NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"K-kita... kita ditipu oleh Amar!" bisik pria bertato itu kepada anak buahnya. Tanpa membuang waktu lagi, dia berbalik dan memberikan komando darurat. "Bubar! Bubar semua!".

Dalam hitungan menit, massa yang tadinya beringas itu berhamburan pergi meninggalkan gerbang proyek, membiarkan truk-truk molen kembali bergerak masuk ke dalam area pembangunan.

Pada saat yang sama, Pak Joko berlari menghampiri Kirana dari arah belakang dengan wajah lega.

"Ibu Kirana! Mekanik baru saja menemukan bahwa kabel sensor hidrolik pada ekskavator sengaja dicabut secara paksa dari dalam kap mesin. Pelakunya adalah salah satu montir internal yang merupakan orang bentukan Pak Amar. Kami sudah mengamankan pelakunya!".

Kirana menarik napas dalam-dalam, mengembuskan napas lega yang panjang saat ketegangan malam itu akhirnya mencair. Dia berbalik, mendapati Radit yang sedang menatapnya dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kagum dan cinta yang teramat besar.

Radit berjalan mendekat, lalu tanpa memedulikan tatapan para mandor di sekitar mereka, dia menarik Kirana ke dalam pelukan hangatnya di tengah debu proyek malam itu.

"Kamu benar-benar luar biasa, Direktur Kirana," bisik Radit di telinganya, mengecup puncak kepala wanita itu dengan lembut. "Amar Wijaja baru saja menggali kuburannya sendiri malam ini".

Kirana membalas pelukan Radit, senyuman kemenangan kembali terukir di wajahnya.

"Besok pagi di kantor... mari kita berikan surat pemecatan tidak dengan hormat paling resmi dalam sejarah Baskara Group untuknya, Radit".

____

Selasa pagi tiba dengan langit Jakarta yang tertutup kabut tipis karna polusi, sewarna dengan atmosfer di lantai 29 gedung Baskara Group. Berita tentang kegagalan total aksi boikot di Lapangan Zona 3 Cikarang telah mendahului kedatangan jajaran direksi. Di koridor kantor, para staf berjalan dengan langkah lebih senyap dari biasanya. Mereka tahu, jika Senin kemarin adalah hari perkenalan bagi sang COO baru, maka hari Selasa ini akan menjadi hari pembersihan.

Kirana melangkah keluar dari lift eksekutif tepat pukul delapan pagi. Kali ini, pakaiannya jauh lebih santai namun memancarkan otoritas yang dingin. Kemeja putih sutra berkerah tinggi yang dipadukan dengan celana kulot hitam berpotongan pinggang tinggi, high-waisted. Di belakangnya, Alia berjalan cepat sambil memeluk erat tiga map merah tebal, berkas sanksi berat dan bukti digital sabotase lapangan.

"Apakah Amar Wijaja sudah ada di ruangannya?" tanya Kirana tanpa menoleh, langkah kakinya konstan menuju ruang kerja pribadinya.

"Sudah, Ibu Kirana. Pak Amar tiba sejak pukul tujuh pagi. Dari laporan staf divisi regional, beliau tampak mondar-mandir di ruangannya dan sempat memarahi beberapa sekretaris," jawab Alia dengan suara setengah berbisik.

"Bagus. Minta dia ke ruangan saya sekarang juga. Dan hubungi Pak Deni dari Divisi Hukum serta Kepala Keamanan Pusat untuk merapat ke ruangan saya dalam waktu lima menit" perintah Kirana tegas seraya mendorong pintu ruang kerjanya.

Belum sempat Kirana duduk di kursi kebesarannya, pintu ruangannya kembali terbuka. Radit masuk dengan langkah lebar. Pria itu sudah rapi dengan setelan jas hitam formalnya, namun ada gurat kelelahan yang samar di bawah matanya akibat perjalanan malam ke Cikarang. Di tangan kanannya, dia membawa sebuah map berlogo resmi Direksi Utama.

"Aku sengaja menunda rapat dengan investor asing pagi ini demi melihat akhir dari drama ini," kata Radit, dia langsung mengambil tempat duduk di kursi di hadapan meja Kirana, lalu meletakkan map tersebut di atas meja marmer. "Surat pembekuan faksi regional dan penonaktifan hak akses sistem Amar sudah kutandatangani".

Kirana menatap map itu, lalu mendongak menatap Radit dengan senyuman tipis yang sarat akan ketegasan.

"Terima kasih, Radit. Tapi saya ingin Anda membiarkan saya yang memimpin pembicaraan ini. Amar harus tau bahwa keputusan ini keluar dari meja saya, bukan sekadar perlindungan dari CEO".

Radit menaikkan kedua tangannya, tanda menyerah dengan sukarela. Seringai bangga terukir di wajah tampannya.

"Ruangan ini adalah wilayah kekuasaanmu, Direktur Kirana. Aku di sini hanya sebagai saksi legalitas".

___

Tepat pukul delapan lewat lima belas menit, pintu ruangan diketuk dengan kasar. Amar Wijaja melangkah masuk dengan dagu yang sengaja diangkat tinggi, mencoba mempertahankan sisa-sisa keangkuhan patriarkinya. Namun, sorot matanya yang gelisah dan sedikit memerah tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa pria itu tidak tidur semalaman setelah mendengar massanya dibubarkan dalam hitungan menit.

Langkah kaki Amar mendadak melambat saat melihat Radit Baskara juga duduk di dalam ruangan tersebut. Aura superioritasnya seketika goyah.

"Selamat pagi, Pak Radit. Ibu Kirana," Aris berdeham, mencoba menstabilkan suara baritonnya yang agak serak. Dia duduk di kursi kosong di samping Radit tanpa diundang. "Mengenai kejadian di Cikarang semalam... saya baru saja mendapatkan laporannya pagi ini. Benar-benar kesalahpahaman yang disayangkan. Jika saja saya tidak sedang rapat dengan dinas semalam, saya pasti bisa meredam warga dengan cepat menggunakan jalur pribadi saya".

Kirana tidak langsung menjawab. Dia sengaja membiarkan keheningan yang mencekam menguasai ruangan selama beberapa detik, trik psikologis klasik yang sering dia gunakan saat masih menjadi sekretaris utama untuk membuat lawan bicaranya semakin gugup.

Kirana perlahan membuka map merah pertama yang disodorkan Alia tadi.

"Kesalahpahaman, Pak Amar?" Kirana mengulang kata itu dengan nada sedingin es, matanya menatap Amar tanpa berkedip. "Apakah pencabutan paksa kabel sensor hidrolik pada tiga unit ekskavator oleh montir internal bernama Rudi yang merupakan keponakan dari istri Anda sendiri juga merupakan bagian dari kesalahpahaman?"

Wajah Amar Wijaja seketika berubah pucat. Rahangnya mengatup rapat.

"Dan apakah ormas bentukan yang Anda gunakan untuk memeras kas perusahaan selama tiga tahun ini juga bagian dari jalur pribadi yang Anda banggakan?" Kirana menggeser sebuah transkrip digital ke depan Amar. "Ini adalah rekaman pengakuan dari ketua ormas semalam di Polres Cikarang. Beliau menyebutkan dengan sangat detail bahwa aksi boikot semalam diperintahkan langsung oleh Anda melalui panggilan telepon pada pukul dua siang kemaren, tepat setelah rapat evaluasi anggaran kita selesai".

"Ini... ini fitnah! Mereka hanya mencari kambing hitam karena takut ditangkap!" Amar berteriak, suaranya meninggi, refleks berdiri dari kursinya sambil memukul meja kerja Kirana. "Pak Radit! Anda tidak bisa membiarkan mantan sekretaris ini menghancurkan reputasi saya yang sudah belasan tahun membangun koridor timur! Tanpa saya, proyek itu akan terbengkalai!"

Sebelum Kirana sempat membalas, Radit ikut berdiri. Aura intimidasi dari tubuh tegap sang CEO seketika menekan seluruh ruangan. Sorot mata Radit begitu tajam hingga membuat Amar otomatis melangkah mundur dan menelan kembali kata-kata kasarnya.

"Jaga sikapmu di depan Direktur Operasional saya, Amar," ucap Radit, suaranya sangat rendah namun bergetar dengan ancaman yang mematikan. "Kamu mengira posisimu tidak tergantikan? Proyek koridor timur terlambat dua bulan justru karena kamu terlalu sibuk memotong anggaran untuk kepentingan faksi lama Baskoro. Jangan pernah meremehkan ingatan saya mengenai kinerjamu".

Kirana ikut berdiri, mengambil map hitam dari meja dan menyerahkannya langsung ke tangan Amar yang mulai gemetar.

"Berdasarkan Pasal 45 Anggaran Dasar Perusahaan terkait pelanggaran berat, sabotase aset, dan manipulasi dana taktis, bersama ini Baskara Group menyatakan memberhentikan Anda, Amar Wijaja, dari jabatan Kepala Divisi Regional Timur secara tidak hormat," ucap Kirana, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti vonis hakim yang mutlak. "Surat ini berlaku efektif sejak detik ini".

Pintu ruangan terbuka, menampilkan dua petugas keamanan pusat bersama Pak Dani dari Divisi Hukum.

"Pak Amar, silakan ikut kami untuk proses penyerahan aset kantor, perangkat dinas, dan penandatanganan berkas pemeriksaan internal sebelum berkas ini kami teruskan ke pihak kepolisian atas dugaan tindak pidana sabotase korporasi" ujar Pak Dani tegas.

Amar Wijaja menatap surat di tangannya dengan pandangan kosong. Keangkuhannya runtuh sepenuhnya. Belasan tahun kariernya di Baskara Group hancur berantakan hanya dalam waktu dua hari di tangan seorang wanita yang dulunya selalu dia anggap remeh. Tanpa sepatah kata pun lagi, Amar berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan bahu yang merosot layu, dengan dikawal ketat oleh petugas keamanan.

Begitu pintu ruangan kembali tertutup dan keheningan kembali pulih, Kirana mengembuskan napas panjang. Dia bersandar pada tepi meja kerjanya, merasakan sisa-sisa adrenalin pertarungan tadi perlahan menurun.

Radit berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di hadapan Kirana. Dia mengulurkan kedua tangannya, perlahan dia melepaskan kancing blazer zamrud Kirana untuk memberi wanita itu ruang bernapas yang lebih lega, sebuah gestur perhatian kecil yang sangat intim.

"Eksekusi yang sempurna, Nyonya Besi," ucap Radit dengan senyuman hangat, kedua tangannya kini berpindah menangkup pinggang Kirana. "Cara kamu membacakan pasal pemecatan tadi benar-benar membuatku merinding. Aku harus berhati-hati mulai sekarang agar tidak membuatmu marah".

Kirana tertawa kecil, melingkarkan kedua tangannya di leher Radit, menikmati kehangatan pelukan pria itu di tengah dinginnya ruang kantor.

"Kamu tidak perlu khawatir, Pak CEO. Selama kamu tidak memotong anggaran proyekku atau mencoba membuat aturan baru secara sepihak, posisimu aman".

Radit mendekatkan wajahnya, mengecup ujung hidung Kirana dengan gemas.

"Tapi kita punya masalah baru setelah ini, Kirana".

Kirana mengernyitkan dahi, menatap mata Radit dengan waspada.

"Masalah apa lagi? Apakah ada faksi lain yang mencoba bergerak?"

"Bukan," Radit terkekeh, binar usil kembali muncul di matanya. "Dengan dipecatnya Amar, posisi Kepala Divisi Regional Timur sekarang kosong. Dan aku tidak bisa membiarkan Direktur Operasionalku mengurus lapangan sendirian tanpa asisten yang handal. Jadi, aku merekrut seseorang untuk membantumu mulai besok pagi".

"Siapa?"

Radit tersenyum misterius.

"Seseorang yang sangat kamu kenal. Seseorang yang memiliki loyalitas mutlak pada kita berdua sejak hari pertama badai Baskoro dimulai".

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!