NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Pagi itu terasa berbeda.

Bukan karena rumah berubah. Bukan karena suasana tiba-tiba menjadi hangat.

Tapi karena… ada sesuatu yang sedang menunggu.

Aku baru saja selesai membereskan meja sarapan ketika Adrian masih duduk di tempatnya, tidak langsung pergi seperti biasanya. Biasanya, setelah makan, ia akan kembali ke ruang kerja atau kamarnya tanpa banyak bicara.

Tapi hari ini… tidak.

Ia masih di sana.

Diam.

Seolah sedang memikirkan sesuatu.

Aku sempat ragu untuk bertanya, tapi sebelum aku membuka suara—

“Kamu ada kegiatan hari ini?”

Aku sedikit terkejut.

Jarang sekali dia bertanya seperti itu.

Aku menggeleng pelan. “Tidak ada.”

Ia mengangguk kecil.

Beberapa detik hening.

Lalu—

“Kita keluar.”

Tanganku yang sedang memegang piring langsung berhenti.

“…Keluar?” ulangku pelan.

“Iya.”

Jawabannya singkat. Tapi cukup untuk membuat jantungku berdebar sedikit lebih cepat.

Aku tidak langsung menjawab.

Keluar… bersama?

Ini pertama kalinya.

Bukan acara formal.

Bukan undangan.

Bukan kewajiban.

Tapi… pilihan?

“Ada keperluan?” tanyaku hati-hati.

Ia menatapku.

“Tidak.”

Satu kata.

Dan entah kenapa… itu membuatku semakin bingung.

“Kalau begitu…?”

Ia menarik napas pelan.

Seolah tidak terbiasa menjelaskan.

“Anggap saja… kita butuh udara luar.”

Aku terdiam.

Butuh udara luar.

Itu bukan jawaban yang biasa.

Tapi… cukup.

Aku mengangguk pelan.

“Iya.”

Satu jam kemudian, kami sudah berada di dalam mobil.

Aku duduk di samping Adrian di kursi belakang. Mobil berjalan pelan meninggalkan rumah besar itu.

Aku menatap keluar jendela.

Sudah lama… aku tidak keluar tanpa rasa terpaksa.

Biasanya keluar berarti tugas.

Atau sesuatu yang harus dilakukan.

Tapi kali ini…

Tidak ada tujuan jelas.

Dan itu terasa aneh.

“Kita ke mana?” tanyaku pelan.

“Lihat nanti.”

Aku hampir tersenyum kecil.

Jawaban khas dia.

Singkat.

Tapi tidak dingin.

Perjalanan berlangsung cukup lama. Jalanan mulai berubah dari kawasan elit menjadi area yang lebih ramai. Toko-toko kecil, kafe, dan orang-orang yang berjalan santai mulai terlihat.

Mobil akhirnya berhenti.

Aku menoleh ke luar.

Taman kota.

Bukan tempat mewah.

Bukan tempat elit.

Tapi… sederhana.

Dan hidup.

Aku menatap Adrian, sedikit bingung.

Ia membuka pintu lebih dulu.

“Ayo.”

Aku turun perlahan.

Udara pagi menyambutku. Segar. Tidak seperti udara di rumah yang terlalu… terkontrol.

Orang-orang berjalan santai. Ada anak-anak berlari. Ada pasangan duduk di bangku taman.

Suasana itu langsung terasa… hangat.

Aku berdiri di samping Adrian yang kini sudah berada di kursi rodanya.

“Kenapa ke sini?” tanyaku pelan.

Ia melihat sekitar.

“Tempat seperti ini… lebih jujur.”

Aku mengernyit sedikit. “Jujur?”

Ia mengangguk.

“Tidak ada yang pura-pura.”

Aku terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tapi… masuk akal.

Kami mulai berjalan menyusuri jalur taman. Aku berjalan di sampingnya, kadang sedikit di belakang, menyesuaikan langkah dengan kursi rodanya.

Beberapa orang melirik kami.

Bukan dengan tatapan meremehkan.

Tapi… penasaran.

Aku sempat merasa sedikit tidak nyaman.

Namun—

“Kamu terlalu kaku.”

Aku menoleh.

Adrian menatap lurus ke depan.

“Orang-orang tidak peduli sebanyak itu.”

Aku menghela napas kecil.

“Masih belum terbiasa.”

Ia mengangguk.

“Wajar.”

Kami terus berjalan.

Sampai akhirnya ia berhenti di dekat sebuah bangku taman.

“Duduk.”

Aku menurut.

Ia memposisikan kursi rodanya di samping bangku itu.

Beberapa detik kami hanya diam.

Menikmati suasana.

Angin bertiup pelan.

Daun bergerak.

Suara anak-anak tertawa terdengar dari kejauhan.

Aku menatap itu semua…

Dan tanpa sadar, tersenyum.

“Kamu senang?” tanyanya tiba-tiba.

Aku menoleh, sedikit kaget.

“Iya.”

Jawabanku jujur.

Ia mengangguk kecil.

Seolah mencatat sesuatu.

“Kamu jarang keluar?”

Aku tersenyum tipis.

“Dulu… hampir tidak pernah.”

Ia menatapku sebentar.

Tidak bertanya lebih jauh.

Seperti biasa.

Tidak memaksa.

Kami kembali diam.

Namun kali ini, diamnya… nyaman.

Beberapa menit kemudian, seorang penjual es krim lewat.

Aku tanpa sadar menoleh.

Gerobaknya sederhana. Tapi warnanya cerah.

Adrian memperhatikan arah pandanganku.

“Kamu mau?”

Aku langsung menggeleng cepat.

“Tidak perlu.”

Ia tidak menjawab.

Tapi beberapa detik kemudian—

Ia sudah memanggil penjual itu.

Aku langsung panik.

“Tidak usah—”

“Dua.”

Ia sudah memesan.

Aku terdiam.

Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Beberapa saat kemudian, es krim itu sudah di tanganku.

Aku menatapnya.

Lalu menatap Adrian.

“Terima kasih…”

Ia hanya mengangguk.

Kami makan dalam diam.

Namun kali ini… ada hal kecil yang berbeda.

Sederhana.

Tapi hangat.

“Aku tidak pernah menyangka…” kataku pelan.

“Apa?”

“Aku akan makan es krim di taman seperti ini.”

Ia menatapku.

“Kamu terlalu terbiasa dengan hidup yang sempit.”

Aku tertawa kecil.

“Sepertinya iya.”

Ia terdiam sejenak.

Lalu berkata,

“Kamu bisa memilih sekarang.”

Aku menatapnya.

“Memilih?”

“Hidup seperti apa yang kamu mau.”

Aku tidak langsung menjawab.

Karena… aku belum pernah benar-benar memikirkan itu.

Selama ini aku hanya… mengikuti.

“Kalau kamu?” tanyaku balik.

Ia menatap jauh ke depan.

“Aku sedang mencoba.”

Aku tersenyum kecil.

“Itu sudah bagus.”

Beberapa saat kemudian, kami kembali berjalan.

Lebih santai.

Lebih ringan.

Kami berhenti di beberapa tempat.

Melihat orang melukis.

Mendengar musisi jalanan.

Bahkan sempat membeli minuman hangat dari kios kecil.

Dan sepanjang itu…

Aku menyadari sesuatu.

Adrian memang tidak banyak bicara.

Tapi ia… memperhatikan.

Hal-hal kecil.

Seperti saat aku hampir tersandung, ia langsung memperlambat kursinya.

Saat aku terlihat lelah, ia berhenti tanpa aku minta.

Dan saat aku diam terlalu lama, ia selalu menemukan satu kalimat sederhana untuk memecah suasana.

Tidak berlebihan.

Tapi cukup.

Sore mulai datang.

Langit berubah warna.

Kami kembali ke mobil.

Aku duduk, menatap keluar jendela lagi.

Namun kali ini… berbeda.

Aku tidak merasa kosong.

“Adrian,” panggilku pelan.

“Iya?”

Aku ragu sejenak.

Lalu berkata,

“Ini… pertama kalinya aku merasa seperti ini.”

“Seperti apa?”

Aku tersenyum kecil.

“Seperti orang normal.”

Ia terdiam.

Lalu menatapku.

“Kamu memang normal.”

Aku menggeleng pelan.

“Mungkin… sekarang iya.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu ia berkata,

“Kita bisa lakukan ini lagi.”

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

“…Benarkah?”

Ia mengangguk.

“Iya.”

Aku tersenyum.

Dan kali ini… senyumku tidak tertahan.

Malam itu, saat kami kembali ke rumah—

Semuanya masih sama.

Rumah masih besar.

Masih sunyi.

Masih dingin.

Tapi…

Aku tidak lagi merasa terjebak di dalamnya.

Karena sekarang…

Aku tahu—

Di luar sana, ada dunia.

Dan di dalam sini…

Ada seseorang yang mulai membuka pintu itu bersamaku.

Dan mungkin…

Hari ini bukan hanya sekadar keluar.

Bukan hanya sekadar jalan.

Tapi…

Awal dari sesuatu yang baru.

Bukan cinta yang langsung besar.

Bukan hubungan yang sempurna.

Tapi—

Dua orang yang mulai berjalan ke arah yang sama.

Perlahan.

Tanpa sadar.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku tidak takut dengan hari esok.

Perjalanan pulang terasa lebih tenang dari biasanya.

Aku duduk di samping Adrian, menatap lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Pantulannya terlihat samar di kaca jendela mobil, bergerak seiring laju kendaraan.

Namun kali ini… pikiranku tidak dipenuhi kecemasan.

Tidak ada bayangan wajah ibu tiriku.

Tidak ada suara Celine yang merendahkan.

Tidak ada rasa sesak seperti biasanya.

Yang ada hanya… sisa hangat dari hari ini.

Aku menoleh sedikit ke arah Adrian.

Ia tampak seperti biasa—tenang, diam, ekspresinya sulit dibaca.

Tapi aku tahu… hari ini bukan hal biasa baginya.

Ia yang mengajak.

Ia yang memilih tempat.

Ia yang… mencoba.

“Adrian,” panggilku pelan.

“Iya?”

“Terima kasih… untuk hari ini.”

Ia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

“Tidak perlu.”

Jawaban khasnya.

Singkat.

Namun entah kenapa, kali ini terasa berbeda.

Aku tersenyum kecil, lalu kembali menatap ke luar jendela.

Begitu sampai di rumah, suasana kembali seperti semula.

Sunyi.

Tenang.

Namun tidak lagi terasa asing.

Aku turun dari mobil, berjalan di samping Adrian saat ia masuk ke dalam rumah.

Lampu foyer menyala terang.

Bibi Ratna langsung menyambut kami.

“Tuan, Nyonya sudah kembali,” katanya dengan nada lega.

Adrian hanya mengangguk.

Aku tersenyum kecil. “Kami cuma keluar sebentar, Bi.”

Namun Bibi Ratna menatap kami berdua beberapa detik.

Lalu tersenyum… sedikit lebih lebar dari biasanya.

“Sepertinya… hari yang baik.”

Aku sedikit tersipu.

Sementara Adrian… langsung mengalihkan pandangan.

“Aku ke ruang kerja,” katanya singkat.

Seperti biasa.

Namun sebelum ia benar-benar pergi—

Ia berhenti sebentar.

“Besok… kamu mau keluar lagi?”

Aku terdiam.

Pertanyaan itu datang begitu saja.

Namun kali ini… aku tidak ragu.

“Iya.”

Ia mengangguk kecil.

Lalu pergi.

Aku berdiri di sana beberapa detik.

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

Bukan karena cemas.

Tapi karena… menunggu sesuatu.

Malam itu, aku duduk di kamar, membuka lemari.

Tanganku menyentuh beberapa pakaian.

Aku berhenti.

Lalu tertawa kecil.

“Kenapa aku jadi mikir mau pakai apa…”

Padahal ini bukan acara penting.

Bukan pesta.

Bukan pertemuan bisnis.

Tapi… tetap saja.

Aku ingin terlihat… pantas.

Aku memilih pakaian sederhana.

Tidak terlalu mencolok.

Namun rapi.

Nyaman.

Seperti hari ini.

Aku menatap diriku di cermin.

Ada sesuatu yang berbeda.

Mataku… tidak sekosong dulu.

Aku menyentuh pipiku pelan.

“Aku berubah ya…”

Bisikku pelan.

Dan untuk pertama kalinya—

Aku tidak takut dengan perubahan itu.

Keesokan paginya, aku bangun lebih cepat.

Tanpa perlu dipaksa.

Tanpa rasa berat.

Aku langsung bersiap, lalu ke dapur seperti biasa.

Sarapan kembali kusiapkan.

Namun kali ini… aku melakukannya sambil tersenyum kecil.

Bibi Ratna memperhatikanku dari jauh.

“Sepertinya Nyonya sedang senang,” katanya pelan.

Aku sedikit tersipu. “Kelihatan ya?”

Ia tertawa kecil. “Sedikit.”

Tidak lama kemudian—

Adrian datang.

Seperti kemarin.

Tanpa dipanggil.

Tanpa suara berlebihan.

Ia langsung duduk.

Aku menaruh piring di depannya.

“Kamu cepat,” katanya.

“Aku bangun lebih pagi.”

Ia mengangguk kecil.

Kami mulai makan.

Seperti biasa—dalam diam.

Namun kini… diam itu terasa seperti kebiasaan yang nyaman.

Setelah beberapa menit, ia berkata,

“Kita pergi jam sepuluh.”

Aku mengangguk. “Iya.”

Namun kali ini, aku tidak bertanya ke mana.

Aneh.

Aku… tidak perlu tahu.

Karena aku percaya.

Jam sepuluh tepat, kami sudah berada di mobil lagi.

Hari ini lebih cerah.

Langit biru.

Udara terasa segar.

“Kita ke mana hari ini?” tanyaku akhirnya.

Adrian melihat ke depan.

“Tempat yang sedikit lebih ramai.”

Aku mengernyit pelan.

“Lebih ramai?”

Ia mengangguk.

“Kamu perlu terbiasa.”

Aku mengerti maksudnya.

Aku mengangguk pelan.

“Iya.”

Mobil berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan besar.

Aku sedikit terkejut.

Tempat ini… cukup ramai.

Orang lalu-lalang.

Suara ramai.

Berbeda jauh dari taman kemarin.

Aku menoleh ke Adrian.

Ia sudah turun lebih dulu.

“Ayo.”

Aku mengikuti.

Namun langkahku sedikit ragu.

Keramaian seperti ini… sudah lama tidak kurasakan.

Aku merasa banyak mata melihat.

Banyak suara yang terlalu cepat.

Aku sedikit menunduk.

Tanpa sadar—

Langkahku melambat.

Namun tiba-tiba—

“Kemari.”

Suara Adrian terdengar.

Aku menoleh.

Ia menepuk ringan sandaran kursi rodanya.

Isyarat.

Aku sedikit bingung.

Tapi mendekat.

“Jalan di sampingku.”

Aku mengangguk.

Aku berjalan lebih dekat sekarang.

Dan entah kenapa…

Rasa cemas itu berkurang.

Kami masuk ke dalam.

Lampu terang.

Suara musik.

Orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Aku masih sedikit tegang.

Namun—

“Apa yang kamu butuhkan?”

Aku menoleh.

“Aku… tidak butuh apa-apa.”

Ia menatapku.

“Bukan itu maksudku.”

Aku terdiam.

Ia melanjutkan,

“Kamu mau apa?”

Pertanyaan itu…

Sederhana.

Tapi sulit.

Aku tidak terbiasa ditanya seperti itu.

Aku berpikir beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Mungkin… sepatu?”

Ia langsung mengangguk.

“Baik.”

Tanpa banyak bicara, ia langsung mengarahkan kursi rodanya ke arah toko sepatu.

Aku mengikuti.

Masuk ke dalam.

Pelayan toko langsung menyambut dengan ramah.

Aku duduk, mencoba beberapa pasang sepatu.

Adrian memperhatikan.

Diam.

Namun fokus.

“Yang ini bagus,” katanya tiba-tiba.

Aku menatap sepatu yang ia maksud.

Sederhana.

Tapi elegan.

Aku mencobanya.

Pas.

Nyaman.

“Aku ambil ini,” kataku.

Ia mengangguk.

Tanpa bertanya harga.

Tanpa ragu.

Setelah itu, kami keluar lagi.

Berjalan menyusuri mall.

Kadang berhenti.

Kadang hanya melihat-lihat.

Dan perlahan—

Aku mulai terbiasa.

Dengan keramaian.

Dengan tatapan orang.

Dengan… dunia luar.

Karena ada dia di sampingku.

Kami berhenti di sebuah kafe.

Duduk di sudut yang cukup tenang.

Aku memegang minuman hangat.

Menatap keluar jendela.

“Adrian,” kataku pelan.

“Iya?”

“Aku tidak menyangka… hidupku bisa seperti ini.”

Ia menatapku.

“Seperti apa?”

Aku tersenyum kecil.

“Lebih ringan.”

Ia terdiam.

Lalu berkata pelan,

“Jangan kembali ke yang lama.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak akan.”

Dan untuk pertama kalinya—

Aku yakin dengan jawabanku sendiri.

Hari itu berakhir seperti kemarin.

Namun dengan langkah yang lebih pasti.

Karena sekarang…

Aku tidak hanya berjalan keluar.

Aku mulai… menemukan arah.

Dan di sampingku—

Ada seseorang yang, tanpa banyak kata,

mengajarkanku satu hal—

Bahwa hidup… bisa dipilih.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!