NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Mencoba Menghindar

Ruang OSIS yang biasanya menjadi tempat paling tenang bagi Cinta untuk menyusun laporan, pagi itu justru terasa seperti ruang isolasi yang menyesakkan. Meski kipas angin di langit-langit berputar dengan kecepatan maksimal, udara di sekitarnya tetap terasa panas. Bayangan jemari Rian yang mengusap kepalanya seolah tercetak permanen di sana, menciptakan sensasi menggelitik yang menjalar hingga ke ujung kaki.

"Fokus, Cinta. Fokus. Ini hanya masalah hormon dan sirkulasi darah yang meningkat secara mendadak," gumamnya pada diri sendiri sembari menatap layar komputer yang menampilkan tabel inventaris barang.

Namun, logika yang ia bangun runtuh setiap kali ia teringat suara tawa Rian. Tawa yang biasanya mahal, tapi pagi ini dilepaskan begitu saja hanya untuk menggodanya. Cinta membenamkan wajah di atas kedua tangannya. Ia tahu, melarikan diri ke ruang OSIS hanyalah solusi jangka pendek. Ia tidak mungkin bersembunyi di sini selamanya.

Saat bel akhirnya berbunyi, Cinta berjalan kembali ke kelas dengan langkah yang diseret. Ia menarik napas panjang di depan pintu kelas XI MIPA 1, mencoba memasang wajah sedatar mungkin, wajah profesional seorang sekretaris kelas.

Namun, pertahanannya goyah saat ia melangkah masuk. Rian tidak lagi membaca buku. Cowok itu duduk bersandar dengan satu tangan menopang dagu, matanya langsung terkunci pada sosok Cinta sejak gadis itu melewati ambang pintu. Yang lebih parah, sebuah senyum tipis, senyum yang jelas-jelas bernada kemenangan masih bertengger di bibirnya.

Cinta duduk di kursinya tanpa menoleh sedikit pun ke arah kanan. Ia segera mengeluarkan buku paket Biologi dan membukanya secara acak.

"Laporannya sudah selesai?" suara Rian memecah keheningan di antara mereka. Nada suaranya santai, namun bagi Cinta, itu terdengar seperti undangan untuk kembali masuk ke dalam jebakan.

"Belum. Masih banyak yang harus dicek," jawab Cinta ketus, matanya terpaku pada gambar sel tumbuhan di depannya.

"Oh... kukira kamu pergi karena tidak tahan dengan suhu di sini. Tadi wajahmu merah sekali, aku takut kamu pingsan karena terlalu banyak berpikir," lanjut Rian. Ia sengaja sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Cinta, membuat aroma parfum kayunya kembali menyerang indra penciuman Cinta.

Cinta mengeratkan pegangan pada pulpennya. "Aku baik-baik saja, Rian. Tolong jangan mulai lagi."

"Mulai apa?"

"Menggoda!" Cinta menoleh dengan cepat, dan itu adalah kesalahan besar. Jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Mata Rian yang tajam tampak berkilau, memantulkan bayangan wajah Cinta yang sekali lagi mulai memanas.

Rian tidak menjauh. Ia justru tersenyum lebih lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Aku tidak menggoda. Aku hanya mengobservasi fakta. Dan faktanya, kamu sedang berusaha keras untuk tidak menatapku."

Cinta segera memalingkan wajah kembali ke depan tepat saat Bu Endang masuk ke kelas. Selama dua jam pelajaran berlangsung, Cinta tidak fokus. Setiap kali ia hendak mencatat penjelasan guru, ia bisa merasakan lirikan Rian dari samping. Bahkan, saat ia harus meminjam penghapus kepada Sarah yang duduk di depan, Rian justru menyodorkan miliknya terlebih dahulu.

"Pakai punyaku saja. Supaya kamu tidak perlu repot-repot berdiri," ucap Rian sambil meletakkan penghapus itu tepat di atas buku catatan Cinta.

Cinta hanya menatap penghapus itu seolah-olah benda itu adalah granat aktif. Ia memilih untuk tidak menggunakannya dan lebih baik mencoret bagian yang salah dengan pulpen.

Strategi Cinta berikutnya adalah menjauh saat jam istirahat. Begitu bel berbunyi, ia langsung berdiri sebelum Rian sempat membuka mulut.

"Sar! Ayo ke kantin sekarang! Aku lapar sekali!" seru Cinta pada Sarah dengan volume yang sedikit terlalu keras.

Sarah yang sedang merapikan tasnya tersentak. "Eh? Tumben, Cin. Biasanya kamu teliti dulu tugas sebelum keluar."

"Sudah, ayo cepat!" Cinta menarik tangan Sarah, nyaris menyeret sahabatnya itu keluar kelas. Ia bisa merasakan tatapan Rian yang mengikuti punggungnya hingga ia menghilang di balik pintu koridor.

Skip

Di kantin, Cinta memesan bakso dan memakannya dengan kecepatan yang tidak wajar.

"Cin, pelan-pelan. Baksonya tidak akan lari ke Jakarta," tegur Sarah heran.

"Kamu kenapa sih? Kayak lagi dikejar penagih utang."

"Aku cuma mau cepat selesai, Sar. Banyak kerjaan di OSIS," kilas Cinta.

"Halah, alasan. Ini pasti soal Rian, kan? Tadi aku lihat dari jauh kalian kayak lagi adegan drama Korea di pojokan kelas," goda Sarah sambil menyenggol bahu Cinta.

"Rian ngomong apa sampai mukamu kayak tomat begitu?"

Cinta hampir tersedak kuah bakso. "Tidak ada! Dia cuma... cuma menyebalkan."

"Menyebalkan atau mendebarkan?" Sarah tertawa geli.

Belum sempat Cinta membalas, sosok yang paling ia hindari muncul di pintu masuk kantin. Rian berjalan masuk dengan gaya santainya, mengabaikan beberapa siswi yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Mata Rian menyapu seisi kantin dan dengan cepat menemukan posisi Cinta.

Rian berjalan lurus menuju meja mereka. Tanpa permisi, ia duduk di kursi kosong tepat di depan Cinta.

"Kalian cepat sekali hilangnya," ucap Rian. Ia memesan minuman pada penjual yang lewat tanpa melepaskan pandangannya dari Cinta.

"Meja di sini banyak yang kosong, Rian. Kenapa harus di sini?" tanya Cinta, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

"Karena di sini ada teman sebangkuku yang kabur sebelum aku sempat bilang kalau dia meninggalkan pulpennya di kelas," Rian meletakkan pulpen bermotif bunga milik Cinta di atas meja.

Cinta tertegun. Ia bahkan tidak sadar telah meninggalkan pulpennya.

"Terima kasih," gumam Cinta. Ia segera menghabiskan baksonya dan berdiri.

"Sar, aku ke perpustakaan duluan ya. Ada referensi yang harus aku cari."

"Loh, Cin! Tunggu!" Sarah berteriak, tapi Cinta sudah melesat pergi.

...****************...

Di perpustakaan, Cinta bersembunyi di balik rak buku bagian Sejarah Dunia. Tempat ini adalah titik buta terjauh dari pintu masuk. Ia duduk di lantai, menyembunyikan wajahnya di balik lutut.

Jantungnya berpacu gila-gilaan. Kenapa Rian terus mengejarnya? Kenapa senyuman itu seolah-olah sengaja dirancang untuk meruntuhkan seluruh pertahanannya?

Tiba-tiba ada sebuah suara yang sangat familiar terdengar dari balik rak.

Cinta tersentak dan berdiri begitu cepat hingga kepalanya hampir membentur rak. Rian berdiri di sana, menyandarkan bahunya pada lemari kayu tua, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Kamu... kamu mengikutiku?" tanya Cinta dengan napas terengah.

"Perpustakaan ini tempat umum, kan? Aku merasa butuh sedikit ketenangan setelah keramaian kantin," jawab Rian tenang. Ia melangkah mendekat, masuk ke dalam celah sempit di antara rak buku tempat Cinta berada.

Ruangan itu sunyi, hanya ada suara detak jam dinding dan embusan napas mereka. Jarak di antara mereka kini sangat intim. Cinta merasa punggungnya sudah menempel pada rak buku di belakangnya. Tidak ada jalan keluar.

"Cinta," panggil Rian pelan. Ia tidak lagi tersenyum menggoda. Sorot matanya kini terlihat lebih serius.

"Kenapa kamu terus menjauh? Apa aku melakukan kesalahan?"

Cinta menelan ludah. "Aku tidak menjauh. Aku hanya sedang... sibuk."

"Kamu berbohong," potong Rian. Ia mengangkat tangannya, namun kali ini tidak menyentuh kepala Cinta. Ia meletakkan tangannya di rak buku, tepat di samping kepala Cinta, mengurung gadis itu dalam ruang gerak yang terbatas.

"Kamu takut karena aku tahu rahasiamu?"

"Rahasia apa?" bisik Cinta lemah.

"Rahasia kalau kamu tidak se-acuh yang kamu tunjukkan," Rian kembali memberikan senyuman tipisnya, senyuman yang kini terasa lebih hangat daripada sekadar godaan.

"Aku tahu kedatangan Clarissa kemarin mengganggumu. Dan aku juga tahu kalau usapan kepalaku tadi pagi membuatmu tidak konsentrasi seharian."

Cinta ingin membantah, ingin mengeluarkan ribuan kata logika untuk membela diri. Namun, saat menatap mata Rian sedekat ini, semua kata itu menguap. Ia merasa benar-benar terbaca.

"Rian, tolong... jangan buat aku makin bingung," ucap Cinta lirih, matanya mulai berkaca-kaca karena perpaduan antara malu, kesal, dan debaran yang menyakitkan.

Melihat ekspresi Cinta yang tampak rapuh, Rian perlahan menurunkan tangannya. Senyumnya menghilang, digantikan oleh tatapan penuh penyesalan. "Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya... aku hanya senang melihat reaksimu. Itu membuatku merasa kalau keberadaanku di sini benar-benar nyata bagimu."

Rian mundur selangkah, memberikan ruang bagi Cinta untuk bernapas. "Aku tidak akan mengganggumu lagi hari ini kalau itu yang kamu mau. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Cinta..."

Rian berhenti sejenak di depan celah rak. "Awal yang baru itu masih berlaku. Dan aku tidak punya niat untuk mengubah tujuannya."

Rian berbalik dan berjalan pergi meninggalkan perpustakaan. Cinta jatuh terduduk di lantai, membiarkan air matanya menetes satu-satu. Ia merasa seperti pecundang yang terus melarikan diri dari labirin yang ia buat sendiri. Namun, di tengah isak tangisnya yang sunyi, ada sebuah kepastian yang mulai mengakar, ia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Ia menyukai Rian, dan pelariannya hari ini justru membuktikan bahwa cowok itu telah memiliki kunci untuk membuka pintu hatinya yang paling rahasia.

Sore itu, koridor perpustakaan menjadi saksi bisu dari sebuah hati yang akhirnya menyerah pada perasaannya sendiri. Cinta tahu, besok ia harus berhenti berlari, karena sejauh apa pun ia melangkah, bayangan Rian dan senyumannya akan selalu menemukannya.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!