Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16-Kematian Dinda
Langkah Elara dan Keisha terasa berat saat mereka berjalan menyusuri koridor panjang yang menghubungkan gedung administrasi dengan gedung utama sekolah. Kepala mereka sama-sama penuh dengan tanda tanya besar akibat keterangan mengejutkan yang baru saja mereka dengar dari Pak Budi.
"El... aku masih nggak nyangka sama apa yang dibilang Pak Budi tadi," ucap Keisha memecah keheningan, suaranya berbisik namun penuh kekhawatiran. Ia menoleh ke arah Elara sambil mengerutkan kening dalam-dalam. "Kalau bener kata Pak Budi, kalau Dinda emang udah izin tapi nggak pernah masuk ke perpustakaan sama sekali... terus dia ke mana?"
Elara menghela napas panjang, matanya menatap lurus ke depan namun pandangannya kosong, pikirannya berputar cepat menyusun potongan teka-teki yang makin rumit ini. "Itu juga yang aku pikirin terus dari tadi, Kei. Dinda pamitnya jelas banget, dia bilang mau ke sana, dia bilang udah izin. Tapi faktanya dia nggak pernah sampai di Perpustakaan . Artinya... sesuatu atau seseorang menahan dia di tengah jalan. Sesuatu yang bikin dia nggak bisa lanjut jalan, atau bahkan bikin dia nggak bisa balik lagi."
"Tapi siapa, El? Siapa yang berani ngelakuin itu di lingkungan sekolah yang katanya aman dan ketat banget?" tanya Keisha lagi, suaranya makin bergetar. "Dan kebakaran itu... kebetulan banget ya pas dia hilang. Rasanya nggak mungkin cuma kebetulan aja."
Elara mengangguk pelan, matanya menatap tajam ke depan. "Aku juga rasa begitu, Kei. Semuanya terencana. Hilangnya Dinda sama kebakaran itu satu paket. Kayak ada yang mau ngilangin jejak, atau ngilangin bukti. Tapi apa buktinya? Dan kenapa harus Dinda..."
Belum sempat Elara menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba...
"AAAAAAARRRGGHHHH!!!! TOLONGGG!!!!"
Suara teriakan panjang yang sangat nyaring, penuh kepanikan dan ketakutan yang luar biasa, meledak dari arah atas bangunan. Suara itu menggema keras ke seluruh penjuru sekolah, memecah keheningan dan langsung membuat darah kedua gadis itu serasa berhenti mengalir.
Elara dan Keisha tersentak hebat, berhenti melangkah mendadak di tempat. Jantung mereka berdegup kencang seketika karena kaget. Wajah mereka memucat pasi seketika. Suara itu... suara itu terdengar begitu dekat dan begitu mengerikan.
"Itu... itu suara dari mana?!" seru Keisha terbata-bata, matanya berputar mencari asal suara.
"Dari atas, Kei! Dari atap sekolah! Rooftop!" jawab Elara cepat, nadanya penuh kecemasan. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit koridor, ke arah lantai paling atas gedung itu.
Belum sempat mereka berpikir apa yang sebenarnya terjadi, suasana sekolah yang tadinya cukup tenang seketika berubah menjadi kekacauan total. Pintu-pintu kelas terbuka serentak. Murid-murid berhamburan keluar seperti semut diganggu, wajah mereka penuh kebingungan dan ketakutan. Para guru dan staf sekolah juga muncul dari ruangan mereka, bertanya-tanya dengan panik ada apa sebenarnya.
"Kenapa?! Ada apa?!"
"Dari atas! Di atap! Ada apa di sana?!"
"Ayo ke atas! Cepat!"
Terjadi kerumunan besar. Semua orang, murid maupun guru, mulai berlarian serentak menuju tangga utama yang mengarah ke lantai atas, tempat lokasi rooftop sekolah berada. Suara langkah kaki berderap kencang memekakkan telinga, bercampur dengan suara teriakan dan pertanyaan yang saling sahut-menyahut.
Elara dan Keisha saling pandang sekilas. Rasa takut bercampur rasa penasaran dan firasat buruk yang mengerikan menyerang dada mereka. Tanpa berkata-kata lagi, mereka pun ikut berlari, mengikuti arus kerumunan itu.
"Ayo, Kei! Kita lihat!" ajak Elara sambil mempercepat larinya.
"Ayo El..." Keisha berlari di sampingnya, napasnya tersengal-sengal, matanya berkaca-kaca karena rasa cemas yang tak terlukiskan.
Mereka menerobos kerumunan murid yang padat di tangga, berdesak-desakan demi bisa naik ke atas.
Pintu besi berat yang menuju ke atap gedung terbuka lebar. Elara dan Keisha akhirnya berhasil sampai di sana, napas mereka tersengal berat, dada naik turun karena berlari secepat mungkin dari lantai bawah. Begitu melangkah keluar, pemandangan yang menyambut mereka adalah lautan manusia. Hampir seluruh murid, guru, dan staf sekolah sudah berkumpul di sana, memenuhi seluruh ruang terbuka atap yang luas itu. Suasana menjadi sangat padat, panas, dan penuh dengan hiruk-pikuk suara bisikan yang bercampur tangis dan rasa ngeri.
Semua orang tampak berkerumun rapat di bagian tengah atap, menjauhi pinggiran gedung, seolah ada sesuatu yang mengerikan ada di sana, sesuatu yang menjadi pusat perhatian semua orang.
Di sisi lain, agak menjauh dari kerumunan utama, Elara dan Keisha melihat dua orang siswi yang mereka kenal dari kelas lain sedang terduduk lemas di lantai beton yang keras. Tubuh kedua gadis itu gemetar hebat, wajah mereka pucat pasi seperti mayat, dan air mata mengalir deras membasahi pipi mereka. Mereka menangis tersedu-sedu, tampak sangat terguncang dan syok berat, seolah baru saja menyaksikan hal paling mengerikan dalam hidup mereka. Beberapa teman lain mengelilingi mereka, berusaha menenangkan, mengusap punggung, dan memeluk mereka agar tidak pingsan, namun mata kedua gadis itu terus menatap ke arah kerumunan di tengah ruangan itu dengan pandangan kosong dan ketakutan.
"Itu... itu Sinta sama Yuni... Mereka kenapa? Kok mereka nangis banget kayak gitu?" tanya Keisha dengan suara bergetar, hatinya makin tidak enak. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.
"Ayo kita lihat, Kei. Ada sesuatu banget di sana... ada sesuatu yang bikin semua orang diam," jawab Elara. Meski rasa takut menjalar ke seluruh tulangnya, rasa ingin tahu dan kekhawatiran akan nasib Dinda mendorongnya terus maju.
Mereka berdua pun mulai berusaha menerobos kerumunan itu. Berdesak-desakan di antara bahu-bahu orang lain yang tegak kaku karena tegang. Di sepanjang jalan, mereka mendengar bisik-bisik samar yang membuat bulu kuduk merinding.
"Kasihan banget... nggak nyangka bakal kejadian gini..."
"Darahnya banyak banget... Ya Tuhan, kenapa bisa sampai begini..."
"Baru kemarin hilang, hari ini ketemu tapi... astaga, nggak kuat aku lihatnya..."
Setiap kata yang terdengar membuat kaki Elara makin terasa berat, namun ia terus melangkah. Keisha berjalan tepat di belakangnya, tangannya mencengkeram ujung baju Elara erat sekali, takut terpisah atau takut akan apa yang akan mereka lihat nanti.
Akhirnya, setelah berjuang melewati barisan paling belakang, mereka berdua berhasil menembus ke bagian paling depan, tepat di tengah kerumunan itu.
Seketika, napas mereka berdua tertahan di tenggorokan. Langkah kaki mereka terhenti mendadak seolah terpaku ke lantai. Dunia di sekeliling mereka serasa berhenti berputar.
Di hadapan mata mereka, tergeletak tubuh mungil yang sangat mereka kenal. Tubuh Dinda terbaring kaku di atas lantai beton yang kasar. Pakaiannya yang kemarin masih rapi dan bersih kini kusut masai, kotor, dan penuh dengan noda merah gelap yang mengerikan—darah yang sudah mengering dan masih segar berceceran di sekelilingnya, membentuk genangan kecil yang menjijikkan dan menyayat hati. Wajah Dinda tertutup sebagian oleh rambut panjangnya yang berantakan dan berlumuran darah, namun posisi tubuhnya yang diam, hening, dan tak bergerak sedikit pun itu... sudah menjawab segalanya.
Dinda sudah tidak bernyawa. Gadis itu sudah pergi.
"AAAAAAAAAAAA!!!!" teriak Keisha histeris, suaranya melengking memecah keheningan, namun suaranya terdengar jauh dan samar di telinga Elara.
Mata Elara terbelalak lebar, tak percaya, tak sanggup menerima pemandangan mengerikan di depannya itu. Kakinya seketika menjadi sangat lemas, seolah tak ada tulang penyangga lagi. Ia gemetar hebat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Otaknya menolak untuk memproses apa yang dilihat matanya.
"Gak... gak mungkin..." bisik Elara lirih, suaranya nyaris tak terdengar, bergetar luar biasa. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali, berharap pemandangan itu akan hilang jika ia mengedipkan mata. "Ini... ini nggak bener... Ini pasti cuma mimpi... Cuma mimpi buruk kayak semalam... Bangunin aku... Tolong bangunin aku..."
Elara mundur selangkah, matanya masih terpaku pada tubuh sahabatnya yang kaku itu. Air mata mulai membanjiri matanya, mengaburkan pandangan. "Dinda... Dinda nggak mungkin... Dia tadi hilang, kita mau nyariin dia... Gimana bisa dia ada di sini kayak gini... Gak mungkin!!" teriak Elara memecah tangisnya, rasa syok dan sakit hati yang luar biasa langsung menghantam dadanya sekuat palu godam.
Belum sempat Elara terjatuh karena lemas, Keisha langsung menghambur memeluknya erat-erat, menangis sejadi-jadinya di bahu Elara. Tubuh Keisha gemetar hebat, isak tangisnya terdengar menyedihkan dan memilukan hati semua orang yang ada di sana.
"Dinda... Dindaaa... Kenapa harus dia? Kenapa harus Dinda?!" ronta Keisha di dalam pelukan itu, air matanya membasahi bahu sahabatnya. "Kita salah apa? Dia salah apa? Dia anak baik, El... Dia anak paling baik di sini... Kenapa nasibnya harus seburuk ini?!"
Elara membalas pelukan itu dengan erat, menangis sejadi-jadinya juga. Di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, mereka saling menguatkan, saling menopang agar tidak jatuh tersungkur di tengah kepedihan itu. Di sekeliling mereka, banyak murid yang ikut menangis dan menundukkan kepala, berduka atas kepergian teman mereka yang begitu tragis dan misterius.
Pak Herman berdiri mematung beberapa langkah dari kerumunan. Bahunya yang biasanya tegap kini tampak membungkuk berat, seolah menanggung beban dosa yang sangat besar. Dengan suara parau dan bergetar yang terdengar jelas oleh semua orang di sana, Pak Herman memberi perintah kepada beberapa staf sekolah yang berdiri tak jauh darinya.
"Segera... segera hubungi orang tua almarhumah Dinda Kusuma. Beritahu kabar duka ini, dan minta mereka datang ke sini secepatnya. Katakan... katakan ada musibah besar yang menimpa anak mereka," ucap Pak Herman, suaranya terputus-putus karena tertahan isak tangis. "Lakukan sekarang juga, jangan menunda lagi."
"Baik, Pak. Segera kami laksanakan," jawab salah satu staf dengan wajah pucat dan sedih. Mereka pun segera bergegas pergi dari tempat itu, turun dari atap untuk melakukan perintah itu, langkah mereka terasa berat seolah enggan meninggalkan suasana mencekam itu.
Tak lama setelah itu, kedua petugas kepolisian yang tadi meminta keterangan Elara dan Keisha tiba-tiba bergerak maju menerobos kerumunan. Wajah mereka yang tadinya tenang kini berubah menjadi sangat serius dan profesional. Mereka segera mengamankan lokasi kejadian. Salah satu petugas berjaga di pinggir lingkaran agar tidak ada murid atau guru yang mendekat dan merusak jejak, sementara petugas lainnya berlutut di samping tubuh Dinda.
Petugas itu memeriksa kondisi jenazah dengan teliti namun hati-hati. Ia mengamati posisi tubuh, arah jatuhnya darah, dan kondisi luka-luka yang ada. Setelah cukup yakin dengan pengamatannya, petugas itu mengeluarkan selotip berwarna kuning cerah bertuliskan GARIS POLISI, lalu menariknya mengelilingi area tempat Dinda terbaring, menandai bahwa tempat ini adalah TKP resmi, tempat terjadinya tindak pidana atau kematian mencurigakan.
"Semua orang harap mundur menjauh! Jangan menginjak atau menyentuh apa pun di dalam garis ini! Ini adalah tempat kejadian perkara dan harus tetap utuh untuk penyelidikan!" seru petugas itu dengan suara tegas dan lantang.
Suasana kembali hening sepenuhnya. Elara dan Keisha masih berdiri berpelukan di dekat sana, tubuh mereka masih gemetar hebat. Mata Elara tak lepas menatap garis kuning itu, hatinya terasa perih sekali. Di balik rasa sakit itu, benaknya terus berputar: Kenapa di sini? Kenapa di atap? Siapa yang membawanya ke sini? Dan kenapa darahnya banyak sekali... apakah dia jatuh dari atas, atau dia sudah terluka duluan sebelum dibawa ke sini?
Belum sempat pikiran kelam itu berlanjut, tiba-tiba suara dering ponsel berbunyi nyaring memecah keheningan. Suara itu berasal dari arah Pak Herman.
Pak Herman mengangkat kepalanya perlahan, lalu merogoh saku bagian dalam jasnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia mengeluarkan ponsel pintar berwarna hitam itu, berniat mematikan suara panggilan itu karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengangkat telepon. Namun, saat pandangannya jatuh ke layar ponsel, napasnya seolah tercekat seketika. Wajahnya yang tadi sedih dan lelah kini berubah menjadi pucat pasi, dan keringat dingin seketika membasahi pelipisnya.
Di layar ponsel itu, nama penelepon tertera dengan jelas dan tegas: NYONYA TAMARA.
Nama itu adalah pemilik sah Sekolah Warisan — Hantage School Academy. Sosok paling berkuasa, paling dihormati, namun juga paling ditakuti di seluruh lingkungan sekolah ini. Sosok yang jarang sekali muncul, jarang sekali memberi kabar, namun setiap kali namanya disebut atau suaranya terdengar, semua orang akan menunduk patuh dan waspada.
Di saat yang sama seperti ini... di saat tragedi besar baru saja terjadi... Nyonya Tamara menelepon. Perasaan tidak enak langsung menyeruak memenuhi dada Pak Herman. Ada firasat buruk yang mengatakan bahwa wanita itu sudah tahu segalanya, bahkan sebelum pihak sekolah sempat melapor.
Dengan tangan yang kini gemetar lebih hebat dari sebelumnya, Pak Herman menelan ludah susah payah. Ia menatap layar itu lekat-lekat seolah ragu, namun ia tahu ia tidak berani menolak atau membiarkan panggilan itu masuk ke pesan suara. Perlahan, ia menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. Ia membalikkan badannya sedikit, memunggungi kerumunan agar percakapan ini tidak didengar oleh siapa pun.
"H... Halo... Selamat pagi, Nyonya Tamara..." sapa Pak Herman dengan suara yang berusaha dikuatkan namun tetap terdengar bergetar dan tidak tenang.
Dari seberang sana, terdengar suara wanita yang berat, dingin, rendah, namun sangat jelas dan berwibawa. Suara yang seolah tidak memiliki emosi, namun mengandung tekanan yang sangat kuat hingga membuat siapa saja yang mendengarnya merasa seolah sedang ditelanjangi.
"Pak Herman..." suara itu terdengar tenang, namun ada nada tajam yang terselip di dalamnya. "Saya sudah mendengar kabar. Kabar tentang kebakaran kemarin, dan kabar yang jauh lebih buruk yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu di atap gedung sekolah kita."
Darah Pak Herman serasa berhenti mengalir. Mulutnya terasa kering kerontang. "I... iya, Nyonya... Saya... saya baru saja mau melaporkan hal ini ke Nyonya... Kejadiannya sangat mendadak dan... dan sangat mengerikan. Murid kita... murid bernama Dinda Kusuma... dia..."
"Saya sudah tahu siapa yang meninggal, dan bagaimana keadaannya," potong Nyonya Tamara dengan cepat, tidak memberi ruang bagi Pak Herman untuk menjelaskan panjang lebar. "Yang ingin saya tanyakan, Pak Herman... Apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah saya sudah berpesan berulang kali? Bahwa sekolah ini harus dijaga ketat, tidak boleh ada kekacauan, tidak boleh ada insiden yang bisa menarik perhatian pihak luar, apalagi polisi?! Dan lihat apa yang kalian lakukan di sana! Kebakaran, hilang, lalu mati berdarah! Sekarang seluruh sekolah dipenuhi polisi, dan berita ini pasti akan menyebar luas ke mana-mana! Apa kalian semua tidak bisa bekerja dengan benar?!"
Suara Nyonya Tamara meninggi sedikit, namun tetap terasa dingin dan mengerikan. Pak Herman menundukkan kepalanya semakin dalam, merasakan kemarahan yang luar biasa dari pemilik sekolah itu melalui sambungan telepon saja.
"Maafkan kami, Nyonya... Kami lalai, kami tidak menduga hal ini akan terjadi... Kami sedang berusaha menyelidiki semuanya sekarang, kami berusaha mencari tahu pelakunya..." jawab Pak Herman dengan nada memohon maaf.
"Cari tahu?!" seru Nyonya Tamara, nadanya kini penuh sindiran tajam. "Apa yang perlu dicari tahu lagi, Pak Herman? Kejadian ini jelas-jelas berhubungan dengan apa yang sudah saya peringatkan sejak lama. Ada sesuatu yang mulai bergerak lagi."
Jantung Pak Herman berdegup kencang tak beraturan. Ia menoleh sekilas ke belakang, menatap Elara yang masih menangis dalam pelukan Keisha. Matanya membelalak kaget mendengar peringatan itu.
"Dan satu lagi, Pak Herman..." lanjut Nyonya Tamara, suaranya kembali rendah namun kini mengandung ancaman yang nyata. "Tutup kasus ini secepat mungkin. Buat laporan bahwa gadis itu bunuh diri karena depresi atau sebab apa pun yang masuk akal. Pastikan tidak ada penyelidikan yang berlarut-larut yang bisa membuka aib sekolah ini. Ingat, rahasia Sekolah Hantage School Academy tetap menjadi rahasia sampai kapan pun. Jangan sampai sejarah kelam masa lalu terungkap ke permukaan gara-gara kecerobohan kalian. Paham?!"
Pak Herman menelan ludah keras-keras, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia tahu betul apa arti ancaman itu, dan betul apa risiko yang akan ia hadapi jika tidak menuruti perintah itu.
"Paham... saya paham, Nyonya Tamara. Saya akan lakukan sesuai perintah Nyonya," jawab Pak Herman lirih, pasrah.
"Bagus. Pastikan semuanya berjalan lancar. Saya akan turun tangan sendiri jika ada yang berani menghalangi atau membongkar sesuatu yang salah. Ingat itu."
Klik.
Sambungan telepon terputus begitu saja.
Pak Herman perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Ia berdiri diam mematung di sana, menatap layar ponsel yang kini gelap. Wajahnya terlihat sangat kacau, campuran antara ketakutan, kebingungan, dan kepedihan.
Saat itu, salah satu petugas polisi yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan awal berjalan menghampiri Pak Herman, wajahnya tampak serius namun penuh kehati-hatian. Petugas itu memberi isyarat agar Pak Herman dan beberapa guru utama mendekat untuk mendengar penjelasannya, sementara murid-murid diminta menjaga jarak lebih jauh agar tidak mendengar hal-hal yang mungkin mengejutkan.
"Pak Herman, Bu Melda, dan Bapak/Ibu guru yang kami hormati... izin kami sampaikan hasil pemeriksaan awal di tempat ini," ucap petugas itu pelan namun jelas, matanya sesekali melirik ke arah jenazah yang masih dilingkari garis kuning itu. "Berdasarkan pengamatan kami terhadap kondisi jenazah, posisi tubuh, serta jenis dan jumlah luka yang ada... sementara ini kami menduga almarhumah mengalami luka serius akibat benturan keras. Namun, kami belum bisa menyimpulkan secara pasti apakah ini jatuh dari ketinggian, didorong, atau bahkan sudah terluka sebelum berada di sini."
Petugas itu berhenti sejenak, memilih kata-kata yang tepat agar tidak menimbulkan kepanikan lebih lanjut. "Ini murni dugaan sementara, ya. Kami belum bisa menentukan apakah ini kecelakaan, bunuh diri, atau tindak kejahatan. Tim kami akan terus menyelidiki semua kemungkinan, memeriksa jejak-jejak di sekitar sini, meneliti rekaman, dan mengumpulkan segala keterangan yang ada sampai kami mendapatkan kebenaran yang mutlak."
Pak Herman hanya mengangguk lemah, hati kecilnya berteriak bahwa ini bukan kecelakaan biasa, namun ia teringat pesan keras Nyonya Tamara lewat telepon tadi. Ia merasa terjepit di antara kewajiban mencari kebenaran dan ancaman yang mengerikan.
Belum sempat percakapan itu berlanjut, terdengar suara tangis dan jeritan histeris memecah keheningan dari arah pintu masuk atap gedung. Semua kepala serentak menoleh. Di sana, tampak sesosok wanita paruh baya berlari terhuyung-huyung dengan pakaian sederhana namun rapi, diiringi oleh seorang gadis remaja yang lebih muda, berusia sekitar empat belas tahun. Wajah keduanya sudah basah kuyup oleh air mata sejak mereka masih berjalan di koridor bawah.
"Anakkuu... Dindaaa... Anakku sayanggg!!" teriak wanita itu dengan suara melengking dan memilukan. Itu adalah Bu Hasanah, ibu kandung Dinda. Ia berlari sekuat tenaga mendekati jenazah putrinya, tubuhnya gemetar hebat seolah setiap langkahnya menanggung beban yang sangat berat.
Di sampingnya, gadis muda itu, Dina, adik perempuan Dinda, menangis tersedu-sedu sambil berusaha menopang ibunya yang hampir jatuh pingsan.
Bu Hasanah langsung jatuh berlutut di samping jenazah putrinya, menerobos batas garis kuning yang tadi dipasang polisi. Ia memeluk tubuh dingin Dinda, membelai wajah putrinya yang pucat dan berdarah dengan tangan gemetar, lalu menangis sejadi-jadinya, meratap seolah tak percaya apa yang dilihat matanya.
"Kenapa kamu, Nak... Kenapa kamu yang harus jadi korban... Ibu sudah pesan, Ibu sudah bilang jangan melawan arus... Kenapa kamu nggak dengerin Ibu... Dindaaa... Bangun Nak, bangun... Ibu datang menjemputmu..." isak Bu Hasanah, suaranya parau dan penuh kepedihan yang tak terlukiskan.
Dina, sang adik, berlutut di sebelah ibunya, memegang tangan kakaknya yang sudah kaku itu sambil menangis tanpa suara, air matanya mengalir deras membasahi pipi yang masih belia. Pemandangan itu begitu menyayat hati hingga membuat siapa saja yang melihatnya ikut meneteskan air mata.
Bu Melda segera bergegas mendekat, berlutut di samping Bu Hasanah, lalu memegang bahu wanita itu, berusaha memberikan kekuatan dan menenangkan kepanikannya. "Bu Hasanah... Bu... sabar ya, Bu... Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya... Kami semua sedih sekali atas kejadian ini... Tolong kuatkan diri, Bu... demi Dina juga..."
Di sisi lain kerumunan, Keisha mengusap air matanya dengan punggung tangan, menatap pemandangan itu dengan pandangan penuh rasa iba. Ia menoleh ke arah Elara yang berdiri diam di sebelahnya, wajah Elara tampak semakin pucat dan sedih.
"Itu Bu Hasanah... ibunya Dinda," bisik Keisha lirih, suaranya parau karena habis menangis. Matanya kembali tertuju pada ibu dan anak itu yang sedang bersedih hebat. "Dulu Dinda pernah cerita sama aku... Ayahnya Dinda sudah meninggal dunia sejak Dinda masih bayi, Bu Hasanah yang membesarkan mereka berdua sendirian dengan susah payah. Dinda kerja keras belajar dan dapat beasiswa di sini supaya nggak membebani ibunya. Dia anak yang sangat berbakti, El... Dia rela nahan sakit, rela dibully, asal dia bisa sekolah dan bantu ibunya..."
Mendengar penuturan itu, hati Elara serasa dicabik-cabik. Ia tidak menyangka beban yang dipikul Dinda ternyata seberat itu, di samping rasa kesepian dan perlakuan buruk yang sering diterimanya di sekolah ini. Rasa sedih Elara berubah menjadi rasa sakit yang mendalam sekaligus rasa marah yang perlahan tumbuh. Dinda berjuang mati-matian demi masa depan keluarganya, tapi masa depan itu direnggut secara kejam di tempat ini.
"Kasihan sekali mereka... Dinda harapan satu-satunya keluarga itu... Dan sekarang..." gumam Elara tak sanggup melanjutkan kalimatnya, air matanya kembali menetes deras.
Sementara itu, setelah Bu Hasanah mulai agak tenang walau masih sesenggukan, salah satu petugas polisi kembali menghampiri. Ia merasa berat harus menyampaikan ini di tengah kesedihan keluarga, namun itu adalah prosedur wajib hukumnya.
"Maaf, Ibu Hasanah... kami turut berbelas sungguh atas kepergian putri Ibu yang tercinta," ucap petugas itu dengan nada lembut dan penuh penghormatan. Ia menundukkan badannya sedikit. "Namun, mengingat kondisi dan situasi kejadiannya yang masih menyisakan banyak tanya, kami memohon izin kepada Ibu... agar kami dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap jenazah almarhumah di Rumah Sakit. Kami perlu melakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematian yang pasti, apakah ada hal lain yang tersembunyi, dan mengumpulkan bukti untuk menangkap siapa pun yang bertanggung jawab atas kejadian ini."
Bu Hasanah mengangkat wajahnya yang bengkak dan merah karena menangis. Ia menatap petugas itu dengan pandangan yang lelah namun tegas. Ia mengusap sisa air matanya, lalu menatap wajah putrinya untuk terakhir kalinya.
"Lakukan saja, Pak... Lakukan apa saja yang perlu dilakukan supaya kebenaran terungkap... supaya anakku tidak mati sia-sia... Saya izinkan, saya setuju. Saya mau tahu siapa yang sudah berbuat jahat sama anak saya..." jawab Bu Hasanah dengan suara parau namun jelas. Ia kembali menangis saat Dina memeluk lengannya erat.
"Terima kasih atas pengertian dan kepercayaan Ibu kepada kami. Kami berjanji akan bekerja sebaik mungkin," jawab petugas itu.
Segera setelah persetujuan itu diberikan, tim medis pendamping polisi bergerak maju. Mereka dengan hati-hati dan penuh hormat memasukkan jenazah Dinda ke dalam kantong jenazah, lalu mengangkutnya ke atas tandu. Bu Hasanah dan Dina kembali menangis histeris saat tubuh putri dan kakaknya itu perlahan dibawa menjauh, meninggalkan atap sekolah yang menjadi saksi terakhir hidupnya.
"Sabar ya, Bu... Saya akan ikut mendampingi Ibu ke rumah sakit. Saya akan pastikan semuanya berjalan lancar," ucap Pak Herman yang tadi diam saja, kini bergerak maju mendekati Bu Hasanah. Wajahnya tampak tulus bersalah dan ingin bertanggung jawab. Ia menoleh ke arah Bu Melda. "Bu Melda, tolong sampaikan kepada seluruh murid agar kembali ke kelas dan menunggu pengumuman selanjutnya. Pastikan suasana tetap kondusif. Saya akan pergi ke rumah sakit mendampingi keluarga almarhumah."
"Baik, Pak Herman. Saya mengerti," jawab Bu Melda sambil mengangguk patuh.
Pak Herman pun berjalan beriringan di samping tandu yang dibawa petugas, berjalan di samping Bu Hasanah dan Dina yang masih terisak. Mereka semua berjalan meninggalkan atap sekolah itu, meninggalkan genangan darah yang perlahan mulai mengering, meninggalkan duka yang mendalam, dan meninggalkan sejuta misteri yang menggantung di udara.