Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Kota Kelahiran, Pagi Hari
Mobil tua Arka berhenti di depan gedung pengadilan. Catnya sudah pudar, tapi papan nama "Pengadilan Negeri" itu masih sama seperti lima tahun lalu—tempat terakhir mereka berdua berdiri dengan status suami istri, sebelum tanda tangan bercerai memisahkan semuanya.
Liana turun pelan. Tangannya menggenggam erat jari Arka.
"Nggak nyangka kita balik ke sini lagi," gumamnya.
Arka mengangguk. "Dulu kita ke sini buat ngakhiri. Sekarang, buat mulai lagi."
Mereka nggak bawa pengacara. Nggak ada keluarga yang ikut campur. Cuma mereka berdua, dan satu berkas permohonan rujuk yang sudah disiapkan semalam.
Di Indonesia, rujuk setelah cerai talak bisa diajukan langsung ke Pengadilan Agama kalau masa iddah belum habis. Tapi karena sudah lewat 5 tahun, mereka harus menikah ulang secara resmi. Jadi pagi ini, tujuannya cuma satu: mendaftarkan ulang pernikahan mereka.
Di ruang pendaftaran, petugasnya heran lihat mereka.
"Udah pernah cerai ya? Sekarang mau nikah lagi sama orang yang sama?" tanya petugas itu sambil stempel berkas.
Liana cuma senyum kecil. "Iya, Pak. Kali ini nggak ada yang ngatur."
Prosesnya nggak lama. Sidang singkat, saksi dari teman lama Arka, dan penandatanganan buku nikah.
Nggak ada pesta. Nggak ada undangan 500 orang.
Cuma ada dua cincin polos yang Arka belikan semalam, dan kata "sah" dari penghulu yang menggema di ruangan kecil itu.
Keluar dari pengadilan, matahari sudah tinggi.
Arka berhenti di tangga, menoleh ke Liana.
"Lima tahun lalu kita turun dari tangga ini sebagai orang asing. Sekarang... kita naik lagi sebagai suami istri."
Liana menatap cincin di jarinya. Sederhana. Tapi rasanya lebih berat dari cincin 24 karat dulu.
Karena kali ini, nggak ada kontrak 500 juta. Nggak ada Paman Hendra. Nggak ada mertua yang ikut campur.
Yang ada cuma mereka, dan janji buat nggak mengulang kesalahan yang sama.
"Arka," kata Liana pelan.
"Iya?"
"Mulai sekarang, kita nulis ceritanya sendiri ya. Nggak ada yang nyetir kecuali kita berdua."
Arka menarik Liana ke dalam pelukan singkat di tengah tangga pengadilan.
"Siap, Bu Arka."
Sesudah pulang dari kantor Agama. Akan menjadi Awal yg baru Bagi Arka dan liana.
Hari pertama setelah menikah ulang, nggak ada pesta, nggak ada tamu.
Cuma ada kontrakan kecil Arka di pinggir kota, bau cat baru, dan dua koper yang isinya baju Liana.
Mereka bangun pagi bersama. Nggak ada alarm yang ribut, cuma suara motor lewat dan suara Arka yang masak telur gosong di dapur.
Liana keluar kamar sambil ketawa kecil. “Kamu masih nggak bisa bedain gula sama garam ya?”
Arka nyengir. “Dulu kamu yang masak. Sekarang giliran aku belajar.”
Nggak ada mertua yang ngetok pintu jam 7 pagi buat ngatur sarapan.
Nggak ada telepon dari Paman Hendra yang minta tanda tangan.
Nggak ada kontrak 500 juta yang ngegantung di atas kepala mereka.
Yang ada cuma mereka berdua, dan keputusan buat jalan pelan-pelan.
Hari-hari mereka diisi hal-hal sederhana.
Pagi antar Liana buka warung kopi kecil yang dia buka lagi bareng Rara lewat video call.
Siang Arka beres-beres bengkel motornya yang baru buka lagi.
Malamnya mereka duduk di balkon sempit, makan mie instan, ngobrolin rencana bodoh kayak “nanti kalau ada rezeki, kita beli rumah kecil aja, yang ada halaman buat nanam jahe.”
Kadang malam-malam Liana masih kebangun.
Bukan karena mimpi buruk tentang sidang atau Hendra.
Tapi karena dia takut ini cuma mimpi.
Setiap kali itu terjadi, Arka selalu ada di sampingnya, genggam tangannya pelan.
“Aku nggak kemana-mana, Lia. Kita udah janji, kan? Kali ini kita yang nentuin jalan.”
Mereka belajar lagi jadi suami istri.
Belajar minta maaf duluan.
Belajar dengerin tanpa nyalahin.
Belajar kalau rumah tangga itu bukan soal harta, tapi soal dua orang yang milih buat tetap tinggal waktu keadaan nggak enak.
Lima tahun lalu mereka gagal karena terlalu banyak suara luar.
Sekarang, mereka cuma punya satu aturan: kalau mau ngomong, ngomongnya ke pasangan, bukan ke orang lain.
Dan di rumah kecil itu, di antara bau kopi, oli motor, dan tawa kecil yang malu-malu,
Arka dan Liana mulai nulis ulang kata “keluarga” dengan cara mereka sendiri.
Bersambung..
Mohon maaf Bila ceritax tidak sesuai alur kk, Autor masih Pemula🙏😌🥰🤗