"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 Mbok Ginem!
"Siapa wanita itu, Wir?" tanya wanita tua yang ternyata bernama Mbok Ginem itu dengan nada bingung.
"Namanya Dinda, Mbok. Kasihan, gadis ini tersesat di dalam hutan," jawab Wira apa adanya.
Mbok Ginem terperanjat, lalu beralih menatap Dinda dengan pandangan penuh prihatin. Dinda yang ditatap seperti itu hanya bisa tersenyum kaku sembari menganggukkan kepalanya sopan.
"Walah... nduk, kasihan sekali cah ayu..." ucap Mbok Ginem dengan logat yang terdengar asing namun lembut di telinga Dinda. "Kemari, Nduk," panggil Mbok Ginem ramah.
Dengan perasaan malu-malu, Dinda melangkah mendekat.
"Nama kamu siapa, Nduk?" tanya Mbok Ginem lagi.
"Dinda, Mbok," jawab Dinda dengan suara rendah, berusaha memberikan kesan sopan dan kalem.
"Walah, namanya ayu... Dinda. Kelihatan seperti nama putri raja," puji Mbok Ginem dengan mata berbinar-binar.
Dinda hanya bisa tersenyum kikuk, menyembunyikan rasa bersalah karena sudah membuat Mbok Ginem salah paham dengan penampilannya.
"Sudah, jangan dipikirkan lagi yang berlalu. Malam ini kamu tidur di sini saja, ya..." ucap Mbok Ginem menawarkan tumpangan.
Dinda mengangguk pasrah, tidak punya pilihan lain. Melihat respons Dinda, Mbok Ginem pun tersenyum cerah, merasa senang karena rumah sepinya kedatangan tamu yang cantik.
Mbok Ginem tersenyum hangat menatap Dinda, lalu memberi isyarat agar gadis itu segera naik ke dalam rumah panggung kayu mereka. Namun, langkah kaki Dinda mendadak terpaku di tanah.
Ia terbengong menatap lurus ke depan dengan rahang agak turun. Rumah ini cukup tinggi, dan satu-satunya akses untuk naik adalah sebuah tangga darurat yang hanya terbuat dari kayu-kayu bulat sebesar lengan orang dewasa, lalu diikat menggunakan lilitan tali akar tanaman.
Bagi Dinda yang terbiasa dengan lantai keramik dan eskalator, melihat tangga itu rasanya seperti melihat wahana ekstrem.
"Kenapa tidak naik?" tanya Wira yang menyadari keterpautan Dinda.
"Ah, aku... aku takut," jawab Dinda jujur, meremas tali sling bag-nya. Suaranya terdengar cicit dan matanya menatap tangga itu dengan ngeri.
Wira mengernyitkan dahi. Pria itu menatap Dinda, lalu beralih menatap tangga kayu miliknya. Tak butuh waktu lama bagi Wira untuk paham. Tanpa sepatah kata pun atau menunggu aba-aba, Wira melangkah mendekat, membungkuk sedikit, dan langsung menyendok tubuh kecil Dinda ke dalam gendongan ala bridal style.
"Eh?!" Dinda terpekik pelan.
Wira mulai menapakkan kakinya pada undakan tangga kayu dengan santai. Gerakannya begitu stabil dan kokoh tanpa rasa takut sedikit pun karena sudah terbiasa.
Sementara itu, tubuh Dinda mendadak mengkerut, reflek melingkarkan tangannya ke leher Wira agar tidak jatuh. Dalam jarak sedekat ini, aroma maskulin perpaduan keringat dan hutan dari tubuh Wira langsung menyeruak ke indra penciuman Dinda. Ia mendongak, tanpa sadar terpesona melihat rahang tegas dan wajah tampan Wira dari jarak dekat. Aduh, jantung, tolong kondisikan! batin Dinda menjerit.
Tak terasa, mereka sudah sampai di atas. Wira menurunkan tubuh Dinda dengan sangat perlahan di atas sebuah amben—dipan kayu pendek yang cukup besar.
"Istirahatalah. Aku akan turun ke bawah," ucap Wira datar, lalu berbalik dan pergi keluar begitu saja tanpa menoleh lagi.
Dinda menatap punggung tegap Wira yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Hufff..." Ia mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih maraton. "Sekarang aku harus apa?" gumam Dinda lirih pada kesunyian kamar.
Merasa lelah mental dan fisik, Dinda perlahan merebahkan tubuhnya di amben. Ia memejamkan mata untuk merilekskan pikiran. Namun, anehnya, bukannya tertidur ke alam bawah sadar, Dinda justru mendapati dirinya tiba-tiba berdiri di sebuah pekarangan yang sangat luas.
Tempat itu terlihat seperti sebuah perkebunan rahasia. Ada berbagai macam tanaman sayur dan buah-buahan yang tumbuh subur. Di tengah-tengah kebun, terdapat sebuah mata air kecil yang airnya sangat jernih, dengan asap tipis yang menyelimuti sekelilingnya seperti kabut magis.
"Aku... aku di mana?" tanya Dinda kebingungan.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍