"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH DELAPAN
Andra paham betul bahwa Kanaya sedang berusaha mengusirnya, tapi ia pun tak akan mundur dan menyerah begitu saja.
Andra tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini yang entah kapan akan datang lagi padanya.
"Tapi-"
Kanaya belum sempat menyelesaikan ucapannya saat tiba-tiba Andra meletakan jari telunjuknya tepat di atas bibir penuh sang istri.
"Ssshhh,.... Aku mau tidur di sini malam ini, aku kangen sama kamu. Ibu nggak akan kenapa-kenapa di kamar Nisrin, oke?" Ucap Andra, jari telunjuknya yang berada di atas bibir Kanaya ditepis dengan cukup kasar.
Hati pria itu jujur saja terasa sakit saat Kanaya memasang ekspresi seolah dirinya jijik, apalagi wanita itu mengusap kasar bibirnya seolah ingin menghapus jejak sentuhan Andra di sana.
Tapi Andra tidak peduli, ia akan tetap bertingkah seolah tak sadar dan berada di samping Kanaya.
"Aku mau mandi dulu ya Sayang, muach." Lagi, Andra mencium pipi Kanaya sebelum wanita itu sempat menghindar.
Senyumnya sirna saat pintu kamar mandi tertutup, ia memandangi pantulan dirinya dari cermin dengan sorot mata kosong.
Pikirannya dipenuhi dengan bayang-bayang ekspresi Kanaya yang jijik saat disentuh olehnya.
"Aku harus gimana, Naya? Aku harus gimana supaya
kamu tetap jadi milik aku sepenuhnya? Apa yang harus aku lakuin supaya kamu tetap di sisi aku sampai maut memisahkan kita? Gimana caranya aku bisa memastikan kalau kamu nggak akan pergi dari aku pada akhirnya?" Gumam Andra pelan bertanya pada dirinya sendiri.
Pertanyaannya itu jelas tak mendapatkan jawaban selain dari keheningan dan sunyi.
Pria itu membuka bajunya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang atletis dan kokoh.
Dulu, Kanaya sangat menyukai apa yang Andra lihat di cermin saat ini hingga wanita itu tidak bisa berada jauh darinya.
Seperti koala, Kanaya akan menggelendotinya dengan manja sepanjang hari dan begitu enggan melepaskan pelukan mereka.
Tapi sekarang, wanita itu seakan begitu jijik bahkan jika Andra menyentuhnya sedikit saja.
Perlahan tapi pasti, Kanaya menciptakan pagar betis tak kasat mata yang menjulang tinggi di antara mereka.
Andra tau bahwa dirinya hanya perlu menunggu waktu sampai ia benar-benar terusir dan tak bisa menembus pagar tersebut.
Oleh karena itu, sebelum hal tersebut benar-benar terjadi, ia harus menghancurkan pagar tersebut dan merantai Kanaya padanya hingga wanita itu tidak akan pernah bisa pergi darinya barang sejengkal pun.
Bahkan jika sekali pun ia harus menggunakan cara yang akan membuat Kanaya membencinya seumur hidup mereka.
Andra lebih baik dibenci tapi tetap memiliki Kanaya di hidupnya, dari pada benar-benar melepaskan Kanaya yang akan membunuhnya secara pasti namun perlahan dan menyiksa.
"Tapi kemana pun kamu lari, gimana pun cara kamu berusaha melepaskan diri dari aku,.... Selamanya aku pasti bakal menemukan kamu dan selamanya kamu bakalan jadi milik aku." Ujar Andra dengan tekad kuat, pria itu menarik nafas panjang dan berjalan menuju shower.
Pria itu memejamkan kedua matanya tenang dan membiarkan air hangat membasuh setiap inci tubuhnya, menghanyutkan masalah yang sedang dirinya hadapi, meski pun hanya sesaat.
"Kamu kok belum tidur, Sayang? Ini udah jam sepuluh malam. Biasanya kan jam segini udah bobo nyenyak,..."
Ucap Andra saat keluar dari kamar mandi.
Pria itu berdiri di samping soffa di mana Kanaya tengah duduk dengan rambut yang masih basah dan meneteskan air, sehelai handuk melilit longgar tepat di pusat tubuh pria itu.
Tangannya mengelus lembut puncak kepala Kanaya yang di mana wanita itu langsung bergerak jauh menghindar darinya.
"Aku belum ngantuk, masih mau nonton. Ibu juga masih kedengeran nangis,..." Jawab Kanaya.
Sebenarnya, selain karena ia tak bisa tidur karena Samira yang berisik dari kamar seberang, Kanaya juga tak mau tidur satu ranjang dengan Andra apalagi setelah tau bahwa laki-laki itu sudah bercampur dengan perempuan lain.