Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Baru dan Rumah yang Sepi
Pagi itu, sinar matahari masuk ke ruang tengah dengan lebih lembut. Najwa duduk di kursi rodanya, menatap Lea yang nampak lebih tenang setelah badai di club malam itu berlalu. Meskipun suasana antara Lea dan Gus Malik masih sekaku es di kutub, Najwa tidak menyerah. Ia tahu, satu-satunya cara agar Lea tidak terus-menerus menoleh ke belakang, ke arah London dan Tom, adalah dengan memberinya tujuan baru di sini.
"Lea," panggil Najwa lembut. "Kakak sudah bicara dengan Papa dan Bunda di London. Kuliahmu yang terbengkalai... Kakak tidak ingin kamu menyia-nyiakannya. Bagaimana kalau kamu lanjut kuliah di Jakarta saja?"
Lea terdiam, jemarinya memainkan ujung kaosnya. Pikiran tentang London sekarang terasa menyakitkan setelah pengkhianatan yang ia rasakan dari Tom. "Di Jakarta? Emang bisa?"
"Tentu bisa. Kakak sudah cari informasi. Kampus tempat Dira mengajar maksud Kakak, kampus di mana Dira dulu lulus dan punya banyak relasi punya program internasional yang bagus. Kamu bisa transfer kredit dari London ke sana. Dira bilang dia akan membantumu mengurus semuanya."
Mendengar nama Dira, mata Lea sedikit berbinar. Setidaknya ada satu orang yang ia kenal di luar lingkungan pesantren ini. "Oke, Kak. Gue setuju. Gue juga bosan kalau cuma diam dan dengerin ceramah tiap hari."
Najwa tersenyum lega. "Terima kasih, Lea. Ini demi masa depanmu."
Seminggu kemudian, kehidupan Lea berubah drastis. Ia resmi menjadi mahasiswi tingkat akhir di salah satu universitas swasta ternama di Jakarta. Fokusnya kini terpecah; pagi hingga sore ia habiskan di kampus, berkutat dengan jurnal-jurnal ekonomi, diskusi kelompok, dan tugas-tugas yang menumpuk.
Dira benar-benar menepati janjinya. Ia sering menemani Lea di perpustakaan atau sekadar makan siang di kantin kampus.
"Gimana, Lea? Lebih mending daripada dikurung di pesantren kan?" tanya Dira suatu sore saat mereka sedang mengerjakan tugas bersama.
Lea menghela napas, menyandarkan punggungnya di kursi perpustakaan yang dingin. "Iya, sih. Capek tugas lebih baik daripada capek hati ngelihat muka kaku Gus Malik."
"Tapi lo nggak bikin ulah lagi kan?" Dira menyelidik.
"Nggak lah. Gue tahu diri. Kak Najwa lagi sering drop belakangan ini, gue nggak mau nambah beban dia," jawab Lea pelan. Ada rasa kedewasaan yang mulai tumbuh di balik sikap pemberontaknya.
Di sisi lain, Najwa melihat perkembangan Lea dengan rasa syukur yang mendalam. Namun, ia merasa kedekatan antara Malik dan Lea masih jalan di tempat. Keduanya hanya bicara jika ada Arkan di antara mereka, atau jika menyangkut urusan penting.
Najwa kemudian menyusun sebuah rencana kecil yang berani.
Suatu Sabtu pagi, sebuah undangan pernikahan datang dari kerabat dekat di Bandung. "Mas," ucap Najwa pada Malik saat sarapan. "Ada undangan dari sepupuku di Bandung. Aku, Ibu, dan Arkan ingin pergi ke sana."
Malik mengangguk. "Tentu, biar saya siapkan mobil dan pengawalan untuk kalian."
"Tidak usah, Mas," potong Najwa cepat. "Ibu sudah menyewa mobil travel khusus yang lebih nyaman untuk kursi rodaku. Kami akan berangkat pagi ini dan mungkin menginap semalam di sana karena acaranya sampai malam."
"Lalu saya? Saya ada jadwal mengisi kajian di asrama putra sore ini," Malik mengerutkan kening.
"Mas tetap di sini saja. Jaga rumah. Dan... tolong jaga Lea juga. Dia bilang hari ini akan pulang telat karena ada tugas kelompok besar," Najwa tersenyum misterius.
Najwa sengaja tidak mengabari Lea soal keberangkatannya. Ia juga meminta Ibu mertuanya untuk merahasiakan rencana menginap mereka. Tujuannya hanya satu: membiarkan Malik dan Lea berada di satu atap tanpa ada orang ketiga yang menjadi penengah.
Pukul delapan malam. Pesantren sudah mulai sepi. Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi, menciptakan suasana dingin yang mencekam.
Gus Malik duduk di ruang tengah, mencoba fokus pada kitab yang sedang ia baca. Namun, pikirannya tidak tenang. Ia terus melirik jam dinding. Najwa belum mengabarinya sejak sore, dan Lea... Lea belum pulang.
Tiba-tiba, suara mobil terdengar di depan rumah. Malik segera bangkit dan membuka pintu. Ia melihat Lea turun dari taksi *online* dengan keadaan basah kuyup karena berlari dari mobil ke teras. Lea membawa tas ransel besar yang nampak berat.
"Assalamu... eh, maksud gue, halo," sapa Lea kaku saat melihat Malik yang membukakan pintu.
"Kamu terlambat. Dan kamu basah," ucap Malik datar, meski matanya menatap cemas pada baju Lea yang menempel di tubuh karena air hujan.
"Iya, tugasnya susah banget. Gue tadi naik taksi karena udah malam," Lea masuk ke dalam rumah, menggigil kaget. Ia mencari-cari sosok kakaknya. "Kak Najwa mana? Arkan?"
Malik terdiam sejenak. "Mereka ke Bandung. Menginap di sana."
Lea terbelalak. "Hah? Kok nggak bilang? Kok gue nggak diajak?"
"Najwa tidak ingin mengganggu kuliahmu. Dan sepertinya... dia ingin kita yang menjaga rumah," jawab Malik dengan nada yang sedikit canggung.
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya ada suara hujan yang semakin deras di luar. Lea berdiri mematung di tengah ruangan dengan pakaian basah, sementara Malik berdiri beberapa meter di depannya, menatap ke arah lantai.
"Sana mandi. Pakai air hangat supaya tidak sakit," perintah Malik tanpa menatap Lea. "Setelah itu keluar, saya sudah siapkan makanan di meja. Najwa berpesan agar saya memastikan kamu makan malam."
Lea menelan ludah. Berdua saja dengan Gus Malik di rumah yang besar ini nampaknya akan menjadi tugas yang lebih berat daripada skripsinya.
"O-oke," jawab Lea pendek.
Ia melangkah menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat ia merasa pusing menyerang kepalanya akibat kedinginan. Ia hampir tergelincir di lantai kayu yang licin karena tetesan air dari bajunya.
"Kalea!"
Dengan sigap, Malik melangkah maju dan menangkap lengan Lea agar tidak jatuh. Untuk sesaat, mereka kembali dalam posisi yang sangat dekat. Aroma parfum maskulin Malik yang bercampur dengan bau hujan menusuk indra penciuman Lea. Malik menatap mata Lea, kali ini bukan dengan amarah, melainkan dengan sorot mata yang sulit dibaca antara tanggung jawab dan sesuatu yang ia sendiri belum berani mengakuinya.
"Lepasin, Gus... gue nggak apa-apa," bisik Lea, meski jantungnya berdegup tak keruan.
Malik segera melepaskan tangannya seolah tersengat listrik. "Cepat mandi. Saya tunggu di ruang makan."
Malam itu, di bawah rintik hujan Bandung dan sunyinya pesantren, rencana Najwa mulai berjalan. Dua jiwa yang selama ini berperang kini dipaksa untuk berbagi keheningan yang sama, di dalam rumah yang kini terasa terlalu luas untuk mereka berdua.