NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Kedua

POV FATAN

Pagi itu, langit Bali cerah.

Terlalu cerah untuk sebuah kebohongan.

Matahari memantul di permukaan laut yang tenang, angin berembus pelan membawa aroma asin yang seharusnya menenangkan. Di sebuah vila privat yang tersembunyi dari keramaian, dekorasi sederhana telah disiapkan—bunga putih, kain tipis yang bergerak mengikuti angin, dan kursi-kursi yang kosong.

Sepi.

Tanpa keluarga.

Tanpa sahabat.

Tanpa saksi dari masa lalu.

Hanya dua orang

dan satu keputusan yang akan mengubah segalanya.

Fatan berdiri di depan cermin.

Setelan putih membalut tubuhnya rapi. Rambutnya tersisir sempurna. Wajahnya… tenang.

Terlalu tenang.

Namun di balik pantulan itu, ada sesuatu yang retak.

Ia menatap dirinya sendiri.

Lama.

Seolah mencoba memastikan—

siapa pria yang sedang berdiri di hadapannya.

Fatan?

Atau pria lain yang selama ini ia sembunyikan di balik nama dan kebohongan?

Di meja kecil, ponselnya tergeletak.

Layar gelap.

Tidak ada pesan.

Tidak ada panggilan.

Namun bayangan wajah itu… tetap muncul.

Kanaya.

Pucat.

Lemah

Dengan darah di pelipisnya.

Dan kalimat yang terus menghantui:

Aku tidak ingin kamu terluka.

Fatan menutup mata.

Sesaat.

Namun hanya sesaat.

Karena hari ini… ia tidak memberi dirinya ruang untuk ragu.

Pintu terbuka pelan.

Amira masuk.

Gaun putihnya sederhana tidak berlebihan, namun cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya terdiam.

Wajahnya bersih.

Matanya berbinar.

Dan senyumnya…

tulus.

“Kamu sudah siap?” tanyanya lembut.

Fatan menoleh.

Menatapnya.

Untuk beberapa detik ia diam.

Seolah waktu berhenti.

“Ya,” jawabnya akhirnya.

Satu kata.

Namun terasa berat.

Amira melangkah mendekat.

“Ternyata kita benar-benar sampai di tahap ini,” katanya pelan.

Nada suaranya penuh harap.

Penuh keyakinan.

Tanpa sedikit pun keraguan.

Fatan mengangguk.

Namun hatinya…

tidak setenang wajahnya.

“Aku tahu ini sederhana,” lanjut Amira.

“Tanpa keluarga, tanpa banyak orang…”

Ia tersenyum kecil.

“Tapi bagiku… ini cukup. Selama kamu ada.”

Kalimat itu

menyentuh sesuatu di dalam diri Fatan.

Namun bukan ketenangan yang muncul.

Melainkan… tekanan.

Karena untuk Amira

ini adalah awal.

Namun bagi Fatan

ini adalah puncak dari kebohongan yang ia bangun.

Prosesi dimulai.

Tanpa dekorasi megah

Tanpa sorotan kamera.

Tanpa tepuk tangan.

Hanya suara ombak di kejauhan.

Dan angin yang berhembus pelan.

Penghulu duduk di hadapan Fatan Untuk mengucapkan ijab kabul

Jelas.

Tegas.

Tidak bisa ditarik kembali.

Fatan diam.

Sesaat.

Namun di dalam kepalanya

semua suara kembali.

Ibunya.

Ayahnya.

Kanaya.

Dan Amira… yang duduk di sampingnya sekarang.

Ia mengangkat wajah.

kemudian melirik da. Menatap Amira.

Perempuan yang mencintainya… tanpa tahu siapa dia sebenarnya.

“Saya terima nikahnya Amira Kurniawan binti alm bapak Lubis Kurniawan dengan mahar tersebut tunai"ucap Fatan dengan tarikan satu nafas

Kalimat itu keluar.

Lancar.

Tanpa jeda.

Sah.

Satu kata yang sederhana.

Namun menghancurkan banyak hal di waktu yang bersamaan.

Amira tersenyum.

Air matanya jatuh.

Bahagia.

Tulus.

Fatan menatapnya.

Namun dadanya…

tidak ringan.

Ia baru saja menikah.

Untuk kedua kalinya.

Dengan dua perempuan.

Di dua kehidupan yang berbeda.

Dan tidak satu pun dari mereka…

tahu kebenaran itu.

Setelah prosesi selesai, Amira memeluknya.

Hangat.

Nyata.

“Sekarang semuanya sudah resmi,” bisiknya pelan.

“Kita tidak perlu sembunyi lagi.”

Kalimat itu

terasa seperti ironi.

Fatan tidak langsung membalas pelukan itu.

Namun akhirnya…

ia memeluknya kembali.

Pelan.

Seolah sedang memeluk sesuatu yang rapuh.

Namun pikirannya…

tidak di sana.

Ia melihat laut.

Luasan tanpa batas.

Namun untuk pertama kalinya—

ia merasa terjebak.

Di tempat lain…

jauh dari Bali…

Kanaya duduk menatap kosong

Dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Dengan hati yang tidak pernah benar-benar ia jaga.

Dan tanpa Fatan sadari

hari itu bukan hanya hari pernikahan.

Tapi juga hari

di mana ia melangkah semakin jauh

dari satu-satunya perempuan

yang pernah mencintainya

tanpa syarat.

Langit tetap cerah.

Angin tetap berembus.

Ombak tetap datang dan pergi.

Namun di balik keindahan itu

takdir mulai bergerak.

Perlahan.

Pasti.

Karena tidak ada kebohongan

yang bisa disembunyikan selamanya.

Dan tidak ada dua dunia

yang bisa berjalan berdampingan

tanpa akhirnya bertabrakan.

Dan hari itu

Fatan memilih.

Bukan antara dua perempuan.

Melainkan memilih

untuk tetap bersembunyi.

Tanpa menyadari

bahwa pilihan itu

akan menjadi awal

dari kehancuran

yang tidak bisa ia hentikan lagi

Malam itu, kamar pengantin dihiasi cahaya lembut dari lampu tidur dan lilin-lilin kecil yang berkelip, memantulkan bayangan hangat di dinding putih bersih. Aroma mawar segar memenuhi udara, menciptakan suasana yang tenang sekaligus mendalam seolah dunia di luar sana berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi dua hati yang baru saja dipersatukan.

Amira berdiri di dekat jendela, gaun putihnya jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya. Tatapannya terarah pada lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Ada ketenangan di wajahnya, tapi juga harapan harapan yang sederhana, namun begitu tulus.

Di belakangnya, Fatan melangkah perlahan.

Langkahnya tenang, namun pikirannya tidak.

Ia berhenti tepat di belakang Amira, menatap sosok wanita itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Lalu, dengan hati-hati, ia mengangkat tangannya dan kemudian memeluk pinggang Amira dari belakang dan meletakan dagunya di bahu amira

“Indah, ya… malam pertama kita,” bisiknya pelan.

Suaranya terdengar hangat, tapi ada getaran kecil yang tak bisa ia sembunyikan.

Amira menoleh.

Senyumnya muncul begitu saja—lembut, jujur, tanpa beban.

“Iya… sangat indah,” jawabnya. “Aku merasa… aman di sini. Denganmu.”

Kata aman itu menusuk sesuatu di dalam dada Fatan.

Namun ia tidak menunjukkannya.

Ia hanya menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya, seolah ingin menyentuh pelipis Amira dengan bibirnya. Tapi di detik terakhir, ia menahan diri.

Ada sesuatu yang masih mengganjal.

Sesuatu yang tidak ikut hadir dalam kehangatan malam itu.

Rahasia.

Amira mengangkat tangannya, menyentuh pipi Fatan dengan lembut. Sentuhan itu begitu ringan, namun terasa sangat nyata.

“Jangan terlalu memikirkan yang lain,” ucapnya pelan. “Malam ini… hanya untuk kita.”

Fatan menatapnya.

Dalam.

Lama.

Lalu ia mengangguk kecil.

Ia tersenyum senyum yang hangat di luar, namun menyimpan sesuatu yang tak selesai di dalam.

Ia melangkah lebih dekat, memeluk Amira Tangannya melingkar di pinggang wanita itu, menariknya perlahan ke dalam rangkulan.

Hangat.

Nyaman.

Dan… berbahaya.

“Aku… akan membuatmu merasa aman, Amira,” bisiknya di dekat telinganya. “Sepenuhnya.”

Kalimat itu terdengar seperti janji.

Dan mungkin… memang itu yang ingin ia yakini.

Mereka kemudian berjalan pelan menuju tempat tidur. Duduk berdampingan, tangan mereka saling bertaut tanpa perlu dipaksa. Tidak ada kegugupan yang berlebihan hanya keheningan yang hangat, seolah mereka berdua memahami bahwa momen ini tidak perlu dipercepat.

Fatan mengangkat tangan Amira, lalu mengecup ujung jarinya dengan lembut.

Amira tersenyum kecil.

Tawa ringannya mengisi ruang itu, ringan dan jujur.

“Adrian…” panggilnya pelan.

“Iya?”

“Kita akan baik-baik saja, kan?”

Pertanyaan itu sederhana.

Namun berat.

Fatan menatapnya.

Untuk sesaat, semua kebohongan, semua rahasia, semua beban yang ia simpan seolah berdiri di antara mereka.

Namun di mata Amira…

Tidak ada kecurigaan.

Hanya kepercayaan.

Dan itulah yang membuat dadanya terasa semakin sesak.

“ya ,tentu saja” jawabnya akhirnya. “Kita akan baik-baik saja.”

Ia menambahkan dengan lebih pelan,

“Aku akan selalu di sini… untukmu.”

Amira tersenyum.

Percaya.

Sepenuhnya.

Dan tanpa ragu, ia mendekat.

Jarak di antara mereka perlahan menghilang.

Fatan menatap wajah itu wajah yang menatapnya dengan cinta yang utuh, tanpa syarat, tanpa pertanyaan.

Dan di detik itu…

Ia memilih diam.

Ia mendekatkan wajahnya, perlahan, hati-hati seolah memberi waktu pada takdir untuk menghentikannya.

Namun tidak ada yang menghentikan.

Bibir mereka akhirnya bertemu.

Lembut.

Hangat.

Dan penuh perasaan yang… tidak sepenuhnya jujur.

Amira menutup mata, tenggelam dalam momen itu.

Bagi Amira, ini adalah awal.

Awal dari kehidupan yang ia impikan.

Awal dari cinta yang ia yakini.

Sementara bagi Fatan atau Adrian…

Ini adalah titik di mana semuanya menjadi semakin rumit.

Ia perlahan membaringkan Amira di atas tempat tidur, gerakannya penuh kehati-hatian, seolah ia benar-benar ingin menjaga wanita itu.

Dan mungkin…

Di bagian kecil dalam dirinya

Ia memang ingin.

Malam itu berjalan dalam keheningan yang hangat.

Tidak terburu-buru.

Tidak dipenuhi kata-kata.

Hanya dua orang yang saling mendekat, mencoba menemukan kenyamanan di tengah dunia yang tidak sesederhana yang mereka bayangkan.

Di bawah cahaya lilin yang berkelip dan aroma mawar yang memenuhi ruangan, Fatan dan Amira merasakan kebahagiaan yang tampak utuh dari luar.

Sebuah kebahagiaan sederhana.

Seolah mereka adalah dua orang yang benar-benar memulai segalanya dari awal.

Namun di balik itu semua…

Ada sesuatu yang tidak ikut larut.

Sebuah bayangan.

Sebuah nama.

Sebuah kehidupan lain yang tidak boleh hadir di ruangan itu.

Malam pertama mereka menjadi lebih dari sekadar awal.

Ia menjadi janji tanpa kata.

Janji untuk saling menjaga.

Janji untuk saling menguatkan.

Dan… janji yang diam-diam sudah retak sebelum benar-benar diuji.

Karena di luar kamar itu

Dunia masih berjalan.

Rahasia masih hidup.

Dan takdir… belum selesai mempermainkan mereka.

Sementara Amira terlelap dengan perasaan tenang di sisi pria yang ia cintai,

Fatan tetap terjaga sedikit lebih lama.

Menatap langit-langit.

Mendengarkan napas wanita di sampingnya.

Dan untuk pertama kalinya di malam itu

Ia tidak merasa damai.

Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu:

Malam ini mungkin indah.

Namun keindahan itu…

Dibangun di atas sesuatu yang belum selesai.

Dan suatu hari nanti,Semuanya akan menuntut jawaban.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!