Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.
Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.
Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.
Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.
Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 28
Riven terkekeh rendah, sebuah tawa maskulin yang terdengar begitu renyah di telinga Angie. Pria itu akhirnya berguling ke samping, membawa tubuh mungil Angie ikut serta dalam dekapannya sehingga gadis itu kini berbaring di atas dadanya. Riven menarik selimut mereka tinggi-tinggi hingga sebatas bahu, mengurung mereka berdua dalam kehangatan yang intim.
“Aku tidak berbohong soal bergerak pelan, sayang,”goda Riven, jemarinya kembali bermain pasif di punggung mulus Angie, memberikan usapan-usapan menenangkan untuk merelaksasi otot-otot gadis itu yang sempat tegang.
Angie menyandarkan dagunya di dada bidang Riven, menatap Riven dengan binar mata yang mulai meredup karena kantuk yang luar biasa kembali menyerang. Rasa lelah yang teramat sangat setelah melewati malam yang panjang dan pagi yang intim ini akhirnya benar-benar menguras seluruh energinya.
“Aku ingin tidur lagi…” gumam Angie, matanya perlahan terpejam sepenuhnya saat rasa nyaman dari dekapan Riven dan pijitan Riven mulai membuainya.
Riven tersenyum tipis, mengecup puncak kepala Angie dengan penuh kelembutan yang protektif.
“Hmm… Tidurlah. Aku akan menjagamu.”
Kali ini, Riven benar-benar membiarkan gadisnya beristirahat. Ia mempererat pelukannya, dan memijit pelan punggung Angie.
Namun, sebelum Angie benar-benar terlelap dalam buaian rasa kantuknya, keheningan pagi itu tiba-tiba pecah oleh sebuah suara digital yang familier dari arah pintu depan lantai bawah.
“Akses diterima. Selamat datang, Elena.” Suara robotik dari sistem keamanan biometrik apartmen terdengar samar namun jelas, menggema hingga ke lorong depan kamar mereka. Suara itu di atur sendiri oleh Elena, sang adik memang menyukai hal-hal seperti itu.
Mendengar nama adiknya disebut oleh sistem tersebut, mata Riven seketika terbuka lebar. Kantuk dan sisa-sisa kehangatan di wajahnya lenyap dalam sekejap, digantikan oleh kepanikan yang jarang sekali melanda pria sedingin dirinya. Ia melirik Angie yang juga sedikit terperanjat, lalu melihat ke sekeliling kamar yang masih berantakan dengan pakaian yang berserakan di lantai.
“Sial,” umpat Riven rendah.
“Kenapa dia datang jam segini.” Kata Riven lagi.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Riven melonjak dari ranjang. Menarik risletingnya. Gerakannya begitu cepat. Dadanya yang bidang bahkan masih terekspos.
“Tetap di tempat tidur dan tutup dirimu dengan selimut, Angie.” perintah Riven dengan suara berbisik namun tegas sambil setengah berlari menuju pintu kamar.
Tepat saat Riven memutar handle kamar dari dalam dan membuka pintu selebar celah tubuhnya, langkah kaki yang riang terdengar semakin dekat di ujung lorong.
“My musang… Kau di rumah, kan? Oakley menghubungiku, katanya kau tidak berangkat bekerja? Apa kau sedang merajuk?”
“Elena, berhenti di situ,” potong Riven cepat. Ia melangkah keluar dari kamar dan langsung menutup pintu rapat-rapat di belakang punggungnya, bersandar pada daun pintu tebal itu seolah sedang menahan serangan musuh, mencegah sang adik mengambil satu langkah pun mendekati area pribadinya.
Riven melebarkan posisinya, menutup akses pintu sepenuhnya. “Kenapa tidak menekan bel atau mengetuk pintu dulu?” tanyanya dengan nada ketus yang dipaksakan.
Elena, yang sudah terbiasa keluar masuk ke apartemen kakaknya, justru berkacak pinggang dan menatap Riven dengan dahi berkerut heran.
“Kenapa harus? Menekan bel? Mengetuk? Kau gila? Apa kau sedang marah? Atau sakit my musang? Aku kan terbiasa keluar masuk apartemenmu sebebasnya. Lagipula, selama kau di Jepang kemarin, aku malah pesta di sini bersama teman-temanku. Kau tidak pernah mempermasalahkannya?”
Mendengar itu, Riven mendadak canggung dan menelan ludahnya.
“Sial, benar. Memang tidak ada aturan mengetuk pintu sebelumnya, dan Elena memang bebas berkeliaran di apartemen ini selama ini.” Batinnya.
Sadar argumennya lemah, Riven hanya bisa memasang wajah sedingin es untuk menutupi salah tingkahnya.
“Minggir, aku mau ambil sesuatu di kamar,” cetus Elena, mencoba melangkah maju.
Riven tidak bergerak, tubuh tegapnya tetap mengunci pintu. “Ambil apa?”
“Ada barangku yang tertinggal!”
“Barang apa?” kejar Riven, menginterogasi.
“Ya ada! Kau tidak perlu tahu,” balas Elena mulai kesal karena dihalangi.
“Beli lagi saja yang baru!” titah Riven pendek.
Kedua mata Elena langsung membulat sempurna, binar licik mulai muncul di tatapannya. “Kau mau memberiku uang untuk beli baru?”
“Baiklah, butuh berapa?” tanya Riven cepat, ingin masalah ini segera selesai.
“10 juta…” jawab Elena dengan senyum tanpa dosa.
Riven memgerutkan dahinya. “Perampok. Tunggu di sini dan jangan berani-berani masuk! Kalau kau melangkah masuk ke kamar ini, aku tidak akan pernah memberimu uang lagi seumur hidupmu!" ancam Riven mutlak.
Elena langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, mundur satu langkah. “Baiklah, baiklah! Takut sekali. Memangnya kau habis melakukan sesuatu di dalam, atau kau sedang menyembunyikan perempuan, ya? Hati-hati jika itu perempuan, ayah akan membunuhmu. Aku tidak ingin kehilangan panrik uangku. Kau dengar kan? Jika memang ada perempuan, jangan sampai ayah tahu. Kau paham kan my musang?” goda Elena, menyelidiki ekspresi kakaknya.
“Bukan urusanmu.”
Riven memutar tubuhnya, membuka pintu sedikit lalu menyelinap masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang, ia mendapati Angie yang sedang duduk tegang sembari memeluk selimut tebalnya erat-erat, wajahnya merona merah karena panik.
Riven memberikan tatapan menenangkan pada Angie sejenak, dan menyentuh lembut pipi Angie, lalu menyambar ponselnya di atas tempat tidur.
Jemarinya bergerak cepat mengetik beberapa angka di layar perbankannya sebelum kembali melangkah keluar kamar.
Saat ponsel Riven tergeletak di atas kasur, Angie melirik, dan memutar ponsel tersebut menggunakan ujung telunjuknya, lalu melihat saldo yang ada di sana.
Angie mengerutkan kening, menghitung jumlah digit nol di belakang koma yang seolah tak habis-habis. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Di kepalanya, ia mencoba mengeja nominal tersebut.
“Miliar? Triliun? Atau lebih dari itu?” Kata Angie lirih. Saking banyaknya, angka-angka itu buram di matanya.
Sedang di luar kamar.
“Sudah ku-transfer,” ujar Riven datar begitu kembali ke hadapan adiknya.
Elena memeriksa ponselnya, dan matanya langsung berbinar senang. “Aaahh, senangnya punya kakak kaya raya!” serunya kegirangan.
Namun, sebelum Elena sempat berbalik pergi, Riven kembali bersuara dengan nada serius. “Mulai hari ini, aku akan menghapus akses sidik jarimu dari sistem biometrik apartmen. Sekarang aku butuh privasi agar kau tidak bisa lagi keluar masuk sembarangan.”
Elena memutar bola matanya, meski tidak terlalu ambil pusing karena kantongnya baru saja tebal. “Ya, terserah kau saja. Memangnya hari ini kau libur? Oakley mencarimu.”
“Tidak. Nanti siang aku ada rapat penting,” jawab Riven, melipat kedua tangannya di dada.
“Baiklah, kalau begitu nikmati ‘privasimu’ itu... Hahaha!” Elena tertawa penuh arti, lalu berbalik dan berjalan santai menuju pintu keluar apartemen, meninggalkan Riven yang akhirnya bisa bernapas lega di lorong kamar.
Bersambung
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor