebab perginya Ari sembilan laludan Regan bilang aku yg salah tapi dia sendiri tidak tahu alasan Arin pergi.
sunaryati jarum
Penyebab perginya Arin demi keselamatan diri dan kandungannya kok belum terungkap
Ucie
kyaknya bapaknya regan deh...🙏
sunaryati jarum
Arin selesaikan dulu masalahmu.dengan Regan, kemarin sudah ketemu ibunya dan ayah Regan.Benarkah sembilan tahun lalu mereka yang mengancam mu atau kemarin yang menelpon kamu untuk menjauhi Regan lagi.Jangan membuat teka- teki yang jawabnya masih samar,pada emak
sunaryati jarum
Kok belum terungkap orang yang menyebabkan Arin.pergi sembilan tahun yang lalu
May Satibi Satibi
terlalu s Arin mh kan bisa ngmng biasa aja🤦
Fitri Yah
sebenarnya siapa sih yg mengancam arin suruh pergi jauh2.... bertanya dgn nada halus???
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Penasaran wanita paruh baya yang mengancam Arin , semoga Ny Farah dan Papa Gani benar - benar tulus menerima Arin dan Zayyan
sunaryati jarum
Akhirnya Arin bersedia ke rumah orang tua Regan ,semoga masalah jadi selesai
sunaryati jarum
Semoga kesalahpahaman Arin pada orang tua Regan terurai,pada ada orang yang suka Regan,ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!