Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ipar Bukan Saudara**
Pukul 11.00 malam. Hujan rintik -rintik Ara & Aya udah tidur. Arbil kamarnya masih menyala. Pak Arya baru selesai sholat Isya, Sedangkan Bailla lagi ngelapin meja rias. Suasananya canggung abis kejadian sore tadi.
Pak Arya narik napas panjang, ngelirik Bailla yang diem dari tadi. Tangannya masih pegang lap, tapi diem di satu titik.
"Dek..." Suaranya pelan. Dia duduk di pinggir ranjang, sambil nepuk kasur, kode nyuruh Bailla duduk. "Sini dulu."
Bailla nurut. Duduk, tapi matanya ke bawah. Tangannya ngremes ujung daster.
"Kenapa, Om?" Jawabnya datar. Hambar. Gak kayak biasanya manggil "mas" dengan manja.
Pak Arya ngerasa ditonjok. Dia pegang tangan Bailla yang dingin. "Kamu masih kepikiran Lastri ya?"
Bailla ketawa kecil, pait. "Keliatan banget ya, Ma? Maaf... aku gak bisa jadi malaikat kayak tadi sore." Matanya udah kaca-kaca tapi ditahan. "Aku manusia, Mas. Dibilang 'ibu tiri' di depan anak-anak, dibilang masih muda, dikira temennya Arbil... Sakit, Mas."
Pak Arya genggam tangannya makin erat. "Mas tau dek. Tadi mas liat semua. Dan Mas minta maaf, ya Dek. Harusnya mas lebih tegas dari awal.
Bailla gak jawab, tapi matanya langsung berkaca-kaca. "Mas... dia itu ipar Mas kan? Kok beraninya kayak gitu ke aku? Ngomong 'ibu tiri' di depan anak-anak... nyindir aku masih muda..." Suaranya bergetar . "Aku ngerasa kayak maling di rumah sendiri, Mas !."
"Iya dia adiknya Sarah, Dan dari dulu dia emang paling deket sama almarhumah. Waktu Sarah masih ada, semua keputusan rumah tangga aja Sarah seringnya nanya Lastri dulu." Pak Arya senyum pahit. "Dia ngerasa, dia yang paling tau apa yang terbaik buat Sarah. Dan sekarang... buat anak-anak Sarah."
Bailla kaget "Jadi selama ini... Mbak Sarah juga pernah digituin sama adiknya sendiri?"
"Pernah. Sarah pernah cerita sambil nangis. Dibilang 'Kak, ngapain nikah sama Arya, dia kan tukang bangunan. Kamu pantesnya dapet PNS'. Padahal waktu itu Mas lagi berjuang bangun CV sendiri." Pak Arya genggam tangan Bailla makin kenceng. "Waktu itu Mas telpon Lastri. Mas bilang: 'Las, ini rumah tangga gue. Lu adek ipar gue, bukan istri gue. Jangan ngatur.' Semenjak itu dia ngambek, ngilang selama 5 tahun ke Kalimantan."
Bailla melongo "Pantesan... berani banget dia tadi, ya Mas Ternyata emang dari dulu mulutnya gitu."
*Pak Arya:* "Dia sayang sama Arbil, Ara, Aya. Tapi sayangnya posesif, Bu. Dia nganggep anak-anak saya itu kayak anak dia juga. Karena dia gak nikah-nikah, gak punya anak. Jadi dia ngerasa berhak." Pak Arya natap Bailla. "Makanya dia gak suka liat ada 'perempuan lain' yang ngurus keponakannya. Apalagi lebih muda."
Bailla nunduk. "Aku takut, Mas. Tadi aku liat Arbil... tatapannya ke Tante Lastri kayak nemu mamanya lagi. Gimana kalau Arbil lebih nurut sama tantenya daripada sama aku? Aku kan orang luar, Pa..."
Pak Arya langsung rangkul Bailla. Narik ke dadanya. "Denger ya, Bailla. Kamu bukan orang luar. Kamu istri sah Mas. Kamu yang ada di KK. Kamu yang tiap malem mijitin kaki saya. Kamu yang ngurusin anak-anak kalau sakit. Lastri? Dia ipar. Dateng cuma numpang nyinyir, terus pergi."
Bailla nangis di kaos Pak Arya. "Tapi Mas... dia ngomong soal anak... soal foto almarhumah diganti... aku belum siap, Mas. Aku takut gak bisa gantiin Mbak Sarah..."
"Siapa yang nyuruh kamu gantiin Sarah, sayang?" Dia angkat dagu Bailla, maksa Bailla natap matanya. "Mas gak nikah lagi buat cari pengganti. Mas nikah lagi karena saya capek sendiri. saya butuh temen. Anak-anak butuh temen curhat. Dan itu kamu. Bailla. Bukan Sarah jilid 2."
"Terus kita harus gimana sama Tante Lastri, Mas? Dia kan adik ipar... gak enak lho kalau musuhan..."
Mata Pak Arya langsung nyala. Nada suaranya berubah, tegas, dalem. *Pak Arya:* "Ipar bukan berarti bisa nginjek kepala keluarga orang, bu. Besok pagi, Saya akan telfon dia biar dia milih Kalau mau dateng ke sini sebagai Tante yang baik buat keponakan, Mas terima. Tapi kalau dateng buat jadi kompor, buat ngadu domba anak sama ibu tirinya... Mas gak segan-segan putus hubungan. Ipar-ipar juga."
Bailla kaget liat sisi galak Pak Arya. Tapi hatinya anget. "Mas serius?"
"Serius. Di rumah ini cuma ada satu ratu, dan itu kamu. Bukan almarhumah, bukan adiknya almarhumah. Kamu. Istri Pak Arya. Titik." Dia kecup kening Bailla kasar. "Jadi jangan jadi malaikat lagi. Kalau sakit, bilang sakit. Kalau marah, bilang marah. Mas yang pasang badan."
Bailla akhirnya ketawa kecil di tengah tangis. "Ih, Sugar Dady ku galaknya..."
"Harus galak. Kalau enggak, istri Mas dibully ipar sendiri." Dia selimutin Bailla. "Udah, bobo. Perang sama Lastri urusan besok. Malem ini urusan kita mas boleh kan peluk kamu.?" Tanya Arya serius.
Bailla nyender di bahu Arya. "Janji ya, Mas... jangan biarin aku sendirian lawan dia..."
"Ia Mas Janji. Dunia kiamat juga Mas tetep di depan kamu, Dek."
Hujan di luar makin deres. Tapi di dalam kamar, udah gak dingin lagi Cuma ada suara hujan & detak jantung dua orang yang lagi sama-sama belajar jadi "rumah" satu sama lain.
Quote: "Ipar Bukan Berarti Bisa Nginjek-Nginjek Kepala Keluarga Orang"