NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengejaran Berdarah dan Lembah Kabut Kematian

​Hutan Darah Besi yang biasanya senyap kini bergemuruh layaknya medan perang. Pepohonan raksasa bertumbangan, semak belukar hancur, dan burung-burung liar terbang panik ke angkasa.

​Serigala Mata Satu memimpin pengejaran dengan niat membunuh yang begitu kental hingga udara di sekitarnya terasa lengket. Tombak bergeriginya memancarkan Qi biru yang menghancurkan segala rintangan di depannya. Di belakangnya, puluhan tentara bayaran elit Kelompok Taring Darah menyebar membentuk jaring raksasa, berusaha memotong jalur pelarian bayangan abu-abu di depan mereka.

​"Cepat! Jangan biarkan dia keluar dari radius pandang!" teriak salah satu kapten tingkat enam.

​Di depan, Lin Tian melesat dengan kecepatan konstan. Matanya setenang permukaan danau beku, sama sekali tidak terpengaruh oleh raungan murka dari ratusan orang yang menginginkan nyawanya. Fisiknya yang telah menyerap esensi Beruang Punggung Besi memberinya stamina yang nyaris tanpa batas. Ia bergerak meliuk di antara dahan dan akar raksasa dengan efisiensi mematikan.

​SYUT! SYUT! SYUT!

​Hujan panah yang dilapisi Qi tajam meluncur dari belakang, menembus dedaunan dan menghujani posisi Lin Tian.

​Tanpa menoleh, Lin Tian memiringkan tubuhnya di udara, membiarkan dua anak panah lewat hanya beberapa inci dari wajahnya. Tangan kirinya melesat, menangkap anak panah ketiga yang mengincar punggungnya, lalu dengan satu putaran tubuh, ia melemparkan panah itu kembali ke arah asalnya dengan kekuatan yang melampaui busur aslinya.

​Jleb! "ARGH!"

​Terdengar jeritan tertahan dari belakang saat anak panah itu menembus tengkorak seorang pemanah tingkat empat yang berlari di barisan terdepan.

​"Jangan serang dari jauh! Kepung dia!" perintah Serigala Mata Satu yang semakin frustrasi. Jarak di antara mereka terus terjaga di angka lima ratus meter. Pemuda berjubah abu-abu itu licin layaknya belut yang dilumuri minyak.

​Dua orang letnan tingkat lima yang memiliki elemen angin berhasil memisahkan diri dari rombongan utama dan mengambil jalan memotong melintasi tebing. Mereka muncul dari balik semak beracun, mencegat tepat di jalur pelarian Lin Tian.

​"Mati kau, Pencuri!" raung keduanya bersamaan, menebaskan pedang ganda mereka yang menciptakan jaring angin setajam silet.

​Lin Tian tidak mengurangi kecepatannya sedikit pun.

​Matanya berkilat dingin. Alih-alih menghindar, energi Qi ungu keemasan meledak di kedua lengannya. Ia menerjang lurus ke arah jaring angin tersebut.

​Trang! Trang!

​Jaring angin tingkat lima itu hancur berkeping-keping saat membentur lengan Lin Tian yang sekeras baja tempaan. Sebelum kedua letnan itu sempat mengubah ekspresi terkejut mereka menjadi ketakutan, kedua tangan Lin Tian telah mencengkeram wajah mereka dari arah berlawanan dan membenturkan kepala keduanya satu sama lain dengan tenaga brutal.

​BAM!

​Suara retakan tengkorak yang hancur terdengar mengerikan. Lin Tian melepaskan cengkeramannya, membiarkan dua mayat tanpa kepala itu jatuh ke tanah, tanpa sedikit pun menghentikan langkah pelariannya.

​Namun, jeda dua detik itu harus dibayar mahal.

​Sebuah gelombang tekanan energi yang menyesakkan napas tiba-tiba mengunci dari udara. Serigala Mata Satu, memanfaatkan momentum tersebut, melompat sejauh seratus meter ke udara dan melemparkan tombak peraknya layaknya kilat biru yang membelah langit.

​"Tembus!" raung sang pemimpin tentara bayaran.

​Tombak tingkat tujuh puncak itu meluncur dengan kecepatan suara, membakar udara di sekitarnya.

​Insting naga Lin Tian membunyikan alarm bahaya maksimal. Jika ia menangkisnya dengan tangan kosong, lengannya pasti akan hancur lebur!

​Dalam sepersekian detik, Lin Tian memutar tubuhnya dan menendang sebatang pohon ek raksasa di sampingnya hingga tumbang. Pohon itu tumbang melintang ke arah lintasan tombak.

​BOOM!

​Tombak itu menghancurkan batang pohon raksasa itu menjadi serbuk kayu dalam sekejap, tak melambat sedikit pun, dan terus meluncur menembus jubah abu-abu Lin Tian, merobek sisi pinggangnya.

​Darah segar menetes ke tanah. Lin Tian terhuyung ringan, namun memanfaatkan daya dorong angin dari tombak itu untuk mempercepat lompatannya menuruni tebing di depannya.

​Saat Serigala Mata Satu mendarat dan menarik kembali tombaknya menggunakan seutas benang Qi, Lin Tian telah melompat ke dasar lembah yang tertutup oleh kabut tebal berwarna hijau keunguan.

​Serigala Mata Satu menghentikan langkahnya secara mendadak di bibir tebing, mengangkat tangannya untuk menghentikan pasukan di belakangnya. Wajahnya yang beringas berubah kaku.

​"Lembah Miasma Kematian..." gumam kapten tingkat enam yang baru saja tiba di sebelah bosnya, menelan ludah dengan susah payah. "Bos, tempat itu... bahkan binatang buas tingkat lima pun akan meleleh menjadi tulang jika menghirup kabutnya lebih dari sepuluh menit. Bocah itu bunuh diri!"

​Serigala Mata Satu menatap ke dalam lembah berkabut tempat siluet Lin Tian baru saja menghilang. Giginya bergemeretak menahan amarah. Miasma di lembah ini terbentuk dari ribuan racun tumbuhan dan bangkai purba. Tanpa penawar tingkat tinggi, masuk ke sana sama saja dengan mencari mati.

​"Dia belum tentu mati secepat itu jika dia punya penawar. Kelilingi lembah ini!" raung Serigala Mata Satu dengan mata menyala-nyala. "Blokade semua jalur keluar! Jika dia keluar, potong kakinya. Jika dia mati di dalam, tunggu sampai kabut racun menipis bulan depan, dan aku sendiri yang akan masuk untuk mengambil tulang dan kantong spasialnya! Teratai Api Berdarahku tidak boleh lenyap!"

​Sementara itu, di dalam Lembah Miasma Kematian.

​Lin Tian mendarat dengan keras di tanah berlumut yang licin. Udara di sini sangat pekat, berbau busuk, dan langsung membakar rongga pernapasan saat dihirup. Jubah abu-abunya mulai mendesis dan berlubang karena korosi racun yang melayang di udara.

​Ia memegangi sisi pinggangnya yang terus mengalirkan darah. Serangan dari kultivator tingkat tujuh puncak benar-benar di luar akal sehat. Sisa energi Qi biru dari Serigala Mata Satu tertinggal di lukanya, mencegah darahnya membeku.

​Melihat kulit lengannya yang mulai membiru karena racun miasma yang masuk melalui pori-porinya, Lin Tian tidak panik. Ia segera duduk bersila di ceruk batu besar yang sedikit terlindungi.

​Siluet naga di dadanya menyala terang, lebih terang dari sebelumnya.

​"Seni Pemurnian Tulang Naga Astral!" batin Lin Tian memerintah.

​Seketika, aliran Qi ungu keemasan meluap dari meridiannya, menutupi seluruh tubuhnya seperti kepompong bercahaya. Begitu racun hijau keunguan mencoba masuk, Qi naga itu dengan kejam menggilingnya, memurnikannya, dan mengubahnya menjadi setetes air yang tak berbahaya. Garis keturunan naga purba ini menolak segala bentuk racun di bawah tingkat dewa!

​Setelah racun di tubuhnya dinetralkan, Lin Tian mengeluarkan kantong spasialnya dan mengambil Teratai Api Berdarah yang masih memancarkan hawa panas luar biasa.

​"Tidak ada waktu lagi," gumam Lin Tian. "Jika aku keluar sekarang, aku akan dibantai. Jika aku berdiam diri di sini, Serigala Mata Satu akan menungguku selamanya."

​Tanpa keraguan sedikit pun, ia memetik tiga kelopak teratai yang secerah darah itu dan memasukkannya langsung ke dalam mulutnya.

​BOOM!

​Begitu kelopak itu tertelan, Lin Tian merasa seolah ia baru saja menelan matahari hidup-hidup. Ledakan energi elemen api yang sangat murni dan masif meledak di dalam perutnya, menyapu ke seluruh meridiannya seperti lahar gunung berapi yang mengamuk.

​Darah di dalam tubuhnya seketika mendidih. Urat-urat di leher dan lengannya menonjol hitam kebiruan, nyaris pecah karena tekanan energi yang terlampau besar.

​Rasa sakit yang ribuan kali lipat lebih menyiksa dari penempaan angin di tebing sekte menyerangnya. Ini adalah Bunga Teratai tingkat menengah yang seharusnya hanya dikonsumsi sedikit demi sedikit oleh kultivator ranah Mortal tingkat delapan atau sembilan!

​Lin Tian memuntahkan seteguk darah hitam, namun matanya memancarkan kegilaan seorang kaisar lalim. Naga hitam di dalam kesadarannya mengaum ganas, melebarkan rahangnya, dan mulai menelan energi api liar itu secara brutal.

​"Kau pikir kau bisa membakarku?!" raung Lin Tian di dalam hati, memutar Seni Pemurnian Tulang Naga Astral hingga melampaui batas putarannya. "Tunduk padaku! Menjadi fondasiku! Hancurkan dinding tingkat empat!"

​Malam turun menyelimuti Hutan Darah Besi. Di luar lembah, ratusan tentara bayaran berjaga dengan mata waspada.

1
Samadi Kelana
Lanjutkan ...
yos helmi
😍😍
yos helmi
ntuk semua pembaca .. mari kita bersatu.. author yg up nya satu dua bab.. jgn beri like.. komen.. dll.. cukup baca aj.. biar mampus tu author .. 🤣🤣🤣
Gege
gaasss 100k kata diluncurkan saja jangan disimpen Thor...🤭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!