Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Bela Diri Aliran "Cacing Kepanasan"
Malam itu, Pelabuhan Barat diselimuti kabut tipis yang membawa aroma solar dan air payau. Di balik tumpukan kontainer raksasa, Leon Vancort berdiri dengan senapan serbu HK416 di tangannya. Di sampingnya, Ailen tidak lagi mengenakan gaun merah marun yang merepotkan. Ia kini memakai setelan taktis hitam ketat yang menonjolkan kelenturan tubuhnya, lengkap dengan sepatu kets yang nyaman. Namun, untuk tetap menjaga jati dirinya, Ailen mengikatkan pita kain berwarna hijau neon di lengan kirinya sebagai "jimat keberuntungan".
"Ingat, Ailen. Musuh kali ini adalah tim bayaran dari klan Black Cobra. Mereka tidak akan tertipu oleh trik bawang goreng lagi," bisik Leon sambil memantau pergerakan musuh melalui kacamata night vision.
"Tenang aja, Mas Leon. Bawang goreng itu kan level dasar. Sekarang saya bakal keluarin jurus pamungkas keluarga Gavril," sahut Ailen sambil melakukan gerakan pemanasan yang sangat aneh—ia menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dengan sangat cepat hingga terdengar suara tulang yang berderak.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Leon heran.
"Ini pemanasan aliran 'Cacing Kepanasan', Mas. Jurus ini diciptakan sama Kakek saya waktu beliau nggak sengaja nginjek bara api pas lagi jemur baju. Rahasianya ada pada gerakan yang tidak terprediksi dan kelenturan tulang belakang yang melebihi karet gelang," jelas Ailen dengan wajah sangat serius.
Leon hanya bisa memijat pangkal hidungnya. "Lakukan apa pun sesukamu, asal jangan mati."
Pertempuran dimulai dengan ledakan granat asap dari tim Alpha yang dipimpin Marco. Di tengah kabut putih yang tebal, baku tembak pecah. Leon bergerak dengan efisiensi yang menakutkan, menjatuhkan musuh satu per satu dengan tembakan kepala yang presisi. Namun, Black Cobra tidak main-main; mereka mengepung Leon dari dua sisi dengan tameng baja.
"Sial, mereka terlalu rapat!" gerutu Leon saat pelurunya hanya memantul di permukaan tameng baja tersebut.
"Mas Leon, merunduk! Waktunya si Cacing beraksi!" teriak Ailen.
Ailen melesat maju. Bukannya berlari lurus, ia bergerak dengan gaya yang benar-benar tidak masuk akal. Tubuhnya meliuk-liuk, kadang ia merayap di tanah dengan kecepatan luar biasa, lalu tiba-tiba melompat tinggi dan berputar di udara seperti gasing. Para tentara bayaran Black Cobra mencoba membidik, tapi mereka bingung. Target mereka tidak bergerak sesuai hukum fisika manusia normal.
"Apa-apaan gadis ini?! Dia tidak punya tulang?!" teriak salah satu musuh panik.
Ailen sudah berada di depan mereka. Ia tidak menggunakan senjata api. Dengan gerakan aliran "Cacing Kepanasan", ia menyelinap di antara celah tameng baja mereka. Ia melakukan gerakan memutar yang sangat rendah, menyapu kaki ketiga pria sekaligus hingga mereka jatuh terjungkal. Saat mereka jatuh, Ailen tidak memberikan pukulan standar. Ia justru menggunakan telapak tangannya untuk menekan titik saraf di bawah ketiak mereka.
"Hiyat! Cubitan Sayang!"
"AAARRGGHHH!" Para pria itu berteriak kesakitan. Tekanan saraf itu membuat tangan mereka mati rasa seketika, menyebabkan senjata dan tameng mereka terlepas.
Leon yang melihat celah itu langsung maju dan melumpuhkan sisa-sisa musuh. "Gerakan yang... menarik. Tapi kenapa kau harus berteriak 'cubitan sayang'?"
"Supaya mereka merasa dihargai sebelum pingsan, Mas. Etika itu penting dalam dunia persilatan," jawab Ailen sambil menyeka keringat di hidungnya.
Namun, kegembiraan itu hanya berlangsung sesaat. Dari balik gudang utama, muncul sosok pria tinggi besar dengan wajah yang penuh bekas luka bakar. Dialah Rakar, algojo nomor satu klan Black Cobra. Di tangannya, ia memegang sebuah gada berduri yang sangat berat.
"Vancort! Kau membawa badut sirkus untuk melindungimu?" suara Rakar berat, mengguncang udara malam.
Leon maju selangkah, tapi Ailen menahan dadanya. "Mas, yang ini bagian saya. Mas urus pengkhianat di dalam gudang aja. Om Gede ini kayaknya butuh 'pijat' khusus dari saya."
"Ailen, dia berbahaya. Dia tidak merasakan sakit," peringat Leon.
"Tenang, Mas. Aliran 'Cacing Kepanasan' didesain khusus buat lawan orang yang hobi nge-gym kayak dia," Ailen mengedipkan mata, lalu maju menghadapi Rakar.
Rakar tertawa meremehkan. Ia mengayunkan gada raksasanya ke arah kepala Ailen. Wush! Angin yang dihasilkan gada itu sangat kuat. Ailen dengan lihai meliukkan tubuhnya ke samping, posisinya sangat miring hingga kepalanya hampir menyentuh tanah, persis seperti orang yang mau jatuh tapi tidak jadi.
"Heh, meleset Om! Coba lagi, kali ini pake perasaan!" ejek Ailen.
Rakar yang mulai emosi melakukan serangan bertubi-tubi. Gada itu menghantam aspal hingga hancur berkeping-keping, namun Ailen selalu berhasil menghindar dengan gerakan meliuk yang mustahil. Ia seolah-olah tidak memiliki massa tulang; ia mengalir seperti air, atau lebih tepatnya, menggeliat seperti cacing yang diletakkan di atas wajan panas.
"Kenapa kau tidak menyerang, pengecut?!" raung Rakar.
"Sabar Om, lagi cari momen yang pas," sahut Ailen.
Saat Rakar mengangkat gadanya tinggi-tinggi untuk serangan pamungkas, Ailen melihat celah. Ia tidak menyerang dada atau wajah Rakar. Ia justru meluncur di antara kedua kaki Rakar, lalu dengan cepat ia memanjat punggung pria raksasa itu seperti seekor monyet yang lincah.
"Jurus Cacing Melilit Pohon!"
Ailen mengunci leher Rakar dengan kakinya dan menarik telinga pria itu dengan sekuat tenaga ke arah belakang. Bukan sekadar ditarik, ia memutar telinga Rakar pada titik saraf tertentu.
"Aduh! Aduh! Lepaskan!" Rakar yang tadinya sangar kini berputar-putar seperti gasing, mencoba melepaskan Ailen dari punggungnya.
Ailen tidak berhenti di situ. Sambil tetap berpegangan pada telinga Rakar, ia mulai menggelitik pinggang pria itu. Ternyata, rahasia terbesar Rakar sang algojo adalah: dia sangat geli di bagian pinggang.
"HA-HA-HA! JANGAN! AMPUN! HA-HA-HA!"
Rakar terjatuh ke tanah sambil tertawa histeris, air mata mulai mengalir di wajahnya yang penuh bekas luka. Gada raksasanya terlepas. Ailen melompat turun dan memberikan satu tendangan kecil namun tepat di dagu Rakar yang sedang tertawa, membuatnya pingsan seketika dengan sisa tawa di wajahnya.
"Gila... itu adalah teknik bertarung paling memalukan yang pernah kulihat seumur hidupku," komentar Leon yang ternyata sudah selesai membereskan musuh di dalam dan menyaksikan adegan terakhir itu.
Ailen merapikan rambutnya yang berantakan. "Efektif kan, Mas? Nggak perlu banyak darah, yang penting musuh lumpuh dan bahagia."
Mereka masuk ke dalam gudang utama. Di sana, mereka menemukan brankas besar yang terbuka. Di dalamnya bukan emas atau uang, melainkan ribuan dokumen digital dan fisik tentang konspirasi Moretti dengan pihak pemerintahan. Ini adalah bukti yang cukup untuk meruntuhkan seluruh kekaisaran musuh mereka.
"Kita mendapatkannya, Ailen," ucap Leon sambil menatap tumpukan dokumen itu.
Ailen melihat ke arah luar, ke arah laut yang gelap. Emosinya mendadak berubah menjadi melankolis. "Mas Leon... kalau semua ini selesai, Mas bakal tetep butuh pengawal kayak saya nggak?"
Leon berjalan mendekati Ailen. Ia melepas sarung tangan taktisnya dan menyentuh dagu Ailen, memaksa gadis itu untuk menatap matanya. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Ailen. Bukan sebagai pengawal, tapi sebagai sesuatu yang jauh lebih penting."
Ailen menelan ludah. Jantungnya berdebar aliran "Cacing Kepanasan"—tidak beraturan dan sangat cepat. "Sesuatu yang lebih penting itu... maksudnya tukang masak sate pribadi Mas?"
Leon tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ailen. "Bukan. Sebagai anomali dalam hidupku yang tidak ingin kuhilangkan selamanya."
Leon perlahan mendekatkan bibirnya ke kening Ailen, memberikan kecupan yang sangat lembut namun penuh janji. Ailen membeku, seluruh sel-sel di otaknya seolah-olah mengalami shutdown masal.
"Waduh... Mas Leon... saya... saya tiba-tiba pengen kayang," bisik Ailen dengan wajah merah padam.
Leon tertawa lepas, suara tawa yang bergema di gudang kosong itu. "Silakan, asal jangan pingsan."
Namun, suasana romantis itu terinterupsi oleh suara Marco di radio. "Tuan, bala bantuan Black Cobra sedang menuju lokasi. Kita harus segera keluar!"
"Ayo, Ailen. Waktunya pulang," ajak Leon sambil menggandeng tangan Ailen erat.
Ailen mengangguk semangat. "Siap, Mas Van Houten! Tapi nanti mampir ke warung bubur kacang ijo depan dermaga ya? Tadi saya liat ada yang buka, kayaknya enak buat angetin badan!"
"Apa pun untukmu, Alexandra," jawab Leon dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya.
Malam itu, Pelabuhan Barat menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah kekaisaran mafia dan lahirnya sebuah legenda baru: seorang Raja Mafia kejam yang takluk pada jurus aliran "Cacing Kepanasan" seorang gadis semprul.
Saat mereka berjalan menuju mobil, Ailen sempat-sempatnya melakukan gerakan meliuk-liuk kecil di aspal.
"Mas, liat nih! Ini variasi baru, namanya 'Cacing Kepanasan Mencari Jodoh'!"
"Diamlah, Ailen, sebelum aku benar-benar melemparmu ke laut."
"Hehe... Mas mah gitu, tapi sayang kan?"
"Sangat sayang, sayangnya."
Dan di bawah langit malam yang dingin, tawa mereka menyatu, membuktikan bahwa bahkan di dunia yang penuh dengan peluru dan darah, kekonyolan dan cinta selalu punya cara untuk menang—terutama jika dibumbui dengan gerakan cacing yang sedang kepanasan.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍