Area dewasa❗
Demi menyelamatkan ayah angkatnya yang sakit keras, Zivanna Mahavira terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Zivarra, yang kabur sebelum pernikahannya dengan anak sulung keluarga Sadewantara, Keenan Sadewantara.
Tanpa sepengetahuan Zivanna, Keenan ternyata sudah mengetahui sejak awal bahwa wanita yang menikah dengannya bukanlah Zivarra.
Mereka akan menjalani pernikahan selama enam bulan, sesuai kontrak yang diberikan Keenan di awal pernikahan. Selama itu, Zivanna harus mempertahankan kebohongannya demi keluarga dan ayah angkatnya.
Semakin lama hidup bersama, keduanya justru saling jatuh hati.
Sampai pada bulan kelima, semuanya berubah ketika Zivanna menolak hubungan suami istri dan akhirnya meminta maaf atas kebohongannya.
“Kamu pikir aku baru tahu siapa kamu? Aku sudah tahu sejak awal, Zivanna,” ucap Keenan dengan senyum miring.
Mata Zivanna langsung membesar. “A-apa?”
Keenan mengangkat dagu Zivanna. “Kalau kamu ingin aku maafkan, lakukanlah dengan tubuhmu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil tas Zivanna
Setelah membeli hadiah untuk Keenan di mall, Zivanna langsung pergi ke supermarket untuk membeli berbagai bahan masakan.
Besok, ia akan memasak makanan yang akan disajikan saat perayaan ulang tahun Keenan sesuai permintaan ibu mertuanya tadi pagi.
“Setelah ini Anda mau ke mana lagi, Nyonya?” tanya Victoria setelah mereka selesai membayar di kasir.
“Langsung pulang saja.”
“Kalau boleh tahu, bahan-bahan sebanyak ini untuk apa?” tanya Victoria lagi. Pandangannya tertuju pada tumpukan belanjaan yang kini ia bawa.
Tidak mungkin Victoria membiarkan Zivanna membawa semuanya sendiri. Jika sampai diketahui Keenan, bisa-bisa ia yang dimarahi.
“Oh, ini... Besok kan ulang tahun suamiku. Mama mertua mengundang kami ke rumah untuk merayakannya dan meminta aku memasak,” jelas Zivanna.
Victoria manggut-manggut mengerti. Tanpa sengaja, matanya tertuju pada tas yang dibawa Zivanna. Tas itu tampak sedikit kotor. Bukankah ini tas yang diperintahkan bosnya untuk dipasangi GPS dan alat perekam suara? Namun, kini tas tersebut terlihat sedikit kotor.
“Anda terlihat sangat menyukai tas pemberian Tuan Keenan, Nyonya. Tapi tas itu terlihat sedikit kotor,” ujar Victoria.
“Oh, ini? Iya, kemarin aku sedikit ceroboh. Tasnya jatuh di tanah yang agak basah di halaman belakang rumah. Tapi tidak apa-apa kok, masih bisa dipakai,” jelas Zivanna sambil melihat tasnya.
“Apakah perlu saya bantu membawanya ke Bag Spa untuk dibersihkan? Tas mewah seperti itu sebaiknya dirawat di tempat khusus,” tawar Victoria.
“Tidak perlu, Kak. Ini hanya perlu dibersihkan sedikit dengan tangan. Tapi aku belum bisa membersihkannya sekarang karena akan sibuk,” tolak Zivanna.
Victoria menghela napas pelan. “Kalau begitu, adakah yang bisa saya bantu? Mungkin saya bisa membantu Nyonya memasak,” tawarnya lagi.
Mata Zivanna langsung berbinar. “Kakak bisa memasak?” tanyanya antusias.
Victoria mengangguk. “Saya tidak terlalu buruk dalam hal itu.”
“Wah... Jangan-jangan Kakak sebenarnya koki rahasia atau semacamnya? Bisa bantu aku memasak daging?” tanya Zivanna lagi. Ia senang jika ada yang membantunya memasak.
“Saya hanya pengawal biasa, Nyonya. Saya bisa memasak daging, tapi tidak seterampil Anda,” jawab Victoria.
“Kalau begitu ayo kita pulang,” ajak Zivanna antusias.
Victoria mengangguk. Ia membuka bagasi mobil dan meletakkan seluruh belanjaan di dalamnya. Setelah itu, ia membukakan pintu mobil untuk Zivanna.
Di sisi lain, Keenan ternyata sedang mendengarkan percakapan antara Zivanna dan Victoria melalui perekam suara yang terpasang di dalam tas istrinya.
“Kalau tas itu dicuci terlebih dahulu oleh Zivanna... GPS dan perekam suara itu bisa rusak semua,” gumam Keenan sambil memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut.
Namun setelah dipikir-pikir lagi, apakah Zivanna benar-benar tidak menyadari keberadaan alat-alat itu? Atau selama ini wanita itu hanya berpura-pura tidak tahu bahwa dirinya terus diawasi?
Sialnya, saat melihat Zivanna membereskan pakaian ke dalam koper kemarin, ia tidak terpikir untuk memeriksa rekaman suara tersebut terlebih dulu.
Baru setelah tiba di ruang kerja pagi ini, Keenan membuka rekaman dari hari sebelumnya. Namun suara Zivanna terdengar sangat samar. Yang paling jelas justru suara tangisan wanita itu. Tangisan yang terdengar begitu pilu.
Keenan masih tidak mengerti apa yang membuat Zivanna menangis sedemikian rupa. Dan semakin ia memikirkannya, semakin tidak tenang perasaannya.
Keenan meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu menghubungi Victoria.
“Halo, Victoria. Kalian sudah sampai di rumah?” tanya Keenan setelah panggilan tersambung.
“Sudah, Tuan. Kami baru saja tiba. Ada yang ingin Anda sampaikan?” jawab Victoria.
“Saya membutuhkan bantuanmu.”
“Ya, Tuan. Silakan.”
“Ambil tas Zivanna secara perlahan dan sesegera mungkin. Setelah itu saya akan membelikannya tas yang baru,” perintah Keenan.
Victoria terdiam sejenak. “Nyonya mungkin akan khawatir jika tas itu tiba-tiba hilang. Namun jika Tuan bersikeras, saya akan melakukannya,” ujarnya kemudian.
“Baiklah. Beri tahu saya setelah semuanya selesai.”
“Baik, Tuan.”
Panggilan pun berakhir.
Keenan meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Ia mengembuskan napas panjang. Untuk sesaat pandangannya tertuju ke jendela besar di belakang kursinya. Pikirannya saat ini semua dipenuhi oleh Zivanna.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu membuat Keenan mengalihkan perhatiannya.
“Masuk.”
Arkana membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Pak, rapat bersama divisi software akan dimulai dalam lima belas menit,” lapornya.
Keenan mengangguk. “Siapkan semua yang dibutuhkan untuk rapat,” perintahnya.
Meski kepalanya sedikit pusing dan pikirannya sedang kacau, Keenan tetap harus menghadiri rapat tersebut. Sebagai direktur utama, ia tidak bisa membiarkan urusan pribadinya mengganggu pekerjaan.
“Baik, Pak,” sahut Arkana.
...****************...
Keenan baru tiba di rumah. Ia melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Ke mana Zivanna? Biasanya wanita itu akan menyambutnya begitu mendengar suara mobilnya memasuki halaman.
Saat melewati area dapur, Keenan melihat Zivanna sedang asyik menatap berbagai hidangan di atas meja makan sambil bercanda dengan Victoria. Sejak kapan mereka menjadi akrab?
Keenan berdehem. “Apa yang sedang kalian lakukan?”
Kedua wanita itu langsung menoleh. Zivanna tersenyum lebar, sedangkan Victoria segera menundukkan kepala memberi hormat.
“Mas sudah pulang? Oh, ini... Aku lagi masak sekaligus memilih makanan yang cocok untuk dibawa ke rumah Papi besok malam. Mama sudah memberi tahu kamu, kan, kalau besok malam kita akan ke sana?” tanya Zivanna.
“Hmm... Jangan terlalu menuruti perkataan Mama. Kita bisa membeli makanan di luar saja,” ujar Keenan dengan wajah datar.
Matanya kemudian beralih kepada Victoria. Pria itu memberi isyarat halus dengan tatapan dan gerakan kepala, menyuruh pengawal wanita itu meninggalkan ruangan.
Victoria yang mengerti maksud atasannya langsung mengangguk.
“Oh ya, Nyonya. Saya ada urusan sebentar di luar,” pamitnya buru-buru.
Zivanna menoleh. “Iya, Kak. Makasih ya sudah bantu aku masak.”
“Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu saya permisi.”
Victoria pun pergi meninggalkan pasangan suami istri itu.
“Mas mau dibuatkan teh atau kopi?” tanya Zivanna.
“Kopi saja. Bawakan ke ruang kerja,” jawab Keenan.
Zivanna mengangguk pelan. Ia menatap punggung Keenan yang semakin menjauh dengan perasaan sedih.
ey langit, gak usah ganggu lu ye. Dasar rumput teki. 😩
ada yang bisa mematahkan Lehermu kalau kamu menggoda istrinya