Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Seperti menemukan potongan puzzle yang rumit akhirnya Andara bisa menjalin komunikasi dengan Daisy setelah satu bulan lebih tinggal di bawah atap yang sama.
Bahkan tiba-tiba saja Daisy meminta Andara untuk datang ke sekolah, menjadi pendampingnya dalam acara parenting day yang akan diadakan 2 hari lagi.
Istilah yang baru pernah didengarnya membuat Andara kelihatan bingung apalagi masa kecilnya dihabiskan di desa yang sederhana. Seingat Andara, ibunya hanya datang ke sekolah enam bulan sekali untuk menerima raport.
“Kalau kak Ara nggak mau, Sisi akan jadi satu-satunya murid yang tidak ditemani siapa-siapa.”
Menunggu Andara tidak memberi jawaban, kepala gadis kecil itu menunduk dengan raut wajah sedih. Andara pun tersenyum, menangkup wajah Daisy dan membuatnya bertatapan kembali.
“Bukan kak Ara tidak mau tapi kak Ara boleh tahu apa itu parenting day ? Dulu kak Ara sekolahnya di desa jadi tidak pernah ada acara semacam itu.”
“Tapi kak Ara mau kan datang ke sekolah menemani Sisi ?” Mata bening itu mengerjap, tatapannya seakan memohon penuh harap.
“Tentu saja.”
Wajah yang tadinya sendu berubah ceria. Dengan penuh semangat Daisy duduk di samping Andara dan mulai berceloteh tentang apa itu parenting day, kegiatan apa saja yang harus mereka ikuti sebagai ibu dan anak.
“Nanti kak Ara jadi mamaku sehari ya.” Kalimat penutup Daisy membuat Andara terkejut sekaligus terenyuh.
Binar cahaya yang lugu dan polos itu terlalu bahagia dan Andara tidak tega untuk membuatnya kecewa.
“Boleh.” Andara mencubit kedua pipi kemerahan yang menggemaskan.
“Kak Ara juga senang bisa jadi mama Daisy biarpun cuma sehari.”
“Yeeeaaayyyy !!!!” Daisy turun dari kursi, melompat dan berputar kegirangan lalu memeluk Andara dan meletakkan kepalanya di atas bahu Andara.
“Sisi senang kak Ara sayan sama Sisi juga, nggak cuma sayang Lily.”
Mata Andara sempat membola lalu tersenyum dan membalas pelukan Daisy.
“Tentu saja kak Ara juga sayang sama Sisi bahkan sejak pertama kali kita bertemu di rumah sakit.”
Bibir mungil itu tidak menjawab hanya kepalanya yang mengangguk dan Andara merasakan bahunya mulai basah namun hangat.
Pelukan Andara semakin erat, seakan ingin mengungkapkan perasaan cinta yang dirindukan Daisy.
*****
Pintu ruangan Baskara di buka dengan kasar tanpa ketukan. Untung saja di dalam hanya ada Rio yang sedang berbicara serius dengan bossnya.
“Selamat siang nona Savira,” sapa Rio yang langsung berdiri dan membungkukkan badan sekilas.
“Aku mau bicara dengan Baskara,” sahut Savira dengan nada ketus tanpa menatap Rio.
Sebelum menuruti permintaan Savira, Rio minta persetujuan Baskara dan setelah pria itu mengangguk, Rio berpamitan pada Savira dan keluar dari ruangan.
“Ada masalah apa ?” tanya Baskara santai dan tetap duduk di kursi kerjanya.
Kedua tangannya yang bersandar pada pegangan kursi saling menaut.
“Masih tanya ada masalah apa ?” Savira melotot sambil bertolak pinggang.
“Jadi ini meeting penting yang kamu maksud untuk menghindari papa ?”
“Meetingnya baru selesai dan urusanku dengan Rio barusan bukan sedang gosip tapi membahas masalah pekerjaan.”
Sekilas Savira terkejut melihat sikap Baskara yang terlihat acuh. Biasanya kalau Savira sedang dalam mode seperti ini Baskara akan mendekati lalu membujuk dengan pelukan dan kata-kata manis.
“Jadi om Doni sudah sampai di rumah ?”
“Untuk apa kamu peduli ?” sinus Savira sambil membuang muka dan melipat kedua tanganya.
“Aku hanya bertanya,” sahut Baskara yang merubah posisi duduk dan menarik laptopnya mendekat.
Savira kembali melotot. “Bas kamu…..”
Baskara mendongak sebentar lalu kembali fokus menatap layar laptopnya.
Savira menghela nafas, sadar kalau rasa kesalnya tidak akan mendapat tanggapan apalagi perhatian dari Baskara.
“Papa sudah menceritakan semuanya dan aku tidak keberatan untuk menunggu.”
“Hhhhhmmmm.”
“Tapi jangan sampai istrimu 1000 hari kita baru menikah. Usiaku sudah 30 tahun Bas, 3 tahun bukan sebentar.”
“Akan aku ingat-ingat.”
Dengan niat ingin merayu dan bermanja-manja pada Baskara, Savira memutuskan untuk mendekat namun baru beberapa langkah Baskara kembali mendongak.
“Pulanglah dan tolong jangan ganggu aku dulu !Banyak masalah dan urusan kantor yang harus aku bereskan. Setelah semuanya normal, aku akan menghubungimu.”
“Berapa lama ?” tanya Savira dengan rasa kesal yang ditahan karena tidak ingin membuat Baskara marah.
“Aku tidak bisa memastikan. Aku juga ingin semuanya cepat-cepat beres.”
Savira kembali menghela nafas. “Oke, aku akan pulang sekarang. Meski sibuk jangan lupa membalas pesan atau menjawab teleponku.”
“Hhhmmmm.”
Terpaksa Savira meninggalkan Baskara dengan kedua tangan terkepal saking geramnya.
Kalau bukan karena permintaan papanya untuk mencoba mencari laki-laki lain, Savira tidak akan langsung datang menemui Baskara untuk memastikan ucapan pria itu pada Doni.
“Jadi kapan kalian akan menikah Bas ? Om dan tante tidak keberatan meskipun statusmu duda.”
“Maaf kalau saya belum bisa memberi kepastian. Istri saya memang sudah meninggal tapi tanggungjawab pada kedua anak saya tidak bisa dilepaskan begitu saja.”
“Om sangat mengerti soal itu. Om dan tante akan bicara pada Savira supaya membiarkan kamu membiayai anak-anakmu setelah menikah.”
“Bukan sekedar memberikan nafkah lahiriah saja yang mereka butuhkan. Kalau soal itu orangtua saya pasti tidak keberatan mengeluarkan uang untuk cucu mereka.
“Maaf Bas, om tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”
Bakara menarik satu sudut bibirya.
“Sejak kecil orangtua saya mengajarkan dan selalu mengingatkan soal tanggungjawab sebagai seorang laki-laki jadi yang sedang jadi bahan pertimbangan saya saat ini adalah mencari orang yang mau dan bisa mengasuh serta membesarkan anak-anak saya.”
“Sekali lagi maaf Bas.”
“Savira tidak mau anak-anak itu ikut setelah kami menikah.”
“Om mengerti. Maaf kalau om tidak memikirkan masalah itu. Kami pasti akan membicarakannya juga dengan Savira.”
“Tolong jangan dipaksa Om. Saya yakin om dan tante sangat mengenal sifat anak sendiri.”
Savira membanting pintu mobilnya keras-keras hingga membunyikan alarm mobil lain yang parkir di dekatnya.
Sejak pembicaraan empat mata dengan Baskara, ayahnya lebih banyak diam bahkan setelah sampai di rumah, Savira mendapat banyak wejangan soal hubungannya dengan Baskara, bukan hanya dari ayahnya tapi ibunya juga cukup keras mengingatkan sifat-sifat Savira yang kurang baik.
“Sebaiknya kamu mulai memikirkan untuk mencari laki-laki lain sebagai calon suamimu,” nasehat Doni.
Mata Savira langsung membola. “Kok papa ngomong begitu ?”
Dan cerita soal percakapannya dengan Baskara mengalir membuat Savira shock sekaligus marah.
“Brengsek ! Cowok egois ! Laki-laki gombal ! Seenaknya mempermainkan perasaanku selama bertahun-tahun. Aku tidak akan membiarkanmu menyuruhku menunggu lebih lama lagi. Kamu akan jadi milikku Baskara Adiguna !”
Savira menginjak pedal gas dalam-dalam dan meninggalkan parkiran gedung kantor milik keluarga Adiguna dengan perasaan marah yang siap diledakkan di hadapan BaskaraZ