Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Hantu dari Masa Lalu dan Sarapan Pagi yang Terasa Hambar
Sinar matahari pagi Kota Bandung jatuh dengan lembut menerobos sela-sela rimbunnya dedaunan pohon beringin raksasa yang berdiri kokoh di tengah taman kampus. Embun masih menyisakan jejak tipis di ujung-ujung rumput hijau, memberikan hawa sejuk yang menyegarkan. Pagi itu, seperti sebuah rutinitas tak tertulis yang telah berjalan selama tiga semester, taman kampus yang dipenuhi kursi-kursi beton melingkar selalu menjadi markas besar bagi Alan, Ardi, Randi, dan tentu saja, Rahmi.
Suasana di meja beton melingkar itu sudah riuh sejak pukul setengah delapan pagi. Ardi, yang entah kenapa selalu memiliki ruang tak terbatas di perutnya, sedang asyik menyantap sebungkus nasi kuning lengkap dengan irisan telur dadar dan sambal yang melimpah. Pemuda itu mengunyah dengan rakus, seolah takut nasi kuningnya akan menguap jika tidak segera ditelan.
Di sebelahnya, Randi tidak kalah sibuk. Ia menunduk dalam-dalam menatap layar ponselnya yang diposisikan horizontal. Jari-jempolnya menari-nari liar di atas layar, diiringi rentetan umpatan kasar yang ditujukan kepada rekan satu timnya dalam gim daring.
"Maju woi, Tank bodoh! Ah elah, main apaan lu mundur mulu kayak undur-undur! Cover gue kampret, malah farming di hutan! Report nih anak, sumpah report!" teriak Randi emosi, sama sekali tidak memedulikan tatapan aneh dari beberapa mahasiswa tingkat awal yang berjalan melewati meja mereka.
Di tengah keriuhan dua sahabat absurdnya itu, Alan duduk dengan tenang. Tangannya bertumpu pada lutut, punggungnya sedikit membungkuk. Alih-alih terganggu oleh teriakan Randi atau bunyi kunyahan Ardi, pandangan Alan justru terkunci lurus ke arah kantin kecil yang berada di seberang taman. Lebih tepatnya, ia menatap punggung mungil berbalut kemeja flanel kebesaran milik Rahmi. Gadis itu sedang mengantre di depan gerobak bubur ayam langganan mereka.
Dari kejauhan, Alan bisa melihat Rahmi mengulurkan dua lembar uang ribuan, lalu menunjuk ke arah mangkuk. 'Gak berubah,' batin Alan, sebuah senyum amat tipis—nyaris tak kasatmata—terukir di bibirnya. Ia melihat Rahmi memesan satu porsi bubur untuk dirinya sendiri, dan tanpa Alan sadari, sebuah mangkuk plastik kedua juga tengah disiapkan oleh si abang tukang bubur, khusus dipesan Rahmi dengan instruksi detail: 'Gak pakai kacang kedelai, kaldu ayamnya dibanyakin, sambalnya setengah sendok teh aja.' Instruksi yang sangat spesifik, karena itu adalah pesanan mutlak kesukaan Alan. Gadis itu menghafal detail terkecil dari kebiasaan makan Alan melebihi Alan sendiri.
Setelah beberapa menit, Rahmi berbalik badan. Ia berjalan menyeberangi taman dengan hati-hati, membawa nampan plastik merah berisi dua mangkuk bubur ayam yang asapnya masih mengepul hangat. Wajah cantiknya terlihat sedikit ditekuk, mungkin kepanasan, namun saat matanya tak sengaja berserobok dengan tatapan Alan dari kejauhan, ada kilatan lega di matanya. Kejadian semalam, di mana ia menangis sejadi-jadinya di dalam mobil Pak Hasan, seolah ia kubur dalam-dalam. Di depan Alan, Rahmi selalu memastikan dirinya adalah sahabat yang ceria dan bisa diandalkan.
Rahmi tiba di meja beton itu. Ia meletakkan nampan tersebut di tengah meja. Satu mangkuk ia tarik untuk dirinya, dan satu mangkuk lagi, lengkap dengan sendok bebek plastik, ia dorong perlahan ke tepat di hadapan Alan.
Alan tertegun sejenak. Matanya menatap mangkuk bubur yang diracik persis seperti seleranya itu, lalu mendongak menatap Rahmi yang kini sudah duduk menyilang di hadapannya.
"Makan nih bubur," ucap Rahmi ketus, meski nada suaranya terdengar lembut dan dipenuhi perhatian yang tak bisa disembunyikan. "Jangan kebanyakan bengong aja muka lu dari tadi. Kesambet penunggu pohon beringin ntar lu."
Alan tersentak pelan dari lamunannya. Harga dirinya sebagai pemuda dingin sedikit terusik, ia mendengus pelan. "Bengong dari Hongkong!" balas Alan cepat. "Dari tadi gue nungguin elu, lama banget ngantre bubur doang kayak ngantre sembako."
Rahmi mencibir pelan, mengaduk buburnya asal-asalan. "Yee, dibilangin abangnya lagi sibuk. Lagian ya, untung gue inisiatif beliin lu."
Alan menatap mangkuk itu lagi. Perasaan hangat menyelinap di dadanya. Perhatian kecil seperti ini yang selalu membuat beban di pundak Alan terasa sedikit lebih ringan. "Tapi... makasih, Mi. Kebetulan gue emang belum sarapan dari kosan."
Mendengar itu, Rahmi menghentikan adukannya. Ia menatap Alan dengan tatapan setengah mengomel khas seorang ibu, sebuah tatapan yang sering ia berikan setiap kali menyangkut kesehatan pemuda keras kepala ini. "Iya lah, gue tahu! Tiap hari juga lu mah kagak pernah sarapan, Lan. Usus lu lama-lama isinya cuma angin doang. Udah tahu lambung sering perih, masih aja bandel. Makanya kalau gue ke kantin tuh sekalian ngintil, biar sekalian gue pesenin."
Alan tidak bisa membalas omelan itu. Ia hanya terkekeh pelan dan menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia kehabisan kata-kata, merasa bersalah sekaligus bersyukur karena Rahmi selalu mengingat hal-hal yang bahkan sering ia abaikan demi berhemat. Alan pun meraih sendok, bersiap menyuap bubur penuh kasih sayang itu ke dalam mulutnya.
Namun, belum sempat bubur hangat itu menyentuh lidah Alan, dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar. Udara pagi yang sejuk mendadak terasa pekat, dan angin seakan enggan berembus.
Dari arah lorong koridor utama yang menghubungkan gedung fakultas dengan taman, sesosok perempuan muncul. Langkahnya anggun, auranya cerah, memancarkan pesona yang membuat beberapa kepala mahasiswa pria tak sadar menoleh mengikuti pergerakannya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, bergoyang pelan seirama dengan langkahnya.
Ia adalah Bunga.
Bunga melangkah keluar dari koridor. Matanya menyapu ke sekeliling taman, mencari-cari bangku kosong, hingga tatapannya tak sengaja bertabrakan dengan sosok pemuda berjaket denim pudar yang duduk di meja beton. Bunga berdiri mematung. Matanya melebar tak percaya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.
Ketika ia yakin bahwa pemuda itu adalah orang yang ia kenal, wajah Bunga seketika berbinar terang. Senyum manis mekar di bibirnya. Tanpa ragu, ia berlari kecil, meninggalkan teman-teman jurusannya di belakang, melangkah lurus membelah taman menuju meja Alan.
"Lan!"
Suara lembut, melengking ceria, dan dipenuhi antusiasme itu memecah keriuhan meja. Randi menghentikan umpatannya, jempolnya membeku di atas layar ponsel hingga karakternya mati terbunuh di dalam gim. Ardi tersedak nasi kuningnya dan buru-buru meraih botol air mineral. Sementara Rahmi... sendok di tangannya terlepas, jatuh kembali ke dalam mangkuk dengan bunyi 'klak' yang sumbang.
Alan, yang sendoknya sudah berada di depan mulut, mematung. Matanya melebar saat melihat sosok gadis di depannya. Gadis dari sore kemarin. Gadis yang menyita seluruh atensinya hingga menenggelamkan logika warasnya.
Bunga tiba di depan meja mereka, napasnya sedikit terengah karena berlari, membuat wajahnya merona merah alami yang justru menambah kecantikannya. Matanya hanya tertuju pada Alan, mengabaikan eksistensi tiga orang lainnya di meja itu.
"Lan!" sapa Bunga lagi, nada suaranya terdengar sangat akrab, jauh dari kesan orang asing. "Astaga, kamu kuliah di sini juga? Kok aku baru lihat kamu ya dari kemarin-kemarin? Kamu ambil fakultas mana?"
Pertanyaan beruntun itu meluncur begitu saja. Alan yang biasanya tenang, dingin, bermulut tajam, dan memiliki refleks otak setajam silet, kini terlihat seperti orang bodoh. Sendok bebek yang ia pegang diturunkannya perlahan. Tangan pemuda yang terbiasa mengangkat galon dan karung kopi itu kini terlihat sedikit gemetar. Jantung Alan berdebar kencang, memompa darah ke wajahnya hingga telinganya memerah.
Ia terlalu terkejut. Kejutan ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Bunga, primadona sekolahnya dulu, sosok yang selalu ia pandangi dari jauh, kini berdiri di depannya, menyapanya lebih dulu, dan menatapnya dengan binar mata yang seolah mencari keberadaannya.
Alan hanya terdiam mematung. Bibirnya sedikit terbuka, namun tidak ada satu patah kata pun yang keluar. Tatapannya terkunci pada senyum Bunga.
Melihat reaksi Alan yang membisu, Bunga memiringkan kepalanya sedikit, menatap Alan dengan raut kebingungan yang menggemaskan. "Lan? Kok diam aja? Kamu lupa ya sama aku?"
Teguran lembut itu akhirnya menarik Alan kembali ke bumi. Ia gelagapan. Wajah dinginnya runtuh seketika, digantikan oleh kepanikan dan salah tingkah yang luar biasa kentara—sebuah ekspresi yang selama tiga semester ini tidak pernah sekalipun disaksikan oleh Ardi, Randi, apalagi Rahmi.
"Eh.., iya..," jawab Alan dengan suara yang gugup, terbata-bata, nyaris seperti mahasiswa baru yang sedang diinterogasi seniornya. Ia buru-buru membetulkan kerah jaketnya yang sebenarnya sudah rapi. "Aku... aku di Fakultas Ekonomi, Nga. Udah... udah masuk semester tiga."
Mendengar itu, Bunga menepuk kedua tangannya dengan gembira, matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Wah! Beneran? Aku di Manajemen, Lan! Ya ampun, dunia sempit banget ya. Gedung kita kan seberangan doang, kok bisa ya kita gak pernah papasan sama sekali dari semester satu?"
Sementara Alan dan Bunga tenggelam dalam reuni kecil mereka yang penuh kejutan manis, ada satu dunia lain yang sedang hancur lebur tanpa suara di meja yang sama.
Rahmi terdiam. Mulutnya terbungkam rapat. Ia menatap nanar ke arah Alan, lalu beralih menatap Bunga bergantian. Dadanya mendadak terasa sesak, seolah ada tangan tak kasatmata yang meremas paru-parunya dengan sangat kuat. Udara pagi yang sejuk tiba-tiba berubah menjadi gas beracun yang mencekik tenggorokannya. Nafasnya tertahan.
Otak Rahmi bekerja keras memproses apa yang baru saja terjadi. Bunga memanggil Alan dengan sebutan "Lan". Tidak ada kecanggungan. Tidak ada jarak. Bahkan bahasa yang mereka gunakan adalah "aku-kamu", sebuah pilihan kata ganti yang terasa sangat intim, kontras dengan "gue-lu" yang selalu Alan gunakan kepada Rahmi selama ini.
Gadis dengan kemeja flanel itu menundukkan pandangannya, menatap kosong ke arah mangkuk bubur yang baru saja ia racik dengan susah payah. Bubur itu kini terlihat seperti adukan lumpur yang memuakkan. Kepalan tangannya di atas paha memutih saking kuatnya ia menekan emosi.
'Bunga kenal sama Alan?' jerit batin Rahmi, suaranya menggema di dalam kepalanya yang terasa mau pecah. 'Kenapa Alan gak pernah cerita sama sekali ke gue kalau mereka saling kenal? Sejak kapan? Apa hubungan mereka sebenarnya? Kenapa... kenapa mata Alan berbinar seperti itu saat melihatnya?'
Pertanyaan-pertanyaan itu berdengung seperti ribuan lebah di telinga Rahmi, menyiksa batinnya yang belum sepenuhnya pulih dari luka semalam.
Seolah menyadari bahwa ia tidak sendirian bersama Alan, Bunga akhirnya menoleh ke arah tiga orang lainnya yang duduk di meja melingkar itu. Dengan sikap ramah yang luar biasa natural, tanpa kesan sombong sedikit pun, Bunga tersenyum manis ke arah Ardi, Randi, dan terakhir, Rahmi.
"Eh, maaf ya aku heboh sendiri," ucap Bunga dengan nada bersalah yang dibuat sehalus mungkin. Ia kemudian menyodorkan tangan kanannya yang lentik ke arah Ardi yang kebetulan duduk paling dekat dengannya. "Hai, salam kenal. Aku Bunga dari Fakultas Manajemen."
Ardi yang masih syok karena mendadak didatangi bidadari kampus dengan cepat mengelap tangannya yang berminyak ke celana jeans-nya, lalu menjabat tangan Bunga dengan senyum lebar. "A.. Ardi! Fakultas Ekonomi juga, temen sejatinya si Alan!"
Bunga terkekeh, lalu beralih ke Randi. "Aku Bunga."
"Randi, neng Bunga. Main Mobile Legends gak? Kapan-kapan mabar lah kita," goda Randi dengan tingkat kepercayaan diri yang tak tahu malu.
"Boleh, nanti ya," balas Bunga ramah, lalu terakhir, ia mengulurkan tangannya ke arah Rahmi. Rahmi mengangkat kepalanya dengan lambat. Memaksakan otot-otot wajahnya untuk bekerja, menarik ujung-ujung bibirnya menjadi sebuah senyum artifisial yang terasa menyakitkan. Ia menyambut uluran tangan itu. Tangan Bunga terasa begitu halus, lembut, dan wangi. Sangat kontras dengan tangannya yang sering ikut membantu mengangkat kardus barang di kafe Bang Hendri demi bisa berdekatan dengan Alan.
"Rahmi," jawab Rahmi singkat, suaranya terdengar sedikit parau, seakan tertahan di pangkal tenggorokan.
"Salam kenal ya, Rahmi," ucap Bunga hangat.
Setelah perkenalan singkat itu, Bunga kembali menatap Alan. Ardi, yang menyadari situasi dan memiliki inisiatif (atau mungkin sekadar ingin mencari muka di depan gadis cantik), segera mengangkat piring nasi kuningnya dan menggeser posisi duduknya mendekati Randi, menyisakan ruang yang cukup lebar tepat di sebelah Alan.
"Duduk sini aja, Nga, ngobrolnya, pegel ntar berdiri terus. Mumpung masih pagi, kelas lu jam berapa emang?" tawar Ardi sambil menepuk ruang kosong di bangku beton tersebut.
"Eh, makasih ya. Boleh deh sebentar," balas Bunga.
Dengan anggun, Bunga duduk di ruang yang diberikan Ardi. Kini, ia berada persis di samping Alan. Jarak bahu mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Aroma parfum Bunga yang berbau floral dan musk seketika menggeser wangi kaldu ayam dari mangkuk bubur, menginvasi indra penciuman semua orang di meja itu.
Alan menelan ludah. Tubuhnya kaku seperti tiang listrik. Ia tidak berani menoleh sepenuhnya, hanya melirik Bunga dari sudut matanya. Rahmi yang duduk tepat di seberang mereka berdua harus menelan pil pahit. Pemandangan di depannya terlihat begitu sempurna. Pemuda tampan beralis tebal yang selama ini ia puja secara rahasia, kini bersanding berdampingan dengan gadis cantik bak putri keraton. Mereka terlihat sangat serasi. Keserasian yang menghancurkan hati Rahmi berkeping-keping.
"Udah lama ya, Lan," ucap Bunga, memulai kembali percakapan eksklusif mereka, menatap profil samping wajah Alan dengan pandangan melembut. "Sejak lulus SMA, kita baru ketemu lagi sekarang. Padahal satu kampus, tapi baru dikasih jalannya hari ini."
Alan meremas kedua tangannya yang berkeringat dingin di bawah meja. Tembok pertahanan yang ia bangun dari kerasnya kehidupan, rontok seketika hanya dengan mendengar nada lembut itu. "I.. iya, Nga," jawab Alan lagi-lagi sangat pendek, otaknya yang biasa cepat menghitung ratusan entri jurnal akuntansi kini lumpuh total tak bisa merangkai kata.
Bunga tersenyum tipis. Ia jelas menyadari kegugupan Alan. Alih-alih merasa risi, Bunga justru merasa itu menggemaskan. Pemuda yang dulu di sekolah terkenal dengan aura tidak tersentuh dan selalu menghabiskan waktu di perpustakaan atau bekerja paruh waktu, kini terlihat kehilangan taringnya di hadapannya.
"Kok cuma 'iya' aja sih dari tadi?" goda Bunga dengan nada setengah merajuk yang dibuat-buat, memiringkan kepalanya mencari tatapan mata Alan. "Kamu gak kangen sama teman lama? Boleh minta nomor WhatsApp kamu, Lan? Biar kita gampang kalau mau janjian atau sekadar ngobrol lagi kayak dulu. Nomor aku yang lama udah hangus soalnya."
Jantung Rahmi berhenti berdetak selama satu detik. Matanya membulat sempurna. Kemarin sore, Alan yang dengan susah payah berusaha mencari tahu nomor Bunga dari Bang Hendri. Pagi ini, semesta seolah memanjakan Alan dengan menyerahkan Bunga sendiri untuk meminta nomornya secara langsung. Sungguh ironi yang kejam.
Alan tidak menunggu dua kali. Dengan gerakan yang jauh lebih cepat dari biasanya, ia merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan ponsel layarnya yang retak itu. Ia tidak peduli bahwa ponselnya terlihat sangat murah dan lusuh di depan Bunga yang memakai smartphone keluaran terbaru. Ia segera menyebutkan deretan dua belas angka nomornya dengan suara yang sedikit bergetar karena antusias.
Bunga mengetik nomor itu di layar ponselnya dengan cepat. Beberapa detik kemudian, ponsel Alan bergetar satu kali di genggamannya. Sebuah notifikasi pesan masuk.
"Nah, udah masuk kan? Udah aku 'p' ya barusan," ucap Bunga sambil menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan chat room mereka. Senyumnya semakin mengembang. "Jangan lupa di-save nomor aku ya, Lan. Awas kalau sampai lupa!"
"Pasti... pasti aku simpan, Nga," jawab Alan mantap, matanya tak bisa lepas dari layar ponselnya, menatap huruf 'P' itu seolah itu adalah ayat suci turun dari langit.
Bunga melihat jam tangan kecil melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Aduh, udah mau jam delapan nih. Aku ada kuis Statistik pagi ini. Aku ke kelas dulu ya, semuanya!"
Bunga berdiri dari duduknya, merapikan roknya sedikit. Ia menatap Alan sekali lagi, memberikan senyuman paling mematikan yang ia miliki hari itu. "Aku duluan ya, Lan. Nanti kita lanjut ngobrol di WhatsApp, oke?"
Bunga melambaikan tangannya ke arah Alan, Rahmi, Ardi, dan Randi secara bergantian, lalu berlari kecil menjauhi meja tersebut menuju gedung fakultasnya, meninggalkan jejak parfum floral yang masih tertinggal pekat di udara.
Begitu punggung Bunga menghilang di tikungan koridor, keheningan canggung menyelimuti meja beton itu. Tak ada yang bersuara selama beberapa detik. Bahkan Randi yang biasanya tidak bisa diam pun ternganga menatap kepergian Bunga, disusul tatapan menyelidik ke arah Alan.
Di seberang meja, Rahmi menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rambutnya jatuh menutupi sisi wajahnya, menyembunyikan mata cokelatnya yang kini sudah berkaca-kaca menahan cairan panas yang mendesak ingin keluar. Tangannya mencengkeram lututnya kuat-kuat di bawah meja, berusaha menyalurkan rasa sakit yang mengiris-iris ulu hatinya.
'Ternyata mereka satu sekolah saat SMA,' batin Rahmi menjerit tertahan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. 'Pantas saja... pantas Bunga bertingkah seperti sudah kenal lama dan sangat akrab dengan Alan. Pantas saja tatapan Alan siang itu begitu berbeda. Mereka punya sejarah. Mereka punya kenangan yang tidak akan pernah bisa gue sentuh, sehebat apapun gue berusaha di masa sekarang.'
Rahmi menggigit bagian dalam pipinya hingga terasa anyir darah. Ia merasa dirinya begitu konyol. Selama satu setengah tahun, ia mengira ia adalah perempuan yang paling dekat dengan Alan. Ia mengira dengan berada di sisi pemuda itu setiap hari, mengurus makanannya, mendengarkan keluh kesahnya tentang keluarga, ia telah memenangkan hati Alan. Nyatanya, ia hanyalah figuran dalam kisah hidup Alan yang pemeran utamanya baru saja kembali naik ke panggung.
"Gila..." gumam Ardi memecah kesunyian, matanya masih menatap ke arah koridor yang kosong. Ia lalu menoleh ke Alan dengan wajah tak percaya. "Em, pantes gue heran si Bunga, primadona kampus dari semester satu yang nolak banyak senior tajir itu bisa kenal sama lu, Lan. Ternyata lu berdua satu sekolah pas SMA. Kenapa lu gak pernah cerita, kampret?!"
Randi menimpali tak kalah antusias, ia meletakkan ponselnya, lupa sepenuhnya pada game-nya yang terabaikan. Ia memukul meja dengan penuh semangat. "Iya, gila lu, Lan! Rahasia negara lu simpen rapi bener! Yang bikin gue makin takjub, kemarin sore di kafe lu nanya-nanya nomornya ke Bang Hendri dengan muka melas kayak orang putus asa. Eh, sekarang pagi-pagi, si Bunganya sendiri yang datang nyamperin lu minta nomor duluan! Ini sih namanya rezeki nomplok anak soleh, pelet lu manjur bener, Lan!"
Rahmi hanya terdiam membisu mendengarkan ocehan kedua sahabatnya. Ia menatap Alan dari balik poninya. Pria itu kini sedang memandangi layar ponselnya dengan senyum-senyum kecil yang tidak bisa disembunyikan. Wajah dingin, datar, dan keras yang selalu Alan tunjukkan kepada semua wanita di kampus ini, termasuk Rahmi, kini mencair sempurna. Alan yang galak, Alan yang rasional, menguap begitu saja. Pemuda di hadapannya sekarang terlihat seperti bukan Alan yang ia kenal.
Melihat Alan yang salah tingkah dan tersipu malu membalas chat Bunga, dada Rahmi serasa ditusuk ribuan belati kecil yang diputar perlahan. Sakit. Begitu menyakitkan hingga ia ingin memuntahkan isi perutnya saat itu juga. Cinta itu buta, namun realita memiliki cara yang sangat kejam untuk mengembalikan penglihatan seseorang.
Alan, yang masih senyum-senyum sendiri, akhirnya menyimpan ponselnya ke dalam saku dengan hati-hati seolah benda retak itu adalah berlian murni. Ia menatap Ardi dan Randi, mencoba mengatur kembali ekspresi wajahnya agar terlihat biasa, meski rona merah di telinganya tidak bisa berbohong.
"Lebay lu berdua," elak Alan, namun nada suaranya sama sekali tidak terdengar marah seperti biasanya. "Iya, waktu dulu gue emang satu sekolah sama dia di SMA. Cuman beda kelas aja. Dia anak IPA, gue anak IPS."
Alan menerawang jauh ke masa lalunya, tanpa menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya sedang menyayat hati satu-satunya gadis yang selama ini menjadi tameng hidupnya di kampus ini.
"Dia dulu emang jadi sorotan banget di sekolah," lanjut Alan, suaranya melembut, dipenuhi nostalgia yang mengawang. "Banyak banget kakak kelas, kapten basket, sampai anak geng motor yang ngincer dia. Gue mah sadar diri aja, gue cuma anak beasiswa yang ke sekolah naik angkot, mana berani gue deketin. Tapi ya gitu... gue sama Bunga sering ngobrol sih kalau pas jam istirahat di perpustakaan atau pas nunggu angkot di depan sekolah."
Alan terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus. "Kita cuman sebatas temen biasa aja yang berbeda kelas. Gue sering dengerin dia curhat soal pelajaran atau cowok-cowok yang gangguin dia. Tapi ya gitu, setelah lulus kita putus kontak karena hape gue waktu itu hilang di terminal, dan dia juga katanya ganti nomor. Gue gak nyangka aja bakal se-kampus lagi sama dia di sini."
Setiap kata "sering ngobrol", "di perpustakaan", dan "dengerin dia curhat", yang meluncur dari bibir Alan jatuh ke hati Rahmi layaknya tetesan asam pekat di atas luka yang menganga. Rahmi merasa dirinya hancur berkeping-keping menjadi debu yang paling halus.
Ternyata posisinya selama ini bukanlah posisi yang spesial. Ia hanya kebetulan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Bunga. Ia menjadi tempat curhat dan sahabat Alan hanya karena Bunga tidak ada. Dan sekarang, sang ratu telah kembali untuk menuntut kembali singgasananya, tanpa perlu berdarah-darah membuktikan kesetiaan seperti yang Rahmi lakukan.
Rahmi mengambil napas dalam-dalam secara perlahan melalui hidung, menahan agar air matanya tidak jatuh detik itu juga. Ia harus mempertahankan harga dirinya yang tersisa. Ia memaksakan kepalanya mendongak, menatap lurus ke arah mangkuk bubur yang sama sekali belum tersentuh oleh Alan.
Mangkuk bubur ayam tanpa kacang kedelai, tanpa banyak kaldu, dan sambal setengah sendok teh. Simbol perhatiannya yang remeh temeh. Mangkuk itu kini terasa menjadi lelucon paling tragis di pagi itu.
Alan bahkan tidak memedulikan bubur itu lagi. Pikirannya, hatinya, dan jiwanya sudah berlari mengejar Bunga ke gedung Fakultas Manajemen.
"Oh gitu ceritanya..." ujar Randi manggut-manggut. "Berarti ini mah CLBK nih! Cinta Lama Belum Kelar! Sikat aja, Lan, mumpung dianya ngasih lampu ijo sekebon gitu!"
"Ngaco lu, Ndi," balas Alan sambil tertawa, namun ia tidak membantahnya dengan keras. Ia lalu melirik ke arah mangkuk buburnya, seolah baru teringat bahwa ia harus sarapan. "Eh, bubur gue belum dimakan."
Alan menarik mangkuk itu mendekat, meraih sendoknya kembali. Namun sebelum ia sempat menyendok bubur yang sudah agak dingin itu, suara kursi beton yang bergeser dengan kasar membuat gerakan Alan tertahan.
Rahmi berdiri secara mendadak. Wajahnya tertunduk, poninya menutupi matanya sepenuhnya. Tangannya mencengkeram tali tas ranselnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mi? Lu kenapa?" tanya Ardi kaget melihat perubahan sikap Rahmi yang tiba-tiba.
Alan ikut mendongak, keningnya berkerut bingung menatap wajah Rahmi yang tertutup rambut. "Lu sakit, Mi?"
"Gue..." suara Rahmi keluar sangat parau dan bergetar hebat. Ia berdeham keras, mencoba menormalkan suaranya, membohongi ketiga pria di depannya, menipu semesta yang telah menipunya. "Gue lupa... gue ada janjian sama dosen pembimbing akademik pagi ini jam delapan teng. Gue harus ke ruangannya sekarang."
"Lho, bukannya jadwal PA lu ntar siang sehabis kelas Makro Ekonomi?" tanya Alan bingung, karena ia tahu betul jadwal Rahmi.
"Dimajuin dadakan. Gue duluan ya," potong Rahmi dengan sangat cepat, tak memberi ruang bagi Alan untuk menginterogasi lebih jauh.
Tanpa menunggu balasan dari siapapun, Rahmi membalikkan badan dan berjalan dengan langkah yang sangat lebar dan terburu-buru menjauhi taman, nyaris setengah berlari. Ia tidak sanggup. Ia tidak sanggup lagi duduk di sana, mendengarkan Alan menceritakan betapa indahnya kenangan masa lalunya bersama wanita lain. Ia tidak sanggup melihat kebahagiaan Alan yang menyayat nadinya.
Alan menatap kepergian Rahmi dengan kening yang semakin berkerut. 'Ada apa dengannya? Kenapa buru-buru sekali?' pikir Alan. Perasaan aneh kembali menyelinap di hatinya, persis seperti perasaan kehilangan yang ia rasakan semalam ketika Rahmi menghilang dari kafe. Namun, belum sempat otaknya memproses kejanggalan itu lebih jauh, ponsel di sakunya kembali bergetar pelan.
Alan segera merogoh sakunya. Sebuah notifikasi baru muncul di layar.
Bunga: Semangat ya belajarnya hari ini, Lan! Jangan lupa sarapan. Nanti siang kita makan bareng yuk di kantin fakultas kamu?
Melihat pesan itu, senyum lebar kembali merekah di wajah Alan, menyingkirkan seketika semua kejanggalan tentang Rahmi dari kepalanya. Ia segera membalas pesan Bunga dengan antusias, mengabaikan fakta bahwa mangkuk bubur ayam pesanan Rahmi yang ada di depannya, yang diracik dengan penuh ketelitian dan cinta tanpa pamrih, kini benar-benar menjadi dingin tak tersentuh.
Sementara itu, di balik tembok lorong koridor gedung yang sepi, Rahmi bersandar lemas. Pertahanannya hancur berkeping-keping. Tubuhnya merosot jatuh hingga terduduk di lantai keramik yang dingin. Ia memeluk kedua lututnya erat-erat, membenamkan wajahnya di sana, dan akhirnya membiarkan isak tangisnya pecah tanpa suara. Pagi itu, Rahmi kalah sepenuhnya. Bukan oleh persaingan, bukan oleh kebencian, melainkan oleh masa lalu yang datang kembali untuk merampas satu-satunya alasan ia bertahan di tempat ini.