NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Kehidupan Kedua Sang Nyonya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Pelakor / Kelahiran kembali menjadi kuat / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.

Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Para tamu mulai menempati kursi masing-masing setelah pembawa acara mengumumkan dimulainya sesi lelang amal. Lampu ballroom sedikit diredupkan, sementara sorot cahaya panggung menjadi pusat perhatian. Di atas meja panjang berlapis beludru hitam, beberapa barang bernilai tinggi telah dipajang rapi, mulai dari lukisan, jam tangan edisi terbatas, hingga perhiasan mewah yang akan dilelang untuk menggalang dana.

Karin duduk di antara kedua orang tuanya. Tatapannya menyapu satu per satu barang yang dipamerkan di atas panggung. Semula ia hanya menganggap acara itu sama seperti lelang amal pada umumnya.

Namun sesaat kemudian, napasnya mendadak tertahan.

Sepasang anting berlian berbentuk bunga lily dipajang di dalam kotak kaca.

Tatapan Karin membeku. Jantungnya berdegup semakin cepat. Ia mengenali perhiasan itu. Sangat mengenalinya.

Itu adalah hadiah ulang tahunnya yang kedua puluh lima dari kedua orang tuanya.

Belum sempat rasa terkejutnya mereda, sebuah kalung berlian dengan liontin safir biru kembali dibawa naik ke atas panggung.

Kedua tangan Karin perlahan mengepal. Kalung itu juga miliknya. Ingatan dari kehidupan sebelumnya tiba-tiba berkelebat di benaknya.

Dulu, Bu Ratna mengatakan bahwa semua perhiasannya disimpan di brankas keluarga demi alasan keamanan. Karena begitu percaya kepada keluarga suaminya, Karin tidak pernah sekalipun memeriksa keberadaan perhiasan-perhiasan itu.

Kini ia baru sadar. Perhiasan itu tidak pernah disimpan. Melainkan dijual. Dijadikan barang lelang atas nama donasi demi menaikan reputasi Dimas.

Pembawa acara tersenyum ramah kepada seluruh tamu.

"Kalung berlian dan sepasang anting ini merupakan sumbangan dari keluarga Pratama untuk mendukung kegiatan yayasan malam ini."

Tepuk tangan langsung memenuhi ballroom.

Bu Ratna tersenyum bangga. Ia bahkan menganggukkan kepala kepada beberapa tamu yang memujinya karena dianggap begitu dermawan.

Dimas juga ikut tersenyum tipis, seolah tidak terjadi apa-apa.

Tatapan Karin perlahan beralih kepada mereka berdua. Kini ia mengerti. Inilah alasan sebenarnya mengapa mereka tidak pernah berniat mengajaknya datang.

Karena jika ia hadir, maka kebohongan mereka akan langsung terbongkar.

Di samping Karin, Pak Wijaya ikut memperhatikan perhiasan yang berada di atas panggung. Keningnya perlahan berkerut.

"Perhiasan itu..." gumamnya pelan.

Bu Wijaya juga menatap panggung dengan wajah bingung.

"Bukankah itu kalung yang kita hadiahkan untuk Karin?"

Karin menarik napas panjang, lalu menjawab dengan tenang.

"Iya, Bu."

Kedua orang tuanya serentak menoleh.

"Itu memang perhiasanku." lanjut Karin.

Kalimat itu membuat wajah Pak Wijaya langsung berubah dingin.

Tatapannya perlahan beralih ke arah Dimas dan Bu Ratna yang masih duduk dengan wajah tenang, menikmati tepuk tangan para tamu seolah mereka benar-benar sedang menyumbangkan harta milik sendiri.

Rahang Pak Wijaya mengeras. Tatapannya tidak lagi lepas dari kalung dan anting berlian yang berada di atas panggung.

"Itu benar milikmu?" tanyanya pelan.

Karin mengangguk.

"Iya, Ayah. Perhiasan itu hadiah ulang tahunku dari Ayah dan Ibu."

Bu Wijaya menatap putrinya dengan wajah pucat.

"Lalu... bagaimana bisa berada di sana?"

Karin mengembuskan napas pelan.

"Dulu Bu Ratna mengatakan semua perhiasanku akan disimpan di brankas keluarga karena lebih aman. Aku percaya begitu saja."

Pak Wijaya mengepalkan tangannya di bawah meja.

"Berarti selama ini mereka..."

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, suara pembawa acara kembali terdengar.

"Perhiasan ini merupakan donasi dari keluarga Pak Dimas. Mari kita berikan apresiasi atas kemurahan hati mereka."

Tepuk tangan kembali memenuhi ballroom.

Bu Ratna tersenyum bangga sambil menganggukkan kepala kepada para tamu. Dimas juga ikut berdiri sejenak sebagai bentuk penghormatan.

Melihat pemandangan itu, dada Pak Wijaya terasa sesak. Ia tidak marah karena nilai perhiasannya. Ia marah karena barang milik putrinya digunakan untuk membangun citra Dimas tanpa seizin pemiliknya.

"Kurang ajar..." gumamnya lirih.

Karin perlahan menyentuh tangan ayahnya.

"Ayah."

Pak Wijaya menoleh.

"Tenang dulu."

"Bagaimana mungkin Ayah tenang?" bisiknya dengan nada tertahan. "Mereka melelang barang milikmu di depan ratusan orang."

Karin menatap panggung dengan tenang.

"Itulah sebabnya aku meminta Ayah datang malam ini."

Pak Wijaya mengernyit.

"Kamu sudah tahu?"

Karin mengangguk pelan.

"Aku hanya belum memiliki buktinya."

"Tapi sekarang... Semuanya terjadi tepat di depan mata kita."

Pak Wijaya menarik napas panjang, berusaha menahan emosinya.

"Kalau begitu Ayah akan menghentikan lelang ini sekarang juga."

Karin segera menggeleng.

"Jangan, Ayah."

"Kenapa?"

"Karena mereka belum merasa menang."

Pak Wijaya terdiam.

Karin tersenyum tipis.

"Biarkan mereka menikmati beberapa menit lagi."

"Semakin tinggi mereka membanggakan diri malam ini... Semakin keras mereka akan jatuh."

Tatapan Pak Wijaya berubah. Ia mulai memahami maksud putrinya.

Karin bukan lagi gadis yang dulu hanya bisa menangis dan mengalah. Kini putrinya sedang menyusun langkah. Dan langkah pertama baru saja dimulai.

Di atas panggung, pembawa acara kembali mengangkat mikrofon.

"Baik, hadirin sekalian. Lelang untuk kalung berlian ini akan segera dimulai. Penawaran dibuka dari angka lima ratus juta rupiah."

Seluruh tamu mulai mengangkat papan nomor peserta.

Sementara itu, sudut bibir Karin perlahan terangkat.

Tatapannya beralih ke arah Dimas dan Bu Ratna.

"Silakan nikmati tepuk tangan itu untuk sementara," batinnya. "Karena beberapa menit lagi, di depan semua tamu yang kalian banggakan, aku akan mengambil kembali apa yang memang menjadi milikku."

1
Thewie
sikarin kayak jadi bodoh. keluar dr rmh itu kenapa. bawa smua berkas2 penting. ini pake acara belanja belanja . bodoh bodoh
Irma
puas banget 🤣🤣🤣 lanjut Thor semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!